Showing posts with label kuliner. Show all posts
Showing posts with label kuliner. Show all posts

Saturday, June 14, 2008

[ABE] Kencan Berdua


perjalanan menuju Hanamasa Gubeng

Sabtu, 14 Juni 2008

Minggu ini Abe baru saja lulus mengaji buku Ummi 2 (akhirnya...setelah drill superpanjang itu). Sampai ujian kemarin, hapalan surat pendeknya sudah sampai Al-Qadr (dan sudah membuat Ibuk panik takut kesalib padahal Abe masih kelas 1). Di SD Al Hikmah, salah satu target lulusannya nanti memang hapal Juz’amma.

Well, pendek kata, waktunya Abe dapat hadiah...dan ternyata dia memilih diajak makan di Hanamasa. Kencan berdua Ibuk, lebih tepatnya :-D

Kenapa Abe memilih diajak makan di Hanamasa?
Karena dia memang belum pernah makan disana....dan hanya mendapat cerita saja setiap kali Bapak-Ibuk pulang dari makan disana berdua...paling pol dapet oleh2 balon dan permen saja. Padahal Abe sangat menyukai segala sesuatu yang berbau Jepang (thx to Naruto :-D)

Kenapa Abe belum pernah diajak makan di Hanamasa?
Karena ijin dari Bapak belum turun...

Kenapa ijin Bapak belum turun juga padahal sudah dari lama dulu si Ibuk pengen ajak anak2 makan disana?
Karena –harus kuakui- anak2 kami memang dudul... Selama ini, di restoran manapun, selalu terjadi kekacauan di meja setiap kali anak2ku makan disitu. Gelas jatuh dan pecah sudah tak terhitung kali. Makanan jatuh, minuman tumpah apalagi. Belum lagi hebohnya suara mereka, bertanya ini itu, berebut ini itu, komentar ini itu...duuhhh pokoknya kacau!
Dengan kondisi ini, sampai saat ini Hanamasa masuk dalam kategori “extremely dangerous for the kids”. Ada tungku dan api diatas meja. Ada panci panas tempat merebus syabu-syabu juga disana. Makanya si Bapak tak jua mengeluarkan ijin mengajak anak2 makan disana.
Makanya juga Abe sangat penasaran dengan restoran ini...

Tapi penantian Abe akhirnya berujung sore tadi...
Tak sia-sia dia jadi lebih rajin mengaji...
Dan sudah bisa duduk tenang di meja makan!
:-D

:::::.....

Selesai makan, Abe ikutan bayar di kasir...
Dilihatnya tagihan di nota, awalnya iseng tapi akhirnya malah jadi perbincangan
(Btw, akhir2 ini dia sudah mulai ngeh tentang nilai uang)

Di mobil ketika pulang tiba-tiba Abe berkomentar dengan enteng...
“Hanamasa kita masukkan dalam restoran ‘sekali-kali’ ya Buk?”
Aku langsung melongo tak menyangka dia bilang begitu

(‘sekali-kali’ adalah label yang biasa kita sekeluarga pakai untuk menyebutkan segala sesuatu yang hanya layak dilakukan sekali-kali saja, karena kalau tidak, namanya “berlebih-lebihan”)

Ahh...ternyata anakku sudah besar ya...tak terasa dari kegiatan makan kita sore itu kamu sudah bisa menuai banyak pelajaran untuk dirimu sendiri...
Semoga jadi anak sholeh ya Nak... terimakasih untuk kencan sore ini, I really had a great time there... And I love you more each day...
^_^

(Tumben romantis ya...huehue dudul)

Saturday, January 5, 2008

Special Belut Bu Hadi : A Blast from My Childhood Culinary


**eng ing eng** ini dia pecel belut gorengnya!! Yang khas disini, diatasnya penuh taburan bawang putih yang dikepruk dan digoreng dengan kulit2nya. Sambal tomatnya top, boleh pilih pedas, sedang atau tidak pedas, dan aroma terasinya pas, nggak berlebihan

Hujan-hujan begini, memang enaknya posting kuliner aja ya, hehe... Dan memang, sejak terinspirasi Lala (http://niwanda.multiply.com), sekarang di harddisk album foto sudah menumpuk gambar-gambar hasil jepretan waktu makan diluar. Thanks to Lala (or not?? :-D), it looks like I’m so getting into this now...hihihi.

Waktu itu, suasananya pas seperti sekarang ini. Pagi dihiasi hujan rintik-rintik yang awet dari semalam dan hawa dingin membuat saraf lapar semakin sensitif dan rajin berkerja. Don’t you just love rain season? (well, I mean despite all those flood and disaster, hikss)

Sehabis mengantar Abe-Bea sekolah, pagi itu rencana kita berdua pergi untuk belanja pesanan ibuk yang mau pulang haji. Heading to wilayah Ampel, belum separuh jalan mas Iwan came up with this idea. Sudah lama dia bercerita tentang tempat ini tanpa sempat mengajak aku berkunjung. Finally, it was a perfect time!

Sejak kecil, aku sudah sangat akrab dengan masakan serba belut. Besar di Kota Tulungagung, belut merupakan bahan makanan yang sangat umum di sana. Tersedia di pasar-pasar tradisional maupun pedagang ikan yang berkeliling. Musim hujan begini biasanya Ibuk lebih sering memasak belut dari biasanya. Digoreng garing atau dimasak kecap (pedas), keduanya sama nikmatnya.

Ketika aku kuliah dan tinggal di Surabaya, jadi jarang (hampir nggak pernah lagi) makan belut. Itu sudah sekitar 12 tahun yang lalu ya. Makanya ketika akhir-akhir ini makanan ini jadi banyak dijual, aku ikut semangat juga. Sebelum sempat mencicipi langsung, kalo ada liputannya di TV cuma bisa ngeces. Masalah halal haram, sempat bikin aku risau, I was lika “Oh no, ini makananku dari kecil, gimana kalo ternyata haram dimakan??? waksss” tetapi setelah mengetahui info bahwa si hewan licin ini hanya akan haram untuk mereka yang jijik memakannya, jadi tenang deh... Hehehe...

Btw, suami masih belum mau nyoba, padahal dia yang mempromosikan warung belut ini “Uenak Nduk!” gitu katanya...Lah...darimana dia tahu itu enak kalo blum nyoba ya?? Lagian yang dikasih tahu pun udah tahu dari jaman ban masih kotak kalo yang namanya belut memang enak!! Gimana sih! Hihihi

Dasar otak bisnis, biarpun dia belum nyoba makan, begitu liat warungnya rame (apalagi konon kabarnya, jaringan warung belut ini sudah mengkoleksi stiker mak nyuss-nya Bondan Winarno “Wisata Kuliner Trans-TV”), ternyata sudah beberapa bulan ini dia malah sudah terlibat pembicaraan sama pemiliknya untuk kemungkinan bikin franchise nya...Oalah.. (meminjam gayanya, kubilang : product knowledge, itu penting mas!....u need to try it first before you sell it!! **jurus acung2kan telunjuk ala bu guru** huehehehehe)

Lontong Mie Surabaya : Dari Pasar Atum ke Pasar Blauran


sebelum berteman Es Degan :-D

Meneruskan petualangan kuliner kita yaa...**deeuhh** :-D

Kali ini menunya khas Suroboyoan. Sebuah makanan klasik masyarakat Surabaya. Khas dengan aroma dan rasa legit petis udangnya.

Biarpun ketika pertama tinggal disini sempat eneg dengan petis, tetapi lama-lama ternyata aku tertawan juga. Kata suami itu karena petis itu sama kaya dia : gelap dan legit, jadi pas sama seleraku!! (I know, gubraxx banget kan??**sigh**).

Lontong Mie yang pertama kusantap adalah dirumah mertua, lebih dari 10 tahun lalu. Waktu itu belum “tertawan” lidah ini (karena masih masa2 adaptasi sama petis kali yaa hehe). Tetapi ketika lama kemudian aku dapat kesempatan pergi ke Pasar Blauran, semua berubah!! **musik dramatis mulai mengalun**. Ternyata selain memiliki koleksi majalah/buku bekas yang lumayan banyak, Pasar Blauran menyimpan yang namanya Lontong Mie terlegit yang pernah kurasakan! Hari itulah aku jatuh cinta dengan yang namanya Lontong Mie Pasar Blauran! Seringkali kita jauh-jauh pergi kesana (I mean, bener2 jauhh!!!) untuk sekedar rindu menikmati sepiring legit Lontong Mie.

“Kamu belum ngrasain Lontong Mie Pasar Atum kan? Yang ini paling top!”
Lamaaaaa aku nggak tertarik karena masih enggan melepaskan diri dari LoMie Pasar Blauran. Sampai sekitar 2 minggu lalu kita pas ke Pasar Atum, dan aku akhirnya mencoba...

Lontong Mie Pasar Atum ternyata memang enak banget! Kalo aku bilang malah “terlalu enak”! Untuk derajad keenakan **ada ya yang kaya gini? hihi** mungkin LoMie Ps. Atum lebih enak. Taburan udang goreng keringnya jauuhh lebih banyak dan gurih! Tetapi kalo bicara masalah derajad kenikmatan *:-D* aku masih menambatkan hatiku pada LoMie Ps. Blauran plus kuah petisnya yang lebih hitaaammm itu (sayang ga ada fotonya ya, soalnya lamaaa nggak kesana).

Suasananya juga lebih kena, karena Ps. Blauran kan pasar tradisional, khas banget Suroboyoannya. Kalo kita makan disitu, kita akan bisa mendengar segala perbincangan dan tingkah pedagang-pembeli disekitarnya and I loved it to bits! (tempat makan berada ditengah2 dikelilingi kios2 di kanan kiri), lengkap dengan cucuran keringat yang bikin acara makan tambah asoy geboy. Sedangkan Pasar Atum kan nuansanya sudah lebih mengarah ke mall, tempatnya ber AC dan tidak ada banyak penjual LoMie yang berjejer, hanya beberapa berbentuk resto kecil ataupun pujasera gitu.

Yah..memang dari segi harga (dan tempat), Pasar Atum jelas lebih “berkelas” daripada Pasar Blauran. LoMie Pasar Atum dibandrol Rp. 11.000 sementara di Pasar Blauran harga per porsi hanya berkisar Rp. 4.000-5.000. Kalo kita pernah merasakan bahwa kadang2 bakso pinggir jalan yang murah lebih nikmat daripada bakso ala restoran, seperti itulah LoMie Ps. Blauran vs LoMie Ps. Atum.

(InsyaAllah kapan2 aku posting foto2 LoMie Ps. Blauran deh, akan terlihat betapa hitaaammmm dan legitnyaaaa, juga suasana khas pasar tradisionalnya yang masih sangat kental, hal yang sangat membawa kenikmatan tersendiri ditengah2 hutan mall Kota Surabaya sekarang ini.)

Wednesday, July 11, 2007

Liburan Kuliner di Kampung

Gara-gara modem dirumah Kakung dudul, jadi gak bisa online deh…ini ngeblog aja musti ke warnet loh…hi hi hi. Tapi hebat, warnet di Tulungagung udah pada bagus dan rame nih…

Berikut ini journal selama beberapa hari liburan di kampung di Tulungagung…(full acara makan pokoknya)

 

Hari Minggu, 8 Juli 2007, pagi jam 8 kita meluncur ke Tulungagung. Perjalanan terasa sedikit lebih panjang dari biasanya karena tidak ada Bapak yang suka godain anak2 (dan godain Ibuk juga hihihi) dan melucu di sepanjang perjalanan. Pagi tadinya si Bapak  plus Om Jess dan Om Kus memang berangkat ke Bogor dengan mobil Om Kus. Kangen ya…sebenarnya tadi malam (Selasa malam) Bapak udah ada di Surabaya, tapi baru nanti sore nyusul ke Tulungagung.

Sesampainya di Tulungagung tengah hari, Ibuk yang kelaparan (karena tadi pagi nggak sempat sarapan sendiri) langsung disambut “Sego Bantingan” ala Tulungagung he he aduh nikmatnya…Setelah hampir setahun booming, rupanya Sego Bantingan masih ngetrend juga rupanya (dan nikmatnya tak sedikitpun berkurang).

Fyi, sego Bantingan ini kalo di Surabaya disebut “Sego Sadhukan”, di daerah lain pun punya nama khas sendiri-sendiri, dari “Sego Kucing” (di Jogja) sampai “Nasi Lempar”. Ha ha ha aku pertamanya geli banget liat namanya yang konyol dan beberapa berbau vandalisme gitu.

Itu istilah2 lain dari Nasi Bungkus yang sebenarnya (maksudnya nasinya sekepal -makanya disebut nasi kucing, maksudnya seporsinya kucing he he-, trus lauknya juga sekedar telur separo atau ayam sepotong keciillll, plus sekelumit mie goreng, sambel goreng sekedarnya, pokoknya semua ala kadarnya). Harganya juga dibanting alias murah meriah (di Tulungagung cuma Rp. 1500 tapi dijamin nikmatnya masyaAlloh…) mungkin ini kenapa dikasih nama sego bantingan ya ha ha ha

Secara resmi, dimulailah liburan yang penuh petualangan kuliner ala kampung halaman tercinta ha ha ha. Sorenya, karena pas banyak sodara yang (katanya Emi) punya gawe, jadinya sampai malam menu kita adalah nasi2 hantaran yang khas old fashioned ala kampung gitu!! Aduh mak nyuss… Sambal goreng kentang+ubi yang kering dan pedas, mie goreng bumbu bawang dengan potongan kubis yang lebar2 dan taburan bawang goreng, sayur ‘lotho’ (kacang merah khas daerah sini) yang coklat pekat dan pedas, daging lapis berselimut serundeng (kelapa yang disangrai dengan bumbu) plus (ini yang paling mak nyuss) tahu goreng yang dimasak santan dan pedaaasss (alamak bener2 siap2 tambah cempluk deh sepulang liburan ini hueheuheuh).

Menu untuk anak-anak, sorenya Mbak Upik beliin sate ayam ponorogo Ibu At (depan perumahan bea cukai kedungwaru) favorit anak-anak… Malam itu Ibuk dan anak-anaknya berangkat tidur dengan perut cempluk semua he he… Alhamdulillah…

 

Senin, 9 Juli 2007

Hal yang paling menyenangkan anak-anak ketika berlibur di Tulungagung, tentu saja adalah berkumpul dengan keluarga. Kakung-Uti, Asnan (Uwa)-Mbak Emi dan Sena-Aaliyah. Apalagi ini sedang menghitung hari, sebentar lagi si Aaliyah punya adik. Asnan-Emi yang 12 Juli tahun ini genap 5 tahun menikah, sudah ‘menghasilkan’ 3 anak lho (wah produktif ya he he). Btw, cerita selengkapnya tentang Asnan-Emi bisa dibaca disini.

Eh, ada lagi yang spesial lho. Entah disengaja atau tidak, setiap kita yang dari Surabaya dateng rame-rame gini, Bu Kipir (tukang masaknya Uti) selaluuuu menyajikan menu2 yang jadi favorit kita (eh, kalo dipikir2 lagi, mungkin juga karena nggak ada tuh namanya menu kampung yang nggak favorit, alias semua enak dan ngangeni hi hi hi). Seperti hari ini, dar pagi sebenarnya aku sudah mengincar beli lodho, tapi langsung kubatalkan demi tahu kalo Bu Kipir masak Pecel Lele. Apalagi anak-anak ternyata juga sudah enjoy dengan rawon masakan Uti. Wah…hi hi

Pecel Lele ala kampungku ini bukanlah paduan lele goreng+sambal+lalapan lho. Bukan! Pecel Lelenya dimasak dari lele yang dibakar asap (biasanya beli di pasar sudah dalam bentuk dibakar gitu), dengan bumbu sambal goreng putih (minus cabe merah) yang pedesss, belimbing dan tomat (kebayang kan segernya he he) dan santan kental. Alamaakk… Kenikmatan makannya jadi tambah sempurna demi melihat wajah Bu Kipir yang senyum2 bahagia dan puas karena masakannya dapat sambutan seperti yang diinginkannya…he he

Trus siangnya, ada menu segar, es dawet Pak Eko (depan BCATulungagung)…masyaalloh segarnya. Dawetnya P. Eko ini aku suka banget karena aroma pandan dari dawet hijaunya kental banget (aduh kalo dipikir lagi apa sih yang aku ndak suka?? Hi hi). Bea juga suka banget dawetnya, sampai2 tiap ada orang yang makan, dia langsung mendekat dengan wajah mupeng, “Es dawet ya? Bea mau…!!”

Malamnya, menu ganti lagi (wah). Sudah dari sore Abe wanti-wanti ndak mau makan, karena nanti malam mau makan Mie Goreng Kabayan (depan LP/penjara TA) kesukaannya. Asal tahu aja, Abe (dan juga Bea) seperti sudah ketagihan sama mie gorengnya P.Bayan ini, tak pernah sekalipun kunjungan ke Tulungagung terlewat tanpa sempat makan menu ini.

In the end of the day, dalam hati janji2 deh, besok kalo udah pulang ke Surabaya, porsi yoganya Ibuk bakal ditambah 2 kali lipat deh!! Ha ha ha

 

Selasa, 10 Juli 2007

Beberapa kali Emi sudah merasakan sakit pinggang. Wah kayaknya hari melahirkan bakal ndak lama lagi nih. Kubilang pada si jabang bayi didalam perut “ayo nak, kalo mau keluar cepetan aja gih, mumpung Ibuk Anti masih disini, jangan ntar Ibuk Anti pulang ke Sby trus kamu lahir..!!” He he.

Pagi-pagi (sesuai rencana), kuajak Bea beli lodho. Ada kejadian lucu. Waktu menunggu penjualnya menyiapkan lodho plus sayur lothonya yg superpedas itu (lebih bertindak sebagai sambel alih2 sayur saking pedesnya), tiba-tiba Bea nyeletuk dengan suara keras, cadel dan lucunya itu “Mana Odhol nyaaa??? Ituuu diaaaa odhoolnyaaaa…!!” sambil dengan semangat nunjukin panci besar berisi lodho ayam. Semua langsung ketawa ha ha. Dari pagi memang dia menjalani semacam latihan mengucapkan kata2 “lodho” dan seringkali kepeleset jadi “odhol”. Tahu kalo dikatawain, dia malu-malu bilang (menirukan ucapanku sebelumnya tiap kali dia kepeleset ngomong) “odhol nya di kamar mandi ya Buk? Buat gosok gigi yaa??” Ha ha ha. Hancur deh dia jadi sasaran cubitan beberapa ibu dan mbak2 yang juga lagi beli lodho.

Jangan minta aku tuliskan bagaimana nikmatnya nasi lodho ayam deh…satu2nya cara hanya satu : datanglah sendiri ke Tulungagung, dan makan nasi lodho disitu!! Sudah tak terhitung rasa rindu dendam muncul di hati (atau pikiran?atau lidah?atau perut?hehe) orang-orang asal Tulungagung yang merantau atau hidup di daerah lain (seperti aku ini). Juga tak terhitung lagi deh orang-orang daerah lain yang akhirnya jatuh hati dan merindu dendam juga sama makanan khas Tulungagung ini (seperti juga suamiku).

Pada penasaran? Biar aja…he he he

Sorenya ada kejutan lagi dari Bu Kipir (lama2 memang aku curiga bahwa dia memang benar2 sengaja masak2 yang kesukaanku tiap kali aku disini lho, sumpah! Hi hi mungkin dia juga ketagihan sama rasa puas yang dirasakannya tiap kali mataku terbelalak demi liat masakannya dan berlanjut dengan acara makanku yang sangat berseleran he he).

Punten Pecel. Satu lagi magnet asal Tulungagung yang  sudah teruji kehandalannya dalam membuat orang-orang yang pernah merasakannya, jadi ketagihan. Para perantau bisa-bisa memimpikannya di malam yang riuh di perkotaan. Anak-anak kost pada rindu ibunda dan kampung halaman Tulungagung Bersinar tercinta, dan para pendatang yang pernah merasakan, bisa-bisa bertekad menikah (atau besanan) saja sama orang Tulungagung biar lebih gampang merasakannya. Ha ha ha ha hiperbola banget ya!!!

Punten Pecel sebenarnya hampir sama dengan Nasi Pecel. Sambel kacangnya sama. Sayur2annya relatif sama (tapi yang paling oke untuk punten pastinya kembang turi doong). Lauknya juga sama, biasanya tempe goreng dan terasi kedele (terasi kedele ini, juga cuma ada di Tulungagung lho hi hi). Yang membedakan (dan yang membuat istimewa) adalah bahwa menu ini tidak menggunakan nasi biasa, tapi menggunakan punten. Punten ini adalah nasi yang dimasak ala nasi uduk (dengan bumbu santan, daun salam dan garam). Setelah masak dan tanak, dalam keadaan masih panas si nasi ini ditempatkan di lumpang beralas plastik, kemudian dijojoh (di pukul2) dengan ‘gedebog’ (bonggol batang pisang - bukan pohon lho, tapi batang) sampai lengket, lembut dan kalis menyerupai uli. Setelah dingin, baru kemudian dipotong2 kotak untuk kemudian disajikan dengan sayur, lauk, sambel pecel dan kerupuk unyil. Oya, khusus tentang kerupuk unyil ini, juga cuman ada di Tulungagung (alamak), kebetulan pabriknya deket rumahku dan huenaaakkkk nya nggak tertandingi kerupuk manapun didunia (hiperbola lagi deh ha ha).

Aku sendiri di Surabaya seringkali masak punten pecel. Tapi tetap saja tidak akan bisa sama dengan punten pecel yang dimasak di kampung. Bagaimana bisa sama, aku seringkali menjojoh pake alu batu (karena susah sekali mendapatkan gedebog di sby). Tempe surabaya juga berbeda dengan tempe di tulungagung. Kalo sambelnya sih beres karena aku selalu dikirimi Ibuk sambel bikinan Bu Kipir yang maut itu he he.

MasyaAlloh…nikmat sekali…(sekali lagi) tadi malam itu aku berangkat tidur dengan perut kosong (kebalikannya maksudnya hi hi hi)..

 

Hari ini, Rabu, 11 Juli 2007

Emi semakin sering merasakan sakit pinggangnya. Asnan sempat bilang, kalo sampe lahirnya si jabang bayi besok (tgl 12 Juli) berarti barengan sama 5th anniversary pernikahan mereka ya?? Pasti seru juga, 5 tahun pernikahan ditandai dengan kelahiran anak ketiga he he.

Abe udah semangat menyambut adik sepupu baru. Kalo dia memberi julukan Aaliyah ‘blokotito’ (ndak tau deh darimana dia dapat kata2 itu hi hi), maka si jabang bayi yang belum lahir, sudah disiapkannya julukan, yaitu ‘betita’…ha ha ha ada2 aja…

Rinduku sama mas iwan sudah hampir tak tertahankan (hikss), apalagi bulan2 ini memang dia sibuk banget, dari urusan buka gudang baru di Jember sampe lihat2 perkebunan sawit di balikpapan. Ini aja sebenarnya kepergian ke Bogor gak ada rencana yang khusus selain nemenin Om Kus, tapi karena sekalian pengen nonton bola Piala Asia di Senayan (alamak) jadinya dibelain pergi deh… Ah tinggal sebentar, nanti sore juga kan dia nyusul kesini hueheheh

Menu hari ini belum tahu, aku belum sempat ke dapur Bu Kipir di belakang dan sarapan…semacam agak2 protes deh dari tadi si perut…minta ke kamar mandi terus (ha ha ha). Kuputuskan untuk istirahat mengunyah barang sebentar hi hi. Tapi nanti kalo si mas udah datang, wah mana bisa kutolak, dia pasti ngajak makan diluar…nasi pecel plosokandang nduk!!... Bakwan depan golden swalayan yuuk!!...pingin sate kambing P. Nyoto (depan Barata) nih cay!!...alamaaakkkkk…..

 

(PS : sorry kalo gambarnya nggak nyambung sama isi postingannya ya…abisnya kangen…hikss..)