**eng ing eng** ini dia pecel belut gorengnya!! Yang khas disini, diatasnya penuh taburan bawang putih yang dikepruk dan digoreng dengan kulit2nya. Sambal tomatnya top, boleh pilih pedas, sedang atau tidak pedas, dan aroma terasinya pas, nggak berlebihan
Hujan-hujan begini, memang enaknya posting kuliner aja ya, hehe... Dan memang, sejak terinspirasi Lala (http://niwanda.multiply.com), sekarang di harddisk album foto sudah menumpuk gambar-gambar hasil jepretan waktu makan diluar. Thanks to Lala (or not?? :-D), it looks like I’m so getting into this now...hihihi.
Waktu itu, suasananya pas seperti sekarang ini. Pagi dihiasi hujan rintik-rintik yang awet dari semalam dan hawa dingin membuat saraf lapar semakin sensitif dan rajin berkerja. Don’t you just love rain season? (well, I mean despite all those flood and disaster, hikss)
Sehabis mengantar Abe-Bea sekolah, pagi itu rencana kita berdua pergi untuk belanja pesanan ibuk yang mau pulang haji. Heading to wilayah Ampel, belum separuh jalan mas Iwan came up with this idea. Sudah lama dia bercerita tentang tempat ini tanpa sempat mengajak aku berkunjung. Finally, it was a perfect time!
Sejak kecil, aku sudah sangat akrab dengan masakan serba belut. Besar di Kota Tulungagung, belut merupakan bahan makanan yang sangat umum di sana. Tersedia di pasar-pasar tradisional maupun pedagang ikan yang berkeliling. Musim hujan begini biasanya Ibuk lebih sering memasak belut dari biasanya. Digoreng garing atau dimasak kecap (pedas), keduanya sama nikmatnya.
Ketika aku kuliah dan tinggal di Surabaya, jadi jarang (hampir nggak pernah lagi) makan belut. Itu sudah sekitar 12 tahun yang lalu ya. Makanya ketika akhir-akhir ini makanan ini jadi banyak dijual, aku ikut semangat juga. Sebelum sempat mencicipi langsung, kalo ada liputannya di TV cuma bisa ngeces. Masalah halal haram, sempat bikin aku risau, I was lika “Oh no, ini makananku dari kecil, gimana kalo ternyata haram dimakan??? waksss” tetapi setelah mengetahui info bahwa si hewan licin ini hanya akan haram untuk mereka yang jijik memakannya, jadi tenang deh... Hehehe...
Btw, suami masih belum mau nyoba, padahal dia yang mempromosikan warung belut ini “Uenak Nduk!” gitu katanya...Lah...darimana dia tahu itu enak kalo blum nyoba ya?? Lagian yang dikasih tahu pun udah tahu dari jaman ban masih kotak kalo yang namanya belut memang enak!! Gimana sih! Hihihi
Dasar otak bisnis, biarpun dia belum nyoba makan, begitu liat warungnya rame (apalagi konon kabarnya, jaringan warung belut ini sudah mengkoleksi stiker mak nyuss-nya Bondan Winarno “Wisata Kuliner Trans-TV”), ternyata sudah beberapa bulan ini dia malah sudah terlibat pembicaraan sama pemiliknya untuk kemungkinan bikin franchise nya...Oalah.. (meminjam gayanya, kubilang : product knowledge, itu penting mas!....u need to try it first before you sell it!! **jurus acung2kan telunjuk ala bu guru** huehehehehe)