Showing posts with label abe. Show all posts
Showing posts with label abe. Show all posts

Sunday, March 7, 2010

Tentang BULU KETEK

Dari statur facebook ku pagi ini :


Tadi iseng melempar pertanyaan ke anak2...

"Semua yang diciptakan Allah nggak akan sia-sia. Kira-kira untuk apa Allah menciptakan BULU KETEK ya?"

Dan Abe pun menjawab...

"Supaya bulunya bisa dicukur, dikumpulkan, trus dipake untuk bikin kumis palsu!"

*mendadak mual*


Friday, January 15, 2010

Abe, Bea dan Teman Lawan Jenis Mereka

Repost dari Note di Facebook :-)

:::::.....

Banyak hal lucu dan menarik kalau kita perhatikan pergaulan anak-anak jaman sekarang ini. Pasti semua sudah pernah menyaksikan, betapa sekarang ini anak-anak SD kelas bawah (kelas 1-3) banyak yang sudah menyerupai ABG saja, bahkan anak-anak usia TK pun begitu loh –haduuhhh- entah harus merasa apa aku melihatnya.

Suatu hari, aku terbengong-bengong waktu menjemput Bea di sekolah. Waktu itu aku melihat 2 temen sesama TKB nya, dua-duanya cewe, saling berbisik-bisik centil (kalau nggak boleh dibilang sedikit genit) sambil pandangan mata mereka tertuju pada satu arah tertentu.

Ketika aku mengikuti arah pandangan mata mereka itu, ternyata yang sedang menarik perhatian mereka berdua adalah Mahez. Dan ketika sampai waktunya si Mahez melintas didepan mereka, serasa dikomando mereka bersama-sama mengumandangkan sebuah nama dengan sikap sangat malu-malu dan tersipu-sipu. “Maa…hezz….” Dan walaupun Mahez melengos dengan cuek, tapi ketika Mahez berlalu kedua anak itu langsung saling berpandangan dengan ekspresi wajah dan tubuh sangat bersemangat, mirip benar dengan ekspresi para penggemar musik pop cewe yang baru berpapasan dengan (misalnya) Michael Jackson ketika di jalan.

Oya, Mahez ini jadi semacam salah satu cowo idola di TK nya Bea. Bingung kan bagaimana bisa anak TK B sudah punya “cowo idola” di kelas mereka?? Tapi ini terjadi. Pada Mahez. Sudah tak terhitung banyaknya kami mendengar cerita-cerita betapa anak-anak perempuan di kelas B3 saling berebut main bersama Mahez. Atau rame-rame mengejar Mahez. Untuk apa? Untuk cium2 Mahez. Hwaaaaaaa!!!

*tag ibunya Mahez ahhh hehehe*

Sekarang mari kita lihat bagaimana model bergaulnya Abe dan Bea, anak-anakku.

Harus kuakui, dalam tingkat tertentu, aku seperti bersyukur bahwa Bea tidak seperti dua anak perempuan yang aku ceritakan diatas tadi itu. Aku mungkin bisa terbengong-bengong kaku berdiri tiap hari kalau sampai Bea seperti itu.

Urusan perbedaan gender rupanya berjalan dengan lebih sederhana untuk Bea sekarang ini (dan Ya Tuhan, aku harap untuk seterusnya juga). Aku masih ingat percakapanku dengannya di mobil sepulang sekolah. Waktu itu adalah 3 atau 4 hari setelah hari pertamanya masuk TK. Setelah menanyakan pertanyaan-pertanyaan standar seperti : Apa yang membuat Bea senang hari ini? Main apa aja di sekolah? dll

Aku : “Di kelas baru, siapa aja teman Bea?”

Bea: “Banyak kok Buuk…”

Aku: “Senangnya…siapa aja namanya, Ya?” – “Ya” maksudnya untuk Bea :-D

Bea: “Mm…ada Dzaky!”

Aku: “Oya, Dzaky kan temen Bea sekelas di Playgroup, senang ya bisa sekelas lagi di TK…. Trus, siapa lagi?”

Bea: “Aldooo!!”

Aku: “Aldo ya… trus? Siapa lagi?”

Bea: “Ada EL…”

Aku: “EL…ok deh…trus siapa lagi?” sampe disini alisku mulai mengeriting mendengar nama-nama itu.

Bea: “Trus ada yang cerewet juga lo Buk, dia lucu, namanya Rafi”

Aku: “Rafi lucu ya….oh…” alisku mulai keriting, karena ketika Bea bilang “cerewet” tadi aku setengah mengharapkan nama-nama seperti Amel, atau Laras, atau Nina, bahkan nama Cemplon pun boleh lah…

Bea: “Trus ada Mahez….ada Faiq, ada Naufal….”

Aku cuma melongo mendengarnya…nama-nama itu..kok nama COWO semua ya??

Ketika kemudian kutanyakan “kalo teman yang cewe-cewe, siapa aja yang Bea sukai?” Bea harus memikirkan sebuah nama dengan jauh lebih lama daripada yang tadi. Alisnya bahkan sempat mengerut mencari-cari siapa nama temen cewe yang disukainya di kelas.

Well, kalau Bea sedikit tomboi aku sudah lama tahu itu. Tapi ini menggelikan karena melihat dia tampaknya lebih nyaman bermain dengan anak laki-laki, itu sangat mengingatkan aku pada diriku sendiri ketika aku kecil dulu.

Aku kebetulan tumbuh besar diantara banyak sepupu laki-laki. Aku terbiasa main bersama mereka. Jadi daripada main boneka dan rumah-rumahan, aku lebih sering menghabiskan masa kecilku dengan main kasti, panjat pohon ini dan itu, cari ikan di sungai kecil deket rumah, patil lele atau “serangan ndhas” yaitu main perang2an dengan cara mengeplak puncak kepala lawan. Kebanyakan permainan laki-laki. Dan lama-kelamaan, ini membuat aku sempat tidak nyaman ketika kemudian harus bermain bersama teman perempuan ketika mulai sekolah. Menurutku, mereka itu kebanyakan sangat cengeng, gampang menangis, tukang mengadu, gampang sekali ngambek (marahan) tapi lebih gampang lagi merasa saling iri. Kalopun ada teman perempuan yang akhirnya bisa akrab, itu adalah beberapa saja yang mungkin sama-sama tomboi nya.

Apakah Bea juga mengalami ini dengan alasan yang sama, well sampai sekarang aku masih mencari jawabannya. Tapi memang kalau banyak keluhan yang suka dia keluarkan ketika bercerita soal teman-teman cewenya, maka kata yang keluar berkutat di “mereka suka bolo2an”….”ngatain aku jelek”….”mereka bilang nggak suka aku karena ngaji ku sudah sampai jilid 4”…dan semacamnya.

Jadi kalau ketemu dengan seorang teman laki-laki, yang Bea lakukan sih bukannya malu-malu atau bisik-bisik dengan sesama teman cewenya. Ketika di tempat parkir pulang sekolah dia ketemu Mahez atau Dzaky, Bea bakalan tanpa ragu langsung mendekat, mungkin mengagetkan mereka dengan memukul bahu dan berteriak “DAKK!!!” dan langsung ketawa-tawa ketika mereka kaget sambil bertanya dengan lantang “Kamu habis ini mau kemana?? Aku lo nggak langsung pulang, aku mau beli es pallu butung dulu!!”.

Anyway, saat ini, aku dan juga ibu guru di sekolah sedang mengusahakan supaya Bea juga bisa merasa nyaman bergaul dengan teman sesama perempuannya. Hehehe…

Lain lagi dengan Abe. Kalau Abe adalah tipe yang cuek dengan teman lain jenis. Walaupun dari sekolah Playgroup ada saja cerita lucu tentang teman cewe yang “nginthil” terus dibelakang Abe.

Pas Abe PlayGroup, ada seorang teman sekelas (sebut saja namanya L). Ibu guru sering cerita anak yang lucu ini selalu ikut kemanapun Abe bermain. Ketika suatu hari bermain peran (suatu kali anak2 bermain peran sebagai sebuah keluarga, jadi ada anak yang jadi bapak, ibuk, dan ada boneka yang mereka jadiin anak2an). Walaupun tidak disandingkan sebagai pasangan, tetapi setelah menggendong si boneka dan ada instruksi “jalan-jalan bersama keluarga” si L ini langsung lari-lari menghampiri Abe. Abe, yang saat itu sudah dipasangkan dengan teman yang lain, cuek aja sehingga kalau dilihat-lihat dia jadi mirip anak-anak yang memutuskan untuk –maaf- ber poligami :-D

Sampai sekarang dia sudah kelas 3 pun, ketika kami jalan berdua di sekolah, atau di swalayan sekolah, atau di parkiran sekolah, aku sudah terbiasa mendengar suara anak2 perempuan panggil-panggil nama Abe. Dan sudah capek aku menyuruhnya untuk menjawab panggilan-panggilan itu dengan sopan. Dan tak lupa memastikan sebelumnya bahwa tidak ada yang salah dengan pendengaran Abe. Pasalnya, Abe selalu tidak bereaksi apa-apa, nyelonoooong aja, seolah dia tidak mendengar panggilan2 itu. Akhirnya, terpaksalah aku yang selalu menjawabnya. “Iyaa…” sambil tersenyum kearah pemanggil yang ternyata bukan hanya teman sekelas atau seangkatan. Kadang-kadang anak kelas 1 atau 2, bahkan anak-anak kelas atas (4,5 atau 6).

Aku: “Abe kenapa tidak menjawab sihh??” sudah tak terhitung kali aku memprotes begini sesudahnya.

Abe: *cuma angkat bahu*

Aku: “Itu kan temenmu…kalau Abe tidak menjawab nanti bisa dikira Abe sombong loh. Padahal Abe bukan anak yang sombong kan??”

Abe: *angkat bahu lagi*

Aku: “Abeeee!!!!????” *aku mulai menuntut lebih dari sekedar angkat bahu*

Abe: “Aku lho nggak kenal mereka Buk, aku kan malu kalau harus terus menjawab?? Mereka lho selalu panggil-panggil….di ruang makan, di teras masjid… Aku maluuuu!!”

Aku: *menyerah*

Pernah aku penasaran dengan apa yang dirasakan Abe terhadap panggilan2 itu. Suatu sore kutanya dia. “Menurut Abe, kenapa sih cewe2 itu sering panggil-panggil Abe?”

Jawab Abe: “Mungkin karena Ibuk ngasih aku nama yang aneh kali. Di sekolah kan cuma aku yang punya nama ABE. Coba kalau namaku Rafi, atau Naufal, atau apa kek yang banyak kembarannya, mungkin mereka nggak akan panggil-panggil aku terus!!”

*gubrax*

Belum lagi aku harus menerima laporan beberapa temen walimurid, yang bilang bahwa anak perempuannya selalu cerita tentang Abe dirumahnya. Mendengar ceritanya yang kadang lucu kadang juga ajaib, aku cuma bisa melongo….

Sering kupancing-pancing soal pergaulannya dengan teman-teman perempuannya di sekolah, dan kesimpulanku hanyalah bahwa Abe memandang mereka dengan cara yang sewajarnya. Sewajarnya anak usia 8 tahun. Dan itu membuatku bersyukur. Abe bahkan berkali-kali mengungkapkan kalau dia sudah tidak sabar pingin segera kelas 4. Di SD Al Hikmah, mulai kelas 4 anak-anak memang sudah dipisah kelasnya, antara murid laki-laki dan perempuan.

However…. *ehm*

Ada satu teman cewe yang pernah mendapat pujian dari Abe loh. Semua terungkap ketika waktu kelas 2 kemarin, si teman ini harus pindah sekolah karena orangtuanya juga pindah ke Semarang. Waktu itu tanpa dinyana tanpa diduga, waktu pulang sekolah dan ngomongin soal yang pindah ke Semarang, masih di mobil tiba-tiba Abe nyeletuk. “Yah…padahal aku suka lo buk sama dia”

Hahhhh????? :o *Ibuk langsung oleng nyetirnya, tapi untung cuma sebentar dan pas di jalan yang sepi.

“I…Iya sih…dia memang cantik..” ujar Ibuk masih tergagap dan berusaha membagi pandangan ke jalan dan ke wajahnya Abe (pingin liat gimana ekspresinya dia saat itu, yang ternyata juga masih biasa saja).

“Bukan Buuk…bukan ituuu!! Aku itu suka dia karena dia cerewet… Trus dia pemberani loh Buk, kalau digangguin temen-temenku yang cowo, dia selalu melawan. Kalau ada temennya yang digangguin juga, dia suka belain mereka. Dan kalau dia lagi marah-marah gitu, aku suka banget liatnya….hi hi hi…”

Ohhh….akhirnya dia terkikik juga ya…sementara aku makin melongo…

Dia yang kami maksud itu adalah Nadine. Dan bukan hanya Abe yang kehilangan karena Nadine pindah ke Semarang, tapi aku juga kehilangan mb Santi, mamanya yang juga temenku di pengajian. Dan aku juga sukaaaa sama mamanya… Untunglah sekarang ada facebook, jadi masih bisa rame2an walaupun cuma di dunia maya…. ;-)

*tag mb Santi ahhh* :-D

:::...


Saturday, August 22, 2009

Abe dan ABG (Anak Belum Gede)

Kemarin di tulisan sebelumnya aku cerita soal anak-anak yang menjadi dewasa sebelum waktunya. Kali ini, aku ingin menulis cerita yang sama sekali berbeda.

Ada seorang anak istimewa, teman sekolah Abe. Sama-sama duduk di kelas 3 tapi beda kelas. Sebut saja namanya si N.

N ini boleh dibilang adalah cowo idaman di kelas 3, bahkan di seluruh SD. Idaman murid-murid cewe dan idaman ibu-ibu walimurid juga. Pokoknya, boleh dibilang walimurid yang punya anak cowo harus berhadapan dengan keinginan supaya anaknya bisa seperti N, dan kalau perlu walimurid yang mempunyai anak cewe, udah sibuk mendekati N dan ortunya sambil berharap nanti anaknya berjodoh dengan N. Hehehe.

Wajahnya ganteng, dandanannya selalu rapi. Dari potongan rambut sampai garis setrikaan di bajunya selalu licin. Walaupun sekolah fullday dan baru pulang jam 4 sore pun dia masih terlihat rapi. Anaknya pintar, termasuk salah satu yang terpintar di sekolah. Tutur katanya lembut dan sopan, dengan sikap tubuh yang teratur. Wess pokoknya nyenengin! Titik!

Suatu hari, waktu mau nonton film King di Bioskop 21, aku ketemu dengan N ini. Waktu itu dia juga mau nonton, bersama salah satu tantenya yang aku kenal juga, dan sepupunya (anak si tante). Aku? Datang berempat, dengan ABEA dan MI.

"Assalamualaikum..." sapaku buat mereka bertiga. Salam-salaman, N juga maju menyalamiku dengan senyum dan sikap tubuh yang sopan. Setelah bersalaman, dia mundur dan berdiri dengan tenang, tangan terlipat ke belakang pinggangnya. Duuhhh anak ini memang nyenengin banget, tak heran kalau fans nya banyak.

Setelah ngobrol bentar dengan si tante, aku celingukan mencari Abe. Kalau tidak salah dia barusan nginthil bapaknya untuk beli tiket. Maksudku ingin kasih tahu Abe kalo ada N disini. Beberapa detik kemudian aku temukan sosok Abe, dan tak urung membuatku (mungkin juga N dan tantenya juga) cukup melongo.

Disanalah Abe berada. Nggak tahu apa persisnya yang dia lakukan, entah memprakekkan jurus Aang The Avatar atau berlatih konser gitar (dengan tanpa pegang gitar tentunya). Yang jelas dia terlihat loncat-loncat...memutar-mutar kepalanya ke semua arah...mulutnya terlihat selalu komat-kamit...tiba-tiba merentangkan tangan kesana kemari...dan puncaknya, menutup aksinya dengan berlutut di karpet lobi bioskop.

Oh...ternyata belum. Mungkin karena karpet disitu tebal dan nyaman, akhirnya Abe memutuskan menambah bonus aksinya dengan menyerahkan punggungnya ke hamparan karpet...dia pun dlosoran disitu...dengan nyamannya!! Dan baru bangun setelah aku panggil untuk bersalaman menyapa N dan tantenya.

Itupun, acara salaman Abe dihiasi dengan gedubrakan seperti biasanya. Selama ngobrol dan menjawab pertanyaan-pertanyaan dari tantenya N yang cuma tak lebih dari semenit itu, beberapa kali Abe menabrak badanku dan menginjak kakiku yang berdiri di belakangnya.

Dari arah lain kulihat wajah Mas Iwan hanya bisa kelihatan geli dengan semua pemandangan ini. Beberapa saat kemudian, setelah kita terpisah dari rombongan N, Mas Iwan nyeletuk. Sebuah celetukan yang dari tadi juga sebenarnya mendesak di kepalaku, menunggu untuk kuteriakkan...

"Rasanya sulit dipercaya kalau mereka berdua itu sama-sama kelas 3 SD..."

**garuk-garuk sambil nyengir tak jelas**


Saturday, July 11, 2009

Balada Mas Iwan dan Batu Bata

 

Barusan, aku berniat untuk menulis cerita tentang perkenalan ku dengan walikelas barunya anak-anak tadi. Tetapi, program Word ku baru saja terbuka ketika kemudian ada yang menarik terjadi disini. Dan aku tak bisa menahan diri untuk tidak menulisnya sekarang.

 

Kebetulan, hari ini Mas Iwan pergi ke Malang untuk urusan kerja, dan baru habis maghrib tadi pulang kerumah. Kebetulan, beberapa bulan ini kami punya kebiasaan baru. Setiap pulang dari pergi, kita tidak langsung menuju rumah (kontrakan) yang sekarang kita tinggali, yang hanya berjarak 5 rumah itu, melainkan mampir dulu ke site proyek pembangunan rumah. Yah..sekedar melihat perkembangan atau menikmati suasana disitu. Begitu juga tadi, dari luar kota Mas Iwan rupanya sempat mampir dulu ke proyek...buktinya, datang-datang dia sudah heboh dengan cerita seputar proyek.

 

“Tau nggak, batu bata yang numpuk didepan rumah itu, ternyata jadi bulan-bulanan anak-anak lho!” katanya heboh.

 

“Kenapa memangnya?” tanyaku sambil ngemil pepaya bangkok

 

“Jadi itu batu-bata, dibikin jadi semacam halang rintang mereka untuk maen sepeda. Ada yang ditumpuk...ada yang dipecah jadi dua trus dibikin pembatas, ada yang dijadiin alat zig-zag...trus dipake buat maen sepedaan gitu...” suara MI cukup gemes juga. Sebagai gambaran, rumah kami memang tempatnya diujung pertigaan, tepat didepan rumah adalah masjid, dan disamping ada taman. Jadi memang dari dulu menjadi tempat berkumpulnya anak-anak dan ABG yang bermain.

 

“Huheuheue...dasar anak-anak...” sahutku geli.

 

“Lha iya anak-anak, tapi batu bata yang dipake bisa puluhan per hari loh...yang utuh pun pada dipecahin gitu...ya nggak boleh dibiarkan. Akhirnya tadi aku tegur mereka. Pak tukang juga tadi sempat kutegur supaya mengawasi anak-anak itu...”

 

Saking hebohnya cerita si Bapak, Abe yang sedang asyik maen PS jadi ikut tertarik.

 

Ada apa sih, Pak?”

 

Mas Iwan mengulangi lagi cerita hebohnya tadi, kali ini diceritakan ke Abe. Begitu cerita selesai, wajah Abe berubah menjadi takjub...bersinar...merona dengan antusiasme yang tinggi...dan komentar yang keluar dari mulutnya dengan penuh semangat adalah ini...

 

“Wahhhh berarti mereka semua ikut2an aku Pak!!! Kapan itu memang AKU yang punya ide begitu, dan ternyata mereka pada suka loh semuaaa!!!! Waahhh....hebat kaannn????”

 

**gubraxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx**

 

Aku sampe kesedak pepaya sebelum akhirnya ngakak hebat, apalagi setelah melihat MI cuma bisa nyengir sambil garuk2 kepala. Hahahahahah.

 

Pelajaran untuk Bapak, sebelum menegur anak orang, sebaiknya FOKUS pada anak sendiri terlebih dahulu yaa..... Hihihihihihi.... :-D

Thursday, June 25, 2009

Sedihnya...Ada Yang Tidak Naik Kelas :-(

Besok waktunya Abe terima raport. Tapi tadi siang Abe pulang sekolah membawa berita sedihh...

"Buk, di kelasku ada dua orang yang nggak naik kelas...." kata Abe lunglai...
Hatiku langsung mencelos mendengarnya. "Innalillahi, Siapa Be?"

Hatiku dag dig dug juga karena kebetulan aku mengenal nyaris semua teman sekelasnya. Juga ibu2 mereka....Ya Allah ini pasti ujian berat buat orangtua manapun...

"Ada satu cewe dan satu cowo, Bu..."
"Iya, siapaaa???"
.
.
.
.
.
"Ustadzah Wijanah sama Ustad Sugeng!!" jawab Abe sambil nyengir.....

**GUBRAX**

Huuuuuhhhhh!!!!!!! Anak siapa sih iniiiii?????
**cubit2 pipi dan kitik2 keteknya Abe yang ngakak puas bisa ngerjain emaknya**

:::::.....

Ada yang belum baca cerita tentang Ustadzah Wijanah yang ini?
Subhanallah, beliau ini adalah seorang walikelas yang luar biasa dedikasinya pada anak-anak.....Abe dan juga aku, sangat beruntung mempunyai walikelas seperti beliau... :-)


:::::.....

Sunday, June 14, 2009

Menyambut Ujian

:::::.....
Minggu, 14 Juni 2009 :

Kegiatan hari ini adalah temani Abe sambut UJIAN besok :
pagi sampe siang BERENANG sampe puas biar otak fresh,
dan nanti malam dimulailah serial game 'Are You Smarter Than The 2nd Grader' dirumah kami yg akan diikuti Abe dan Mbak2 Pengasuh *nyiapin hadiah dari coklat, snack sampe uang coin* saksikan kami tiap malam selama ujian jam 18.00 WIB di TV-Wahid, tembakannya TV-One huahahaha!!

*gubrak*

:::::.....

Wednesday, May 27, 2009

My Magical Day :-)


Hari ini, Kamis 28 Mei 2009, Abe ada acara Business Day di sekolah. Seperti telah dirapatkan sebelumnya, Ibuk bikinin spagheti bolognise kesukaan Abe, dan juga Es Gabus yang merupakan dagangan Ibuk waktu kecil dulu. Jadi ini lapak kami berdua deh hehe...

Nggak tau kenapa aku jadi inget postingan ini. Rindu baca postingan dari blog Friendsterku yang sekarang error nggak bisa diajak posting itu. Postingan tentang HARI PERTAMA ABE BERDAGANG.

Tulisan lama, waktu Abe masih berumur 4 tahun, tetapi membacanya sungguh membawaku kepada romansa pagi ini... :-)


:::::.....

Sabtu, 24 September 2005

Subhanalloh. Today, is definetely my day!!
Pagi-pagi sehabis sarapan, semua bingung demi melihat Abe jalan kesana kesini didalam rumah, putar sana putar sini, seperti mencari sesuatu yang bahkan dia sendiri nggak tau apa itu. Di tangannya ada kantong plastik bekas yang udah lusuh dan kusut, nggak tau bekas apa. Setiap ditanya "Abe cari apa sih?" jawabnya "itu lo buk…" selalu kalimat itu dan dibiarkan menggantung.

Lemari buku dibuka-bukanya. Tempat mainan diaduk-aduknya. Bahkan lemari dapur, dibawah tangga, lemari baju, semua, sambil masih bawa si kantong plastik lecek itu. Bapaknya sampe senewen liat anaknya muter2 nggak karuan. Beberapa lama, akhirnya aku berhenti bertanya (karena jawabnya ya itu-itu saja) and started doing other stuff.

Kira-kira 15 menit kemudian, when I back to him, ada yang berubah. Tas plastik lecek sudah nggak kosong lagi. Stuffs were loaded into it. Kulihat, ada lem kertas punyanya (labelnya udah terkelupas sama sini), trus, ada juga satu cover kaset yang udah belel (kasetnya aja mungkin udah putus pitanya dan sekarang udah menghuni tempat sampah), trus ada beberapa kartu bergambar koleksinya (ada kartu2 Power Ranger, Ultraman dan SpongeBob). Semua melesak dengan kusutnya dan berdesakan, di kantong plastik belel tadi.

Abis itu, Abe bergegas pake sendal dan siap2 ke pagar untuk keluar rumah. Spontan semua tanya, "Abe mau kemana?"

"Abe mau jualan", katanya…

Belum selesai semua melongo, anakku udah menyusuri pinggir jalan didepan rumah, tengok jalan sana sini. Pas kebetulan ada sepeda lewat, sayup-sayup tapi jelas, aku dengar dia bilang "lem, lem…" sambil menyodorkan kantong plastiknya ke arah sepeda yang lewat itu…

:-O

Sepeda itu tentu cuek dan lewat begitu saja didepannya. Abe keliatan bingung sebentar, tapi nggak lama, diapun melanjutkan perjalanannya. Cos I can’t leave my stuff at the moment, langsung kuminta mbak pengasuh mengikutinya. Sekitar setengah jam kemudian, Abe pulang, sehabis salam, langsung lapor "Kasian deh Abe buk…"

"Kenapa?"

"Jualnya cuma laku 3…", sambil disodorkannya si kantong plastik, kali ini isinya sudah berubah. Kartu masih ada beberapa disitu, tapi, lem sudah nggak ada, begitu juga cover kasetnya, berganti uang Rp 1000-an selembar, dan beberapa uang koin receh. Si mbak, dibelakangnya senyum2 mengantri untuk lapor cerita.

Aku lebih melongo dari tadi…

Langsung kupeluk dia sambil dengan antusias aku bilang "Siapa bilang Abe kasian? Abe hebat sekali udah bisa jual 3 barang, padahal baru sebentar lo jualannya!!" I just couldn’t stop to tell him how much I proud of him and how great he did the selling thing. Demi melihat semua penghuni rumah mengerubungi dengan antusias dan memujinya, Abe pun akhirnya tersenyum lebar diantara keringat jagung yang membasahi wajah dan rambutnya.

Cerita pun mengalir cepat dari mbak dan Abe tentang bagaimana bisa 3 barang "ajaib" tadi itu terjual. Uang seribu itu, didapat dari Om Indra, tetangga yang emang udah akrab banget ama kita. Dia membeli si lem kertas. Cover kaset belel, terjual seharga 100 perak ke Rasya, temannya yang kebetulan lagi jalan2 ama mbak pengasuhnya. Sedangkan satu buah kartunya dibeli Om Joko, seharga 200 perak.

Habis itu, kata mbak, Abe masih belum puas dan berjalan lagi sampe mendekati perkampungan didekat perumahan. Waktu mbak ngingetin kalo hari ini kita sekeluarga mau pergi aja, akhirnya Abe mau pulang.

Sampai waktu aku nulis inipun, tak putus semua memujinya karena udah berhasil berjualan hari ini. Mas Iwan apalagi, berkali-kali pamer ke aku : "Wah ini lo generasi penerusku nanti nduk…Insyaalloh!!" :-D

Later, sehabis sekali lagi aku memujinya, dengan tersenyum penuh arti Abe bilang "Ibuk, Abe ndak akan jadi miskin deh,… karena Abe bisa kerja, berjualan, trus dapet duit deh buat beli makan, jajan, susu, mainan, kertas lipat,…." dan entah apalagi karena dengan hati yang penuh haru, telingaku udah nggak jelas menangkap kata-katanya lagi.

T_T subhanalloh…

:::::.....

Monday, May 11, 2009

Abe Yang Sungguh JELEK

:::::.....

Minggu-minggu ini, Abe mengusung trend baru lagi dirumah. Setelah mempermasalahkan mana yang lebih hebat antara ayam dan sapi, kali ini kita semua harus rela pusing mempermasalahkan apakah dia itu ganteng atau jelek.

 

Pertama kali trend ini dilaunching di halaman sekolah, sekitar 2 minggu yang lalu. Di pinggir lapangan basket sekolah, sore-sore saat aku menjemputnya. Dari jauh sudah kulihat wajahnya yang berhias hidung berkeringat, mendekati aku yang duduk di bangku pinggir lapangan bersama ibu-ibu lain.

 

“Ibuukkk...aku itu ganteng apa jelek sih???” serunya cengar cengir sambil nagih peluk rutin tiap sorenya.

 

Duhh ngapain tanya itu ya?? Kan malu didepan Ibu2 lain ini??? Mau bilang ganteng kok kayaknya terlalu ngefans bener sama anak sendiri....mau bilang jelek kok kayaknya mengingkari kebenaran...**halah hahaha**

 

“Ya....lumayan lah...” akhirnya jawabku itu.

 

“Aku itu nggak GANTENG lo Buk! Sama sekali nggak ganteng!!”

 

“Lho?? Siapa yang bilang??” emosi seorang Ibu...**hahaha**

 

“Aku yang bilang!”

 

Hm...kuteliti wajahnya...sama sekali tidak memperlihatkan adanya penurunan PD dalam dirinya...malah wajah usil yang terpampang. Ada yang nggak beres nih...“Maksudnya apaan sih??”

 

“Aku lho nggak mau dibilang GANTENG!! Itu lho singkatan dari GELANDANGAN TENGIK??!!!!”

(dan Ibu-Ibu lain yang ikut mendengar pun langsung ikut tersedak)

 

:::::.....

 

Kapan lagi dirumah...pas ngumpul sama Bea juga...

“Bea itu lho NGGAK CANTIK!!!”

“Aku lho CANTIK!” sahut Bea sambil asyik mewarnai.

“Kamu lho NGGAK CANTIK!!”

“Aku itu CANTIK, ya Buk yaa??”

“Aku nggak mau punya adik CANTIK!! Kamu itu nggak CANTIK, Beaaa!!!”

 

Bea yang tadinya asyik khusyuk mewarnai, kurang dari semenit kemudian sudah meninggalkan gambar Strawberry Shortcake nya, dan memilih otot2an dengan masnya, demi membela martabat kecantikannya.

 

Tapi setelah Ibuk turun tangan ikut menyelesaikan, apa kata Abe??

 

“Beaaa, kamu mau cantik??? CANTIK lho singkatan dari CANTOLAN TIKUS!!!”

Si Ibuk gubrak lagi, sementara Bea yang berwajah marah akhirnya ngakak keras-keras.

 

:::::.....

 

“Ya udahhh......kemarin mas Abe nggak mau dibilang GANTENG, sekarang Bea nggak boleh dibilang CANTIK...kalo gitu Ibuk punya ide. Anak Ibuk nih ya, dua-duanya CAKEP...Setuju???”

 

Kulihat Abe mikir sebentar...

“NGGAK MAUU!! AKU NGGAK MAU CAKEP!!”

 

“Lho?”

 

“Iya, CAKEP kan singkatan dari CACING KEPANASAN!!! Aku nggak mau!!”

Ampuuuuuunnnnnnnnnnnn......!!!!

 

 

“JADI ABE MAUNYA DIBILANG APAA???”

Mikir sebentar, trus sambil menyunggingkan senyum puas, Abe pun menjawab...

 

“Aku mau dibilang JELEK aja!!! Singkatan dari JELAS-JELAS KEREN!!!!”

 

Oalah emaakkkkkkk.........!!!! Ngidam apaan sih dulu??? **tepok jidat** Aku hanya ngeri membayangkan apa kata orang, kalau kita pas ada di tempat umum, trus dengan wajah penuh kasih sayang aku ngelus rambutnya Abe dan bilang...

 

“Duuhhh...anakku yang JELEK...Ibuk sayang deh sama kamuuu” bisa dimarahin dosen-dosen psikologi perkembanganku dulu nihhh!!! Masak anak sendiri dibilang JELEK???

 

**poseeenggg**


:::::.....

 

Friday, May 8, 2009

Meniru Ibuk




Abe asyik mengulum permen karet... Tiba-tiba...

"Aku persis kaya Ibuk waktu itu!!!! Hahahahah!!"

**ikut ngakak**

Maksudnya di cerita ini lhoooo http://cikicikicik.multiply.com/journal/item/181

hihihihi

:::::.....

Wednesday, March 25, 2009

Abe, MiniZoo dan Duri Idaman

:::...

Rabu kemarin 25 Maret 2009, ada kegiatan MINI ZOO di sekolahnya Abe. Tema bulan ini sepertinya memang giliran kecerdasan natural (natural intelligence), karena minggu lalu itu proyeknya tentang kebun dan tumbuhan, eh sekarang giliran binatang.

Semua siswa kelas 2 diminta untuk membawa poster binatang (untuk dipasang di seputar dinding kelas) dan Rabu kemarin itu, membawa binatang (hidup). Mulai minggu lalu, sebelum sakit, Abe sudah ancang-ancang membawa binatang yang diinginkannya.

Dia terang-terangan bilang, pingin bawa LANDAK!!!

Gubrak nggak sih?? Landak?? Aku awalnya cuma bisa melongo... Terus terang yang seperti ini memang sering terjadi dengan Abe. Daya kreativitasnya yang tinggi seringkali membuat kami speechless kalo pas keluar ide yang sangat “out of the box” dari dia begini.

“Landak??” tanyaku memastikan

“Iya Buk, landak!! Pasti seru, biar beda sama yang dibawa teman-teman nanti. Paling yang dibawa teman-teman nanti kalo gak kura-kura, kelinci, ya hamster...aku pingin yang lain.”

“Maksud Abe hedgehog?? Bukankah hedgehog jarang sekali ada di Indonesia?”

“Bukan hedgehog, Buk, tapi landak!! Yang durinya jigrak ituu!!!”

Setelah menguasai diri sebentar, aku pun berpikir. Bukankah LANDAK termasuk binatang yang berbahaya? Dan tidak dijual di petshop-petshop?? Hemm... Abe sudah 7 tahun, sepertinya sudah waktunya untuk sedikit saja mengenalkan realita kepadanya. Mungkin beberapa teman masih ingat dengan tulisanku yang ini http://cikicikicik.multiply.com/journal/item/164/Ulang_Tahun_Yang_Sangat_Penting patut dicoba juga deh...

“Ide bagus itu Be, bawa landak!! Boleh-boleh!!” kalimat ini yang kemudian kuucapkan sebagai respon setelah melongoku usai. Dengan antusias yang kuusahakan pas dalam suaraku, lengkap dengan acungan jempol sambil nyetir dalam perjalanan pulang.

“Sekarang, dimana ya kira-kira kita bisa beli LANDAK??”

“Ya di petshop buk!!”

“Oke, kita lihat sampai hari Senin ya, kalo memang kita berhasil menemukan landak yang dijual, ya kita beli, dan Abe akan bisa bawa landak ke sekolah. Tapi kalo Senin itu kita tidak bisa menemukan orang yang menjual landak, ya Abe bawa binatang yang ada dirumah saja. Kelinci atau kucing. Setuju?”

“Oke Buk! Setuju!”

 

Sampai dirumah, kita browsing lah petshop-petshop yang online di internet. Nihil. Ya iyalah aku juga sudah mengira hasilnya, tetapi kucoba biarkan Abe menemukan sendiri realita itu...kalo “cuma” omongan Ibuknya, mana cukup untuk membuat dia percaya..??

Besoknya, pencarian dilanjutkan. Sementara itu, semakin banyak orang rumah yang dibuat melongo oleh berita bahwa Abe akan beli LANDAK untuk dibawa ke mini zoo sekolah.

Browsing lagi di petshop-petshop, bahkan kami mencoba membuka-buka forum-forum pecinta dan jual beli binatang. Hasilnya, memang tidak ada yang menjual landak. Telpon beberapa teman yang bekerja di petshop, jawabnya pun sama. Intinya kami sudah melakukan semuanya untuk menemukan seekor landak yang dijual dan bisa kami beli.

Satu lonjakan ide “KITA BELI DI KEBUN BINATANG AJA!!”, sebelum kemudian Abe pun menyerah...dengan sukarela.... Sepertinya memang tidak ada yang menjual landak yang dia inginkan (sekali lagi, yang berbulu keras dan jigrak). Apalagi kemudian ditunjang dengan info-info tentang betapa susahnya kalau kita harus memelihara LANDAK. Terutama menyangkut bulunya yang benar-benar keras, runcing dan berbahaya itu.

Akhirnya, dengan sukarela Abe pun memutuskan untuk membawa binatang lain saja. DENGAN SUKARELA, ya...ini memang tujuanku! Yang paling penting, adalah Abe tahu bahwa kita sudah berusaha sebisa kita untuk mewujudkan idenya. Supaya Abe juga belajar, bahwa terkadang, ujung dari sebuah ide adalah sesuatu yang bernama realitas....sebagus dan sefantastis apapun ide itu. Apalagi kemudian dia sempat sakit panas selama 5 hari.

Hari Senin siang, ketika dia masih terbaring sakit sembari rajin memohon-mohon supaya Rabu dia diperbolehkan masuk supaya bisa ikut mini zoo, tiba-tiba kulihat dia sibuk membawa-bawa satu kotak bekal plastik kecil. Ditaruhnya seonggok gula didalamnya. Kemudian dia minta bantuanku untuk melubangi kotak-kotak itu kecil-kecil dengan garpu panas.

“Ini untuk apa Be?” tanyaku sembari melubangi bagian atas wadah, melihat onggokan gula disitu, sepertinya aku bisa mengira kemana arah jawaban Abe.

“Untuk ngumpulin semut Buk, aku mau bawa semut aja untuk minizoo nanti.”

“Semut???”

“Iya, di halaman samping ada semut rang-rang yang muerah dan buesar-besar di dekat pohon kelapa. Aku mau ngumpulin yang buanyakkkk trus kubawa ke mini zoo”

Duuhh... Entah kenapa, aku kok seperti kembali ke awal tulisan ini ya.... **gubrax......**

:::::.....

Catt. : akhirnya Abe memutuskan membawa KELINCI abu-abu piaraannya ke mini zoo di sekolah. Ini setelah Mas Iwan mengijinkan Abe membawa gerombolan semut rang-rangnya (yang waktu itu memang sudah terkumpul...hhiiiyy mengingatnya saja aku sudah merasa gatal semua) dengan syarat bahwa Abe mau dan mampu bertanggungjawab kalau puluhan bahkan mungkin ratusan semut rang-rang itu lepas dan menggigit semua yang ada di kelas Abe (termasuk ustadz/ah) sampe bentol-bentol.... “Karena, bahkan Bapak pun nggak akan mampu bertanggungjawab, Be!!”

:-D

 

:::::.....

Friday, February 13, 2009

Fakta Seputar Khitan Abe

Inilah beberapa fakta seputar khitannya Abe 1 Februari 2009 lalu.

#1
Beberapa hari sebelum dikhitan...
Abe : "Ibuk tau nggak apa yang paling kutakutkan dari sunat?"
Ibu  : "Rasa sakit?"
Abe : "Bukan!"
Ibu  : "Darah?"
Abe : "Bukaannn"
Aku : "Apa dong, nyerah deh."
Abe : "Aku itu paling takut kalo nanti jangan-jangan tititku BERUBAH!!" (disusul nyengir)
Ibu  : **gubrax** (disusul menguasai diri)
Abe : **masih nyengir**
Ibu  : "Ohhh...tenang Be...kamu gak perlu takut mikirin JANGAN2 tititmu berubah... Tenang, karena setelah sunat nanti, tititmu SUDAH PASTI SERATUS PERSEN AKAN BERUBAH!!"


#2
Sehari sebelum dikhitan, Abe kebanjiran sms yang semua penuh berisi dukungan dan doa dari semua orang. Abah dan Mbah Sul, Kakung dan Uti, tante, om, pakde, bude , semua! Tapi ada satu pesan via sms yang sangat Abe sukai, yaitu dari Uwa Asnan (adikku yang dudul itu). Isi smsnya begini :
"Be...uwa pesen, besok kalo sudah disunat, kamu harus KAPOK ya Be. Habis itu jangan
pernah mau disunat lagi ya???"

#3
Hari kedua setelah sunat, Senin sore Abe sudah bikin orang serumah teriak2 karena ngeri. Entah lupa kalo baru sunat atau gimana, ketika dia melihat Bea megal megol nyanyi sambil menari-nari, Abe kontan LARI-LARI mengejar adeknya, biasa, mau colek pipi atau perut Bea (hal yang biasa dilakukannya). Alamaakkkk!!

#4
Setelah disunat, baru 4 hari kemudian Abe melihat sendiri titit barunya, itupun kecelakaan tak sengaja aku menjatuhkan sarungnya waktu mau memakaikan. Wajahnya aneh bener waktu itu, tak bisa dilukiskan dengan kata-kata.

#5
Dalam rangka memompa semangat dan keberanian Abe untuk menghadapi "meja khitan", banyak sekali ungkapan-ungkapan yang kami ucapkan, dengan penuh semangat dan berulang-ulang. Apalagi bapaknya yang bersifat "motivator" itu. Udah mirip Mario Teguh aja... "YESS!! Abe pasti bisa!! Bisa!! Bisa bisa!!" lengkap dengan kepalan tangan keatas. Atau kali lain "YESS, Abe anak kuat!! Hebat, hebat hebat!!

Tapi ternyata yang paling bisa dan berhasil mengukirkan semangat kebanggaan di wajah Abe adalah cerita dari banyak orang bahwa dulu Mas Iwan baru berani sunat waktu kelas 5 SD, sedangkan Abe walau masih kelas 2 sudah berani disunat. Bangga bener dia, berasa bisa mengalahkan bapaknya. Hehe.

Oya, by the way...
Yang tadi getol memotivasi ala Mario Teguh tadi itu, kan dapet tugas mensyuting seluruh proses di meja khitan tuh.. Sementara aku kebagian tugas memeluk Abe (yang akhirnya jadi "sansak" juga tiap kali Abe kesakitan dan mencengkeram sekujur tubuhku). Baru setengah jalan, ketika proses menjahit baru saja dimulai, eh...kok yang nyuting sudah klepek-klepek dan pilih mangkir dari menyelesaikan tugas???

Kalo saja tanganku tidak dicengkeram Abe, pingin rasanya aku mengacung-acungkannya dalam keadaan terkepal, sambil teriak "Ayo Mas!! Kamu pasti BISA!!" **dan tidak lupa mengulangi kata "BISA" tiga kali!! BISA!! BISA BISA!!** Hahaha

Ketika acara khjitan sudah selesai dan kita pulang, meluncur deh semua alasan dia, dari yang tidak masuk akal sampe yang tidak masuk gawang **emangnya bola??*...
Satu lagi bukti, bahwa memang benar, bicara itu lebih gampang ya... Hihihi


Tuesday, January 13, 2009

Zing Puber (Bagian 1)

 

Sudah seminggu ini semua orang dirumah dibikin pusing oleh Zing dan Abe.

Zing, kucing kesayangan dan pertama yang dimiliki anak-anak ini, sekarang memang sudah menginjak remaja (kalau nggak boleh dibilang dewasa). Selama ini kami memeliharanya dengan kasih sayang yang natural. Maksudnya natural, ya sealami mungkin. Tidak kekurangan kasih sayang, tapi juga tidak berlebihan. Tidak sampai menyiapkan kandang apalagi membawanya ke salon. Makanan pun tidak wajib beli yang khusus, menunya berselang-seling antara whizkas dan kepala ikan dari pasar, itupun dengan perbandingan yang jauh lebih sedikit untuk whiskaz.

Daripada membiarkan Zing dalam kurungan (dan menjadi kucing malas yang hanya rajin tidur), kami semua juga lebih suka membiarkannya lepas 24 jam, mengajaknya bermain, berlarian berloncatan di semua sudut rumah (kecuali kamar tidur tentu), halaman depan, samping bahkan ke taman kompleks. Karena itu Zing tumbuh dengan insting kekucingannya **hihi** yang masih terpelihara dengan baik.

Anyway, rupanya Zing sudah mulai puber. Seminggu lalu dia sempat menghilang, 3 hari nggak pulang. Sebelumnya beberapa kali Zing nggak pulang. Tetapi maksimal 2 hari kemudian berhasil pulang lagi, jadinya kami sudah nggak se khawatir dulu. Cuma, ada yang beda kali ini.

Kalau dulu-dulu, ketika Zing menghilang 2 hari trus kemudian pulang, kondisinya pasti dudul. Badan kotor semua, dengan tubuh kurus dan bulu yang acakadul. Terkadang, badannya luka dan bocel di beberapa tempat. Tanda dia baru mengalami “petualangan yang seru dan sedikit menakutkan” diluar sana. Dan begitu nyampe dirumah, dia pasti jadi pemalas untuk beberapa hari kemudian. Makan seperti kucing liar kelaparan, lalu tiduuurrr terus selama beberapa hari.

Nah, kali ini beda banget keadaannya. Malam itu, setelah 3 hari 3 malam Zing nggak pulang (rekor terlama hilang nih) dan Abe sudah mulai senewen, tiba-tiba Zing pulang. Disambut bahagia dong sama seisi rumah. Disiapkanlah makanan khusus dan lezat, dan kami semua mencelos melihat Zing makan seperti kesetanan. Duhh nih ‘anak’ pasti kelaparan diluar sana. Sambil makan, bergantian kami mengelusnya sambil menyesali tubuhnya yang kotor dan berdebu. Abe-Bea malah nggak mau pergi sama sekali dari tempat Zing makan.

Dan kemudian, hati kami mencelos lagi ketika sehabis makan, Zing menunjukkan tanda-tanda MAU PERGI LAGI!! Caranya ingin pergi, sama kesetanannya dengan cara dia makan tadi. Abe-Bea sampai teriak-teriak mencegah dia untuk pergi, maklum mereka mungkin masih kangen dengan Zing. Tapi Zing tetap ngeyel mau pergi. Seperti mencium suatu firasat, akhirnya Abe pun memutuskan mengambil tindakan drastis.

“Tutup semua pintu rumah!! Jangan biarkan Zing pergi!!”.... MasyaAllah, Abe memutuskan untuk mengurung Zing didalam rumah!!

Akhirnya Zing menghabiskan semalaman itu mengeluarkan raungan yang menyayat hati, seperti memohon semua orang untuk membukakan pintu dan memperbolehkannya keluar. Zing seperti melolongkan jeritan hatinya “Tolong...aku HARUS pergi lagi”

Abe menangis pilu...persis seperti tangisannya ketika menonton Lintang berhenti sekolah di film Laskar Pelangi. “Ibuukkkk gimana kalau diluar sana Zing diculik orang????”

Anakku... Aku tahu persis apa yang ada dipikirannya. Abe jelas-jelas patah hati melihat Zing yang sepertinya tidak mau berada dirumah ini. Padahal jelas-jelas seisi rumah masih kangen sama dia. Dengan tangisan panik Abe pun menelepon Abah (bapaknya Mas Iwan) meminta dibikinkan kandang untuk Zing. Dia juga memutuskan daripada diculik orang, mending Zing dikandang saja!

Wah, sudah mulai serius nih...

Besok paginya Abe wanti2 supaya mbak tetap mengurung Zing DIDALAM rumah selama dia sekolah. Begitu pulang, langsung Abe meminta laporan, dan sontak dia menangis lagi demi mendengar bahwa Zing masih melolong-lolong terus didepan pintu, minta dibukakan dan diperbolehkan keluar. Malam itu suasana dirumah tegang. Abe-Bea sibuk menebak-nebak apa yang terjadi sehingga Zing seperti itu.

Aku, sibuk menenangkan Abe (yang terus-terusan menangis) dan Bea dengan cerita-cerita masa kecilku ketika kehilangan kucing yang mulai dewasa. “Mungkin dia menemukan kucing betina diluar sana, dan pingin sekali menikahi kucing betina itu, mungkin Zing memang sedang jatuh cinta!”

Eleuh eleuh si Ibuk....

“Nggak boleh! Pokoknya Zing harus tetap dikurung dirumah!”

“Biarkanlah dia pergi Abe... Sudah berkali-kali dia membuktikan bahwa dia bisa pulang lagi kerumah kita setelah menghilang, maka percayalah bahwa besok-besok dia akan pulang lagi dengan baik-baik saja...”

“Nggak boleh Buukkk....Darimana Ibuk tahu kalo dia akan baik-baik saja??”

“Lihatlah dia! Biasanya sehabis menghilang, dia selalu menikmati berada dirumah. Makan, tidur, makan lagi, tidur lagi. Tapi lihat sekarang! Dia kelihatan sangat pingin pergi ke suatu tempat diluar sana! Dan badannya pun bersih nggak ada luka kali ini. Itu tandanya Zing menemukan sesuatu yang sangat menyenangkan diluar sana, bukan sesuatu yang menakutkan! Iya kan?”

“Tapi bagaimana kalau dia diculik orang jahat Buuukkk???” Abe berkali-kali mengungkapkan ketakutannya bahwa mungkin kalau dia melepaskan Zing kali ini, maka itulah kepergian terakhirnya dari rumah ini, alias mungkin Zing tidak akan kembali lagi kerumah ini untuk selamanya.

Aku mulai mengerti.... Sikap Zing yang bukannya “senang” pulang kerumah, tapi malah pingin segera “pergi” lagi ternyata membuat Abe sangat takut kehilangan Zing...

:::::.....

 

Besoknya, selepas shubuh sehabis mengaji pagi, Abe dipanggil dan diajak ngomong sama Bapak. Kalo Ibuk sudah mentok gini, biasanya memang Bapak yang action.

“Abe suka nggak main dirumah Abah?” tanya Bapak.

“Suka!” jawab Abe.

“Kenapa Abe suka main dirumah Abah?”

“Karena bisa main macam2, berenang, sepedaan...”

“Nah, kira-kira Abe mau nggak kalau Abe main kerumah Abah, trus sama Abah DIKURUNG di kamar, nggak boleh kemana-mana??”

Abe diam..... Kemudian tiba-tiba dia menggeleng pelan. Matanya perlahan beralih kepada Zing (yang masih setiap njogrok depan pintu depan nunggu dibukain, sampe ketiduran disitu). Kemudian, air muka Abe mendadak berubah, ada suatu pencerahan dan rasa ikhlas yang menyeruak disitu.

Abe lalu berjalan kearah Zing, kali ini memeluknya dengan hangat. Mulutnya terlihat komat-kamit (belakangan dia mengaku bahwa dia berdoa memohon kepada Allah untuk keselamatan Zing). Kemudian Abe memutar kunci pintu depan, membangunkan Zing yang kelihatan takjub melihat pintu terbuka. Dengan serta-merta, Zing pun berlari keluar seperti kesetanan. Ada kilat dimatanya yang seakan menyemburkan pesan entah untuk siapa dan dimana “Aku dataangggg!!!”

Abe terpekur agak lama di depan pintu. Aku tahu. Detik itu, Abe belajar banyak tentang satu hal yang amat penting, ikhlas melepaskan Zing pergi... dan aku hanya bisa memeluknya...

(Bersambung)

Wednesday, January 7, 2009

Baru vs Lama Versi Abe

Catatan Abe hari Ini berkutat soal dua hal. Pertama soal blog barunya. Kedua soal tas baru.


:::::.....

BLOG BARU --

Deuh yang punya mainan baru... Bangun tidur, langsung nyamperin Ibuk..

“Buk, habis ngaji pagi, aku boleh ngeblog??”

Huehuehuehue

Pulang sekolah, begitu masuk di mobil, langsung pengumuman...

“Pulang sekolah, habis ganti baju aku mau ngeblog!”

Beneran, jatah Ibuk ngempi memang harus dipangkas ternyata ya!

**bingung mau kasih icon nyengir atau sedih**

 

TAS BARU --


Selalu begini! Ini selalu terjadi! Tiap kali dibelikan sesuatu yang baru untuk keperluan sekolah, selalu deh selalu!

“Aku nggak mau pakeeee!!! Maluuu!!” tadi pagi terjadi lagi, ketika tas baru (yang sudah seminggu lalu kubelikan) kuminta untuk dia pakai sekolah. Padahal barang baru itu, dia suka! Bahkan seringkali dia sendiri yang milih! Trus kalo nggak mau pakai, buat apa dong beli, Bee???

“Aku malu Bu, teman-teman selalu ngeledekin kalo aku pakai barang yang baru”

“Ngeledekin gimana memangnya? Tas itu lho sudah nggak baru lagi, orang kita belinya sudah seminggu yang lalu???”

“Ya gitu....mereka selalu cieh cieh...ciehhhh tasnya baruuuu, cieeehhh...gitu Buk!! Aku nggak mau pakai tasnyaaa!! Nanti aja kalau sudah kelas 3 baru aku pakai!!” seru Abe dengan gemas bersungut-sungut.

Mau ketawa, tapi kok topiknya lucu gak lucu ya??? Nggak ada yang lucu kalau tas yang dibeli seminggu lalu harus dipakai tahun depan!! Lagian tas lama sudah menunjukkan tanda-tanda jebol!! (Itulah kenapa tas baru dibeli, anak2 memang aku biasakan baru membeli sesuatu kalau yang lama sudah rusak, atau mau rusak. Makanya memang jarang sekali dia punya yang namanya BARANG BARU.)

Yang jelas aku harus banyak-banyak tarik napas, karena aku nggak mungkin bisa ngomel!! Aku harus tahu diri, yang kayak begini juga sering terjadi sekitar 20-25 tahun yang lalu. Waktu itu, aku yang masih SD juga sering mengalaminya. Bahkan hal itu berlangsung sampai SMA. Hihihihi akhirnya aku pun berbagi nostalgia sama Abe.

“Wah Ibuk dulu juga gitu lho Be, paling malu kalau pake barang baru!! Pernah, Ibuk dibelikan sepatu baru sama Kakung-Uti. Malu banget mau pakainya! Akhirnya, Ibuk ambil tanah, trus Ibuk gosok-gosokkan di sepatu itu, biar sepatunya kotor dan nggak kelihatan baru!!”

Pasrah deh, aku pasrah atas apa yang akan terjadi dengan tas barunya Abe. Benarlah, mata Abe langsung berkilat mendengar ceritaku. “Ide bagus itu Buk!” serunya sambil tertawa-tawa. Bangkitlah dia mengambil pulpen, dan aku tak perlu menerka-nerka lagi apa yang akan dilakukannya.

“Aku coret2 aja tasku, biar nggak kelihatan baru!!”

Dweenggg!!! Si bapak yang mau mengantar, pasang muka ngeri lihat barang baru dicoret-coretin sebegitu rupa. Aku, yang memahami sepenuhnya bagaimana perasaan Abe, tak sempat merasa ngeri. Yang penting tas itu segera jelas manfaatnya, segera dipakai! Huehuehuehu

Subhanallah... Jujur aku takjub. Takjub karena tanpa disadari, sifat Abe ini diturunkannya dariku. Orangtua mana yang tidak takjub melihat anaknya tumbuh begitu mirip dengan dirinya, iya kan?? Kedua, aku takjub melihat kenyataan bahwa Abe MALU memakai barang baru. Aku sangat lebih bersyukur melihat kenyataan ini, daripada melihat misalnya kalau Abe pede bahkan PAMER dengan setiap barang baru yang dia miliki. Harapanku, semoga Abe tumbuh jadi orang yang tidak konsumtif.


(Lihatlah wajah si IronMachine, tadinya ketika dibeli dia tidak punya lho

hidung ala "monyet" itu...heuheuhe)


:::::.....

Ngomong-ngomong, ada yang masih ingat dengan postinganku yang ini?? “Baru vs Lama”??





 

Monday, January 5, 2009

Launching, Tasyakuran, Bancakan :-D

Sudah lama permintaan itu datang (buk, aku pingin punya blog, biar bisa pasang foto) , tapi baru siang ini ada waktu karena Abe pulang siang (tidak sore seperti biasanya). Penasaran juga, foto apaan sih yang mau dipampang?? kok ngebet bangett??

Bismillahirrohmanirrohim...
Akhirnya meluncur juga blog Abe yang pertama!

http://zieng.multiply.com

Tentu dengan tutorial dari Ibuk, tapi asli setiap huruf yang ada disitu, diketik sendiri oleh Abe. Ketika memilih ID, dia memilih Zieng, tentu saja terinspirasi dari nama Zing kucing kami :-D.
Dan tentang temanya, yah...silahkan klik untuk melihat sendiri :-D

Mohon doa restu dan petunjuknya, Abe masih newbie nih **malu2**


Wednesday, October 29, 2008

Ulang Tahun Yang Sangat Penting!

Hari ini, 30 Oktober 2008, alhamdulilah usia Abe genap 7 tahun. Seperti ulang tahun sebelum-sebelumnya, keputusan kami lah untuk tidak melakukan kemeriahan apa-apa kalau ada yang ultah di keluarga ini. Paling hanya sebentuk kado kecil dan segudang peluk cium plus doa untuk the birthday boy. Seperti biasa juga, tadi pagi aku sudah menulis pesan khusus untuk ustadzahnya, di buku penghubung. Kebiasaan yang sudah aku lakukan sejak Abe mulai sekolah Playgroup dulu, setiap kali dia berulang tahun.

 

“Asw. Ustadzah, alhamdulillah, hari ini 30 Oktober 2008 usia Abe genap 7 tahun. Ada tugas dari Ibuk untuk Abe di sekolah : meminta sebanyak mungkin doa dari semua ustadz/ah yang ditemui di sekolah, semoga Abe tumbuh jadi anak sholih dan mandiri. Mohon dukungannya. Terimakasih.”

 

Walaupun tak ada kemeriahan apalagi pesta, tapi ulang tahun kali ini menjadi salah satu ulang tahun yang paling PENTING untuk Abe dalam perjalanan hidupnya. Mengapa?

 

Ini gara-gara sebuah tips dalam mendidik anak yang disampaikan oleh Rasulullah SAW. Sebuah tips yang –syukurlah- sudah aku baca (dari majalah2 dan buku) dan dengarkan (dari pengajian2) sejak sebelum anak-anak lahir. Tips dari Rasulullah yang ternyata kemudian aku dapati sangat sesuai dengan teori-teori perkembangan dalam Ilmu Psikologi.

 

7 tahun pertama, perlakukanlah anakmu seperti seorang pangeran didalam istana

7 tahun kedua, perlakukanlah anakmu seperti seorang murid dengan gurunya

7 tahun ketiga, perlakukanlah anakmu sebagaimana seorang sahabat yang paling dekat

 

Memang luar biasa tips dari Rasulullah. Teori psikologi perkembangan dari manapun pasti akan setuju dengan tips ini!

 

7 TAHUN PERTAMA

Masa dimana anak-anak harus mendapatkan kebebasan dalam ber-EKSPRESI. Ketika dia harus bisa mengaktualisasikan dirinya dengan kebebasan yang tanpa batas. Dimana anak-anak tidak boleh terlalu banyak dilarang atau mendengar seruan “Jangan!”. Kasarnya, apa-apa aja boleh dan maklum deh. Mau loncat-loncat pencilakan, mau teriak dan tertawa terbahak-bahak, mau main kotor, main ini main itu, bertingkah ini bertingkah itu, semua silahkan! Dituruti! Wah kayaknya periode ini memang paling fun ya? Memang! Itu juga kok yang kurasakan sebagai orangtua :-D malah terkadang aku sedikit terlalu lebih “having fun” daripada anaknya atau daripada semestinya hehehehe.

 

7 TAHUN KEDUA

Bahkan Piaget, psikolog kondang sepanjang masa itu, setuju dengan Rasulullah, dengan menyebut bahwa usia anak 7-12 tahun adalah usia untuk mulai belajar tentang MORAL. Tentang apa yang benar dan salah. Tentang apa yang patut dilakukan dan yang tidak. Waktunya anak-anak belajar tentang hak dan kewajibannya, baik sebagai makhluk individu, maupun makhluk sosial. Waktunya anak-anak belajar tentang sopan santun dan tanggungjawab. Baik kepada Allah maupun kepada sesama manusia. Baik kepada orangtua, maupun kepada teman bahkan adik dan sepupu yang lebih kecil. Intinya, anak-anak mulai belajar! Ada kalanya orangtua harus mengatakan “Jangan lakukan ini, karena akan berakibat begitu”. Ada kalanya anak belajar untuk benar-benar menerima konsekuensi dari apa yang dilakukannya. Waktunya orangtua memasang ‘standard bar’ akan apa yang baik dan tidak untuk dilakukan (tentunya menurut norma-norma yang dianut oleh keluarga tersebut). Ya, anak-anak mulai menjadi murid, dan kita lah yang menjadi gurunya. Yang menjadi tauladan dalam rangka menunjukkan apa yang baik dan tidak untuk dilakukan.

 

7 TAHUN KETIGA

Praktiknya, anak-anak mulai ABG (usia 14 tahun kan?). Mulai subur benih-benih pemberontakan kepada orangtua, yang kata para ahli sebenarnya adalah cara dia menunjukkan bahwa dia adalah pribadi yang berdiri sendiri (which is, a good thing right??). Bukan lagi seorang ‘anak’ yang harus selalu menurut apa kata orangtuanya. Bahkan, kata-kata seorang TEMAN akan lebih menarik dan masuk akal daripada kata-kata orangtua. Apa aja deh, pokoknya jangan berurusan dengan orangtua (baca: makhluk-makhluk yang serupa bos galak dan suka memerintah dan selalu memperlakukannya seperti anak kecil).

Rasanya kalau sudah tiba waktunya, inilah saat dimana nanti aku harus berhenti menjadi orangtua bagi anak-anak. Paling nggak, berhenti jadi makhluk-makhluk yang serupa bos galak dan suka memerintah dan selalu memperlakukan remajanya seperti anak kecil. (Duh, semoga aku bisa, mendengar banyak cerita orangtua menghadapi anak-anak remaja, semoga aku menjadi tambah siap dan waspada). Ya, saatnya berhenti menjadi orangtua, dan mulai menjadi SAHABAT bagi anak-anak. Hal yang tidak mudah, tapi aku percaya ini mungkin (banyak juga contoh orangtua-orangtua yang menurutku berhasil melakukannya, semoga bisa menajadi contoh dan tauladanku). Konon, membangun komunikasi positif sedari anak-anak kecil adalah kuncinya, dan rasanya aku masih sempat memulainya.

 

:::::.....

 

Kembali ke Abe dan hari ini. Ulang tahun kali ini tentu menjadi ultah yang PENTING buat Abe. Bukan hanya kami bapak-ibuknya yang menyadari hal ini, karena bahkan sudah sejak usia 5 tahun, Abe sudah paham benar teori 3x7 diatas. Sudah sejak bertahun yang lalu kami dan dia mempunyai semacam ‘pakta’ bahwa ketika dia menginjak usia 7 tahun nanti, kecuali kasih sayang keluarga, banyak hal yang akan berubah dirumah ini.

 

Misal :

 

###

Dulu : (**suara adzan berkumandang di masjid depan**)

Ibuk : Abeee sudah maghrib, waktunya sholat.

Abe : Iyaaaaa (sambil masih meneruskan main game di komputer dan setelah diingatkan 3-4 kali, baru 15 menit kemudian berangkat sholat maghrib)

Ibuk : **masih okelah, sambil tak lupa mengingatkan soal pakta ultah ke 7**

 

Sekarang :

Sholat di awal waktu merupakan pakta terbesar tahun ini. Abe sudah paham itu, tinggal menunggu pelaksanaan saja. Bapak bahkan mencanangkan, bahwa kalau pas maghrib bapak sudah pulang, maka Abe harus mau ikut bapak sholat Maghrib dan Isya’ berjamaah di masjid.

Kalau Abe tidak melakukan seperti yang di pakta, apa yang akan dilakukan? Sesuai kesepakatan, maka akan dicatat di buku penghubung alias dilaporkan ke ustadz/ah (fyi, hal ini adalah hal yang paling ditakuti Abe) supaya Abe dinasihati lagi disekolah.

 

###

 

Dulu : Kalo sholat, Abe seringkali masih pake celana pendek (baju rumahnya sehari-hari), karena males pake sarung atau pake jubah gamis, atau celana panjang. Jadi urusan menutup aurat masih dudul.

Sekarang : simpenan gamis oleh-oleh bapak umroh yang setumpuk itu kayaknya bakalan bersorak gembira deh, karena ternyata Abe lebih memilih pake gamis daripada pake sarung atau celana panjang setiap kali sholat.

 

Dengan kata lain, SHOLAT lebih tertib! Itu memang pakta pertama kami. Mohon doanya ya, semoga semua lancar seperti yang kami semua rencanakan :-)

 

###

 

Dulu : Ibuk selalu darah tinggi duluan kalau melihat kamar tidur Abe berantakan ketika siap-siap sekolah. Dan akhirnya ‘memilih’ untuk membantu Abe siap-siap, daripada kamar jadi kayak kandang Zing dan Abe terlambat ke sekolah karena acara siap-siap yang lamaaaaa dan kacauuuu. (Yang seringkali berkunjung ke blog ini, pasti tahu kalau Abe sangat susah mandiri dan motorik halus yang kurang membuat dia gedubrakan kalau melakukan sesuatu.)

Sekarang : banyak-banyak ambil napas untuk mengatasi darah tinggi, dan kalau perlu Ibuk mengikat tangannya sendiri untuk mencegah supaya tangan tidak membantu Abe dalam bersiap-siap. Jangan lupa tangan si mbak diikat juga, hehe. Kalau sampai jam waktu berangkat Abe belum siap juga, maka sudah menjadi perjanjian kami bahwa Abe akan ditinggal saja. Bea akan diantar ke sekolah dulu, kemudian kalo sudah siap Abe dititipkan pada Pak Sis (penjaga asrama panti yang juga kerja di kantor bapak) waktu Pak Sis berangkat ngantor. Dan tentu saja, konsekuensinya Abe akan terlambat datang ke sekolah.

 

**pfuih**

 

Kelihatannya tahun yang berat ya? Bukan hanya untuk Abe, tapi juga kami orangtuanya lho! Tapi sekali lagi, inilah yang PENTING untuk dilakukan. InsyaAllah ini yang terbaik untuk Abe. (Syukurlah setiap kali membahas tentang pakta itu, Abe sendiri yang selalu menyimpulkan, “Ini yang terbaik untuk Abe ya, Buk?” (sambil matanya menerawang jauh dan nggak jelas hihih)...Iya Nak, insyaAllah... Semoga Allah mempermudah untuk kita semua ya, sayang. Diatas semuanya, kasih sayang Bapak dan Ibuk kepada Abe TIDAK AKAN pernah berubah! Bahkan akan selalu bertambah dan bertambah...

 

:::::.....

 

Mau sedikit mengintip pakta “Usia 7 Tahun Abe” kami? Inilah dia :

  1. Sholat di awal waktu
  2. Pipis dan E’ek (ini usulan Abe, dengan alasan bahwa sangat berbahaya kalau kita menahan atau menunda waktu kita kebelet pipis ataupun e’ek...betul juga ya? hihihi)
  3. Mengaji setiap hari
  4. Menyiapkan sekolah sendiri
  5. Kegiatan Suka-Suka Sampai Puas

 

(Ditandatangani kita semua. Nomor urut menunjukkan prioritas. Jadi ketika no 1 harus dilakukan, maka semua no yang dibawahnya harus mengalah. Begitu seterusnya.)

 

:::::.....

Friday, October 10, 2008

Abe Suka Sekali PR dan Uje... [Whatt??]

:::::.....

Ada satu hal yang menarik tentang anak-anak. Kadang-kadang, tanpa kita sadari ternyata diam-diam mereka seringkali memperhatikan percakapan yang dilakukan kita orang dewasa.

Seperti waktu itu...

Pas kita berempat di mobil, aku dan Mas Iwan sedang seru membahas tentang postingan-postingan temen-temen di MP. Abe sedang asyik main PSP di jok belakang, ditemani Bea yang menonton disebelahnya dengan pose andalannya...yaitu ngowoh. Hehe...

Ketika aku mengira bahwa dia terlalu sibuk main game untuk memperhatikan obrolan kami, tiba-tiba..

“Ibuk, MP itu sebenarnya apa sih?? Kok Ibuk sering banget mengatakan itu?? Apa sih itu Buk?”

Walah, ternyata diam-diam menguping juga toh?? Untung kami gak pernah membahas tema dewasa didepan anak-anak :-D

“MP itu maksudnya Multiply, Abe...disingkat jadi EmPi, biar gampang ngucapinnya..”

“Ooo...” Abe mengangguk-angguk. Kalo Multiply dia memang sudah mengerti...

 

:::::.....

Ehh...

Beberapa hari kemudian, siang-siang sepulang sekolah...

“Ibuk aku itu sukaaaaaaaa sekali PR...dari kecil lho Buk!”

Suka PR? Kok manis ya anakku?? Jarang2 kan ada anak suka PR??

Dari kecil?? Perasaan di sekolahnya Abe, gak ada PR deh, apalagi pas kecil?? Pas gede aja PR cuma ada di akhir pekan?? **Ibuk protes dengan nada tak percaya**

“Maksudnya aku suka PR... Power Ranger!!”

 

Gubraaaaxxxxxxx oalahh..iya kalo itu memang iyaaaaaa...

**Abe pun tersenyum puas karena udah ngusilin Ibuknya**


Kali lain..

“Ibuukk... aku itu kalo sekolah harus diantar sama Uje lho Buk... Kalo nggak, aku bisa nggak bahagia di sekolah”

Kembali aku mengernyitkan dahi. Dia memang sudah kenal yang namanya Uje, si ustad kondang itu. Dalam hati aku sudah punya firasat, soalnya minggu ini lagi trend singkat menyingkat itu... Aku sudah merasa...

“Maksudnya??” (bukannya aku pura2 tak mengerti, karena beneran, aku bener-bener nggak ngerti apa yang dimaksud Abe dengan UJE kali ini)

“U-J Buukkk... Bukan U-J-E... tapi U-J, alias Uang Jajan!!”

Oalah makk....

**gubrax lagi deh, diiringi senyum puas itu lagi**


:::::.....

Saturday, September 13, 2008

Dasar Sudah Turunan!! (Bagian 1)

:::..

 

Kadang-kadang suka amazing sendiri lihat anak-anak. Terlebih kalo melihat betapa mereka mempunyai banyak hal yang sama dengan kita orangtuanya, tanpa kita repot-repot mengajarkan atau membiasakan. Kadang-kadang bukan hanya kita orangtuanya, tapi dalam beberapa hal mereka mirip orangtua kita (kakek neneknya) atau adik-adik kita (om/tantenya). Sekali lagi, menyangkut hal-hal yang tidak secara sengaja diajarkan atau dibiasakan. Contoh. Entah gimana caranya, cara Abe berkacak pinggang dengan tangan terbalik (jempol didepan), persis banget sama ibukku. Cara berjalan Bea yang "maskulin" juga tanpa disadari persis dengan bapak mertuaku, mau dilihat dari depan belakang ataupun samping.

 

Kali ini aku bicara tentang kebiasaan anak-anak yang tidak pernah secara sengaja kita ajarkan ke mereka, tetapi seringkali mengundang orangtua kita (kakek nenek mereka) berujar : "Lihat deh anakmu itu..yang kaya gitu persis banget sama kamu dulu waktu kecil!!"

Nah, di bagian 1 kali ini aku pingin berbagi satu cerita tentang Abe. Nanti cerita tentang Bea akan ada di bagian 2.

 

 

"Buk Buk Buk, Buk Buk Buk Buk...Ibuukk!!"

 

Tanpa perlu banyak waktu, kalau bertemu dengan Abe, orang pasti langsung mengenali kebiasaannya yang 'aku' banget ini. Ibarat mesin senapan otomatis yang keterlaluan otomatisnya, mulut Abe (iya iya dehhh mulutku juga) kalau ngomong suka dudul. Kata orang Jawa, 'kemrecek'!

 

Kata-kata keluar terlalu cepat, sampai kadang-kadang nggak jelas dan akhirnya orang lain nggak ngerti apa maksudnya. Kalau mau cerita sesuatu, sepertinya bahan cerita sudah terlalu banyak dan lama menumpuk di otak, jadi ketika keluar menyembur nggak keruan tanpa terkendali. Sekedar memanggil "Ibuk" pun bisa seperti judul diatas, banyak dan berkali-kali, dengan cepat sampai mirip orang yang gagap. Sepertinya kalau sudah ngomong apalagi soal yang seru, pokoknya jadi lupa bernapas aja!

 

Terus terang, bahkan sampai sekarangpun aku masih sering kesulitan mengontrol caraku bicara yang seperti itu. Inilah alasan kenapa dulu ibukku mendorongku untuk suka menulis, karena menurutnya orang akan bisa lebih mengerti aku lewat tulisan daripada omongan. Makanya aku suka ketawa sendiri kalo melihat Abe seperti meracau cerita tentang sesuatu dan Mas Iwan cuma bisa geleng2 kepala melihatnya.

 

Seperti aku, Abe juga "repeater" kelas berat, sering banget mengulang-ulang cerita. Pagi hari cerita padaku tentang Zing yang masuk got, siang harinya dia bakal bercerita lagi hal yang sama kepadaku. Dan malamnya, eh, masih akan keluar lagi cerita tentang Zing masuk got itu! Dengan nada tetap heboh dan seru, seakan-akan itu baru pertama kalinya dia cerita! Hahahaahahaha walaupun pusing, tapi mana bisa aku protes?? Bisa gantian diprotes Mas Iwan nanti aku!! :-D

 

Selain orang-orang dirumah, "korban" yang terbanyak dari cara ngomongnya Abe ini tentu adalah guru dan ustadz-ustadzahnya. Terutama gurunya waktu Playgroup dan TK! Anak-anak umur segitu kan kalau ngomong kadang2 suka nggak jelas tuh?? Nah ini diperparah lagi dengan kecepatan ngomong yang luar biasa dan belibet pula! Hihihi jadi ingat peristiwa dengan Bu Ifah, gurunya di Playgroup dulu.

 

Hari itu waktu aku jemput sekolah, Bu Ifah cerita...

 

"Abe kan kalo ngomong cepet banget Bu Wahida... Saya dan Bu Yanti (guru pendamping) selalu harus konsentrasi penuh, kalau perlu ektra supaya bisa mengikutinya. Sudah disuruh pelan, memang sebentar kemudian Abe ngomong pelan..tapi sebentar kemudian juga jadi cepet lagi.."

 

Waktu itu aku cuma meringis, malu dan merasa ikut ditelanjangi oleh si Ibu Guru :-D

 

"Nah tadi Bu Yanti punya ide, gimana ya kalau gantian?? Seharian ini kita coba, kalau ngomong dengan Abe, kita bikin cepaattt secepat yang kita bisa?? Nanti biar Abe tahu gimana ya rasanya kalau diajak ngomong cepat sama orang??"

 

Bu Ifah berhenti cerita sejenak, dan terlihat berusaha menahan ketawa...

Aku masih meringis, tanya "Trus Abe gimana Bu??"

 

Tawa Bu Ifah pecah ketika dia menjawab dengan heboh.... "Luar biasa! Ternyata Abe tetep mengerti semua yang kami katakan lho Buukkk!!"

Hahahahaahahah

 

 

::::...

Keterangan Foto : Abe masih nyempluk, sebelum Ramadhan :-D

 

Friday, September 12, 2008

Melas vs Puasa

MELAS nggak sih lihat anak-anak jadi KURUS karena PUASA??


Melas juga... Apalagi Abe biasanya cempluk, entah di perut atau di pipi... hiksss kemarin waktu timbang, BB nya sudah turun 2 kilo dari sebelum puasa :-(

 

Hanya kebanggaan akan ridlo Allah karena berhasil menanamkan nilai penting berpuasa lah, yang masih membuat hati ini tetap ademmmm.... Jadi anak sholeh ya anakku... :-)


(keterangan foto : kondisi sehari-hari Abe pas puasa, pulang sekolah around dhuhur-ashar... tiduran sambil nonton TV, lemasssss...)

 

Monday, September 1, 2008

Puasa Yang Menyayat Hati

Udah seminggu ini blog walimurid sepi tak ada postingan baru. Kiriman tulisan walimurid juga nihil sejak Sabtu kemarin. Ya sudahlah, daripada sepi aku saja yang ngisi (hehe). Jadi tulisan ini adalah reposting, dari sini.

::::::::::..........

Puasa Yang Menyayat Hati

Oleh : Wahida Ariffianti *)

Sebuah pemandangan yang menyayat hati...

Kemarin sore, Abe anak saya yang duduk di kelas 2D terlihat tergeletak lemas, di lantai didepan kamar mandi...

Setiap yang mendekat dan memintanya untuk pindah berbaring ke sofa, tak juga mampu membuatnya bergerak barang sedikitpun. Abe masih lunglai dengan posisi meringkuk miring, dan kedua tangannya ditangkupkan diantara kepala dan lantai, seakan menjadi bantal..

“Pindah ke sofa yuk Abe..”

Tak ada jawaban, baik dalam bentuk kata-kata maupun gerakan. Pandangan matanya sayu, mulutnya mengatup rapat dan dia tetap saja meringkuk tak bergerak.

“Di lantai dingin lho Be.. Apalagi ini didepan kamar mandi...”

Tetap saja, Abe cuma bisa diam lemas. Bujukan apapun tak mempan.

Tak berapa lama kemudian, Bapak pulang dari kerja dan kontan langsung menyebut nama Allah melihat keadaan putra sulungnya ini. Tanpa ba bi bu, dia langsung mengangkat saja tubuh Abe (dirumah ini hanya Bapak yang masih kuat mengangkat Abe seperti itu) dan membaringkannya di sofa.

“Hauuss, Pak....”

Dari tadi siang, memang itu yang dikeluhkannya. Juga lapar. Memang hari itu hari pertama bulan Ramadhan. Dan sore-sore begini, tentulah waktu terberat bagi anak-anak yang sedang berlatih puasa.

“Abe masih puasa?” tanya si Bapak.

“Iya...” jawabnya lemas.

“Oya?? Kamu hebat sekali! Allah pasti semakin sayang sama Abe, sama seperti Bapak dan Ibu sekarang. Sabar ya nak, sebentar lagi sudah maghrib.”

“Aku hauusss.....” lolong Abe lagi kali ini dengan airmata yang sudah mengambang.

“Atau Abe mau berbuka puasa sekarang??” pancing Ibu (sstt...strategi seperti ini biasanya berhasil dan menjadi tantangan untuk Abe).

Abe menggeleng. (tuh kan?)

Tadi siangnya, ketika dhuhur hal ini juga terjadi. Abe breakdown dan sempat menangis karena lemas, lapar dan haus. Tetapi sesuai dengan rencana yang kami (Abe dan saya) susun sehari sebelumnya, puasa Abe bisa terselamatkan dengan tidur siang.

Yang kami bisa lakukan sore itu hanyalah memeluknya. Erat-erat dan lama. Kami bisa membayangkan bagaimana hausnya dia, orang dewasa saja kadang-kadang merasakan beratnya puasa hari pertama, apalagi Abe. Bergantian saya, suami dan mbak pengasuh menemaninya duduk di sofa itu. Membacakan buku cerita, mengobrol (tentu obrolan satu arah, karena Abe masih tetap lemas membisu), Juga Bea, adik kecilnya yang masih duduk di bangku TK yang dengan cerewet ikut membesarkan hati kakaknya.

Subhanallah...walaupun tersayat hati ini melihat keadaan Abe, hanya satu doa saya melihat keadaan rumah saya sore itu. Semoga Allah SWT tersenyum dengan ridho melihat kami sekeluarga disini. Doa itu yang terus menjadi penguat tekad saya untuk melatih puasa maghrib Abe.

“Aku juga puasa kok Mas Abe!” kata Bea tiba-tiba, seolah ingin ikut berempati dengan kakaknya. Hari itu memang Bea puasa, tapi sudah buka sejak jam 9 pagi!

“Hehe.. Iya, puasanya Bea namanya “Puasa Lucu”, bukanya jam 9 pagi, ya kan Bea?” komentar saya.

“Heheeeeee....iya!! Aku Puasa Lucu!! ” sahut Bea dengan tertawa.

Dan hei, Abe pun ternyata juga ikut tertawa melihat tingkah si adik.

Sebenarnya ini bukan pertama kali Abe puasa maghrib. Tahun lalu ketika masih kelas 1, hari pertama Ramadhan adalah kali pertama dia berhasil puasa sampai maghrib. Subahanllah, sungguh hari itu sangat berat, sekaligus sangat berkesan buat saya. Tetapi di hari ke-2 dan seterusnya, dia merasa kapok, dan tidak mau lagi. Akhirnya model puasa Abe tahun lalu adalah berbuka ketika bedug, kemudian setelah itu puasa dia teruskan lagi sampai maghrib.

Yang membuat saya bangga lagi adalah suami. Kebetulan, saya dulu mulai puasa maghrib secara penuh ketika masih berumur 7 tahun, sedangkan suami cerita kalau dia mulai puasa maghrib ketika berumur sekitar 9-10 tahun. Tahun lalu, ketika saya untuk pertama kalinya mencanangkan program melatih puasa maghrib untuk Abe, kami sempat berbeda pendapat. Suami berpendapat bahwa Abe masih terlalu kecil dan dia mengkhawatirkan kesehatan Abe, biarlah dia puasa sekuatnya dulu, sampai dhuhur atau kalau perlu jam 10 pun diperbolehkan berbuka. Tetapi saya merasa Abe sudah siap.

Saya tidak akan pernah lupa bagaimana beratnya hari itu. Untuk membujuk, mengalihkan perhatian Abe supaya puasanya bisa sampai maghrib. Abe juga terlihat sangat tersiksa, mulai dhuhur hampir setiap jam dia breakdown dan menangis karena lapar dan haus. Dan saya juga tidak akan lupa bagaimana rasa bangga pecah membuncah didalam rumah kami ketika kemudian Abe benar-benar bisa sampai maghrib. Dan yang paling penting, akhirnya suami semakin mantap untuk mendukung Abe berlatih puasa maghrib (dan secara penuh sebulan) untuk tahun ini.

Ramadhan tahun lalu itu, saya memang berusaha untuk mendorong sampai batas kekuatannya, tetapi saya tidak mau memaksakan Abe harus puasa maghrib lagi. Saya tidak mau Abe punya konsep yang negatif tentang puasa (bahwa puasa itu sebuah beban berat dan menyiksa). Mengukur kondisinya ketika itu, akhirnya untuk hari ke-2 dan seterusnya saya pun membolehkan Abe untuk berbuka dhuhur, tetapi kemudian dia setuju ketika saya menawarkan bahwa setelah berbuka dhuhur itu, Abe meneruskan puasanya sampai maghrib.

Tahun ini, saya sangat berbesar hati karena rupanya Allah mulai menjawab doa-doa saya. Abe terlihat jauh lebih siap dan bahkan semangat menyambut puasa. Dan dia sendiri yang bertekad untuk puasa sampai maghrib. Beberapa hari menjelang Ramadhan, kami berdua (Abe dan saya) sibuk membuat rencana, apa yang akan dilakukan kalau Abe breakdown lagi, menangis lagi karena lapar dan haus?? Dan Abe ternyata datang dengan usulan ide rencana yang dahsyat!

“Pokoknya Ibuk jangan bolehin aku berbuka sebelum maghrib. Kalau aku nangis lapar dan haus, peluk saja aku! Oke??”

Subhanallah...semoga Allah SWT selalu melindungimu dalam kehidupanmu, anakku...


(Sidoarjo, 02 Ramadhan 1429 H)

:::::.....

(Kisah selengkapnya pengalaman Abe berpuasa tahun lalu bisa dibaca disini : "Kejutan di hari Pertama Ramadhan")

*) Penulis adalah walimurid Al Hikmah, Ibunda dari Omar Charis Atthabrizi (Abe, kelas 2D) dan Namira Bai’atifa Azzahra (Bea, TK A1)