Showing posts with label sekolah. Show all posts
Showing posts with label sekolah. Show all posts

Wednesday, March 25, 2009

Abe, MiniZoo dan Duri Idaman

:::...

Rabu kemarin 25 Maret 2009, ada kegiatan MINI ZOO di sekolahnya Abe. Tema bulan ini sepertinya memang giliran kecerdasan natural (natural intelligence), karena minggu lalu itu proyeknya tentang kebun dan tumbuhan, eh sekarang giliran binatang.

Semua siswa kelas 2 diminta untuk membawa poster binatang (untuk dipasang di seputar dinding kelas) dan Rabu kemarin itu, membawa binatang (hidup). Mulai minggu lalu, sebelum sakit, Abe sudah ancang-ancang membawa binatang yang diinginkannya.

Dia terang-terangan bilang, pingin bawa LANDAK!!!

Gubrak nggak sih?? Landak?? Aku awalnya cuma bisa melongo... Terus terang yang seperti ini memang sering terjadi dengan Abe. Daya kreativitasnya yang tinggi seringkali membuat kami speechless kalo pas keluar ide yang sangat “out of the box” dari dia begini.

“Landak??” tanyaku memastikan

“Iya Buk, landak!! Pasti seru, biar beda sama yang dibawa teman-teman nanti. Paling yang dibawa teman-teman nanti kalo gak kura-kura, kelinci, ya hamster...aku pingin yang lain.”

“Maksud Abe hedgehog?? Bukankah hedgehog jarang sekali ada di Indonesia?”

“Bukan hedgehog, Buk, tapi landak!! Yang durinya jigrak ituu!!!”

Setelah menguasai diri sebentar, aku pun berpikir. Bukankah LANDAK termasuk binatang yang berbahaya? Dan tidak dijual di petshop-petshop?? Hemm... Abe sudah 7 tahun, sepertinya sudah waktunya untuk sedikit saja mengenalkan realita kepadanya. Mungkin beberapa teman masih ingat dengan tulisanku yang ini http://cikicikicik.multiply.com/journal/item/164/Ulang_Tahun_Yang_Sangat_Penting patut dicoba juga deh...

“Ide bagus itu Be, bawa landak!! Boleh-boleh!!” kalimat ini yang kemudian kuucapkan sebagai respon setelah melongoku usai. Dengan antusias yang kuusahakan pas dalam suaraku, lengkap dengan acungan jempol sambil nyetir dalam perjalanan pulang.

“Sekarang, dimana ya kira-kira kita bisa beli LANDAK??”

“Ya di petshop buk!!”

“Oke, kita lihat sampai hari Senin ya, kalo memang kita berhasil menemukan landak yang dijual, ya kita beli, dan Abe akan bisa bawa landak ke sekolah. Tapi kalo Senin itu kita tidak bisa menemukan orang yang menjual landak, ya Abe bawa binatang yang ada dirumah saja. Kelinci atau kucing. Setuju?”

“Oke Buk! Setuju!”

 

Sampai dirumah, kita browsing lah petshop-petshop yang online di internet. Nihil. Ya iyalah aku juga sudah mengira hasilnya, tetapi kucoba biarkan Abe menemukan sendiri realita itu...kalo “cuma” omongan Ibuknya, mana cukup untuk membuat dia percaya..??

Besoknya, pencarian dilanjutkan. Sementara itu, semakin banyak orang rumah yang dibuat melongo oleh berita bahwa Abe akan beli LANDAK untuk dibawa ke mini zoo sekolah.

Browsing lagi di petshop-petshop, bahkan kami mencoba membuka-buka forum-forum pecinta dan jual beli binatang. Hasilnya, memang tidak ada yang menjual landak. Telpon beberapa teman yang bekerja di petshop, jawabnya pun sama. Intinya kami sudah melakukan semuanya untuk menemukan seekor landak yang dijual dan bisa kami beli.

Satu lonjakan ide “KITA BELI DI KEBUN BINATANG AJA!!”, sebelum kemudian Abe pun menyerah...dengan sukarela.... Sepertinya memang tidak ada yang menjual landak yang dia inginkan (sekali lagi, yang berbulu keras dan jigrak). Apalagi kemudian ditunjang dengan info-info tentang betapa susahnya kalau kita harus memelihara LANDAK. Terutama menyangkut bulunya yang benar-benar keras, runcing dan berbahaya itu.

Akhirnya, dengan sukarela Abe pun memutuskan untuk membawa binatang lain saja. DENGAN SUKARELA, ya...ini memang tujuanku! Yang paling penting, adalah Abe tahu bahwa kita sudah berusaha sebisa kita untuk mewujudkan idenya. Supaya Abe juga belajar, bahwa terkadang, ujung dari sebuah ide adalah sesuatu yang bernama realitas....sebagus dan sefantastis apapun ide itu. Apalagi kemudian dia sempat sakit panas selama 5 hari.

Hari Senin siang, ketika dia masih terbaring sakit sembari rajin memohon-mohon supaya Rabu dia diperbolehkan masuk supaya bisa ikut mini zoo, tiba-tiba kulihat dia sibuk membawa-bawa satu kotak bekal plastik kecil. Ditaruhnya seonggok gula didalamnya. Kemudian dia minta bantuanku untuk melubangi kotak-kotak itu kecil-kecil dengan garpu panas.

“Ini untuk apa Be?” tanyaku sembari melubangi bagian atas wadah, melihat onggokan gula disitu, sepertinya aku bisa mengira kemana arah jawaban Abe.

“Untuk ngumpulin semut Buk, aku mau bawa semut aja untuk minizoo nanti.”

“Semut???”

“Iya, di halaman samping ada semut rang-rang yang muerah dan buesar-besar di dekat pohon kelapa. Aku mau ngumpulin yang buanyakkkk trus kubawa ke mini zoo”

Duuhh... Entah kenapa, aku kok seperti kembali ke awal tulisan ini ya.... **gubrax......**

:::::.....

Catt. : akhirnya Abe memutuskan membawa KELINCI abu-abu piaraannya ke mini zoo di sekolah. Ini setelah Mas Iwan mengijinkan Abe membawa gerombolan semut rang-rangnya (yang waktu itu memang sudah terkumpul...hhiiiyy mengingatnya saja aku sudah merasa gatal semua) dengan syarat bahwa Abe mau dan mampu bertanggungjawab kalau puluhan bahkan mungkin ratusan semut rang-rang itu lepas dan menggigit semua yang ada di kelas Abe (termasuk ustadz/ah) sampe bentol-bentol.... “Karena, bahkan Bapak pun nggak akan mampu bertanggungjawab, Be!!”

:-D

 

:::::.....

Friday, April 11, 2008

[Abe-Bea] Maulid Nabi 1429 H


sebelum naik panggung, Bea duduk manis karena mau periksa gigi dan mata di sekolah

19 Maret 2008 Jam 08.00-10.00
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di SD Al Hikmah Surabaya
Dresscode : Arabic Dress

Enaknya kalo anak cowok, dandanan Abe bisa se-simple ini. Gamis oleh2 Bapak umroh tahun lalu, celana panjang, kopiah putih (yang terus2an dilempar2in keatas untuk kemudian ditangkap lagi oleh Abe), sendal, selesai deh! Abe sempat diledekin Bapaknya “Ada anak Arab tapi kok sipit yaa??”

Acara dilaksanakan di Parkir Timur SD Al Hikmah, diisi dengan panggung “Aku Cinta Rasulullah”. Ada fragmen, ada pertunjukan nasyid (ada anak cewe kelas 3 yang mengiringi dengan biola, cantik sekali permainannya sampai semua gemas) ada juga pembacaan beberapa puisi oleh Ustadz/ah dan beberapa siswa. Sebelumnya, semua anak membuat puisi untuk Rasulullah. Di akhir acara anak2 juga bersama-sama membaca puisi lain yang sudah diberikan. Ustad Gatot, Kepala Sekolah dalam sambutannya mengingatkan anak2 untuk meneladani Rasulullah. Jadi anak yang berbakti dan hormat pada orangtua.

Fantastis sekali melihat dandanan anak-anak ini. Yang paling kentara adalah banyaknya anak cewe yang pake jubah ala Aisha (dari Ayat Ayat Cinta the movie tentu saja!) lengkap dengan cadar hitamnya. Walaupun jelas-jelas berkeringat, tapi kelihatan sekali mereka menikmati dandanan itu. Seru!

:::::.....

29 Maret 2008 Jam 08.00-09.00
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di PG Daarul Ilmi Surabaya
Dresscode : Bebas

Walaupun dresscode bebas, demi melihat Mas Abe pake baju Arab dalam acara maulid, Bea nggak mau kalah! “Aku juga mau pake baju Arab!” Hehe... Sekali lagi, thanks to oleh2 umroh Bapak, Ibuk jadi gak perlu jauh-jauh pergi ke Ampel untuk beli baju Arab. Kebetulan jubah hitam ini memang belum sempat kepakai Bea.

Hari itu, kebetulan Hari Sabtu. Pagi-pagi sejak jam 7.00 Ibuk harus bertugas panitia di acara Parenting Skill Class untuk walimurid di Sekolah Al Hikmah. Akhirnya urusan dandanan Bea dibantu oleh Mbah Sul dan Tante Ulfi. Jam 8.30 setelah di sms dari Mbah Sul (yang dengan baik hatinya sudah mau mengantar Bea, ditemani sepupu Raka) bahwa acara Bea mau mulai, Ibuk pun “menyelinap” sebentar ke sekolah Bea untuk melihat Bea. Wallaaahhh!!! Betapa terkejutnya Ibuk, demi melihat Bea pake dandanan **mata berbinar** Aisha!! Walimurid lain yang melihat kedatangan Ibuk langsung pada heboh lapor komentarin dandanan Bea. Subhanalloh.. hihihi. Kulihat sekeliling, beda dengan waktu di acara Abe, memang cuma Bea yang pake baju begini, makanya pada heboh.

Bea pun naik panggung, baca sholawat bersama teman-teman dan Ibuk pun sukses dibikin mewek. Apalagi setelah melihat Bea pegang mic memimpin sholawat. Anakku... Subhanalloh.... ^_^

:::::.....

Semoga kalian tumbuh jadi anak sholeh dan sangat mencintai Rasululloh.. aminn... :-)

Wednesday, March 5, 2008

Bintang Kelas dan Ranking Pertama

Menyambung postingan ini, dan seorang teman yang mengeluh tak bisa buka Friendster, maka ini adalah reposting. Postingan aslinya bisa dilihat disini. Semoga bermanfaat.
:::::.....

(Seperti dimuat di Majalah "Al-Hikmah") ( www.alhikmahsby.com )

RANKING SATU DAN BINTANG KELAS

Sudah lama saya merasa prihatin dengan istilah diatas, bahkan jauh semenjak saya belum menjadi orangtua dan wali murid. Sebenarnya keprihatinan saya bukanlah terarah kepada denotasi atau artinya, tetapi lebih kepada konotasi atau maknanya, terutama di kalangan orangtua dan wali murid yang selama ini banyak saya temui.

Menurut saya, makna ‘ranking satu’ dan ‘bintang kelas’ selama ini telah banyak mengalami overrated, terlalu dibesar-besarkan dan akibatnya, pengaruhnya terhadap perkembangan anak kita (siswa) juga menjadi agak berlebihan dari porsi yang semestinya. Kata-kata itu seolah-olah mempunyai kekuatan sihir magis yang bisa membuat para orangtua menempuh apa saja supaya si anak bisa menyandangnya. 

Sekali lagi, saya tidak punya masalah dengan arti denotatif dari istilah tersebut. Adalah hal yang sangat bagus dan membanggakan bila kita bisa mempunyai anak yang menyandang ‘label’ bintang kelas atau ranking satu di kelasnya. Siapapun orangtua –termasuk saya- pasti akan merasakan kebanggaan yang sama. Masalahnya, dalam satu kelas (yang terdiri dari berpuluh murid) hanya akan ada sebagian kecil (atau hanya satu) yang akhirnya mendapat predikat itu. Dari sinilah keprihatinan saya berawal.

Pertama, menyangkut proses yang harus ditempuh anak-anak tersebut sebelum akhirnya berhasil menjadi ranking satu atau bintang kelas di sekolahnya. Ada anak-anak yang memang dilahirkan untuk mempunyai kemampuan akademik yang cemerlang. Kemampuan akademik yang saya maksud disini mengacu pada hal-hal yang ‘dinilai dengan angka’ oleh guru-guru di sekolah. Mungkin si anak pandai matematika (meskipun tidak semua anak yang pandai berhitung bisa mandapat nilai matematika yang bagus), mungkin juga hebat dalam menghafal teori dan rumus-rumus, dan lain sebagainya. Mungkin pernah kita jumpai ada anak yang walaupun jarang (atau malah tidak pernah) belajar, tetapi selalu bisa menjawab ulangan dan melalui ujian dengan nilai sempurna. Intinya, anak model ini bisa menjadi ranking satu tanpa mengorbankan keseimbangan sisi-sisi perkembangan lainnya. 

Tetapi ada anak-anak yang demi mengejar predikat ini, mereka harus melalui serangkaian jam belajar harian ekstra disiplin, jadwal les yang amat ketat, ‘cambukan’ yang cukup keras dan terus-menerus dari orangtua, terkadang (seakan belum cukup) disertai dengan sedikit ‘ancaman’ bahwa si anak tidak akan mendapat hadiah ini dan itu kalau sampai semester ini tidak ranking di sekolah. Memang, mungkin mereka akan berhasil menjadi ranking pertama. Mungkin. Tetapi, sudah menjadi kepastian mereka akan kehilangan banyak hal yang bisa mengancam keseimbangan perkembangannya. Sebutlah, waktu bermain (saya selalu memimpikan suatu waktu dimana semua orangtua menganggap kegiatan bermain bebas sebagai hal yang serius dan berpengaruh besar untuk perkembangan anak-anak kita) dan bergaul secara luas dalam lingkungan sosial. Menimbang hal ini, rasanya usaha yang harus ditempuh si anak demi menjadi ‘ranking satu’ seperti tersebut diatas sudah agak berlebihan. Saya pernah melihat seorang anak berusia 8 tahun yang karena kecewa tidak mendapatkan nilai sempurna dalam suatu ulangan, harus kehilangan nafsu makan dan keceriaannya selama beberapa hari. Tentu menjadi keprihatinan saya bahwa si anak bisa-bisa tumbuh menjadi pribadi yang perfeksionis dan secara emosi mengalami kesulitan dalam menghadapi suatu kegagalan.

Kedua, keprihatinan saya menyangkut reaksi sebagian orangtua yang ketika anaknya gagal mencapai prestasi akademik yang mereka inginkan, seakan-akan merasa bahwa itu adalah akhir dari keberhasilan mereka sebagai orangtua. Menyangkut hal ini, ada satu cerita yang mudah-mudahan akan berguna untuk saya bagi (semoga Allah SWT menjauhkan saya dari riya’ lewat cerita ini, amin). 

Semenjak saya duduk di bangku TK sampai bertahun-tahun kemudian, predikat ranking satu dan bintang kelas sudah melekat begitu saja di diri saya. Sejauh yang saya ingat, saya tidak pernah mendapat jadwal belajar khusus (saya malah jarang sekali belajar) atau les dan kursus pelajaran ini itu dari orangtua. Yang dilakukan orangtua saya malah memasukkan saya ke sebuah klub badminton karena memang saya meminta. Saya sangat menikmati hari-hari penuh latihan dan  beberapa kali menang di kejuaraan menjadi kenangan yang sampai sekarang masih terasa manis dan membanggakan (lebih dari kenangan tentang ranking satu itu sendiri). Asyik dengan badminton, pun, tetap saja predikat ranking satu masih melekat, sampai saya berhasil menyelesaikan SD dalam waktu 5 tahun saja (saya coba diikutkan Ebtanas oleh sekolah ketika saya duduk di kelas 5, dan karena NEM saya mencapai 3 besar se-Kecamatan, akhirnya saya langsung dinyatakan lulus SD).

Keadaan berubah drastis ketika beberapa tahun kemudian saya berkenalan dan aktif di OSIS. Saya sangat menikmati dunia organisasi dan merasa disinilah saya bisa berkembang dengan sangat baiknya. Saking drastisnya, waktu kelas 2 SMA saya pernah berada di ranking 46 dari 48 siswa! Alias menjadi satu dari 3 siswa yang paling buruk nilai rapornya! Aktif di OSIS lah yang menjadi biang keladi. Apa komentar orangtua saya? Mereka hanya bilang, apa yang ada di buku rapor hanyalah angka bagi mereka, dan bila saya bisa tumbuh menjadi pribadi yang bisa menempatkan diri dengan baik, sebagai hamba Alloh dan anggota masyarakat, maka itulah prestasi mereka yang sebenarnya sebagai orangtua. Subhanalloh... (Ya Alloh, robbighfirli wali wali dayyaa, warhamhumaa kamaa robbayani shoghiroo...) 

Yang ingin saya sampaikan dari cerita ini, adalah ketika sekarang saya menoleh kebelakang, hal-hal yang saya dapatkan di organisasi (ketika saya belajar bekerjasama dan berhubungan dengan banyak orang, mengalami jatuh bangun dan kesulitan menyelenggarakan berbagai event di sekolah/kampus, dlsb.) jauh lebih banyak memberikan manfaat dalam hidup saya sekarang, dibandingkan prestasi akademik saya (saya akan angkat tangan kalau Anda tanya apa rumus luas lingkaran, atau nama kimiawi belerang atau menyebutkan diluar kepala pasal-pasal UUD 1945, hal-hal yang dulu saya kuasai dengan baiknya).

Intinya, kalau memang anak kita tidak menjadi ranking satu atau dua atau tiga (atau dua puluh sekalipun), so what? Sama seperti semua anak-anak lain di seluruh penjuru dunia, dia pasti (PASTI !!) mempunyai minimal satu bidang yang akan bisa mengantarkan dia menjadi pribadi yang sukses di kemudian hari. Entah itu berawal dari kegemarannya bermain sepeda dan sepakbola, atau keahliannya mendebat dan bernegoisasi dengan kita orangtuanya, atau kemampuannya berkreativitas dan menghayalkan hal-hal fantastis yang diluar realita (hal-hal yang seringkali justru kita sepelekan). Yang perlu kita lakukan hanyalah percaya akan hal ini, menemukan potensi dan mendukungnya dengan cara mengusahakan agar anak-anak kita tumbuh secara optimal, seimbang dan penuh dengan keceriaan. 

***

Saya seringkali mendapat pertanyaan dari teman, “menurut kamu, sekolah yang baik itu yang gimana, sih?”

Menurut saya, sekolah yang baik itu (diantaranya) adalah sekolah yang tidak mendewakan muridnya yang mendapat ranking satu.

Kalau sekolah terbaik?

Menurut saya, sekolah terbaik adalah sekolah yang bisa menjadikan semua siswanya (SEMUA, TANPA TERKECUALI) menjadi “BINTANG” di kelasnya masing-masing.

Wallohua’lam bishawab....

***


Monday, February 25, 2008

SDN Ngagel Rejo III, Kelas Kreatif di Kampung Padat

Setelah kemarin sempat ngomongin Sekolah Mahal disini dan disini, pagi ini di koran aku baca sesuatu yang sangat inspiratif dan sangat menyegarkan. Para pembaca, inilah dia satu cahaya lilin yang tetap menerangi sebidang jendela ilmu ditengah gebyarnya lampu kota biaya sekolah di negeri kita tercinta. Beliaulah sosok tempat bersandar letihnya para orangtua murid memikirkan nasib masa depan anak-anaknya karena mahalnya pendidikan yang berkualitas di negeri ini.

SHE, is just simply inspiring!!


Jawa Pos, Selasa, 26 Feb 2008,
SDN Ngagel Rejo III, Kelas Kreatif di Kampung Padat

Dikira Sekolah Mahal, Sempat Tak Dapat Murid
Ada anggapan, belajar di kelas kreatif perlu biaya besar dan hanya bisa dilakukan oleh sekolah-sekolah maju. Ternyata, anggapan itu tak sepenuhnya benar. SD Negeri Ngagel Rejo III mampu mewujudkan kelas kreatif di tengah perkampungan padat penduduk.

ANGGIT SATRIYO NUGROHO

SEBUAH televisi 21 inci dan koleksi DVD hiburan tertata rapi di pojok kelas di sebelah papan tulis. Kadang, setelah jenuh belajar atau saat istirahat, para siswa mengoperasikan DVD tersebut, berjoget poco-poco. Pun, bangku-bangku di kelas itu berbentuk beragam. Ada persegi panjang, bujur sangkar, jajaran genjang, sampai trapesium dengan aneka warna. Itulah kelas kreatif SDN Ngagel Rejo III.

"Kami memesan bangku-bangku itu di pusat mebel di Pasuruan," jelas Pascalina Sugiyarti, kepala sekolah.

Aneka bentuk tersebut, kata dia, memudahkan siswa mempelajari bentuk. "Bangkunya pun saya rancang sendiri. Bahannya kami pilih kayu ringan agar siswa gampang memindah-mindahkan," ungkapnya.

Sebab, sekali waktu, dalam hitungan menit, siswa harus cekatan membentuk kelompok belajar di kelas.

Suasana ruangan pun tak monoton seperti di kelas-kelas konvensional. Tapi, mirip arena bermain. Dinding-dindingnya berwarna ceria khas anak-anak, merah, hijau, juga kuning. "Banyak orang bertanya, SD kok mirip TK," ujar alumnus STKIP Tribuwana tersebut.

Kelas kreatif memang banyak ditemui di sekolah-sekolah maju. Padahal, SDN Ngagel Rejo III berlokasi di kampung padat penduduk, Jalan Bratang Wetan I. Sebagian besar warga berpandangan, sekolah di perkampungan padat identik dengan kelas kumuh dan murid banyak. Sugiyarti ingin mengubah image tersebut.

"Sejak jadi kepala sekolah pada 1998, saya memang punya cita-cita, mengubah citra sekolah negeri di kampung," jelasnya.

Namun, ambisi itu baru terwujud pada 2002, ketika dia dimutasi ke SDN Ngagel Rejo III. Sebelumnya, ibu empat putra tersebut menjabat Kasek di SDN Ngagel Rejo VI. Dia belum bisa merealisasi keinginannya karena banyak kegiatan. Selain menjadi Kasek, dia juga ndobel di sebuah sekolah swasta di Bratang. "Cita-cita itu bisa terwujud juga karena anak-anak saya sekarang sudah mapan semua," ungkap wanita 59 tahun tersebut.

Dia ingin membangun dua kelas kreatif sekaligus, kelas satu dan dua. "Saya merintis dulu, tapi tidak tahu tahap-tahap apa yang harus dilakukan," katanya.

Sugiyarti mengaku terkesan pada kesuksesan yang dicapai SD Mangunan, Sleman, Jogjakarta, yang dirintis Y.B. Mangunwijaya. Kebetulan, bu guru itu kenal dengan Kaseknya. Sekolah tersebut berdinding gedhek (anyaman bambu), bayarnya murah, tapi bisa melahirkan murid pintar-pintar. "Resepnya apa, harus saya cari. Tapi, belajar ke Jogja kan perlu banyak uang," tegasnya.

Maka, warga Bratang Wetan itu pun membuat kebijakan di sekolahnya. Di antaranya, laba penjualan lembar kerja siswa (LKS) untuk guru sebesar 10 persen harus ditabung untuk modal ke Jogja. Keuntungan koperasi sekolah yang tak seberapa juga disisihkan. "Untungnya, para guru mendukung," katanya.

Waktu itu, ada sepuluh guru yang mengajar di situ. Kini membengkak jadi 24 orang, termasuk honorer. Tahun itu juga, ketika libur sekolah, semua guru berangkat ke Sleman. "Ternyata, memang banyak yang dipelajari di sana (Sleman, Red)," ujar Sugiyarti.

Misalnya, belajar-mengajar tak melulu dilakukan di kelas. Belajar tentang alam, siswa diajak langsung ke sawah. Belajar tentang aliran air, diajak menyusuri sungai. "Di sekolah negeri, guru dan siswa terlibat dalam objek, belum banyak dilakukan," katanya.

Sugiyarti juga mengundang beberapa guru senior SD Mangunan ke hotel tempat mereka menginap. "Saya minta para guru mendengarkan, kemudian menerapkannya ketika kembali ke Surabaya. Awalnya mereka bingung. Tapi, saya yakin bisa diterapkan," jelasnya.

Untuk mengembangkan kelas rintisannya itu, Sugiyarti rela pontang-panting mencari tambahan materi pelajaran untuk siswanya. Waktu itu, di Surabaya sedang populer metode kumon dan mega-brain. Untuk mengetahui metode tersebut, dia mengajak cucunya ke tempat bimbingan itu. "Saya menyamar sebagai pendaftar. Padahal, saya ingin terapkan metode tersebut di kelas kreatif," ungkapnya.

Tertarik, dia pun menggandeng guru khusus untuk mengajarkan dua materi tersebut. Dia juga melibatkan teman-temannya, para dosen Unesa, sebagai konsultan. Sekali waktu, para guru mendapatkan pengarahan dari mereka. Langkah itu dilakukan untuk memastikan perubahan paradigma pengajaran di kelas.

Namun, membangun kelas kreatif bukan persoalan gampang. Tahun pertama kelas kreatif dibuka, sekolah menerima 43 siswa. Tapi, tahun kedua murid baru merosot tajam, hanya 17 orang. "Saya patah arang. Sangat kecewa. Mengapa masyarakat tak mau diajak maju," katanya.

Dia penasaran, kemudian mencari penyebabnya. Melibatkan para guru, kepala sekolah itu mencari informasi ke warga sekitar. Mengapa para orang tua tidak tertarik lagi belajar di SD Ngagel Rejo III? Jawabannya mengejutkan. Di kalangan warga berkembang pandangan bahwa sekolah yang dipimpinnya tersebut mahal.

Sugiyarti pun bergerak untuk menangkal isu itu. Dia dan para guru gencar berpromosi dari kampung ke kampung. Tentang pengajaran di sekolahnya, tentang biayanya. Setiap kampung punya gawe, SD Ngagel Rejo III selalu menyumbangkan acara seperti tari-tarian. "Sampai drum band keliling pun kami lakukan agar wali murid tahu bahwa di sekolah kami bisa belajar banyak hal," tegasnya.

Kini, enam tahun setelah studi banding di SD Mangunan, Kali Tirto, Kecamatan Berbah, Sleman, Jogjakarta, Sugiyarti dan para guru merasakan hasilnya. Saat ini, sudah banyak warga Ngagel Rejo yang memercayakan pendidikan anak-anaknya di SD Ngagel Rejo III. Tiap tahun, murid baru yang mendaftar sesuai pagu, 33 siswa.

Tak jarang para siswa itu belajar di luar kelas. Waktu pelajaran berhitung misalnya, mereka diajak ke pasar tradisional. Di situ, siswa bisa berbelanja dan menghitung uang kembalian. "Belajar tentang matematika, anak-anak juga langsung saya kirim ke bank, meski sekadar menyaksikan," jelasnya.

Untuk menjelaskan air laut pasang, siswa diajak ke Pantai Kenjeran. "Pokoknya, jangan sampai guru ngoceh terus di depan kelas," ujarnya.

Wanita berambut keriting itu juga tak segan membawa akuarium ke kelas. Dia ingin siswa belajar berhitung sekaligus warna ikan dalam akuarium. "Itu juga jembatan bagi siswa untuk menyayangi sesama makhluk hidup," ungkapnya.

Setiap ada siswa yang berulang tahun, mereka boleh membawa koleksi fotonya dan memajang di kelas. "Itu salah satu cara untuk mengapresiasi kegembiraan siswa," katanya.

Hal-hal kecil, termasuk perasaan siswa, tak luput dari perhatian. Karena itu, para guru mengoleksi banyak gambar wajah orang dengan berbagai mimik. Misalnya, senang, sedih, menangis, atau tertawa. Setiap pagi, para siswa harus absen di bawah gambar-gambar tersebut. Misalnya, yang sedang sedih absen di gambar orang sedih atau menangis dan seterusnya.

"Dengan demikian, guru tahu perasaan siswa. Sebagai pendamping belajar, guru akan lebih paham mendekati siswa dengan cara yang ampuh. Siswa kelas satu dan dua kan belum bisa menggambarkan perasaannya dengan jelas," ujarnya. (cfu)

 

Wednesday, February 20, 2008

[Sambungan] Sekolah Sayang, Sekolah Ma...hal..

[Sambungan] Sekolah Sayang, Sekolah Ma...hal..

 

Masih malam2 sepi di RS. Bea tidur sudah tanpa selang infus dan aku sangat rindu ngobrol berdua dengan Mas Iwan.. ^_^

 

Dari postingan http://cikicikicik.multiply.com/journal/item/89 sebelumnya, ternyata topik berkembang lebih lanjut. Ada beberapa komentar yang rasanya menarik juga untuk dibahas ya. Masih dengan keprihatinan tentang biaya pendidikan Indonesia bila dihubungkan dengan HAK setiap anak Indonesia untuk mendapat pendidikan yang layak, dan juga masih dengan semangat memeluk impian tentang suatu masa ketika semua anak2 Indonesia bisa bersekolah dengan sebaik-baiknya!

 

Semoga sedikit banyak bermanfaat untuk menambah sedikit wawasan kita dalam soal pendidikan ini. Komentar dan diskusi lebih lanjut? Wahhh justru itu yang sangat kuharapkan, karena ini semua adalah demi kepentingan anak2 kita semua juga.

 

Mamal http://bulatpenuh.multiply.com muncul berkomentar tentang ide SUBSIDI SILANG. Semua orang (aku juga!! aku juga!!:-D) pasti setuju bahwa cara inilah yang memang ampuh dalam rangka menjadi jembatan kesenjangan dan dalam rangka pemerataan. Dalam bidang apa saja! Pelayanan kesehatan, sosial, apa saja!

 

Nah, khusus dalam hal sekolah, permasalahannya ternyata musti ditelaah lebih jauh lagi dan dilihat dari banyak sisi. Di Sekolah Al Hikmah sendiri, program ini sudah lama dilakukan. Hanya mekanismenya yang mungkin agak panjang. Pertama, anak-anak dari semua guru/karyawan sekolah mendapat beasiswa dari Yayasan untuk bersekolah di Al Hikmah (kalau nggak salah, mereka hanya perlu membayar SPP sejumlah 10 % saja). Sebagai tambahan, para guru/karyawan dengan jangka waktu kerja tertentu mendapat tunjangan perumahan, melakukan penelitian bahkan umroh dan naik haji secara gratis dari yayasan.

 

Kemudian, kalau menyangkut anak-anak asuh yang kurang mampu, mereka tidak kemudian langsung mendapat beasiswa untuk sekolah gratis di Al Hikmah. Tidak. Kenapa? Banyak pertimbangan, terutama untuk mengantisipasi aspek kesenjangan pergaulan antar siswa. Dengan latar belakang ekonomi yang jauh berbeda, mencampur mereka dalam satu sekolah (dan pergaulan) sama saja dengan memberi hadiah pasang AC gratis kepada orang yang rumahnya hanya punya daya listrik 900 watt saja. Kelihatannya menolong, tetapi dibelakang malah akan memunculkan masalah-masalah baru. Malah kasihan.

 

Al Hikmah dalam hal ini mempunyai program Mitra Sekolah. Sekarang ini sudah banyak sekolah didaerah sekitar yang menjadi mitra, mereka umumnya adalah sekolah2 yang kurang mampu dan minim fasilitas. Dari TK sampai SMA. Maka kesinilah semua “subsidi silang” tadi disalurkan. Dana2 subsidi pemerintah (seperti Bantuan Operasional Sekolah atau BOS) dan infak harian para siswa Al Hikmah (percayalah, kalau melihat jumlahnya perbulan, pasti akan banyak yang terkejut dan merasa bangga dengan anak-anak :-D), secara rutin dan berkala semua diprogramkan untuk memberi bantuan pengadaan/perbaikan fasilitas dan juga biaya SPP bagi siswa2 tak mampu di sekolah-sekolah mitra tersebut. Kita juga sering mengadakan acara (misalnya ketika peringatan hari besar Islam) dengan mengundang siswa-siswa dari sekolah tersebut, sehingga mereka mempunyai kesempatan beraktivitas bersama siswa2 Al Hikmah, untuk menjalin hubungan pertemanan, untuk –misalnya- melakukan pertandingan sepakbola, basket atau lomba-lomba kesenian. Atau sekedar buka puasa bersama dikala Ramadhan.

 

:::::.....

 

Harlia http://harlia.multiply.com malah muncul dengan cerita yang sangat inspiratif.

“waktu itu baca dimana ya...majalah apa gitu...ada ustad.. (payah deh gw.. lupa.. ^^;; )
dia mau masukin anaknya ke sekolah islam terkenal dan tentunya, mahal...
tapi setelah bolak-balik menghitung...uang yang tadinya mau dipakai buat menyekolahkan anak malah dijadikan modal buat bikin sekolah di rumah mereka.
walhasil, anak mereka bisa sekolah di tempat yang sesuai..beserta anak-anak di sekeliling mereka... ^_^

 

Hebat ya. Aku pribadi sangat jauh dari sanggup punya pemikiran ini. Salut sama ustad itu (duh kamu kok ya pake lupa nama to Har..:-D) semoga Allah selalu melimpahi perjuangannya dengan semangat dan kemudahan, amin. Kita sangat perlu orang2 seperti ini, dan sejuta saja ada orang kaya gini, makmur deh dunia pendidikan anak-anak Indonesia.

 

Oya, menyangkut hal ini, ada sambutan salah satu Bapak Ketua Yayasan Al Hikmah yang menarik untuk disimak. Intinya begini. Selalu ada banyak jenis medan pertempuran dalam berjihad. Tentu saja adalah satu hal yang luar biasa bila kita –misalnya- bisa membangun banyak sekolah gratis untuk anak-anak yang kurang mampu. Tetapi dalam rangka kepentingan syiar agama, keberadaan sekolah berbasis Islam yang dikelola dengan bagus, maju, modern, bahkan kalau perlu megah, adalah sesuatu yang juga penting. Ibaratnya, inilah salah satu panji Islam yang harus dikibarkan.

 

Ketika dalam rapat tiga jalur ada seorang walimurid mengungkapkan kekhawatirannya bahwa jangan2 Al Hikmah menjadi sekolah yang –bhs jawanya- “puo puo” (berlebihan), Pak Ketua Yayasan mengungkapkan, bahwa justru dia merasa bahwa apa yang dicapai Al Hikmah sekarang ini belumlah apa-apa. Semakin banyak dia survey ke sekolah lain (misalnya sekolah2 kristen atau sekolah2 Islam favorit di negara2 maju macam Mesir dan Arab Saudi), semakin dia merasa bahwa “Untuk syiar agama Allah, ini semua belum apa-apa!”

 

Lebih lanjut beliau mengungkapkan, bahwa ternyata diluar sana banyak sekali orangtua2 muslim yang lebih dari mampu untuk membiayai anaknya sekolah dengan biaya yang tinggi. Ini artinya apa? Bahwa tersedia potensi umat yang amat besar dan harus digarap! Ada alasan kenapa Rasulullah menyerukan bahwa umat muslim tidak boleh menjadi umat yang miskin. Umat muslim harus bekerja keras, dan menjadi kaya raya supaya bisa mendukung jihad dijalan Allah dengan harta mereka. Nah, sekolah-sekolah ini lah salah satu wadahnya. Anak-anak dan generasi yang dihasilkan dari sekolah seperti Sekolah Al Hikmah, harus menjadi generasi kuat yang terpelihara iman dan jihadnya di jalan Allah. Lewat sekolah semacam ini, jangan sampai mereka hanya akan menjadi penghuni menara gading anak-anak yang hidup dengan bergelimang harta orangtua, tanpa tahu dan terbiasa menyadari bahwa harta itu adalah jalan dan sarana yang harus dan wajib mereka dedikasikan kepada jihad, menuju Allah.

 

(Duhhh suasananya kok jadi patriotik gini sih? Hihihi...memang waktu rapat itu, mendengar uraian Bpk. Ketua Yayasan seperti diatas itu, tak urung dadaku juga mengembang dengan sesak, dan sampai sekarangpun aku tak bisa lupa kata2nya yang (entah kenapa) menyesakkan dada. Sungguh, ternyata harta dan anak yang dititipkan kepada kita adalah amanah yang sangat amat besar pertanggungjawabannya dihadapan Allah SWT ya...hikss)

 

:::::.....

 

Ya Allah yang Maha Memiliki, aku mohon, tetapkanlah selalu hatiku hanya kepadaMu... ^_^ 

 

Tuesday, February 19, 2008

Sekolah Sayang, Sekolah Ma...hal...

Setiap tahun, pengumuman pendaftaran dan penerimaan murid baru di lingkungan Sekolah Al Hikmah Surabaya selalu menjadi perbincangan tersendiri. Bukan hanya di kalangan kami orangtua murid yang anaknya sekolah disitu, tetapi praktis semua orang. Aku sering dijadikan jujugan saudara, teman2 dan siapa saja untuk ngomongin sekolah ini. Yang utama dan selalu menarik rasa ingin tahu semua orang tentu saja adalah “Berapa biaya masuk tahun ini???”

 

Entah darimana asalnya rumor ini, kami sudah dibuat yakin bahwa tiap tahun, YLPI (Yayasan Lembaga Pendidikan Islam) Al Hikmah sudah membuat semacam komitmen bahwa setiap tahun biaya pendidikan akan mengalami kenaikan. Bukan hanya biaya masuk, tetapi juga SPP dan uang kegiatan. Sebab lainnya (yang ini bukan rumor lagi), untuk sekolah Islam di Surabaya, Al Hikmah saat ini memegang rekor biaya termahal dibanding sekolah-sekolah Islam full-day lainnya. Karena itu setiap memasuki bulan Februari (waktunya sekolah2 swasta membuka pendaftaran murid baru), isu ini biasanya jadi rasan2 hangat di kalangan ibu-ibu.

 

Tahun ini waktunya untukku terlibat karena Bea akan masuk TK. Lebih tepatnya, Mas Iwan yang terlibat karena sampai sekarang aku masih harus nungguin Bea yang opname di RS. (Ini nulis postingannya juga malam-malam di RS, waktu Bea udah tidur hehehe)

 

Minggu lalu, brosur yang ditunggu-tunggu resmi keluar. Aku comot sebagian ya, bagian lengkapnya bisa dilihat di www.alhikmahsby.com

 

 

INFORMASI PENDAFTARAN MURID BARU
KB-TK-SD-SMP-SMA AL HIKMAH
TAHUN AJARAN 2008 - 2009

 

I. Waktu dan Tempat

--delete--

 

II. Persyaratan

1. Membayar biaya pendaftaran :
     ­ KB Rp. 150.000,-
     ­ TK-SD-SMP-SMA Rp. 200.000,-

2. Usia minimum per tanggal 01 Juli 2008 :
     ­ KB : 2 tahun 8 bulan
     ­ TK : 3 tahun 8 bulan
     ­ SD : 5 tahun 8 bulan

3. dst –-delete--

 

III. Seleksi

A. Tes Psikologi

 

TK - SD

SMP - SMA

Mengungkap Tingkat Intelegensia

Mengetahui Potensi Intelegensi Siswa

Mengungkap Kepribadian & Perkembangan Mental

Mengetahui Bakat dan Minat Siswa

Mengungkap Perkembangan Motorik & Spontanitas

Mengetahui Kepribadian Siswa

Mengungkap Kematangan Sosial

-

 

B. Tes Al Qur’an

 

SD

SMP - SMA

Membaca
Al Qur'an

Hafalan Juz 'Amma

Hafalan wajib

Hafalan pilihan surat panjang

Hafalan pilihan surat pendek

An Naba’

- An Naazi’at
- Al Muthoffifin
- Al Infithar
- ‘Abasa
- Al Buruuj

- Ad Dhuha
- Al Qori’ah
- Al Qodr
- Al Insyirah
- At Takatsur
- Quraisy
- At Tiin
- Al Humazah
- Al ‘Aadiyat
- An Nasr

 

C. Tes Akademik

 

SMP

SMA

Materi SD kelas 4 dan 5

Materi SMP kelas 1, 2 dan 3 semester 1

Tes Tulis :
 - Bahasa Indonesia
 - IPA
 - Matematika

Tes Tulis :
 - Bahasa Indonesia
 - IPA
 - Matematika
 - Bahasa Inggris
 - IPS

 

E. Pelaksanaan Seleksi

--delete--

 

IV. Pengumuman
    Sabtu, 29 Maret 2008, di sekolah masing-masing

 

V. Biaya

 

Jenjang

Infaq Jariyah
( setelah diterima )

Dana Pengembangan Pendidikan per tahun

Dana Penyelenggaran Pendidikan (DPP) per bulan

KB

Rp. 6.000.000,-

Rp. 600.000,-

Rp. 475.000,-

TK1

Rp. 8.000.000,-

Rp. 800.000,-

Rp. 500.000,-

TK2

Rp. 8.000.000,-

Rp. 800.000,-

Rp. 600.000,-

SD

Rp. 13.500.000,-

Rp. 900.000,-

Rp. 700.000,-

SMP

Rp. 13.500.000,-

Rp. 2.250.000,-

Rp. 910.000,-

SMA

Rp. 13.500.000,-

Rp. 2.250.000,-

Rp. 960.000,-

 

VI. Lain-lain :
Uang seragam dan Perlengkapan sekolah, dapat berhubungan langsung dengan Toko Sekolah Al Hikmah Telp. (031) 8290216

 

:::::…..

 

Rasanya setiap orang yang masih waras dan sadar betapa susahnya cari duit, pasti sedikit banyak akan melongo lihat daftar diatas (terutama bagian nomor V itu). Aku dan Mas Iwan juga sampai sekarang setiap menyaksikan anak-anak miskin yang tidak mampu sekolah, selalu tak bisa menghalang rasa bersalah yang timbul mengingat berapa uang yang kami keluarkan untuk pendidikan anak-anak kami.

 

Juga rasa prihatin yang muncul tak terbendung setiap melihat orangtua yang dengan bangga penuh rasa mampu seakan bilang “Aku bisa lho menyekolahkan anakku di Al Hikmah yang paling mahal itu” tanpa tahu sesungguhnya apa alasan utama Sekolah Al Hikmah pantas meminta biaya sebegitu besar dari para orangtua murid. Mereka mungkin akan bisa kembali jadi manusia lagi begitu tahu bahwa di Jakarta, biaya Sekolah Islam sekelas Al Hikmah bisa-bisa 3-4 kali dari ini! Betul nggak Mbak Irma? ;-)

 

Lalu kenapa dulu kami memutuskan menyekolahkan anak-anak kesini? Semoga saja diatas segalanya, semua hanya karena Allah. Yang lainnya, beberapa adalah alasan berikut ini :

Pertama, karena Allah sudah menitipkan harta yang cukup untuk kami memperjuangkan pendidikan anak-anak di sekolah ini. Mas Iwan meyakinkan bahwa kalau sampai kita menyia-nyiakan kesempatan ini, maka sama saja kami tidak bersyukur. Dan Anda boleh percaya, kalau saja kondisi keuangan kami tidak memungkinkan untuk memasukkan anak-anak di sekolah ini, dengan ijin Allah, kami sebagai orangtua tidak akan kehabisan akal untuk berusaha menyediakan pendidikan yang terbaik buat anak-anak. Om Andrea Hirata pasti akan setuju dengan ini! :-D

 

Kedua, ada satu hal yang membuat kami tidak merasa rugi membayar mahal, yaitu apa yang disebut BUDAYA SEKOLAH. Budaya yang sepenuhnya Islami, yang hanya akan bisa dirasakan bila kita menghabiskan waktu bergaul di lingkungan sekolah. Slogan yang “Berbudi dan Berprestasi” sudah jelas visinya. Budi dulu, baru urusan prestasi. Dan slogan ini, kami sudah membuktikan prakteknya di lapangan. Dan karena itulah kami merasa visinya sama dengan visi keluarga kami. Dari masuk gerbang sekolah sampai pulang, insyaalloh anak-anak selalu berada dalam lingkungan yang berbudi dan Islami.

 

Ketiga, SPP mahal ternyata membawa konsekuensi yang tidak selamanya negative. Yang kumaksud adalah kesejahteraan para guru dan karyawan di sekolah. Dengan kesejahteraan yang memadai, para guru di Al Hikmah terbukti relative lebih focus  dan sabar dalam mengajar dan mendidik anak-anak. Walaupun urusan ini tentu saja bergantung pada karakter pribadi masing-masing guru, tetapi yang jelas urusan kesejahteraan (baca:gaji) merupakan factor yang juga sangat penting.

 

Keempat, semua yang aku sukai dan setujui tentang system sebuah sekolah, ada di Al Hikmah.

  • Tak adanya tetek bengek ranking2an dikelas
  • Libur wiken yang 2 hari (Sabtu-Minggu),
  • Tak ada PR (karena full day tugas2 dikerjakan secara mandiri di sekolah),
  • Pendekatan system pengajaran yang disesuaikan dengan karakter anak-anak. Anak2 dibagi dalam 3 karakter kelas yaitu : logis matematis (anak2 otak kiri para ahli rumus itu), linguistic (anak2 yang tak bias berhenti bicara dan kemampuan bahasanya luar biasa) dan kinestetik (anak2 yang aktif dan terus bergerak, Abe ada dikelas ini dan sebelum bias duduk tenang menerima pelajaran dikelas, anak2 ini biasanya diajak lari2 dulu keliling lapangan basket untuk menyalurkan energi yang berlebih)
  • Karena anak-anak dibagi menjadi 3 karakter, begitu pula para guru walikelas. Kesimpulannya, guru yang cerewet memegang anak2 yang cerewet, guru2 kinestetik yang nggak bias diam bergerak juga memegang anak2 yang aktif juga. Tujuannya jelas : nggak akan pernah ada walikelas yang akan merasa muridnya nakal, atau terlalu cerewet dlsb.
  • Individual differences sangat terperhatikan tanpa mengorbankan adab2 kesopanan Islami. 
  • banyak hal lain yang belum bisa kutulisdisini sekarang :-D

Kelima, setelah 2 tahun bergabung di Komite Sekolah (PTA) dan berkegiatan bersama ibu2/bpk2 walimurid lain yang sangat dermawan dan secara ekonomi sangat potensial ini, idealisme jadi ikut membara bersemangat menapaki ladang amal bersama-sama (cielah  astaghfirullah gayanya…hihihi). Tapi bener kok, urusan mengajak bakti social, orangtua asuh, menyumbang korban bencana alam, dan lain sebagainya itu, paling enak deh kalo mengajak bapak2/ibu2 walimurid Al Hikmah! Mau ijin apa-apa, ada Bapak Walikota. Mau perlu barang2, banyak yang punya pabrik. Mau perlu bus untuk kegiatan, ada yang nyumbang gratis! Urusan konsumsi apalagi, lengkap dari pemilik catering, bakery sampai restoran2 ternama di Surabaya, semua ada di Al Hikmah! Subhanalloh…Allahu Akbar! Hehe…

 

:::::…..

 

Bagi yang sudah dengan sabar membaca sampai habis, semoga Anda mendapat limpahan rahmat dari Yang Maha Kuasa dan dosa penulis yang tega posting blog sepanjang ini akan mendapat ampunanNya….hikss…amiinnnn!

 

Maklum lagi celingukan di RS tak tahu mau ngerjain apa, nungguin Bea yang malam ini udah mulai tidur nyenyak, dan menulis akan selalu menjadi tempatku kembali :D. Pilihan topiknya pun juga penting nggak penting, kebetulan saja tadi barusan ngisi formulir pendaftaran TK untuk Bea, jadi sekali lagi, mohon maaf…