Showing posts with label story. Show all posts
Showing posts with label story. Show all posts

Thursday, March 24, 2011

Note Untuk Maria Mercedes

Jumat, 25 Maret 2011

 

Alhamdulillah kemarin siang kami berlima bisa ngumpul lunch bareng lagi. Siang sehabis ngaji tarjim, aku, Mbak Cindy dan Mbak Mona menyusul Bunda Agustin dan Mbak Sishiel yang sudah menunggu di Sutos. Kebetulan minggu itu Mbak Shiel dan Mbak Mona ulangtahun, jadilah kami yang  lain sudah menolak membayar dari awal. Akibatnya, kami yang tidak mau membayar ini kudu rela dipelototin Mbak Sishiel tiap kali menunjuk gambar  masakan yang berharga mahal di buku menu. Padahal kami baruuuuu saja menunjuk, belom order *nangis geru-geru*.

Wkwkwkwk. Bercanda kok. Kami akhirnya mendapat semua menu yang kami inginkan kok. Hehehe.

Kalo obrolan sudah berjalan, perut dan rahang pun mulai kaku karena tertawa. Mentertawakan siapa lagi kalau bukan diri kami sendiri. Dan ada bagian obrolan yang siang itu membuat kami asli meledak gak karuan sampai perut kaku mulas tak tertahankan.

Entah siapa yang memulai bercerita dan apa pencetus cerita ini mengalir, aku sudah lupa. Kalau nggak salah waktu itu Bunda Ag menceritakan pengalamannya ketika dulu masih bekerja kantoran. Dia bercerita bahwa kalau ada customer datang dan duduk didepanya, maka tugasnyalah untuk menyambut dengan sapaan “Selamat Pagi (atau siang, atau sore), ada yang bisa saya bantu??” plus senyum loplinya itu.

Nah, kebetulan hari itu tidak ada satupun customer yang datang, tetapi banyak sekali customer yang menelepon. Sehingga praktis seharian itu kata-kata yang bunda sering keluarkan dari mulutnya adalah “Halooooo??” sampai berpuluh kali. Sorenya, tiba-tiba saja ada satu customer yang datang dan ketika duduk di depan meja bunda, kontan bunda menyambutnya dengan sapaan yang latah : “Halooooo??”

Wahahahaahahahah

Kita jadi ingat cerita waktu Mbak Sishiel menggiring anak-anak nonton bareng film Karate Kid dulu. Seperti biasanya, dengan lugasnya Mbak Sishiel memberikan pesan pada anak-anak sebelum film dimulai. Tapi kali ini ada yang aneh dalam pesannya.

Mbak Shiel :  “Anak-anak, nanti kalau ada adegan kekerasan atau ciuman gitu, semuanya cepat-cepat tutup mulut kalian yaaa”

Anak-anak : Iya Buk....*patuh tapi tak urung wajahnya pada bingung*

Mbak Shiel : :”Eeehhh kliruuuu....tutup MATA maksudnyaaaa hihihihihihi”

Baru deh anak-anak bisa ketawa. Huahuahuahuahuahahahah! *bogem mb Shiel*

 

Bicara soal telepon dan kesalahpahaman, tiba-tiba saja Mbak Mona bercerita tentang kebiasaan generasi-generasi manula di tempat asal suaminya. Kata Mbak Mona, ada kakek-kakek yang terbiasa rapi jali ketika bertemu dengan seseorang ataupun menjamu tamu yang datang kerumahnya.

Nah, suatu kali ketika si kakek sedang bersantai dirumah, tiba-tiba handphonenya berbunyi. Dia angkat handphone, ternyata dari seorang kenalannya. Baru saja mengucap salam, si kakek permisi dulu kepada si penelepon. Dia meminta si penelepon menunggu dan jangan menutup teleponnya karena ada hal penting yang harus dia lakukan. Ternyata si kakek buru-buru pergi masuk ke kamarnya, mengganti baju dengan pakaian yang rapi, menyisir rambutnya serapi mungkin, setelah itu baru mengambil kembali teleponnya untuk meneruskan pembicaraan. Huahuauahuahua aku yang keluar rumah saja nggak pernah rapi, asli malu deh ama integritas si kakek ini. Salut Kek! Wkwkwkwkwkw!

 

Yang paling bikin kami berlima ngakak, Mbak Mona kemudian bercerita tentang telenovela.

Jaman dulu kan lagi musim tuh telenovela berseri macam Isaura, Maria Mercedes, dan lain-lain itu. Nah saat mengikuti jalannya cerita-cerita itu, banyak sekali ibu-ibu yang jadi lebih semangat shalat tahajjudnya. Semangat puasa Senin-Kamisnya. Semangat beribadah deh pokoknya. Dan alasan yang mereka kemukakan adalah ini...

“Pokoknya kita mendoakan Maria Mercedes supaya pas serialnya tamat nanti, dia bisa menikah dengan Jorge Luis”

Whuakakakakakakakakakakakakakakakak!!


Wednesday, September 29, 2010

(Inspirational Story) Menjadi Manusia Yang Lebih Bahagia

Cerita ini barusan aku dengar di radio, waktu nyetir sendirian sehabis drop anak-anak sekolah. Topiknya adalah kenapa di jaman sekarang ini, dimana manusia sudah sangat maju dan kehidupan bisa sedemikian sophisticated, tapi justru di sisi lain angka kejadian bunuh diri meningkat dimana-mana. Ternyata semua kemajuan didunia masa kini yang sudah dicapai umat manusia tidak memberikan kebahagiaan buat manusia. Manusia memang makin maju, tetapi mereka dinilai makin tidak bahagia dengan kehidupannya.

 

Jadi konon, tersebutlah seorang laki-laki tua yang sudah menduda. Dia mempunyai 2 orang anak laki-laki yang keduanya sudah berkeluarga. Anak pertama adalah seorang penjual es kelapa muda, dan anak keduanya penjual bajigur.

 

Setiap saat, hidup si kakek ini dipenuhi dengan kekhawatiran. Ketika musim panas, dia selalu sedih memikirkan nasib anak keduanya yang hidup dari menjual bajigur. “Panas-panas begini, mana ada yang akan beli bajigur ya??” Begitu selalu hatinya bertanya-tanya dengan perasaan khawatir.  “Lalu bagaimana anak keduaku akan mendapat uang nafkah kalau dagangannya sepi tak ada yang beli?? Mana kemarin anaknya baru sakit pula, kasihan anakku...”

 

Pun ketika musim dingin tiba, si kakek kembali dipenuhi kekhawatiran akan nasib anak pertamanya yang menjual es kelapa muda. “Dingin-dingin hujan begini, mana ada orang yang beli es kelapa muda ya? Lalu bagaimana anak pertamaku akan mendapatkan nafkah untuk keluarganya?? Padahal ini musim tahun ajaran baru untuk sekolah anak-anaknya. Kasihan sekali anakku itu...”

 

Demikianlah, hidup si kakek dipenuhi dengan kekhawatiran dan ketakutan akan nasib anaknya. Lama-lama, si kakekpun gampang sekali sakit, dan makin lama makin parah, dan menjadi beban tersendiri untuk anak-anaknya. Sampai kemudian dia berobat kepada orang pintar. Si orang pintar ini bertanya pengobatan apa saja yang sudah ditempuh oleh si kakek.

“Sudah segala macam, dari jamu-jamu yang murah sampai obat-obatan mahal. Ada yang menyarankan saya merubah posisi tidur, sudah saya coba, tapi tetap tidak membantu” kata kakek tersebut.

“Yang harus Bapak rubah sebenarnya bukanlah posisi tidur Bapak.” kata si orang pintar. “Yang harus Bapak rubah adalah arah pikiran Bapak!”

“Nah, sekarang saja mengajak Bapak untuk berpikir seperti ini. Di musim panas, pikirkanlah anak Bapak yang menjual es kelapa muda. Betapa akan laris dagangannya. Betapa banyak keuntungan yang dia dapat dari penjualannya di musim panas itu, sehingga mungkin saja dia akan bisa menabung, sehingga mempunyai simpanan yang bisa dipakai disaat musim dingin dan dagangannya menjadi lebih sepi. Betapa menyenangkannya musim panas buat anak bapak dan keluarganya.”

 

“Sedangkan di musim dingin, cobalah Bapak memikirkan betapa larisnya dagangan bajigur anak kedua Bapak. Betapa akan larisnya usaha jualannya, dan betapa musim dingin adalah musim yang menyenangkan buat bapak, anak bapak dan kelularganya.”

 

Si kakek kemudian mencoba menerapkan saran orang pintar itu, dan berangsur-angsur si Bapak menjadi orang yang bersyukur dan selalu berbahagia di musim apapun sepanjang tahun. Diapun kemudian menjadi jauh lebih sehat dan senantiasa bahagia.

Moral cerita jelas. Sebenarnya, ada banyak sekali sumber-sumber kebahagiaan yang bisa kita syukuri dari keseharian kita. Menjadikan kita manusia yang lebih bahagia, dan karenanya bisa berpikir lebih positif.

Tadi pagi, saat sarapan dirumahku sempat ribut karena urusan telur. Bikin puyeng karena urusan sesepele itu, anak-anak ribut eyel2an. Kebetulan mereka sarapan dengan menu nasi telur-keju. Si Bea mempertengkarkan kenapa kuning-telur di piring Abe lebih banyak daripada kuning-telur di piringnya. Padahal Bea suka kuning telur! Rame deh jadinya, karena Abe tidak mau mengalah dan menukar piringnya. Dan rasanya Ibuk pengen ngomelin si ayam, kenapa mereka tidak bertelur dengan kadar kuning-telur yang sama dan konsisten saja sich!?!?

 

Pertengkaran anak-anak selalu bikin pusing, Tapi ketika mereka semua berangkat sekolah dan aku kembali kerumah yang terasa sepi kosong begini, pertengkaran itu menjadi terasa manis sekarang. Bikin aku senyum-senyum sendiri mengingatnya, punya dua anak yang keduanya hobi ngeyel dan pintar mempertahankan pendapatnya sendiri-sendiri begitu. Dan kalo dipikir-pikir, suasana rumah yang sepi begini memang nggak enak, nggak rame, tapi bagaimanapun, suasana ini membuatku bisa menyediakan waktu ekstra untuk menulis lagi. Bukankah begitu?

 

Jadi, bagaimanapun keadaan Anda hari ini, betapa beratnya Anda rasakan kehidupan Anda sekarang, cari yuk, apa sumber kebahagiaan Anda pagi ini?? Jangan temukan satu, tapi temukan 2, 3 atau lebih dari itu, insyaAllah mudah-mudahan Anda akan menjadi orang yang lebih berbahagia hari ini.

Tuesday, May 18, 2010

Siapakah Sebenarnya "Orang Gila" Itu?

:::::.....

Beberapa hari yang lalu, kita rame komen-komen ngobrolin soal 'the legendary' Maryam Blok M di note nya mb Rina Wieda yang ini

Pagi ini, ketika membaca note nya Ustdzh. Ani Christina, aku mendapat perspektif baru, soal siapakah sebenarnya "orang gila" itu ? Juga tentang kekuatan cinta. Bu Ani, terimakasih atas tulisan cerita yang menginspirasi ini. Postingan aslinya bisa dilihat disini .


:::::.....

Dahsyatnya CINTA (1)
Oleh : Ani Christina


Aku punya tanggungan untuk menuliskan Cinta yang Mengantarkan pada cinta-NYA (2) sebagai kelanjutan dari yang pertama

TAPI...siang ini tadi, ada sebuah diskusi kecil yang mendorongku untuk menulis ini lebih dahulu...

Ceritanya, Ustadz Abdul Kadir Baraja ingin bertemu denganku (ting..ting...orang penting ini, agenda2 nggak penting ditunda dulu). Kali pertama sebelumnya, beliau datang untuk mengatrakan seseorang untuk konsultasi. Yang ini, apa lagi ya? Begini lanjutannya...
=================================================

Abdul Kadir Baraja told :
Ustadzah sekali-kali harus ikut saya ke Malang (lha ayuk..itu kota kelahiran saya), di sebuah desa terpencil, di daerah Tumpang ada sebuah tempat yang perlu kita kunjungi (ahh, makin penasaran, masak aku nggak tahu tempat unik di malang...lha iyalah, udah 10 tahun nggak di sana tiap hr)

Di sana, ada seorang ustad, mantan dosen Akuntansi Unmer, bersama istrinya merawat orang-orang gila. Mereka sudah melakukan itu selama 10 tahun (nah..pas..aku nggak tahu, pas ada, pas aku keluar dari Malang). Mereka merawat orang-orang gila ini nggak pake' obat penenang SAMA SEKALI, cuma pake' QUR'AN dan HADITS. Dan alumninya tempat ini-orang-orang gila yang akhirnya sembuh dan bisa kembali ke masyarakat- jumlahnya sudah ratusan. Kamu tahu apa KENDARAAN orang ini, cuma satu : CINTA..iya...CINTA. Dia merawat orang-orang gila itu dengan penuh cinta, ada yang merusak dimaafkan, nggak ada keerasan, ada yang badannya kumal, nggak ngerti mandi, ya dimandikan sama ustadz ini, ada yang buang hajat dimana-mana ya dia bersihkan, subhanallah..sampe yang nggak ngerti cebok, dia cebokin...dia rawat orang-orang gila itu seperti anaknya, yg kadang-kadang oleh keluarga mereka sendiri sudah tidak dipedulikan, malah lebih senang kalo mati. Tapi sama ustadz ini dirawat betul, diajari menata dirinya sendiri, tiap hari dibacakan Qur'an dan Hadits.Saya melihat sendiri, gimana anehnya orang gila ini. Ada yang ketawa sendiri, ada yang pandangan kosong, ada yang banyak omong, ada yang suka ngamuk2. Dan ustadz ini kok begitu sabar, telaten mendidik mereka satu per satu.

Kata ustadz ini : mereka bukan orang GILA, tapi mereka adalah orang yang sedang kena COBAAN. Orang GILA itu adalah orang WARAS yang berbuat MAKSIAT..baru itu bener2 gila...

Ustadzah harus renungkan ini. Ini adalah sumbangan besar untuk disiplin ilmu Anda. bahwa yang namanya terapi itu sebetulnya nggak perlu pake' obat-obatan , tapi bisa cukup dengan QUR'AN dan HADITS yang disampaikan dengan CINTA. Ini benar-benar tentang Dahsyatnya CINTA. Ustadz ini betul-betul bisa menunjukkan CINTA kepada sesama, pengabdian yang begitu dalam. Bagaimana tidak? karirnya sebagai dosen, dia tinggalkan untuk merawat orang-orang ini, dia hidup sederhana, dan tetap bisa menghidupi istri dan satu anaknya yang masih kecil, padahal umurnya masih muda..belum 40 tahun, tapi kebijaksanaan hidupnya luar biasa...
===========================================

Okey...aku belum berikan catatanku sendiri tentang ini, yang di atas truly told by Ustdz Kadir

Adakah Anda dapat merenungi sesuatu dari cerita di atas?



:::::.....


Subhanallah... Aku asli pengen ketemu dengan orang tersebut. Mudah2an Bu Ani segera mendapatkan info alamat tempat orang tersebut tinggal.... Aku pingin sekali kesana, karena jelas-jelas dia adalah gudang ilmu buat kita semua...

(NOTE : Ustd. Abdul Kadir Baraja adalah Ketua Yayasan Lembaga Pendidikan Islam Al-Hikmah Surabaya)

Wednesday, April 28, 2010

Mesin Cuci Cap Ulang Tahun

Mumpung masih emosi, aku tulis aja NOTE nya sekarang *hahahahah*

Secara aku ultah gitu ya, kalo inget wajah-wajah yang dulu pernah kuusilin, masuk akal dong kalo beberapa hari sebelum hari H aku udah meningkatkan kewaspadaan?? Kemarin sempat pasang status di facebook :

Sungguh aku tak mau GR, tapi mengingat semua wajah yang pernah kuusilin dimasa lalu itu, aku memang sudah sepantasnya SIAGA 1 menjelang hari besok itu. WASPADALAH! WASPADALAH! **Wawa MODE: ON**

Dan yang paling menyebalkan, semua orang nuduh aku GR!!!

Nah... Hari ini hari H....

Pagi-pagi tadi waktu morning routine berdua Mas Iwan, aku sempet cerita soal sms Mb Shiel yang tumben-tumbennya ngajak lunch, minta ditraktir lagi!! Padahal setiap dia ngajak makan, itu berarti ya dia yang traktir, kok ini aneh pake minta traktir segala?? Curiga dong....??

Lunch-nya baru nanti siang, jadi sekarangpun aku blum tau kelanjutan acara lunch itu nanti gimana wkwkwk

Habis akuk cerita soal sms mb Shiel, eh tiba-tiba ucluk-ucluk meluncurlah pengakuan dari MI. “Sebenarnya mb Levie tadi mau kasih surprise, dateng kesini dari Jakarta”

Hah??? Tuh kan???? *makin gak terima dibilang GR* Trus?? “Tapi gak jadi karena mendadak ada tugas kantor yang nggak bisa ditinggal.” Lanjut Mas Iwan.

Campur aduk deh aku. Antara mewek terharu dengan perhatian dan surprise mb Levie, juga seperempat nyukurin dia yang akhirnya batal surprisin aku *hihihihi* haduuhhhh suasana hatiku udah makin nggak enak aja, musti siap-siap kayaknya seharian ini bakalan dudul.

“Makane thooo, dadi uwong ojo usil-usil! (Makanya, jadi orang tuh jangan usil-usil!)” kata MI sambil uyek2 kepalaku yang udah mulai panas oleh curiga.

Jujur, aku juga nggak bisa nggak curiga sama dia. Terbukti sudah beberapa kali dia bikin surprise buat aku, bersekongkol dengan teman-temanku (lirik mb Maya, mb IYa, mb Levie, Wawa, Kak Mia, Titin, eh kok banyak ya?? uurrghhH!!). Apalagi pagi ini Mas Iwan terlihat sedikit terlalu maksa untuk antar anak-anak sekolah.

Rumah pun sepi setelah anak-anak berangkat...

Beberapa teman telpon, ucapin selamat ultah, doa ini itu (subhanallah, aminn atas semua doa yang indah itu), kemudian datanglah panggilan telepon itu...

Ngaku dari HE, toko elektronik langgananku. Nanyain soal mesin cuci yang kubeli sebulanan yang lalu. Soal kekurangan pembayaran.

Nah, waktu itu memang sempat ada kesalahpahaman antara aku dan pihak HE.Aku membeli mesin cuci merk dan type tertentu, tetapi rupanya pihak HE mengirimkan type yang salah, yang sebenarnya lebih mahal harganya. Hal ini baru mereka ketahui dua minggu kemudiannya ketika stock opname, dan setelah dua minggu itu mereka meminta aku memilih: mengembalikan mesin cucinya untuk ditukar dengan type yang kupesan (lebih murah), atau membayar kekurangan harga type itu (yang 400ribuan lebih mahal).

Suatu malam tim pengiriman mereka mengetuk rumahku. Sambil membawa mesin cuci baru type yang lebih murah, mereka berniat MENUKARnya dengan mesin cuci yang dirumahku. Sempat terjadi sedikit otot2an waktu itu (padahal aku orang yang paling deg2an lemes kalo diajak otot2an), karena ternyata setelah dua minggu itu terjadi penurunan harga. Ketika aku beli, type yang kuambil berharga Rp. 4.050.000 sedangkan type yang ternyata (salah) mereka kirim berharga Rp. 4.450.000. Nah dua minggu kemudian ketika kesalahan itu terdeteksi, harga sudah turun. Type yang kuminta berharga Rp. 3.500.00 dan type yang mereka kirim (yang sekarang ada dirumahku) berharga Rp. 3.800.000.

Dudul kan??
Waktu aku beli, aku sudah membayar senilai Rp. 4.050.000, tetapi dua minggu kemudian kalau mau mempertahankan mesin cuci yang ada dirumahku aku harus menambah Rp. 400ribu lagi untuk sebuah mesin cuci yang SAAT ITU hanya berharga Rp. 3.800.000????

Aku tentu menolak dan membuat tim pengiriman itu puyeng juga (walopun dia manggut2 mengerti melihat alasan dan posisiku). Untunglah masalah kemudian terselesaikan ketika manager (atau supervisor *lupa*) mereka menelepon.

Aku bilang aja “Ya kalo Bapak mau mengambil lagi mesin cuci dirumah saya, ya silahkan saja, cuman itu sudah dua minggu dipakai, sudah jadi barang bekas. Bapak mau?”

“Hah? Mesin cucinya sudah dipakai Bu??” katanya dari telepon seberang, terdengar kaget.

“Ya iyalah Pak!! Begitu datang ya sudah langsung dipakai wong saya beli itu karena punya saya yang lama emang udah rusak!” Gimana sih??

Fakta bahwa barang yang diinginkannya kembali sudah berubah menjadi barang bekas, akhirnya membuat si manager itu memutuskan untuk menyelesaikan masalah mereka secara intern saja, tidak melibatkan aku sebagai customer. Keputusan yang bagus!

Kembali ke panggilan telepon di hari ulangtahunku... Si penelepon mengaku sebagai manager baru, yang baru beebrapa hari bekerja, dan memutuskan untuk MEMBUKA kembali kasus salah kirim itu. Dia terang-terangan langsung memintaku untuk datang ke kantor HE dan melunasi KEKURANGAN PEMBAYARAN mesin cuci punyaku!

Yang membuatku tertarik pertama kali adalah suara peneleponnya. Sangat tertarik, seperti suara yang kudengar tiap pagi. Lalu kuintip lagi nomornya di id caller, 829xxxx. Nomor landline, bukan handphone. Aku apal banget tiga nomor awal itu, tiga nomor yang menggambarkan daerah darimana panggilan telepon dibuat. Aku apal karena nomor rumah mertuaku juga sama. Nomor kantor Mas Iwan juga sama. Nomor sekolah anak-anak juga sama, semua berawalan itu dan semua berada di kawasan yang berdekatan. Ini membuatku makin yakin dengan suara penelepon, karena nomor-nomor di Graha Pena pasti juga berawalan itu (karena tempatnya berdekatan dengan rumah mertuaku dan kantor suamiku dan sekolah anak-anakku kann???).

Belum semenit eyel2an dengan si penelepon, 90% aku yakin bahwa aku dikerjain Gokil HardRock FM yang kantornya ada di Graha Pena! Dan itu suara si Ivan penyiar! Gimana aku nggak apal wong tiap pagi aku denger??

Kuladeninlah dia *hahahaha* sambil membayangkan adegan aku cubit2 dan gablok2 Mas Iwan. Si Ivan rupanya tau aku sudah curiga, apalagi waktu dia tanya alamat lengkapku (mau ambil mesin cuci katanya, dan menagih udang sewa pakai mesin cucinya Rp.25.000/hari), dan aku malah nyolot “Alamat saya kan sudah ada disitu, ngapain Bapak pake nanya???”

“Alamat lengkap maksudnya.”

“Itu sudah lengkappppp!!!” teriakku.

Hahahahaha. Yang tadinya 90% yakin kalo aku dikerjain, langsung bulat jadi 100% kalo ini memang telepon usil! Apalagi nada suara penelepon tiba-tiba berubah, dan dia nggak panggil aku “Ibu” lagi.

“Eh kalo gitu kita ketemuan di mall aja yuukk?? Atau nanti saya kerumah kamu untuk ambil mesin cucinya??”

“Datang ajaaaaa!! Tapi aku nggak jamin bakalan bukain pintu yaa??!!”

“Gak papa, nanti saya buka baju kamu saja disitu”

Huwauhwuahuwhauhwuahauhuaw
DuduL!!!

Setelah terjadi baku hantam dan telepon ditutup. Aku langsung telepon Mas Iwan. Langsung ngomel-ngomel sedangkan Mas Iwan Cuma bales “I love You...muach... I Love You.. “

Kata-kata MI selanjutnya lah yang bikin aku mendadak berhenti ngomel dan langsung pengen PUP.

“Telepon Mbak Maya sana gih, dia juga berhak atas omelanmu itu”

*****S P E E C H L E S S**********




***
Ternyata, saat itu semua teman yang berhasil dihubungi Mb Maya, mendengarkan LIVE dari radio. &#$(@&*#()!*@!(*_(@#*@#. Yang didalam dan diluar negeri semua ikut mendengarkan LIVE.

DuduL ya!! Kata Mb Maya, Bunda Agustin yang dirumah (ternyata) gak punya radio, bela-belain nyalain mobil di garasi Cuma untuk dengerin radionya. Hahahahahah. Kezia dan Mb Mita yang di benua barat bahkan mendengarkan lewat streaming online juga loh! Astaganaga, jam berapa itu disana?? kalian pasti melekan sampe dini hari ya!!!

*takjub*

*gemess*

*terharu*

*sayang sama semua*

*pengen peluk semua*

*terakhir, mewek deehhh*

T_T


Oya, dan yang paaaling penting, AKU NGGAK GR!!!!

*gengsi bener dibilang GR*

:-P


:::::.....
Rekaman Gokil nya masih ada di MI, yang pingin mendengarkan ntar ya insyaAllah di upload ;-)
:::::.....

Monday, April 12, 2010

Ohh Listen To The Radio


Setiap berkendara sendirian, selain suara murattal dari pemutar CD, teman yang kerap menemani tentu saja radio. Frekuensi berapanya tergantung mood saat itu tentu saja. 

Entah kenapa, aku lebih menikmati radio daripada misalnya CD lagu koleksi sendiri. Mungkin karena kalau mendengarkan koleksi CD sendiri, list lagunya sudah bisa ditebak, sedangkan mendengarkan radio menyimpan potensi “kejutan” yang tersendiri. Kita akan merasa surprised ketika tiba-tiba terlantun lagu favorit lama yang populer waktu kita masih ABG dulu. Atau mungkin karena dari radio kita tidak hanya mendapatkan hiburan (musik), tetapi juga informasi yang seringkali menarik dan up to date.

Tergantung mood saat itu, tapi toh ada beberapa saluran radio yang paling sering kupasang di mobil. Itupun kalau aku sedang menyetir sendirian, dimana hakku untuk memilih apa yang diputar di mobil sepenuhnya ada padaku. Kalau ada suami dan (terutama) anak-anak, rasanya tak ada pilihan lain yang lebih kuinginkan selain melihat mereka gembira bisa mendengar apa yang mereka mau.

Kalau pas suami yang berada di belakang kemudi, radio favoritnya dia adalah saluran PAS (FM 104,3). Radio bisnis, tentu saja. Dan walaupun aku selalu memproklamirkan diri sama sekali bukan orang bisnis, tapi tak urung terkadang aku menemukan banyak hal menarik dari radio ini. Kadang cerita falsafah-falsafah dan tips bisnis yang disampaikan Tanadi Santoso, atau Tung Desem Waringin, atau James Gwee sangat bersifat universal. Pada beberapa cerita yang melibatkan karakter binatang sebagai analogi, Abe dan Bea bahkan menyukainya. Kalau anak-anak sudah menemukan cerita bisnis fabel begini, pasti dudul jadinya karena mereka inginnya cerita itu diulang lagi “Aku mau denger lagi!!” Lah, mana bisa, ini kan radio???

Kala sendirian, aku paling suka dengerin Metro Female  (FM 88.5). Pertamanya dulu suka karena saluran ini hampir 80 % berisi lagu, enak-enak pula. Diputarnya berbarengan di jam-jam aku menyetir sendirian pula. Pulang ngedrop sekolah anak-anak atau ketika berangkat menjemput. Tetapi kemudian aku makin suka karena info-info yang disajikan di saluran itu. Menurutku secara umum Metro Female adalah saluran khusus wanita yang paling bisa kunikmati. Nggak terlalu nyablak, nggak terlalu criwis, nggak terlalu ‘gaul’ dan juga nggak terlalu kemayu.  Daripada membahas mode dan pernik penampilan, mereka cenderung mengedepankan info yang lebih dalem, misal soal kesehatan, riset-riset terbaru dan lain-lain.
Seperti kemarin, aku sempat mendengar info tentang sebuah hasil riset di Kelley University di Indiana. Riset itu melibatkan dua kelompok partisipan yang diminta untuk memasukkan tangan mereka kedalam bak berisi air dengan suhu biasa, kemudian secara tiba-tiba memindahkan tangannya kedalam bak berisi air panas. Kelompok yang satu diminta untuk diam saja tanpa mengeluarkan satu patah kata pun sebagai reaksinya, sedangkan kelompok yang kedua diijinkan untuk MENGUMPAT. Ternyata hasil risetnya mengungkap bahwa kelompok yang diijinkan mengumpat ternyata bisa lebih lama bertahan di bak air panas itu daripada kelompok yang diam. Akupun jadi bertanya-tanya, adalah reaksi lain yang lebih efektif daripada mengumpat???

Kalau suasana hati sedang kurang ceria, aku tinggal switch  saja saluran radio ke HardRock Surabaya (FM 89,7). Sudah pada tahu dong dimana-mana radio HardRock itu seperti apa? Ancuuurrr!! Semua penyiarnya rata-rata juga ancuuurr!! Makanya kalau pas rada gloomy dan garing kurang bersemangat, aku selalu pantengin saluran ini. Apalagi pagi-pagi selalu ada penyiar Meiti disitu. Aku suka banget si Mei ini hahaha. Dia bukan hanya lucu dan gokil tapi juga kreatifnya nggak ketulungan. Suka menceploskan ide yang asli out-of the box banget. Bikin aku njeplak nggak keruan dengernya.

Seperti kemarin, ini Cuma satu contoh keciiilllll saja (satu saja) dari kegokilannya, dia pas on-air bareng penyiar cowo (lupa deh namanya, entah Ivan entah siapa ya). Trus mereka lagi seru ngomongin soal pernik-pernik pesta pernikahan. Salah satu yang menjadi omongan adalah make-up pengantinnya (khususnya pengantin wanita). Kata orang, perias yang bagus adalah perias yang bisa dandanin pengantin wanitanya sampe ”manglingi”....alias bikin pangling. Semakin tamu-tamu pangling lihat si penganten wanita, maka boleh dibilang perias itu makin ahli dan “sangar’ dalam mengerjakan tugasnya.

Nah si Meiti bilang, kalo begitu aja sih gampang.... Bahkan dia bilang kalo nanti dia menikah, nggak perlu itu sewa perias mahal-mahal paku juta-juta bahkan puluhan juta, apalagi pake puasa mutih 40 hari 40 malam segala. Kalo mau bikin pangling tamu-tamu sih gampang urusannya. Dia bakalan bisa tuh bikin dirinya sendiri manglingi di hari pernikahannya nanti. Caranya???

“Gampang!! Aku tinggal pasang kumis dan jenggot palsu di wajahku aja! Dijamin semua orang (bahkan suamiku) akan pangling lihat aku!!”




Sunday, April 4, 2010

[Cerita DuduL] Bicara Resiko Bisnis, MELIHAT Memang Beda Dengan MERASAKAN

Gara-gara komen di salah satu status teman, aku jadi teringat cerita ini...

Suatu kali, beberapa tahun yang lalu kami sedang menginap akhir minggu di Danau Sarangan. Menginapnya rame-rame bersama keluarga besar juga.  Nah ketika malam tiba, biasanya kan banyak yang nyamperin ke villa tuh, entah sekedar nawarin jualan sate kelinci, wedang ronde.....atau jasa pijit!

Selama ini, kalo sate kelinci dan wedang ronde kan selalu disambut antusias tuh sama semua orang, nah kalau jasa pijit beda, kebetulan kita belum pernah sekalipun nyoba pijit kalo menginap di Sarangan.  By the way, kita disini maksudnya ya Mas Iwan, karena kalau aku kebetulan nggak suka pijit, mungkin karena dirumah sudah jadi tukang pijit buat suami dan anak-anak kali ya hehehe.

Selain liburan bersama keluarga besar, weekend itu juga dimanfaatkan Kakung (bapakku) untuk meeting dengan beberapa kepala cabang yang juga datang dengan keluarga mereka. Malam itu meeting baru saja selesai,  suasana pun hangat dan bersemangat, pokoknya penuh dengan falsafah bidang usaha. Kerja keras, pantang menyerah, strategi bisnis dan sebagainya itulah. Mungkin karena ini juga akhirnya banyak orang yang ikut terpengaruh.

Ada seorang kakek tukang pijit yang dari sore sudah nyanggong disitu. Tidak juga menyerah menawarkan jasa pijit kepada siapa saja yang kebetulan lewat didepannya. Tetap duduk dengan santun dipinggir teras, diluar ruangan utama yang dipakai meeting. Mungkin dia ikut mendengarkan isi meeting, atau mungkin dia malah terinspirasi oleh meeting itu. Buktinya, dari sore sebelum maghrib, sampai saat meeting selesai dia masih betah loh tetap duduk disitu! Padahal waktu itu jarum jam sudah nyaris menunjukkan angka 10 malam!

Dan Mas Iwan rupanya sudah lama memperhatikan si kakek. “Hebat loh si kakek, pantang menyerah bener...mental usahawan sejati tuh...” komentarnya. Berpikir sebentar, kemudian dia memutuskan untuk melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukannya ditempat itu sebelumnya. Si kakek boleh saja terinspirasi oleh meeting business yang tadi kebetulan dia dengar di ruang rapat, tapi rupanya Mas Iwan juga sangat terinspirasi dengan kegigihan si kakek.

“Aku mau minta pijit dia aja ah!”

Mas Iwan memang suka dipijit, jadi aku pun nggak berasa gimana-gimana dengan keputusannya itu. Diapun beranjak menghampiri si kakek yang tentu saja langsung berwajah ceria seketika. MI kemudian mengajak kakek masuk ke salah satu kamar yang paling pojok dan paling belakang dari villa. “Biar tenang dan nggak keganggu anak-anak yang pada nganciil itu” kata Mas Iwan sambil ‘cuma’ berpesan supaya aku bikinkan teh panas buat dia dan si kakek.

Waktu beberapa puluh menit kemudian aku mengantarkan 2 gelas teh panas ke kamar itu, MI sedang tidur tengkurap, dan kliatan rileks banget. Matanya sudah sayu pertanda dia bisa sewaktu-waktu ketiduran. Wah, rupanya oke juga nih si kakek, buktinya MI sampai terkantuk-kantuk begitu.

Sejam berlalu, lalu MI pun keluar kamar dan menghampiri kita yang sedang ramai mengobrol di ruang utama. Wajahnya cerah sekaligus rileks. Sambil merentangkan tangan, dia mulai melakukan strategi mouth-to-mouth untuk mendukung bisnis si kakek.

“Uenakkk lohh pijitannya!!! Aku sampai ketiduran nggak keruan tadi. Ada yang mau dipijit lagi?? Mumpung mbahnya masih disini?? Mas?”

Melihat MI begitu puasnya dipijit (sungguh iklan yang menggoda), salah seorang kepala cabangnya Kakung, sebut sama Mas R, rupanya tertarik untuk mencoba produk yang ditawarkan. “Bener enak mas? Kalo gitu aku coba ah!”  dan Mas R pun ngeloyor masuk ke kamar yang didalamnya masih terdapat si kakek, yang pasti berwajah ceria lagi karena sambil menunggu customernya tadi  ambil uang untuk membayar, eh ternyata ada customer baru lagi yang datang.  “Business is gooooddd...” begitu mungkin pikirnya, mirip salah satu dialog di serial Godfather, wkwkwkwk.

Adegan berikutnya, kutulis berdasarkan cerita dari Mas Iwan.

Jadi setelah ambil uang di kamar kami, MI balik ke kamar pijit untuk memberikan uangnya kepada si kakek. Apa yang ditemuinya ketika dia sampai di kamar itu, kemudian disadarinya tak lebih adalah sebuah resiko dari sebuah keputusan bisnis yang tadi diambilnya. Ya, seperti sudah disadarinya bertahun-tahun, semua keputusan bisnis pasti mengandung resikonya sendiri-sendiri.  Dan dalam analisa memperhitungkan resiko (sebelum mengambil sebuah keputusan), selalunya seorang businessman harus bisa mengandalkan ‘feeling’nya.  Itu, Mas Iwan juga pasti sudah lama paham.

Masalahnya, sometimes ‘to feel’ is something way different than ‘to see’ ....

Mas Iwan, ketika balik ke kamar pijit itu, jelas-jelas melihat Mas R sedang asyik dipijit dengan posisi tidur telungkup, punggung terbuka tak berbaju, wajahnya rileks dengan mata merem, persis seperti yang dilakukan Mas Iwan sebelumnya ketika dia sedang dipijit. Yang tadi pasti luput dari pandangan MI, adalah apa yang dilakukan si kakek tukang pijitnya....

Sebentar-sebentar, sekitar 10 detik sekali, sambil terus memijit punggung Mas R, si kakek terlihat mengarahkan telapak tangannya ke arah mulutnya sendiri. Rahangnya terlihat bergerak-gerak, macam gerakan mengunyah tapi juga mengumpulkan sesuatu. Suatu cairan lebih tepatnya, mungkin cairan ajaib  yang kemudian dia tumpahkan dengan lembut dan tanpa suara ke telapak tangannya. Yup, langsung, fresh from the mouth.  Cairan yang (kalau melihat ekspresi Mas Iwan sihhhh) tadinya pasti (pasti!) dikira semacam minyak urut oleh MI.

*berdoa sungguh-sungguh semoga para pembaca tidak ada yang sedang atau mau akan makan ketika membaca tulisan ini*

Oya, soal ekspresi Mas Iwan itu, terus terang aku juga kehabisan kata-kata untuk menggambarkannya. Yang jelas aku hanya merasa kasihan pada Mas R, itu saja... :-D



Thursday, April 1, 2010

Tempat-Tempat Mustajabah [Part 2]

Sambungan dari Tempat-Tempat Mustajabah [Part 1]

***

Seperti sudah kutulis di Bagian 1 sebelumnya, sebelum mengunjungi tempat-tempat mustajabah untuk berdoa yang selalu bersesakan itu, Mas Iwan selalu membekaliku dengan berbagai strategi. Apalagi kalau aku harus maju sendirian. Ada beberapa tempat yang memang dipisah antara laki-laki dan perempuan, seperti di roudhah contohnya, atau kalau kita ingin mencium hajar aswad, maka khusus untuk para wanita disediakan jalan tersendiri (merapat dari arah pintu Ka’bah) supaya tidak berdesakan bercampur dengan para jamaah lelaki. Selain itu sebelumnya diperlukan juga persiapan fisik, makan yang cukup, minum yang cukup dan tekad serta semangat yang cukup. Cukup besar maksudnya *nyengir tapi serius*.

Jadi inilah kisahku setiap kali. Berangkat dengan rencana yang sudah strategis, berbekal hati dan mulut yang penuh dengan dzikir dan shalawat. Mari kita ambil contoh saja pengalaman ketika umrah terakhir kemarin, waktu aku berniat merapat ke dinding Ka’bah. Mencium hajar aswad, berdoa di multazam pas dibawah pintu Ka’bah, dan kalau memungkinkan nanti shalat di setengah lingkaran Hijir Ismail. Sebelum merapat kukirim shalawat untuk Rasulullah, Al-Fatihah untuk Ibrahim as, Ismail as, tak lupa ibunda Siti Hajar.

Radius kira-kira 5 meter dari Ka’bah, akhirnya aku bisa terbebas dari arus orang-orang yang berthawaf. Tetapi didepan situ, jelas-jelas lebih padat arusnya, tepat didepan mataku sedang riuh berdesakan orang-orang yang merangsek ke dinding Ka’bah. Dan jauh lebih padat lagi yang berdesakan didepan Hajar Aswad.

Dari sini sudah bisa terdengar suara-suara mereka. Sebagian besar adalah suara dzikir, karena nama Allah tersebut dimana-mana. Tapi jangan dikira cuma itu. Banyak juga suara teriakan protes, karena melihat ada orang lain yang sangat ambisius mendekatkan tubuhnya ke Hajar Aswad, sampai harus mendorong-dorong jamaah lainnya. Terkadang orang yang diteriaki membalas dengan teriakan yang tidak kalah garangnya. Saling teriaklah kemudian, dengan tangan mengacung-acung keatas pertanda emosi sudah terlibat. Dengan bahasa yang tak kumengerti (tebakanku sih bahasa Arab) tapi dari bahasa tubuh dan ekspresi wajah mereka jelas sekali terpampang ambisi itu. Dua atau tiga kulihat wajah-wajah mungil ras Melayu, cenderung pasrah ketika mereka terdesak tubuh-tubuh yag lebih besar.

Kepalaku masih mencoba mengulang-ulang terus strategi yang dibekalkan Mas Iwan padaku tadi. “Kamu pegangan pada kiswah yang digulung memanjang dibawah pintu Ka’bah itu ya Nduk, trus merambat dari situ kearah hajar Aswad. Kamu akan berada tepat dibawah petugas yang berdiri diatas itu, jadi kamu bakal aman.” Oke. Akupun mengucap bismillah dan melangkah memasuki kerumunan yang berdesakan itu.

Selangkah, riuh semakin dekat. Beberapa langkah kemudian tubuhku sudah mulai merasakan himpitan-himpitan yang lumayan intens. Dari segala penjuru. Dari arah belakang adalah orang-orang yang bertujuan sama denganku (mendekat Hajar Aswad). Dari arah depan adalah orang-orang yang sudah selesai mencium Hajar Aswad dan berniat keluar dari kerumunan. Belum lagi dari kanan kiri dan diantaranya. Mas Iwan tetap mengawasi dari kejauhan karena arah ini memang khusus hanya untuk jamaah perempuan, untuk lebih melindungi supaya tidak berdesakan dengan para jamaah laki-laki. Mulutku tak berhenti berucap “Allah...Allah...Laa Ilaaha Illallah..”

Dan begitu saja....

Begitu saja semua strategi yang dijejalkan Mas Iwan kepadaku tadi seolah menguap entah kemana. Kepalaku mendadak terasa ringan melayang. Yang ada di kepalaku hanya keheningan, dan satu suara berdebam. Suara berdebam-debam yang kurasakan sangat dekat seiring keheningan yang kurasakan di telinga dan kepalaku. Suara itu bukan berasal dari kuatnya desakan badan orang-orang disekitarku yang mulai menghimpit badan. Bukan. Datangnya dari dalam tubuhku.

“Allah...Allah...Laa Ilaaha Illallah..”

Apakah suara itu terucap juga dari mulutku? Karena rasanya suara itu juga memenuhiku dari dalam. Seolah ada seseorang didalam tubuhku yang meneriakkannya, memenuhi semua sel-sel dalam tubuhku yang hening, melesakkannya kearah luar sehingga tubuhku penuh dan membengkak dengan suara itu.
“Allah...Allah...Laa Ilaaha Illallah..”

Sedetik inderaku berfungsi. Kutemukan telingaku mendengar diriku sendiri mengucapkan nama itu dengan suara bergetar hebat. “Allah...Allah...Laa Ilaaha Illallah..” Mataku sudah basah. “Allah...Allah...Laa Ilaaha Illallah..” Badanku rasanya penuh, hatiku membuncah.

“Allah...Allah...Laa Ilaaha Illallah..”

Dan tiba-tiba tanganku sudah mengelus kiswah pembungkus dinding Ka’bah. Debam-debum di hati sudah tak tertahankan lagi. Hatiku rasanya penuh dan ringan disaat yang sama. Ada banyak hal yang terasa melayang meninggalkan tubuh ini saat itu. Banyak hal, salah satunya yang pasti adalah air mataku. “Allah...Allah...Laa Ilaaha Illallah..” Aku pun runtuh disitu... Tak mungkin ada kata-kata yang bisa menjelaskan bagaimana rasanya waktu itu. Saat itu, hidupku di dunia ini jadi terasa sangat bermakna dan sangat tidak berharga disaat yang sama. “Allah...Allah...Laa Ilaaha Illallah..”


Aku menikmati. Aku menyerahkan diri. Aku tak melawan apapun. Desakan, dorongan, himpitan, tarikan di ujung kerudungku, teriakan jamaah dalam berbagai bahasa yang tak kumengerti. Aku merasa berada di tempat paling damai yang pernah kutemui. Ya Allah... “Allah...Allah...Laa Ilaaha Illallah..”

Yang kuingat ketika entah bagaimana ceritanya aku tersungkur mencium Hajar Aswad adalah bahwa aku tidak boleh berlama-lama melakukannya. Terlalu banyak pengantri yang ingin berbuat sama. Belum lagi didepanku ada seorang wanita India yang sudah tua dan nyaris terinjak karena jatuh dan tidak bisa menemukan jalan untuk keluar. Kuraup saja bahunya, supaya dia ikut tertarik badanku ketika aku nanti menemukan jalan keluar. “Allah...Allah...Laa Ilaaha Illallah..”

Ketika bertemu Mas Iwan, dia sedang berteriak-teriak menyuruhku melepaskan ibu itu, karena aku nyaris ikut terhuyung kebawah dan terinjak karena melakukan itu. Aku menunggu sampai kami keluar dari kerumunan, baru kulepaskan dia. Dengan menangis haru si Ibu meraup dan mencium wajahku, dan melihat ini Mas Iwan akhirnya terdiam. Dia hanya bilang “Aku takut sekali tadi, karena kepalamu nggak kelilhatan waktu kamu terhuyung jatuh, aku takut sekali kamu akan terinjak disana!”

“Aku gak papa, Mas.” Jawabku sambil masih tergugu merasakan debam hatiku yang membuncah ruah tadi. “Allah...Allah...Laa Ilaaha Illallah..” Dan aku kembali merapat lagi, ke multazam, shalat di hijir Ismail, berpuas-puas menciumi kiswah yang bagai candu membuat getar dihatiku semakin dahsyat tetapi damai disaat yang sama. “Allah...Allah...Laa Ilaaha Illallah..” Tak akan ada kata-kata yang bisa menggambarkannya. Bahkan doa-doa yang tadi kuniatkan untuk kupanjatkan, tak tahu entah kemana perginya. “Allah...Allah...Laa Ilaaha Illallah..” Hanya itu yang sanggup kuucapkan tanpa henti dengan mulut bergetar dan airmata yang membanjir.

Nikmat dan damainya sungguh tak bisa ditandingi oleh apapun.....APAPUN.

***


Aku jadi teringat tulisan peringatan yang dipasang besar-besar didepan Raudhah di Masjid Nabawi. Dalam tiga bahasa, Inggris, Arab dan Melayu. Intinya himbauan supaya jamaah sabar dan tertib, agar usaha mereka untuk memasuki Raudhah tidak sampai menyakiti jamaah lain.

Mungkin jarak masih sekitar 50 meter jauhnya dari Raudhah ketika desakan dan himpitan mulai kami rasakan. Waktu itu aku pergi berdua Ibukku. Sama dengan cerita Hajar Aswad diatas, macam-macam yang kudengar. Shalawat kepada Rasulullah yang paling lantang terdengar, tetapi disela-sela itu ada juga nada protes kenapa rombongan yang itu diperbolehkan masuk duluan?? Sampai kapan kita disini?? Ini sudah hampir 10 menit kita tidak bergerak!! Halooo!! (Aku jelas sekali mendengarnya memprotes ke petugas masjid yang mengatur antrian, karena terlontar dari seorang jamaah Indonesia, dengan bahasa Indonesia dan tangan teracung-acung pula). Aduh Ibu, tak sadarkah bahwa teriakan2 Ibu sudah mempengaruhi orang-orang disini yang akhirnya ikut gelisah? Astaghfirullah...

Makin mendekati Raudhah, makin sesak dan kalutlah keadaan. Saling dorong, saling teriak sudah terjadi. Sambil terus bershalawat dan justru sedikit terhibur melihat tingkah orang-orang ini *nyengir*, tiba-tiba saja aku teringat rumah. Subhanallah. Rumah. Disitu saat itu, terasalah betapa rumah dan anak-anak yang kutinggalkan begitu jauhnya.

Kemudian aku menoleh kearah makam Rasulullah yang masih jauh, tetapi sudah kelihatan dari sini. Assalamualaika Yaa Muhammad Rasulullah... Assalamualaika Yaa HabibAllah... Rumah memang terasa sangat jauh, dan kerumunan orang-orang ini terasa makin mendesak, tetapi ada sesuatu yang terasa sangat dekat.

Aku sudah disini. Di dalam Masjid Nabawimu. Mengucapkan shalawat kepadamu sambil memandangi makammu. Berharap malaikat akan menyampaikan salamku kepadamu wahai manusia terbaik kekasih Allah. Berharap masih tersisa tempat untukku mendapat perlindungan shafaatmu di hari kiamat.

Dan begitulah, kutemukan lagi keheningan itu. Debam-debum didadaku. Bibir yang menggetarkan shalawat tanpa bisa kuhentikan seiring airmata yang membuncah. Aku tak perduli lagi kalaupun aku harus berada selama apapun disini, tak bergerak. Aku sudah disini. Dan disini nikmat sekali. Damai sekali. Terasa dekat sekali denganmu Yaa Rasulullah...

Banyak sekali kubaca tentang cerita sufi dan kondisi trans mereka ketika hati mereka menemukan Allah dan RasulNya. Aku cukup tahu diri bahwa yang kurasakan bukanlah itu. Yang kurasakan, mungkin hanya secuil debu dari bongkahan gunung kenikmatan yang dirasakan para pecinta Allah itu, ketika mereka merasakan hati mereka terbuncah penuh dengan nama Allah dan Rasulullah. Tetapi yang pasti, aku sempat bertanya-tanya apakah aku akan mendapat kesempatan mengalami lagi semua itu? Demi Allah, aku harap iya. Dan pertanyaan ini mungkin sudah terjawab karena seiring waktu ketika aku kembali lagi berkunjung ke Baitullah, aku selalu mengalaminya. Lalu, pertanyaanku selanjutnya adalah “Akankah aku bisa mengalaminya bahkan ketika aku sedang berada disini? Di tanah air? Di rumahku? Di keseharianku?

Itu, rasanya usahaku sendiri yang akan menjawabnya. Kata bait Bimbo “aku jauh Engkau jauh, aku dekat Engkau dekat” cukup memberi semangat. Aku percaya, kalau aku selangkah saja mendekat kepadaNya, maka Allah akan lebih jauh lagi mendekat kepada hati kita bukan?
Ya Allah Ya Tuhanku, maka aku mohon kepadaMu, penuhilah selalu hatiku, hati keluargaku, dan semua keturunanku dengan namaMu. Penuhilah kami setiap waktu, jangan biarkan apapun menjauhkan dan memisahkan kami dariMu, Ya Allah... Laa Ilaaha Illallah... Muhammad Rasulullah...


***

Oh ya, meneruskan cerita diatas, ketika sampai ke Raudhah, kami (aku dan ibukku) sudah kucel berat karena terhimpit dan berdesakan lebih dari sejam. Ketika menjaga ibukku yang shalat di tempat sesempit itu ditengah desakan dari berbagai arah, aku sadar bahwa aku tidak akan bisa membiarkan diriku shalat di situ. Tidak karena kalau aku shalat, berarti aku akan membiarkan ibukku berjuang seperti ini menjagaku dari terinjak dan tertabrak jamaah-jamaah yang kebanyakan bertubuh besar ini.

Setelah beliau selesai shalat, Ibuk segera merentangkan tangannya untuk gantian menjagaku shalat. Baru begitu saja Ibuk sudah terhuyung kesana-sini. Aku lalu mengajaknya untuk keluar. Seorang askar bertanya kepadaku “Shalat Yaa Hajjah???”

“No, I cannot let my mother guide me like that, No!” dan si askar tersenyum mengangguk. Lagian, kemarinnya aku juga sudah mengunjungi Raudhah dan sudah sempat shalat disini.

Tapi Ibuk terlihat tak rela. Dan yang membuat aku lemas adalah ketika di pintu keluar, Ibuk menangis tergugu sambil memelukku erat. “Oalah Nduuk... Kamu jadi nggak bisa shalat di Taman Surga gara-gara Buk’e”

MashaAllah...
Aku jadi ikut tergugu...
Airmata Ibuk itu, demi Allah itu juga Taman Surga buatku Buk....



Dan Tempat-Tempat Mustajabah itu,
Ternyata seringkali berada tak begitu jauh dariku...
Bisa saja ada dihatiku sendiri, juga di hati Ibukku....
Wallahua'lam bishawab

****

Saturday, March 27, 2010

Tempat-Tempat Mustajabah [Part 1]

Sesuai hukum ‘supply and demand’, tempat-tempat yang mustajabah untuk berdoa di Tanah Suci (entah di Madinah maupun di Makkah) selalu padat disesaki jamaah dari seluruh dunia, setiap waktu. Sekedar satu menit berdoa di tempat itu pun akhirnya menjadi sesuatu yang penuh perjuangan baik mental, emosional maupun fisik. Bahkan pada waktu-waktu yang kita kira akan sepi sekalipun, jamaah tetap sesak (mungkin karena mereka semua mempunyai pikiran yang sama dengan kita, bahwa saat itu mungkin sedang sepi).

Entah apakah ini hanya perasaan kita saja, atau memang nasib para jamaah Indonesia  (atau mungkin Asia Tenggara, terutama yang wanita) selalu agak memilukan ketika harus berjuang memasuki tempat-tempat mustajabah ini. Yang sudah pernah berhaji atau berumroh pasti mafhum bahwa jamaah-jamaah dari bagian Asia yang lain atau benua lain selalu ‘unggul’ kalau sudah berurusan dengan acara ‘berdesakan’. Aku juga nggak tahu sebabnya apa, tetapi seorang wanita Turki yang ukuran tubuhnya jauh lebih kecil daripada akupun, bisa loh berjalan santai, lalu gak sengaja menyenggol aku dari belakang samping ( hanya menyenggol!)  lalu yang terjadi tanpa bisa kucegah adalah : aku terhuyung lumayan keras kedepan. Nggak tahu kenapa, tapi seakan didalam tubuh mereka ada semacam bandul pemberat dari besi yang ikut mengayun kemanapun tubuh mereka bergerak. Itu baru orang-orang yang berpostur lebih kecil dariku, belum yang ukurannya lebih besar, padahal yang lebih besar inilah yang paling banyak jumlahnya. Masha Allah... :-D
Itu masih secara fisik. Secara mental dan emosional, mereka ini (yang sering kulihat sih terutama orang-orang Timur Tengah dan Afrika) mempunyai -mmm...apa ya namanya....?- mempunyai kadar ‘kecuekan’ tersendiri  akan sekitarnya. Mungkin karena faktor perbedaan kebudayaan.
Sebagai contoh saja, ketika berjalan di kerumunan yang padat lalu tanpa sengaja kita menyikut seseorang, maka kita pasti akan sibuk meminta maaf kepada orang yang kita sikut kan? Atau ketika kita terpaksa harus melewati space yang sempit diantara dua orang yang sedang duduk menunggu waktu shalat, maka kita akan sibuk ‘excuse me excuse me’ kepada mereka sambil menundukkan tubuh dan memelankan langkah. Tetapi memang itu mungkin kebudayaan khas negara kita kali ya. Atau paling tidak Asia. Asia tenggara persisnya. Sekali lagi mungkin, ini hanya perkiraanku saja. Buktinya, yang kulihat di masjidil Haram atau Nabawi, orang-orang dari negara lain bisa tuh cuek saja. Mereka bisa tuh berjalan dengan kecepatan biasa, seolah-olah kita semua tidak ada disitu, dan tidak tersenggol. Kalaupun ada disitu, kita mungkin selaksa pagar besi yang bisa jadi pegangan sewaktu-waktu tangan mereka membutuhkan. Sudah nggak terhitung kali kepalaku ini jadi semacam ‘bola pegangan’ orang-orang yang ‘menerombol’ melangkahiku ketika aku sedang duduk tenang, bahkan pernah beberapa kali pas aku sedang dalam keadaan duduk didalam sholat. Atau tersikut, kesenggol dengkul, dan si pelaku lempeng aja berlalu seakan tak terjadi apa-apa.

Dulu sekali, waktu pertamakali aku berkunjung ke Makkah (musim haji 1997) dan mengalami ini semua, waktu itu aku begitu sibuk introspeksi, Ya Allah...dosa apa yang telah kuperbuat sehingga aku harus menerima semua ini. Apa karena aku memang orang yang goyor suka gedubrakan alias biyayakan sering menyenggol sesuatu kalau bergerak sehingga disini akhirnya harus diperlakukan seperti barang-barang yang sering kujatuhkan dan kutumpahkan selama ini?? Hahaha. Lama-kelamaan ketika aku melihat bahwa nyaris semua jemaah mengalami hal ini, akhirnya aku pun berhenti bersuudzon pada Allah... Oh, yaa...ternyata ini bukanlah hukuman untukku. Ini pasti hanyalah perbedaan cara dan kebudayaan. Pantas saja orang-orang luar negeri selalu bilang bahwa orang Indonesia itu ramah-ramah dan sopan-sopan. Disini baru terbukti deh bahwa itu mungkin benar. Hehehe...

Dengan kadar ‘kecuekan’ tingkat tinggi, dan  ‘kekuatan’ badan besi mereka, sekarang bayangkanlah ketika kita, dalam jumlah ratusan bercampur di suatu tempat yang mustajabah tadi....yang luasnya tak akan lebih daripada beberapa puluh meter persegi...

Kalau ada kasus terdesak, maka yang paling banyak merasakan mungkin adalah jamaah-jamaah Indonesia. Terjepit? Itu juga... Suatu kali waktu merangsek kedekat hajar aswad, aku pernah melihat seorang ibu-ibu Indonesia pucat nyaris kehabisan napas, karena terjebak dibawah lengan beberapa jamaah wanita ras Arab. Benar-benar dibawah ketiak mereka karena perbedaan tinggi badan yang lumayan banyak, dan ‘kengototan’ orang-orang itu yang nggak mau sedikitpun mengorbankan jarak ke hajar aswad yang sudah mereka tempuh demi menyelamatkan sang ibu Indonesia yang wajahnya sudah pucat itu. Mereka tetap ngotot walaupun aku dan beberapa orang disitu sudah berteriak-teriak dalam berbagai bahasa (yang kubisa ya mulai dari bahasa isyarat sekenanya, Inggris, Indonesia, bahkan Suroboyoan saking ngerinya aku waktu itu hahaha) untuk menyuruh mereka untuk mundur sedikiiit saja supaya ibu yang sudah selesai mencium hajar aswad ini bisa mendapat jalan keluar. Toh kalau si ibu keluar dari area desak2an, mereka akan mendapat space ekstra kan? Tapi mereka tetap ngotot. Tetap meringsek dengan kepala si ibu makin terjepit diantara ketek mereka. Si Ibu itu akhirnya bisa keluar setelah askar (petugas keamanan) yang berjaga diatas hajar aswad turun tangan.

Banyak contoh lain, dan yang sudah pernah melakukan perjalanan ke tempat-tempat mustajabah seperti roudloh, makam Rasulullah (dulu di Nabawi jamaah wanita bisa mendekat ke makam Rasulullah, tapi sekarang tidak lagi), multazam, mencium hajar aswad, Hijir Ismail pasti paham apa yang kumaksudkan. Apalagi di masa-masa padat jamaah seperti musim haji. Jangankan untuk shalat yang otomatis memerlukan space untuk melakukan sujud, untuk sekedar bersimpuh duduk berdoa beberapa menit pun, kadang memerlukan perjuangan berat baik secara mental, emosional dan (terutama) secara fisik.

Dengan kondisi seperti diatas, itulah kenapa Mas Iwan tidak akan pernah membiarkan kami pergi tanpa bekal sebuah STRATEGI. Apalagi di tempat-tempat yang aku harus pergi sendiri karena adanya pemisahan jenis kelamin ditempat itu. Aku mungkin boleh merasa mempunyai banyak keuntungan karena punya suami yang sudah sejak dulu menggemari teknik-teknik Sun Tzu **hihihi** dan itu memang banyak membantu. Plus, dia sudah lebih sering pergi berhaji dan umrah sebelumnya, dan itu membuat dia semakin kesini semakin banyak pengalamannya. Tetapi ternyata, pengalaman terkadang juga tidak membantu, karena selain peraturan dari pengurus tempat mustajabah itu berubah-ubah tiap tahunnya, juga kondisi di lapangan sendiri terkadang jauh berbeda dari yang kita selalu perkirakan.

Dari tahun ke tahun... Haji ke umrah.... Umrah ke umrah berikutnya... Bahkan sampai ke umrah terakhirku minggu lalu itu... Dalam prakteknya, strategi-strategi yang sudah masak-masak disusun ini, selalu berakhir dengan kisah yang sangat berbeda untukku..... Sama sekali berbeda...

(Bersambung)

Sunday, March 7, 2010

Tentang BULU KETEK

Dari statur facebook ku pagi ini :


Tadi iseng melempar pertanyaan ke anak2...

"Semua yang diciptakan Allah nggak akan sia-sia. Kira-kira untuk apa Allah menciptakan BULU KETEK ya?"

Dan Abe pun menjawab...

"Supaya bulunya bisa dicukur, dikumpulkan, trus dipake untuk bikin kumis palsu!"

*mendadak mual*


Friday, February 26, 2010

Cewe Pintar

Status Facebookku pagi ini :

Tadi ngobrolin berita soal cewe2 lugu yg mau aja 'diculik' cowo2 yg cuma kenal di facebook.

"Beaaa, pokoknya Bea harus jadi cewe yang pintar dan bisa berpikir, jangan pernah mau diboongin dan dikibulin cowo2...okay??"

"Okay Buk!!".....toss!!

Tapi kemudian Bea mengerutkan wajah dan bertanya lagi dengan ironis "Kalo ya...ng ngibulin Mas Abe?? Gimana Buk??"...

**Ibuk speechless 2 menit karena faktanya Abe sering sekali ngusilin dan ngibulin adeknya, sementara Bapak ngakak karena faktanya sering ngibulin dan ngusilin Ibuk juga**

Akhirnya, kujawab saja "Cowo yang boleh usil ngibulin Bea cuma Mas Abe dan Bapak saja, kalo yang ngibulin yang lain, jangan mau ya Beaa!!"

Jawaban yang aneh...



 

:::...

Friday, January 15, 2010

Abe, Bea dan Teman Lawan Jenis Mereka

Repost dari Note di Facebook :-)

:::::.....

Banyak hal lucu dan menarik kalau kita perhatikan pergaulan anak-anak jaman sekarang ini. Pasti semua sudah pernah menyaksikan, betapa sekarang ini anak-anak SD kelas bawah (kelas 1-3) banyak yang sudah menyerupai ABG saja, bahkan anak-anak usia TK pun begitu loh –haduuhhh- entah harus merasa apa aku melihatnya.

Suatu hari, aku terbengong-bengong waktu menjemput Bea di sekolah. Waktu itu aku melihat 2 temen sesama TKB nya, dua-duanya cewe, saling berbisik-bisik centil (kalau nggak boleh dibilang sedikit genit) sambil pandangan mata mereka tertuju pada satu arah tertentu.

Ketika aku mengikuti arah pandangan mata mereka itu, ternyata yang sedang menarik perhatian mereka berdua adalah Mahez. Dan ketika sampai waktunya si Mahez melintas didepan mereka, serasa dikomando mereka bersama-sama mengumandangkan sebuah nama dengan sikap sangat malu-malu dan tersipu-sipu. “Maa…hezz….” Dan walaupun Mahez melengos dengan cuek, tapi ketika Mahez berlalu kedua anak itu langsung saling berpandangan dengan ekspresi wajah dan tubuh sangat bersemangat, mirip benar dengan ekspresi para penggemar musik pop cewe yang baru berpapasan dengan (misalnya) Michael Jackson ketika di jalan.

Oya, Mahez ini jadi semacam salah satu cowo idola di TK nya Bea. Bingung kan bagaimana bisa anak TK B sudah punya “cowo idola” di kelas mereka?? Tapi ini terjadi. Pada Mahez. Sudah tak terhitung banyaknya kami mendengar cerita-cerita betapa anak-anak perempuan di kelas B3 saling berebut main bersama Mahez. Atau rame-rame mengejar Mahez. Untuk apa? Untuk cium2 Mahez. Hwaaaaaaa!!!

*tag ibunya Mahez ahhh hehehe*

Sekarang mari kita lihat bagaimana model bergaulnya Abe dan Bea, anak-anakku.

Harus kuakui, dalam tingkat tertentu, aku seperti bersyukur bahwa Bea tidak seperti dua anak perempuan yang aku ceritakan diatas tadi itu. Aku mungkin bisa terbengong-bengong kaku berdiri tiap hari kalau sampai Bea seperti itu.

Urusan perbedaan gender rupanya berjalan dengan lebih sederhana untuk Bea sekarang ini (dan Ya Tuhan, aku harap untuk seterusnya juga). Aku masih ingat percakapanku dengannya di mobil sepulang sekolah. Waktu itu adalah 3 atau 4 hari setelah hari pertamanya masuk TK. Setelah menanyakan pertanyaan-pertanyaan standar seperti : Apa yang membuat Bea senang hari ini? Main apa aja di sekolah? dll

Aku : “Di kelas baru, siapa aja teman Bea?”

Bea: “Banyak kok Buuk…”

Aku: “Senangnya…siapa aja namanya, Ya?” – “Ya” maksudnya untuk Bea :-D

Bea: “Mm…ada Dzaky!”

Aku: “Oya, Dzaky kan temen Bea sekelas di Playgroup, senang ya bisa sekelas lagi di TK…. Trus, siapa lagi?”

Bea: “Aldooo!!”

Aku: “Aldo ya… trus? Siapa lagi?”

Bea: “Ada EL…”

Aku: “EL…ok deh…trus siapa lagi?” sampe disini alisku mulai mengeriting mendengar nama-nama itu.

Bea: “Trus ada yang cerewet juga lo Buk, dia lucu, namanya Rafi”

Aku: “Rafi lucu ya….oh…” alisku mulai keriting, karena ketika Bea bilang “cerewet” tadi aku setengah mengharapkan nama-nama seperti Amel, atau Laras, atau Nina, bahkan nama Cemplon pun boleh lah…

Bea: “Trus ada Mahez….ada Faiq, ada Naufal….”

Aku cuma melongo mendengarnya…nama-nama itu..kok nama COWO semua ya??

Ketika kemudian kutanyakan “kalo teman yang cewe-cewe, siapa aja yang Bea sukai?” Bea harus memikirkan sebuah nama dengan jauh lebih lama daripada yang tadi. Alisnya bahkan sempat mengerut mencari-cari siapa nama temen cewe yang disukainya di kelas.

Well, kalau Bea sedikit tomboi aku sudah lama tahu itu. Tapi ini menggelikan karena melihat dia tampaknya lebih nyaman bermain dengan anak laki-laki, itu sangat mengingatkan aku pada diriku sendiri ketika aku kecil dulu.

Aku kebetulan tumbuh besar diantara banyak sepupu laki-laki. Aku terbiasa main bersama mereka. Jadi daripada main boneka dan rumah-rumahan, aku lebih sering menghabiskan masa kecilku dengan main kasti, panjat pohon ini dan itu, cari ikan di sungai kecil deket rumah, patil lele atau “serangan ndhas” yaitu main perang2an dengan cara mengeplak puncak kepala lawan. Kebanyakan permainan laki-laki. Dan lama-kelamaan, ini membuat aku sempat tidak nyaman ketika kemudian harus bermain bersama teman perempuan ketika mulai sekolah. Menurutku, mereka itu kebanyakan sangat cengeng, gampang menangis, tukang mengadu, gampang sekali ngambek (marahan) tapi lebih gampang lagi merasa saling iri. Kalopun ada teman perempuan yang akhirnya bisa akrab, itu adalah beberapa saja yang mungkin sama-sama tomboi nya.

Apakah Bea juga mengalami ini dengan alasan yang sama, well sampai sekarang aku masih mencari jawabannya. Tapi memang kalau banyak keluhan yang suka dia keluarkan ketika bercerita soal teman-teman cewenya, maka kata yang keluar berkutat di “mereka suka bolo2an”….”ngatain aku jelek”….”mereka bilang nggak suka aku karena ngaji ku sudah sampai jilid 4”…dan semacamnya.

Jadi kalau ketemu dengan seorang teman laki-laki, yang Bea lakukan sih bukannya malu-malu atau bisik-bisik dengan sesama teman cewenya. Ketika di tempat parkir pulang sekolah dia ketemu Mahez atau Dzaky, Bea bakalan tanpa ragu langsung mendekat, mungkin mengagetkan mereka dengan memukul bahu dan berteriak “DAKK!!!” dan langsung ketawa-tawa ketika mereka kaget sambil bertanya dengan lantang “Kamu habis ini mau kemana?? Aku lo nggak langsung pulang, aku mau beli es pallu butung dulu!!”.

Anyway, saat ini, aku dan juga ibu guru di sekolah sedang mengusahakan supaya Bea juga bisa merasa nyaman bergaul dengan teman sesama perempuannya. Hehehe…

Lain lagi dengan Abe. Kalau Abe adalah tipe yang cuek dengan teman lain jenis. Walaupun dari sekolah Playgroup ada saja cerita lucu tentang teman cewe yang “nginthil” terus dibelakang Abe.

Pas Abe PlayGroup, ada seorang teman sekelas (sebut saja namanya L). Ibu guru sering cerita anak yang lucu ini selalu ikut kemanapun Abe bermain. Ketika suatu hari bermain peran (suatu kali anak2 bermain peran sebagai sebuah keluarga, jadi ada anak yang jadi bapak, ibuk, dan ada boneka yang mereka jadiin anak2an). Walaupun tidak disandingkan sebagai pasangan, tetapi setelah menggendong si boneka dan ada instruksi “jalan-jalan bersama keluarga” si L ini langsung lari-lari menghampiri Abe. Abe, yang saat itu sudah dipasangkan dengan teman yang lain, cuek aja sehingga kalau dilihat-lihat dia jadi mirip anak-anak yang memutuskan untuk –maaf- ber poligami :-D

Sampai sekarang dia sudah kelas 3 pun, ketika kami jalan berdua di sekolah, atau di swalayan sekolah, atau di parkiran sekolah, aku sudah terbiasa mendengar suara anak2 perempuan panggil-panggil nama Abe. Dan sudah capek aku menyuruhnya untuk menjawab panggilan-panggilan itu dengan sopan. Dan tak lupa memastikan sebelumnya bahwa tidak ada yang salah dengan pendengaran Abe. Pasalnya, Abe selalu tidak bereaksi apa-apa, nyelonoooong aja, seolah dia tidak mendengar panggilan2 itu. Akhirnya, terpaksalah aku yang selalu menjawabnya. “Iyaa…” sambil tersenyum kearah pemanggil yang ternyata bukan hanya teman sekelas atau seangkatan. Kadang-kadang anak kelas 1 atau 2, bahkan anak-anak kelas atas (4,5 atau 6).

Aku: “Abe kenapa tidak menjawab sihh??” sudah tak terhitung kali aku memprotes begini sesudahnya.

Abe: *cuma angkat bahu*

Aku: “Itu kan temenmu…kalau Abe tidak menjawab nanti bisa dikira Abe sombong loh. Padahal Abe bukan anak yang sombong kan??”

Abe: *angkat bahu lagi*

Aku: “Abeeee!!!!????” *aku mulai menuntut lebih dari sekedar angkat bahu*

Abe: “Aku lho nggak kenal mereka Buk, aku kan malu kalau harus terus menjawab?? Mereka lho selalu panggil-panggil….di ruang makan, di teras masjid… Aku maluuuu!!”

Aku: *menyerah*

Pernah aku penasaran dengan apa yang dirasakan Abe terhadap panggilan2 itu. Suatu sore kutanya dia. “Menurut Abe, kenapa sih cewe2 itu sering panggil-panggil Abe?”

Jawab Abe: “Mungkin karena Ibuk ngasih aku nama yang aneh kali. Di sekolah kan cuma aku yang punya nama ABE. Coba kalau namaku Rafi, atau Naufal, atau apa kek yang banyak kembarannya, mungkin mereka nggak akan panggil-panggil aku terus!!”

*gubrax*

Belum lagi aku harus menerima laporan beberapa temen walimurid, yang bilang bahwa anak perempuannya selalu cerita tentang Abe dirumahnya. Mendengar ceritanya yang kadang lucu kadang juga ajaib, aku cuma bisa melongo….

Sering kupancing-pancing soal pergaulannya dengan teman-teman perempuannya di sekolah, dan kesimpulanku hanyalah bahwa Abe memandang mereka dengan cara yang sewajarnya. Sewajarnya anak usia 8 tahun. Dan itu membuatku bersyukur. Abe bahkan berkali-kali mengungkapkan kalau dia sudah tidak sabar pingin segera kelas 4. Di SD Al Hikmah, mulai kelas 4 anak-anak memang sudah dipisah kelasnya, antara murid laki-laki dan perempuan.

However…. *ehm*

Ada satu teman cewe yang pernah mendapat pujian dari Abe loh. Semua terungkap ketika waktu kelas 2 kemarin, si teman ini harus pindah sekolah karena orangtuanya juga pindah ke Semarang. Waktu itu tanpa dinyana tanpa diduga, waktu pulang sekolah dan ngomongin soal yang pindah ke Semarang, masih di mobil tiba-tiba Abe nyeletuk. “Yah…padahal aku suka lo buk sama dia”

Hahhhh????? :o *Ibuk langsung oleng nyetirnya, tapi untung cuma sebentar dan pas di jalan yang sepi.

“I…Iya sih…dia memang cantik..” ujar Ibuk masih tergagap dan berusaha membagi pandangan ke jalan dan ke wajahnya Abe (pingin liat gimana ekspresinya dia saat itu, yang ternyata juga masih biasa saja).

“Bukan Buuk…bukan ituuu!! Aku itu suka dia karena dia cerewet… Trus dia pemberani loh Buk, kalau digangguin temen-temenku yang cowo, dia selalu melawan. Kalau ada temennya yang digangguin juga, dia suka belain mereka. Dan kalau dia lagi marah-marah gitu, aku suka banget liatnya….hi hi hi…”

Ohhh….akhirnya dia terkikik juga ya…sementara aku makin melongo…

Dia yang kami maksud itu adalah Nadine. Dan bukan hanya Abe yang kehilangan karena Nadine pindah ke Semarang, tapi aku juga kehilangan mb Santi, mamanya yang juga temenku di pengajian. Dan aku juga sukaaaa sama mamanya… Untunglah sekarang ada facebook, jadi masih bisa rame2an walaupun cuma di dunia maya…. ;-)

*tag mb Santi ahhh* :-D

:::...


Wednesday, December 30, 2009

Kisah Bu Ani Yang Malang...

Oke. Demi menumbuhkan kembali mood menulis yang dudul hampir setahun ini, maka harus sedikit memaksa diri sendiri nulis deh. Hmm…ngomongin apa ya enaknya kali ini?

Oya, kemarin lihat di TV, di Sumatera (lupa tepatnya dimana) ada lagi berita seorang ibu yang membantai anaknya sendiri. Astaghfirullah. Dari kelima anaknya, 3 diantaranya (umur 10, 8, dan 3 tahun) meninggal diujung tebasan kapak membabibuta ibu kandung sendiri. Dua anak lainnya (umur 7 dan 5 tahun) menderita banyak luka parah di sekujur tubuhnya. Konon si ibu mengalami histeria karena suaminya yang sedang merantau memutuskan untuk mengajak 5 anaknya ke perantauan dan meninggalkan sang istri sendiri di kampung halaman.

Sekali lagi sekujur tubuhku mengejang ngeri. Siapa yang tidak??

Masih miris ngeri, ingatanku langsung melayang ke sebuah cerita yang disampaikan trainer parenting Bpk. Faudzil Adhim. Kira-kira setahun lalu, di ruangan Parenting Skill Class (PSC) Sekolah Al Hikmah, Pak Faudzil membuat semua walimurid yang hadir mengikuti pelatihan, bergidik ngeri dan hampir semua mengucurkan air mata.

Cerita itu tentang Ani Komariah Sriwijaya, seorang ibu rumah tangga asli Boyolali tapi tinggal di bandung, lulusan ITB, yang pada 2006 lalu menggegerkan masyarakat karena membunuh ketiga anaknya yang masih kecil dengan cara membekap mereka dengan bantal sampai meninggal. Mungkin masih banyak yang ingat kasusnya. Banyak yang mengira bahwa alasan pembunuhan itu adalah karena Bu Ani depresi memikirkan masalah ekonomi dan mengkhawatirkan masa depan anaknya yang suram. Bu Ani kemudian diputus bebas oleh pengadilan dan diperintahkan untuk menjalani perawatan di Rumah Sakit Jiwa. Pak Faudzil Adhim kebetulan tergabung didalam tim psikologi yang memeriksa kondisi kejiwaan Bu Ani waktu itu, dan cerita latar belakang kenapa Bu Ani memutuskan untuk mengakhiri hidup anak2nya inilah yang mengundang kucuran airmata dan menegakkan bulu roma kami semua yang mendengarnya.

Bu Ani sendiri, boleh dibilang adalah potret sempurna dari keberadaan seorang anak. Dari kecil sampai lulus ITB, prestasi akademiknya selalu cemerlang. Pengalaman sosialnya juga bagus. Intinya, dari luar dia merupakan anak yang diidam-idamkan semua orangtua, titik. Ketika kemudian menikah dan menjadi seorang ibu, dia juga tidak beda dengan ibu-ibu lainnya yang sangat menyayangi anak-anaknya, segenap jiwa dan raga. Lantas kenapa dia sampai memutuskan mengakhiri hidup anak-anaknya sendiri?? Sebelum mengungkapkan alasan yang berhasil digali oleh tim psikologi yang memeriksanya, Pak Faudzil menggambarkan suasana siang itu, ketika Bu Ani melaksanakan niat yang sudah bulat diambilnya sejak beberapa waktu sebelumnya.

Siang itu si anak sulung Nadhif (6 tahun) baru pulang sekolah. Mungkin sekitar dhuhur, ketika sehabis sholat Bu Ani menyambut kedatangan si sulung dengan senyum dan pelukan sayang seperti biasa. Kemudian disiapkannya makan siang untuk Nadhif, ditemaninya si sulung makan siang bersama adiknya Faras (3 tahun, si anak tengah) . Si bungsu Umar (9 bulan) saat itu sedang tidur siang.

Sepanjang makan siang itu, Bu Ani lebih banyak mengelus rambut anak2 dan menciumi kepala mereka daripada hari-hari yang lain. Setelah selesai disuruhnya Nadhif dan Faras mandi. Sehabis mandi, mereka diberi pakaian yang nyaman dan dibedak seluruh tubuhnya sampai harum. Bu Ani kemudian menyuruh si sulung bermain di ruangan lain sementara dia mengantar si tengah tidur siang di kamar. (Aku tidak yakin yang mana diantara mereka yang lebih dulu diminta untuk tidur siang, tetapi kurang lebih begitu kejadiannya, satu anak diantar tidur siang dan yang lain bermain di luar kamar).

Bu Ani tak lupa mengajak si anak membaca doa sebelum tidur, bahkan dengan lembut menyanyikan beberapa lagu pengantar tidur yang diminta anaknya. Ketika kemudian dia yakin bahwa si anak sudah tertidur pulas, diambilnya bantal dan ditangkupkannya ke wajah anaknya tersebut….kuat-kuat….lama…
.cukup lama sampai nafas si anak berhenti…

Kemudian Bu Ani memanggil si anak lain yang sedang bermain di luar kamar. “Ayo, temani saudaramu tidur siang nak…” Dengan kelembutan dan kasih sayang yang sama diantarkannya si kecil ke hangatnya tidur siang dan mimpi yang indah… Dan Bu Ani sekali lagi mengambil bantal untuk ditangkupkan ke wajah si kecil… Si kecil pun kembali meregang nyawa tepat disamping saudara yang tanpa sepengetahuannya sudah lebih dulu meninggalkannya.

Dan terakhir, si bungsu Umar, yang masih bayi dan terlelap tidur pun, kemudian menyusul kedua kakaknya…meregang nyawa didalam pelukan Bu Ani…

***

Kisah diatas sangat mengerikan buat kita semua, tentu saja… Tetapi kalau ada yang lebih mengerikan adalah alasan Bu Ani melakukannya. Kalau melihat latar belakang pendidikannya, tentu hal seperti ini kurang masuk akal. Seharusnya Bu Ani sebagai seseorang yang berpendidikan tinggi, lebih bisa mengatasi tekanan mental maupun emosi didalam dirinya. Tetapi apa yang dialaminya (seperti yang diceritakan oleh Pak Fauzdil di PSC) ternyata memang sangat besar, jauh lebih besar daripada yang kami semua kira.
Setelah melewati penggalian yang lama dan dalam oleh tim psikologi, terungkap alasan sebenarnya dibalik keputusan Bu Ani…

Ani Komariah, dari luar memang potret anak yang sempurna. Tetapi sangat ironis dan dramatis, kecemerlangan dirinya dihadapan semua orang, ternyata tidak bisa dilihat oleh si Ani terpancar keluar dari mata ibu kandungnya sendiri. Ibunda dari Ani, diceritakan tidak pernah merasa puas dengan apapun yang dicapai oleh putrinya. Dan sang Ibu adalah tipe wanita yang SANGAT PENGOMEL!! Sekeras apapun Ani berusaha memberikan yang terbaik dalam hidupnya, tetap saja yang dia dapat ketika pulang adalah omelan tidak puas dari ibunya. Sebanyak apapun nilai A yang dia dapat, begitu berhadapan dengan ibunya langsung menjadi tidak berarti karena akan selalu dibandingkan dengan prestasi teman lain yang nilai A nya lebih banyak. Setinggi apapun prestasi yang dicapai Ani, yang dilihat sang Ibu adalah orang lain yang berprestasi lebih tinggi lagi. Omelan demi omelan tanda ketidakpuasan, sepertinya hanya itu yang Ani dapat selama dia tumbuh dewasa. Dan itu merupakan sebuah luka yang besar yang kemudian berurat akar dalam dirinya.

Ketika Ani menikah serta melahirkan ketiga anak-anaknya, omelan-omalen tak puas dari sang ibu bahkan sama sekali bukanlah yang terburuk yang bisa terjadi…

Selama mendidik putra-putrinya, pelan-pelan Ani belajar dan menyadari bahwa kebiasaan ibunya mendidik dia dulu, tanpa sadar seringkali dilakukannya pada anak-anaknya. Sekeras apapun niatnya untuk bertekad tidak mau meniru cara mendidik ibunya yang penuh omelan tak puas itu, tetapi sesering itu juga tanpa disadarinya, itu terjadi… Anaknya tumbuh dengan omelan yang (walaupun tidak sebanyak dirinya, tetapi) mirip dengan yang selalu diterimanya dulu dari sang ibu…

Ani kemudian belajar dan menemukan bahwa luka yang ditorehkan sang ibu didalam hidupnya, tak mungkin terhapuskan… Lebih buruk lagi, kemudian dia memutuskan bahwa luka itu menular, menurun dan melukai anak-anaknya juga… Luka yang kali ini dia timbulkan sendiri…. Dia torehkan tanpa sadar kedalam hidup anak-anak yang dicintainya… Luka yang menyebar dengan kuat, bahkan tekad bulatnya yang kuat untuk menjadi ibu yang baik pun, tak kuasa menghentikannya…

Sebagai seorang ibu, Ani merasa bahwa dia adalah ibu yang sudah terlanjur terlaknat. Terlaknat oleh luka dan kebiasaan buruk tak tersembuhkan yang sudah kadung ditorehkan ibunya dulu. Dan lebih buruk lagi, sekarang, tanpa dia sadari dan bisa hentikan, dia akan mencetak 3 calon orangtua yang terlaknat juga, yaitu anak-anaknya. Ani merasa nanti ketika anak2nya sudah menjadi orangtua, tanpa sadar mereka pasti akan mewarisi caranya memperlakukan anak-anak, sekeras apapun mereka mungkin akan mencoba menghentikannya.

Tak terbayangkan oleh Ani nasib cucu dan keturunannya, kalau luka ini akan terus menjalar turun kepada keturunannya. Kalau omelan-omelan jahanam itu akan terus menelan korban, melukai hidup banyak orang karena tidak bisa dihentikan penularannya. Melukai banyak orang yang kemudian hanya akan berakhir sama, menjadi penyebar dan pembawa kebiasaan terkutuk itu…

Konon, Bu Ani masih mengakui betapa cintanya dia pada sang bunda… Tetapi pada akhirnya, sebagai seorang ibu yang juga sangat mencintai Nadhif, Faras dan Umar, Bu Ani memutuskan bahwa dia tidak sanggup lagi mencintai anak-anaknya… Tidak dengan cara seperti itu…

***

Aku tidak tahu dengan Anda pembaca sekalian, tetapi aku pribadi sering sekali merasa, ketika memperlakukan anak-anak, aku sering merasa takjub. Takjub karena ternyata dalam beberapa hal, caraku memperlakukan anak-anak mirip bahkan persis dengan perlakuan orangtuaku ketika aku kecil. Dan anehnya, perasaan takjub ini biasanya muncul justru ketika aku SUDAH SELESAI melakukannya. Itu artinya memang perlakuan itu tadi kulakukan TANPA KUSADARI sebelumnya. Keputusan memperlakukan anak-anak seperti itu, seperti sudah otomatis termainkan dalam otakku, programnya seperti sudah terinstall sejak dulu, di detik yang sama ketika orangtuaku memperlakukannya kepadaku.

Ya Allah pemilik hatiku… Aku mohon kepadaMu…

Tuntunlah aku, lindungilah aku supaya aku hanya mewariskan segala sesuatu yang Engkau sukai kepada anak cucu dan segenap keturunanku… *aminnn* T_T

Tentu aku tak bisa berhenti bersyukur bahwa Allah telah memilihkan untukku orangtua sebaik dan sehangat penuh cinta seperti Kakung dan Uti… Aku akan menjadi saksi dihadapan Allah, mereka yang terbaik! *hiksss jadi pengen banget peluk ibuk sekarang….T_T*

Tapi pada akhirnya, sedikit banyak, aku pun jadi bisa memahami perasaan Bu Ani…

Bu Ani yang malang… :-(

:::::.....

Thursday, November 12, 2009

AmeL Dan Kakek Tak DikenaL

:::::.....


AMEL DAN KAKEK TAK DIKENAL

Semalam, kami semua ikut shock mendengar cerita Mb Sisil dan putri bungsunya Amel yang baru TK B.

Jadi siang kemarin itu (Rabu, 11/11/09) sekitar jam 12.45 mb Shiel agak telat jemput AmeL karena pulang dari acara pengajian (AmeL pulang jam 12.30). Itupun dia sudah membatalkan niat untuk beli makanan terlebih dahulu dan memilih untuk langsung jemput AmeL di sekolah karena sudah telat. Sesampai di sekolah, keadaan sudah agak sepi, tinggal tersisa satu dua anak yang bermain di halaman sekolah (didalam pagar). Mereka juga sedang nunggu jemputan. Ketika dilihat tidak ada AmeL disitu, mb Shiel pun masuk ke lorong menuju ke ruang baca, karena di ruang baca itulah biasanya anak-anak dikumpulkan ibu guru, untuk menunggu dijemput supaya lebih aman.

Baru saja mb Shiel berjalan sampai setengah lorong ketika pas didepan pintu ruang kepsek dia melihat pemandangan yang membuat pikirannya membeku.

Ada AmeL disitu, sedang berjalan keluar digandeng oleh seorang kakek yang sama sekali tidak mb Shiel kenal. Si AmeL digandeng tangannya oleh si kakek itu, sementara di pundak si kakek bertengger tas sekolah AmeL.

Hati ibu mana yang tidak beku karena shock melihat pemandangan seperti itu. For the record, diantara kami semua mb Sisil itu paling frontal orangnya. Darah Madura-nya nggak bisa dinafikan, membuat dia selalu paling cepat berdiri dan berteriak ketika ada sesuatu yang tidak diinginkan. Tapi kali ini mulutnya serasa terkunci, bahkan (menurut pengakuannya) seluruh badannya tidak bisa apa-apa lagi kecuali tanpa komentar mengambiL semua yang ada ditangan kakek itu...tanpa memperdulikan lagi segalanya, termasuk si kakek yang terlihat kaget juga bertemu dengan mb Shiel dan sempat terdengar melontarkan kata-kata "Saya kira anak ini...bla...bla..bla". Mb Shiel pun sudah tak mendengar lagi lanjutan kata-kata si kakek.

Yang dilakukan mb Shiel hanya mengambil alih anak bungsunya. AmeL ditariknya, juga tas sekolah, dan dengan buru-buru membawa semuanya masuk ke mobiL dan memacu mobil cepat-cepat pulang kerumah. Sepanjang perjalanan, mb Shiel masih membeku, tak mampu bicara apapun kecuali berkali-kali menyebut nama Allah. Sambil dengan ngeri membayangkan apa yang terjadi kalau saja tadi dia jadi beli makanan terlebih dahulu. Atau kalopun misalnya dia hanya semenit saja telat menjemput AmeL. Mb Shiel yang premanita itu, ternyata kali ini cuma bisa speechless...

Ketika sampai dirumah, pelan-pelan AmeL ditanya, dan jawaban yang meluncur dari mulutnya hanya "nggak tahu Buk...aku nggak tahu...". Sampai-sampai ketika malamnya masalah ini diketahui teman-teman via sms, telpon, YM atau BBM, ada yang akhirnya menyebut kata gendam, hipnotis, sirep dan sejenisnya...duhh... Terus terang aku juga ngeri setengah nggak percaya semua ini bisa terjadi di sekolah Bea...pada AmeL lagi! Padahal kami semua mengenal AmeL sebagai anak yang pintar, cerdas dan kritis.

Malam itu, kami semua yang mendengar cerita Amel, ikut pucat ngeri dibuatnya...



LARAS DAN KAKEK TERSAYANG

Siang itu, Rabu 11/11/09 Laras yang baru duduk di bangku TK B keluar kelas dengan agak rewel. Pak Ji, si bapak tukang becak yang biasa menjemputnya sampai kewalahan. Rupanya Laras tidak mau pulang. Laras hanya mau pulang kalau dijemput oleh kakeknya yang baru pindah 10 hari ini dari Jogja kerumahnya di Surabaya.

Merasa tak bisa membujuk si Laras, Pak Ji pun menelepon rumah Laras dan menceritakan hal ini. Kemudian si Kakek pun memutuskan untuk berangkat ke sekolah menjemput cucu tersayang yang rupanya sangat menginginkannya.

Sesampai di sekolah, sudah sepi...maklum jam sudah menunjukkan jam 12.45 sementara jam pulang memang sudah 15 menit berlalu.

Halaman sekolah sepi, Kakek pun menuju ruang baca. Disana juga terlihat sepi, hanya tinggal Laras seorang yang masih menunggu jemputan di ruangan itu. Tanpa perlu sepatah katapun Kakek hanya tersenyum melambaikan tangannya memanggil cucu cantiknya untuk pulang bersama-sama. Dilihatnya sang cucu langsung menghampirinya. Dengan sayang dibawakannya tas sang cucu, dan digandengnya tangan Laras. Mereka berdua pun berjalan bergandengan tangan melewati lorong.

Pas ditengah lorong, tepat didepan pintu ruang kepala sekolah, sekonyong-konyong Kakek melihat ada seorang Ibu yang berjalan menuju mereka berdua. Si Ibu ini, tanpa berkata sepatah katapun, langsung mengambil tas sekolah Laras yang disandang di bahunya. Tangan Laras yang sedang digandengnya pun ditarik si Ibu itu.

Yang paling mengejutkan Kakek adalah kenapa Laras menurut saja diajak Ibu itu?? Laras malah memanggil si Ibu itu dengan sebutan "Ibu"??? Mungkin detik itulah Kakek akhirnya sadar bahwa itu memang bukan Laras, cucunya... Dan sebelum Kakek bisa menjelaskan apapun kepada si Ibu, mereka berdua sudah ngibrit meninggalkan si Kakek ditengah lorong didepan pintu ruang kepala sekolah yang sudah sepi siang itu...

:::::.....

Begitulah ceritanya...

Pagi tadi, dengan perasaan yang tidak menentu masih shock mb Shiel memutuskan untuk menghadap pihak sekolah. Bu Chodijah yang mewakili sekolah menerima mb Shiel, ternyata sudah menunggu ditemani kakek dan neneknya Laras untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.

Mb Shiel si premanita pun, akhirnya hanya bisa memutuskan untuk menyimpan lagi taringnya. Ketika keluar dari sekolah dan menceritakan semuanya kepadaku (yang memang sengaja menunggu di bakery sekolah), perasaan mb Shiel masih tak menentu, antara geli, merasa tak percaya dan masih speechless tak bisa komentar apa-apa.

Pertanyaanku, trus Laras dimana waktu siang-siang kemarin itu??

Menurut cerita Bu Guru, tak lama setelah Pak Is becak menelepon rumah Laras, dia kembali membujuk Laras yang rewel dan kemudian berhasil. Laras pun mau diajak pulang. Setelah insiden dengan mb Shiel di lorong depan ruang kepsek itu, ganti si Kakek yang panik demi mengetahui anak yang digandengnya tadi ternyata BUKAN Laras cucunya. Kakekpun langsung kembali masuk mencari Laras dan panik karena Laras sudah tidak ada. Ibu Guru pun bingung karena kok ada lagi yang datang menjemput Laras?? Bukannya Laras sudah pulang dengan Pak Is???

Maka jelaslah semuanya... Kakekpun akhirnya berhasil menemukan cucunya si Laras dan Pak Is di gang sebelah sekolah...

Mb Shiel pun melanjutkan ceritanya. Tadi pas dia ketemuan (dan sempat foto2 pulak wahahaha) dengan Bu Guru dan Kakek-Nenek nya Laras, mereka sudah saling meminta maaf. Terutama si Kakek.

Kakek :
"Maaf lo Buk, saya bener nggak ada maksud apa-apa... Saya kira itu Laras cucu saya... Mereka mirip dan hanya tinggal ada satu anak di ruang baca. Lagian AmeL nggak tertawa, coba kalo AmeL tertawa saya pasti tahu kalo itu bukan Laras, soalnya kan kalo Laras ada giginyaa..."

Mbak SisiL : **speechless**

Kakek :
"....dan ini sudah KEDUA KALINYA terjadi pada saya lo Buk..."

Mbak SisiL : **gubraaxxx**

Hahahahahaha. Aku juga nggak bisa apa-apa selain ketawa mendengar ceritanya. Jadi inget temen-temen dudulers...yang juga suka salah kalo melakukan apa-apa... Jadi inget diriku sendiri yang juga begitu.... Dwoohhhhh....

Tahu nggak apa yang ada dipikiranku??? Si Kakek itu seharusnya bikin account blog atau Facebook. Aku akan dengan senang hati add beliau, dan memasukkan FB beliau ke list "DUDULERS".

:::::.....

Tuesday, September 8, 2009

SALAH (LAGHEE)???

Surabaya, Selasa 8 September 2009

::::.....

Konon katanya, keledai saja tidak pernah terjatuh di lubang yang sama dua kali. Untunglah aku bukan keledai, jadi gak papa deh kalo memang harus terjatuh di sebuah lubang untuk kedua kali! Hahahaha.

Tadi pagi, aku sudah stand by di sekolah karena ada janji mau berangkat ke pertemuan majelis taklim bersama teman-teman walimurid Sekolah Al Hikmah. Mobil aku parkir paralel di pinggir jalan depan kantor yayasan, di seberang masjid. Aku sengaja parkir disitu karena beberapa teman yang janjian denganku masih ada kelas mengaji di masjid.

Rupanya hari ini ada rapat bapak-bapak pengurus yayasan karena sempat kulihat beberapa dari mereka mondar-mandir antara masjid dan kantor. Parkiran juga kulihat lumayan penuh, maklum kalau Ramadhan begini kegiatan walimurid di sekolah juga lumayan padat.

Untuk beberapa saat, aku masuk ke masjid untuk sekedar menyapa beberapa teman. Sempat juga ngobrol curhatan dengan seorang sahabat, kemudian muncullah Mb Fetty dan Mb Eva. Mereka berdua kebetulan juga akan pergi ke majelis taklim yang sama denganku. Akhirnya diputuskan bahwa kami bertiga berangkat duluan, sama-sama dengan mobilku.

Dari arah masjid, akupun menyeberang sambil mengeluarkan kunci mobil dari tas. Setelah dekat, kupencet tombol "Unlock" di remote kunci. Mobil tak bereaksi. Kupencet lagi, tak juga bereaksi. Waduh, kenapa nih, masa sih batere remote habis lagi?? Beberapa minggu lalu aku memang dudul jadi sanggongan satpam sekolah karena mobil gak bisa dibuka karena batere remote habis dan aku selalu menunda untuk menggantinya.

Tapi kan sekarang posisinya batere remote sudah diganti??? Masak sih sudah habis lagi??

Mbak Fetty dan Mb Eva mulai mengeluh panas diluaran. Tapi begitu melihat kesulitan yang kuhadapi mereka langsung lupa pada suhu yang mulai memancing keringat saat itu. Mereka berdua pun akhirnya sibuk membantuku, menyumbangkan ide ini itu.

"Ya terpaksa pake anak kuncinya aja mbak" saran Mb Eva.
"Tapi nanti alarmnya pasti bunyi mbak" jawabku sambil ngeri liat banyak mobil parkir, pertanda disekolah sedang banyak orang dengan urusan yang perlu ketenangan, dari ngaji sampai rapat.

Mb Eva kemudian datang dengan solusi. "Aku tahu caranya, buka aja dengan anak kunci, nanti kalau alarm bunyi langsung pencet aja tombol dibawah stir yang biasanya nyala merah kalo remote dipencet."

"Emang bisa gitu??" tanya Mb Fetty ragu, sementara aku semakin kalap saja pencet-pencet tombol "Unlock" di remote dan tak berhasil juga.

"Ya...kalo di mobilku sih bisa. Sama-sama Toyota kan? Coba aja dulu" oke deh, aku memutuskan berhenti pencet2 dan siap memasukkan anak kunci ke lubang kunci di handle pintu mobil.

Anak kunci masuk, kemudian kuputar. Lho, kok nggak bisa??? Ini aneh. Mb Fetty dan Mb Eva juga kaget. Kok nggak bisa ya??

"Coba lagi mbak" kata mb Eva. Aduh, ada kalo 10 menit kita bertiga umek disekitar pintu mobil ini.

Aku coba lagi masukkan kunci ke lubangnya. Tapi tetep anak kunci tak bisa kuputar.... AArgghh kenapa ini??? Kita bertiga sudah mulai berkeringat dan sepertinya satpam di pos sana mulai tertarik dengan kegiatan dudul kami bertiga disitu.

Detik itulah aku menemukan sesuatu di ujung pintu mobil. Ada luka kecil di pojok tengah pintu pengemudi itu. Luka seperti kalau kita kurang hati-hati membuka pintu kemudian pintunya membentur tembok atau mobil lain yang ada disamping kanan gitu. Aku sebentar tercenung. Kapan ya aku dapat luka ini??

Perasaanku mulai tidak enak. Setengah menggumam, aku seperti bicara pada diriku sendiri..."Sebentar, ini bener mobilku kan???" sambil dengan penuh ingin tahu aku melangkah melongok nomor polisi mobilnya.

Pas saat itu, berbarengan dengan suara Mb Fetty membahana, mengabarkan pada Mb Eva... "MOBILNYA WAHIDA BUKANNYA ITU KAN???"

Tangan Mbak Fetty jelas-jelas menunjuk ke mobil lain yang parkir pas dibelakang mobil ini. Mobil lain yang serupa, yang kukenali dengan baik nomor polisinya. Nomor polisinya, sama persis dengan mobilku....

Aku cuma bisa menangkupkan telapak tanganku keatas kepala...membaca istighfar berkali-kali sementara Mb Eva dan Mb Fetty sibuk menyemburkan kata-kata aneka rupa, yang ditelingaku terdengar seperti "Kok bisa sihh???" dan ketawa yang beraneka rupa juga, dari ketawa keheranan sampe ketawa prihatin karena harus punya teman seperti aku.

Ya Allah....

Guess what, ini bukan pertamakalinya terjadi padaku. Dulu aku pun pernah salah mobil, bahkan lebih parah karena aku sudah terlanjur masuk ke jok penumpang didepan dan kemudian baru sadar setelah menemukan bahwa laki2 yang dibelakang stir, disebelahku, ternyata bukanlah suamiku.

Guess what again, dua mobil yang aku keliru itu, dua2nya jenis yang sama! Dua mobil itu, sama sedannya dengan mobilku, sama merk dan warnanya (yang otomatis menjadi alasan pemaklumanku, mereka memang kelihatannya mirip mobilku!!) ...bedanya hanya satu, bahwa mobil2 ini dari seri yang lebih tinggi dan karena itu jauh lebih mahal dari mobilku hahahaha.

Teringat komentar Mb Eva yang persis dengan komentar Mas Iwan dulu ketika aku salah masuk mobil orang itu... "Kalo minta dibeliin yang kaya gitu, bilang ajaaaaa!!!"

Hahahahaha.

:::::.....

Beberapa menit kemudian aku baru sadar bahwa mobil yang dari tadi kucoba untuk "kudobrak" adalah mobil milik salah satu Ketua Yayasan Pendidikan Sekolah Al Hikmah. Aduh malunya...untunglah alarm mobil itu nggak kemudian menjerit waktu ada 3 ibu duduL (salah satunya duduL kwadrat) yang mencoba mendobrak keamanan pintunya. Untung juga Bapak pemilik tampaknya sedang rapat, jadi satu2nya jalan dia mengetahui insiden ini adalah bila beliau membaca tulisanku ini. Untunglah karyawan kantor yang biasa nyupiri mobil ini (yang orangnya aku kenal baik juga) tidak melihat semua kejadian memalukan ini **aku akan pura2 saja tidak mengupload cerita ini untuk dibaca khalayak umum**...

Hhh...duduL bener...**ambil napas panjang dan prihatin**

Cerita yang dulu aku pernah salah masuk mobil orang itu, bisa dibaca disini http://cikicikicik.multiply.com/journal/item/140/Mobil_Salah_dan_Mobil_Benar

:::::....

Saturday, August 22, 2009

Abe dan ABG (Anak Belum Gede)

Kemarin di tulisan sebelumnya aku cerita soal anak-anak yang menjadi dewasa sebelum waktunya. Kali ini, aku ingin menulis cerita yang sama sekali berbeda.

Ada seorang anak istimewa, teman sekolah Abe. Sama-sama duduk di kelas 3 tapi beda kelas. Sebut saja namanya si N.

N ini boleh dibilang adalah cowo idaman di kelas 3, bahkan di seluruh SD. Idaman murid-murid cewe dan idaman ibu-ibu walimurid juga. Pokoknya, boleh dibilang walimurid yang punya anak cowo harus berhadapan dengan keinginan supaya anaknya bisa seperti N, dan kalau perlu walimurid yang mempunyai anak cewe, udah sibuk mendekati N dan ortunya sambil berharap nanti anaknya berjodoh dengan N. Hehehe.

Wajahnya ganteng, dandanannya selalu rapi. Dari potongan rambut sampai garis setrikaan di bajunya selalu licin. Walaupun sekolah fullday dan baru pulang jam 4 sore pun dia masih terlihat rapi. Anaknya pintar, termasuk salah satu yang terpintar di sekolah. Tutur katanya lembut dan sopan, dengan sikap tubuh yang teratur. Wess pokoknya nyenengin! Titik!

Suatu hari, waktu mau nonton film King di Bioskop 21, aku ketemu dengan N ini. Waktu itu dia juga mau nonton, bersama salah satu tantenya yang aku kenal juga, dan sepupunya (anak si tante). Aku? Datang berempat, dengan ABEA dan MI.

"Assalamualaikum..." sapaku buat mereka bertiga. Salam-salaman, N juga maju menyalamiku dengan senyum dan sikap tubuh yang sopan. Setelah bersalaman, dia mundur dan berdiri dengan tenang, tangan terlipat ke belakang pinggangnya. Duuhhh anak ini memang nyenengin banget, tak heran kalau fans nya banyak.

Setelah ngobrol bentar dengan si tante, aku celingukan mencari Abe. Kalau tidak salah dia barusan nginthil bapaknya untuk beli tiket. Maksudku ingin kasih tahu Abe kalo ada N disini. Beberapa detik kemudian aku temukan sosok Abe, dan tak urung membuatku (mungkin juga N dan tantenya juga) cukup melongo.

Disanalah Abe berada. Nggak tahu apa persisnya yang dia lakukan, entah memprakekkan jurus Aang The Avatar atau berlatih konser gitar (dengan tanpa pegang gitar tentunya). Yang jelas dia terlihat loncat-loncat...memutar-mutar kepalanya ke semua arah...mulutnya terlihat selalu komat-kamit...tiba-tiba merentangkan tangan kesana kemari...dan puncaknya, menutup aksinya dengan berlutut di karpet lobi bioskop.

Oh...ternyata belum. Mungkin karena karpet disitu tebal dan nyaman, akhirnya Abe memutuskan menambah bonus aksinya dengan menyerahkan punggungnya ke hamparan karpet...dia pun dlosoran disitu...dengan nyamannya!! Dan baru bangun setelah aku panggil untuk bersalaman menyapa N dan tantenya.

Itupun, acara salaman Abe dihiasi dengan gedubrakan seperti biasanya. Selama ngobrol dan menjawab pertanyaan-pertanyaan dari tantenya N yang cuma tak lebih dari semenit itu, beberapa kali Abe menabrak badanku dan menginjak kakiku yang berdiri di belakangnya.

Dari arah lain kulihat wajah Mas Iwan hanya bisa kelihatan geli dengan semua pemandangan ini. Beberapa saat kemudian, setelah kita terpisah dari rombongan N, Mas Iwan nyeletuk. Sebuah celetukan yang dari tadi juga sebenarnya mendesak di kepalaku, menunggu untuk kuteriakkan...

"Rasanya sulit dipercaya kalau mereka berdua itu sama-sama kelas 3 SD..."

**garuk-garuk sambil nyengir tak jelas**


Wednesday, August 5, 2009

Buas dan BugyL

Kasihan sekali wanita2 yang jadi adik iparku.....

Aku punya adik 2, cowo semua....
Adikku yang satu namanya ASNAN, jadi istrinya bakalan dipanggil BuAs.......
Adikku yang satunya bernama AGYL, jadi istrinya bakalan dipanggil BuGyL donggg???....

Atau malah kasihan diriku sendiri?? punya ipar kok BUAS dan BUGYL???....


:::::.....

Saturday, July 11, 2009

Balada Mas Iwan dan Batu Bata

 

Barusan, aku berniat untuk menulis cerita tentang perkenalan ku dengan walikelas barunya anak-anak tadi. Tetapi, program Word ku baru saja terbuka ketika kemudian ada yang menarik terjadi disini. Dan aku tak bisa menahan diri untuk tidak menulisnya sekarang.

 

Kebetulan, hari ini Mas Iwan pergi ke Malang untuk urusan kerja, dan baru habis maghrib tadi pulang kerumah. Kebetulan, beberapa bulan ini kami punya kebiasaan baru. Setiap pulang dari pergi, kita tidak langsung menuju rumah (kontrakan) yang sekarang kita tinggali, yang hanya berjarak 5 rumah itu, melainkan mampir dulu ke site proyek pembangunan rumah. Yah..sekedar melihat perkembangan atau menikmati suasana disitu. Begitu juga tadi, dari luar kota Mas Iwan rupanya sempat mampir dulu ke proyek...buktinya, datang-datang dia sudah heboh dengan cerita seputar proyek.

 

“Tau nggak, batu bata yang numpuk didepan rumah itu, ternyata jadi bulan-bulanan anak-anak lho!” katanya heboh.

 

“Kenapa memangnya?” tanyaku sambil ngemil pepaya bangkok

 

“Jadi itu batu-bata, dibikin jadi semacam halang rintang mereka untuk maen sepeda. Ada yang ditumpuk...ada yang dipecah jadi dua trus dibikin pembatas, ada yang dijadiin alat zig-zag...trus dipake buat maen sepedaan gitu...” suara MI cukup gemes juga. Sebagai gambaran, rumah kami memang tempatnya diujung pertigaan, tepat didepan rumah adalah masjid, dan disamping ada taman. Jadi memang dari dulu menjadi tempat berkumpulnya anak-anak dan ABG yang bermain.

 

“Huheuheue...dasar anak-anak...” sahutku geli.

 

“Lha iya anak-anak, tapi batu bata yang dipake bisa puluhan per hari loh...yang utuh pun pada dipecahin gitu...ya nggak boleh dibiarkan. Akhirnya tadi aku tegur mereka. Pak tukang juga tadi sempat kutegur supaya mengawasi anak-anak itu...”

 

Saking hebohnya cerita si Bapak, Abe yang sedang asyik maen PS jadi ikut tertarik.

 

Ada apa sih, Pak?”

 

Mas Iwan mengulangi lagi cerita hebohnya tadi, kali ini diceritakan ke Abe. Begitu cerita selesai, wajah Abe berubah menjadi takjub...bersinar...merona dengan antusiasme yang tinggi...dan komentar yang keluar dari mulutnya dengan penuh semangat adalah ini...

 

“Wahhhh berarti mereka semua ikut2an aku Pak!!! Kapan itu memang AKU yang punya ide begitu, dan ternyata mereka pada suka loh semuaaa!!!! Waahhh....hebat kaannn????”

 

**gubraxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx**

 

Aku sampe kesedak pepaya sebelum akhirnya ngakak hebat, apalagi setelah melihat MI cuma bisa nyengir sambil garuk2 kepala. Hahahahahah.

 

Pelajaran untuk Bapak, sebelum menegur anak orang, sebaiknya FOKUS pada anak sendiri terlebih dahulu yaa..... Hihihihihihi.... :-D