Wednesday, January 16, 2008

Manajemen Stress

Oke, postingan ini sambungan dari postingan tentang stress di http://cikicikicik.multiply.com/journal/item/77 kemarin.

Aku pribadi mengenal yang namanya Teori Manajemen Stress mostly dari 2 sumber ini: bangku kuliah dan pengajian. :-D

Dari bangku kuliah aku tahu bahwa ternyata banyak sekali teori bermunculan tentang Coping With Stress in Life, bagaimana seseorang mengatasi stress. I mean, a lot!

Dari buku “Essentials of Understanding Psychology” by Robert S. Feldman, sudah aku sarikan tentang bagaimana cara manusia menghadapi stress. Tetapi karena hasilnya ternyata merupakan satu tulisan yang panjang, maka berikut ini aku sarikan lagi menjadi beberapa strategi dalam menghadapi stress.

Untuk yang masih ingin membaca si versi panjang yang lebih detil sekaligus mengintip teori Om Sigmund Freud tentang Defence Mechanism yang beken bin terkenal itu , bisa dibaca disini.

:::::.....

 Beberapa strategi yang sudah terbukti efektif dalam menghadapi stress, antara lain :


TURNING THREAD INTO CHALENGE:

Ketika situasi stress masih mungkin dikontrol, pendekatan terbaik untuk mengatasinya adalah menjadikan ancaman stress menjadi sebuah tantangan sehingga kita bisa lebih fokus pada cara bagaimana mengontrolnya. Contoh : mobil kita jago mogok dan bikin stress! Lalu kita memutuskan untuk mengikuti kursus mekanik singkat. Meskipun keputusan ini tidak membuat mobil jadi tidak gampang mogok, tetapi paling tidak membuat posisi kita lebih baik karena kita lebih mengerti tentang apa yang salah dan cara mengatasinya. Stress setiap kali mobil mogokpun jadi berkurang.


MAKING A THREATENING SITUATION LESS THREATENING :

Ketika situasi stress kelihatannya susah dikontrol, pendekatan lain harus diambil karena sebaliknya, adalah hal yang sangat mungkin untuk mengontrol dan mengubah penilaian seseorang tentang sebuah situasi, melihat dengan cara berbeda untuk kemudian menyesuaikan perilakunya. Contoh: seseorang yang lebih bisa menemukan hal baik (positif) dari suatu peristiwa buruk cenderung lebih rendah stress dan lebih mudah mengatasi stress daripada mereka yang tidak.

 

CHANGING ONE’S GOALS:

Ketika berhadapan dengan situasi yang tidak bisa dikontrol, adalah sesuatu yang masuk akal untuk mengubah tujuan yang lebih realistis dan praktis untuk dilakukan. Contoh: seorang atlit sepakbola top mengalami kecelakaan mobil yang membuat kakinya lumpuh. Nah, dalam kondisi demikian, mungkin dia harus mengubah tujuan hidupnya, misalnya dengan menjadi pelatih sepakbola saja.

 

TAKING PHYSICAL ACTION:

Sekarang ini banyak orang yang menempuh cara ini untuk meredakan stress. Cara ini melibatkan baik medis maupun biologis. Contoh: penggunaan obat2 yang direkomendasikan dokter/psikiater untuk meredakan reaksi stress yang mengganggu kesehatan secara fisik. Beberapa jenis diet makanan pun disebutkan bisa meredakan stress. Olahraga, tentu saja termasuk dalam metode ini. Sudah banyak sekali penelitian bahwa olahraga teratur bisa mengurangi heart rate, blood-pressure and respiration-rate, menyeimbangkan hormon dan mengaktifkan kelenjar tertentu yang membuat tubuh lebih rileks dan tidur lebih nyenyak.

 

PREPARING FOR STRESS BEFORE IT HAPPENS:

Strategi ini disebut dengan inoculation : menyiapkan diri sebelum stress terjadi. Awalnya teknik ini dipakai untuk pasien RS yang akan menjalani operasi, dalam rangka mencegah terjadinya masalah-masalah emosi pascaoperasi.

Metode inokulasi mempersiapkan seseorang untuk menghadapi pengalaman stress (baik secara fisik maupun emosi) dengan cara memberikan penjelasan dan informasi sebanyak dan sedetil mungkin, tentang kejadian2 sulit apa yang kemungkinan akan dihadapi. Elemen penting dari metode ini bukanlah terletak pada kejadiannya sendiri (atau pada fakta bahwa kejadian itu PASTI akan terjadi), tetapi lebih kepada bagaimana menyiapkan diri orang yang bersangkutan agar mempunyai strategi yang lebih jernih dan ebyektif dalam rangka menghadapi situasi stress nya. Kalau diterapkan secara baik, metode ini bisa berhasil. Paling tidak, kemampuan menghadapi stress orang-orang yang sebelumnya mendapatkan informasi (tentang stressornya) akan lebih bagus daripada orang-orang yang tidak mendapatkannya.

:::::.....

 

Yang jelas, yang harus digarisbawahi, dalam teori manajemen stress manapun, selalu disebutkan bahwa untuk bisa menghadapi stress dengan baik, seseorang perlu memiliki kecerdasan emosional dan spiritual yang baik. Nah, sekarang jelas sudah pentingnya ikut sumber yang kedua : pengajian2! :-D

 

Dari pengajian2, kusimpulkan kayanya kuncinya ini deh (bismillah, kebenaran hanya milik Allah semata) :

  1. Percaya tanpa henti, bahwa apapun itu, hidup ini Tuhan yang mengaturnya. Tidak ada setitikpun kejadian yang luput dari ijin dan pengetahuan Allah (hemm...mas iik mungkin bisa membantu, ayatnya yang mana nih mas... :-D). Sehelai daun yang gugur, setetes air hujan yang jatuh di kegelapan rimbunnya hutan, ikan yang berenang, semut yang mati terinjak, kutu yang berkembang biak didalam sol sepatu kita, setiap detil dan rangkaian sebab musabab dari setiap kejadian, semua hanya bisa terjadi atas ijin Allah Yang Maha Kuasa semata. Apalagi sesuatu yang menyangkut hidup kita umat manusia?! Dan Sang Maha Pencipta tentu juga yang Maha Tahu apa yang terbaik buat hamba2Nya. Sesuatu yang seringkali disalahpahami oleh kita manusia, kita maunya apa yang kita inginkan itulah yang terbaik buat kita (dan karena itu, itulah yang harus terjadi). Padahal sungguh, sebenarnya dengan segala macam hawa nafsu yang kita miliki, niscaya tak setitikpun kita tahu tentang apa yang terbaik untuk hidup kita!
  2. Ada satu kalimat yang kuperoleh dari seorang ustadz waktu pengajian, dan sejurus setelah mendengarnya, aku langsung menitikkan airmata, bergetar hati ini. Waktu itu kebetulan ada seorang jamaah pengajian yang bertanya bagaimana resep menghadapi ujian hidup ini, karena buat dia (si ibu itu), hidup yang harus dijalaninya sungguh berat. Dari suami yang selingkuh, anak-anak yang sakit2an, hubungan dengan orangtua yang tidak mulus, banyak sekali pokoknya! Dan dia merasa sebagai manusia biasa, lama-lama bisa habis kesabarannya menghadapi besarnya semua cobaan itu. Apa kata ustadz? “Sebagai seorang hamba manusia, seumur hidup kita, jangan sampai sedetikpun kita lupa dengan kalimat ALLAHU AKBAR! Allah Maha Besar! Dia lah yang benar-benar Sang Maha Besar! Kalo kita selalu ingat bahwa Allah adalah yang Paling Besar, maka niscaya semua hal yang lainnya akan terasa kecil! ^_^


:::.....

Semoga bermanfaat...

Foto ilustrasi dicomot dari http://wordvoodoo.blogspot.com

Friday, January 11, 2008

Download mp3 di Multiply? Tamatlah Oohh... Riwayatnya....!! :-((

Info ini dibawa ke aku oleh mas April (http://sueswit.multiply.com)

Jam 5 pagi hari ini, menu "download" yang biasanya ada di samping kanan koleksi lagu2 mp3 kita sudah resmi dihapus!

Dulu aku sudah mbatin "lama-lama nih multiply bisa2 bernasib sama kaya napster almarhum"...
Kapan itu ketika menu "music" sudah menghilang dari search engine, aku rada dapet firasat...
Ternyata hari ini kejadiaaannn...huhuhuuuuuuuuuuuuu huwaaaaaaaaaa



(padahal Abe belum tamat donlod semua lagu OST Naruto nya, hiksss)

Wednesday, January 9, 2008

Undangan di Bulan Besar

Sebuah catatan mengakhiri bulan Dzulhijjah 1428 H...

Yang kualami ini, kemungkinan besar juga dialami kita semua. Aku tidak tahu persis dengan suku yang lain, tetapi orang-orang Jawa sangat banyak mengadakan acara pernikahan selama Bulan Besar. Bulan Besar menurut penanggalan Jawa identik dengan bulan Dzulhijjah. Konon, bulan ini memang bulan yang terbaik untuk melaksanakan pernikahan. Percaya atau tidak, yang jelas aku sendiri menikah TIDAK di Bulan Besar (that explains enough where I stand, right? :-D)

Akibatnya, bisa diduga setiap bulan ini datang, kita selalu kebanjiran undangan pernikahan! Contohnya bulan ini, bukan hanya hampir, tetapi di semua Hari Sabtu dan Minggu, selalu terisi jadwal ke kondangan. Beberapa kali bahkan lebih dari satu undangan dalam sehari.

Agak tersengal-sengal juga mengikuti jadwal kondangan ini. Apalagi bila ada 2 undangan di hari yang sama. Bukan apa-apa, sebenarnya jujur saja, aku rada-rada kurang betah kalo harus full-dressed berdandan formal with all those make-up kits (punyaku jelas2 paket paling minimalis, alias hanya terdiri bedak dan lipstik tipis warna soft), baju yang berpernik (biasanya sehari-hari polos bebas pernik), sepatu “feminin”, baju mengandung “blink2” yang bikin gatal kulit itu, dan sebangsanya...

Dua minggu lalu, kebetulan ada undangan, salah satu adik kelasku waktu kuliah menikah (di Surabaya). Celakanya, tepat di hari dan jam yang sama, temennya mas Iwan juga! Dan celakanya lagi, tempat acara resepsinya di Bedugul, Bali! Waduh, gimana mau ngatur kalo gini??? Terpaksa deh, hari itu kita “berpisah”, aku menghadiri pernikahan temenku di Surabaya dan Mas Iwan pergi ke Bali untuk menghadiri acaranya. Capek juga karena selain tempatnya jauuhh dan “menyesatkan” (hahaha), harus juga menghadapi pertanyaan “loh, suamimu mana??” tetapi nggak secapek mas Iwan tentunya, karena tiket pesawat sold out minggu itu (maklum high-season liburan dan cuti bersama), maka dia harus pergi ke Bedugul by car! Untung ada satu temennya lagi yang menemani pergi...duuhhh!

Acara mengisi amplop juga merupakan pengalaman tesendiri kan? Extra budget tentu harus disiapkan untuk mengisi amplop “bowo” (istilah suroboyoan) :-D. Yang jelas, kami punya “peraturan” tersendiri menyangkut amplop. Biasanya, semakin sang tuan rumah mengadakan acara di rumahnya yang berada di gang sempit yang **kadang2** kebanjiran (apalagi kalau yang menikah adalah karyawan), maka diusahakan semakin tebal amplop yang kita masukkan, daripada yang menyelenggarakan di gedung yang megah dengan lahan parkir luas. Jangan sampai kita salah kaprah memberikan amplop lebih tebal kepada mereka yang sudah berada (secara finansial tentu saja). Orang Jawa bilang, jangan sampai “nguyahi segoro” (menebar garam ke laut) :-D

Oya, ada lagi yang lucu. Suatu hari datang sebuah undangan. Aku yang menerima cuma “ah ya, undangan, kenalannya mas Iwan nih” karena aku merasa tidak kenal sama sekali nama-nama yang tertera disitu. Baik pasangan yang menikah, maupun orangtua yang mengundang.

Setelah mas Iwan pulang dan melihat undangannya, dia tanya “Ini siapa ya??”

“Loh, mas nggak kenal toh?” aku balik tanya dengan heran. “Nggak, bukannya kenalanmu?” sahut mas.

Kita berdua pun melongo..”habis ini siapa??? Nama dan alamat kita ditulis dengan lengkap dan jelas, tandanya kan dia mengenal kita mas???”

“Lha embuh!” Wah...misterius ini!

Berhari-hari kami dudul gara2 misteri ini. Akan sangat konyol kalo sampe waktunya kita datang ke acara, kita masih belum menemukan siapa gerangan si pengundang ini. Seminggu lebih kita memeras otak mengingat-ingat dimana pernah kenal dengan si empunya undangan itu. Akhirnya sampailah kita pada kesimpulan harus mengutuk diri kita sendiri sebagai orang yang nggak perhatian dan keterlaluan sampai-sampai melupakan kenalan yang dengan sangat baiknya ingat untuk mengirimkan undangan kepada kita. “Kenalan macam apa kita ini ya??” berkali-kali aku berujar kepada si mas.

Lamaaaaa setelah tanya sana-sini, ternyata jawaban datang dari salah seorang salesnya mas Iwan yang kebetulan melihat undangannya dirumah.

“Itu pemilik salah satu toko langganan kita” katanya...Walaaahhh...ternyata.....hehehe...Biasanya kalo ada toko yang mengundang, pasti dititipkan lewat sales yang mendatanginya, lha kebetulan yang ini dikirim by post...pantas saja! Kitapun akhirnya bisa “memaafkan” diri sendiri (wakakakak), maklum, toko langganan mas Iwan kan lebih dari 300 orang, jadi wajar kalo banyak yang nggak kenal :-D

Masalah undangan juga jadi hal yang sangat menyita waktu dan tenaga untuk Bapak dan Ibuku. Dengan umur dan kesibukan mereka sekarang ini, undangan pernikahan yang diterima bisa-bisa 3-4 kali banyaknya dibanding aku-mas Iwan. Tapi tak urung, waktu aku sempat curhat, Ibukku komentar “perasaan dulu waktu ibuk seumuran kamu, undangan yang kami terima gak sebanyak kamu”

Wah, lha nanti ketika aku seumuran Ibuk, apa jadinya kalau begitu....?? Apa sampe perlu kaya Saddam Hussein yang menciptakan kembaran agar dia bisa meghadiri 2-3 event di waktu yang sama??? **hiperbola kumat lagi**

 

&%#@^#&*!^(&!*(#&*(&#*^@#&^&

 

Surabaya, 1 Muharram 1429 H

Selamat Tahun Baru Hijriyah buat semuanya... :-)




Saturday, January 5, 2008

Buku Alumni TK Abe


konsep desainnya kuberi nama "RetrOrange"

Ini janjiku untuk Ibu Ranger Harley (http://harlia.multiply.com).

Awalnya gara-gara postingan http://cikicikicik.multiply.com/journal/item/16 dia jadi ada ide bikin buku yang sama untuk perpisahan TK Ardi, anaknya. Nah ini dia sekilas pandang bukunya. Duh percayalah Har, ide nekat dan mata yang melolo melekan selama mengerjakan proyek ini (maklum baru bisa kerja serius malam2, kalo anak2 dah tidur), semua terbayarkan demi melihat hasilnya! Kepala Sekolah, guru2, semua teman2 walimurid lainnya dan **yang penting** anak-anak 199 persen antusias!! :-D

(Cerita selengkapnya serunya pembuatan buku alumninya, bagaimana kacaunya foto sesi yang melibatkan 73 anak **hihi** bisa dilihat di postingan diatas :-D)

Special Belut Bu Hadi : A Blast from My Childhood Culinary


**eng ing eng** ini dia pecel belut gorengnya!! Yang khas disini, diatasnya penuh taburan bawang putih yang dikepruk dan digoreng dengan kulit2nya. Sambal tomatnya top, boleh pilih pedas, sedang atau tidak pedas, dan aroma terasinya pas, nggak berlebihan

Hujan-hujan begini, memang enaknya posting kuliner aja ya, hehe... Dan memang, sejak terinspirasi Lala (http://niwanda.multiply.com), sekarang di harddisk album foto sudah menumpuk gambar-gambar hasil jepretan waktu makan diluar. Thanks to Lala (or not?? :-D), it looks like I’m so getting into this now...hihihi.

Waktu itu, suasananya pas seperti sekarang ini. Pagi dihiasi hujan rintik-rintik yang awet dari semalam dan hawa dingin membuat saraf lapar semakin sensitif dan rajin berkerja. Don’t you just love rain season? (well, I mean despite all those flood and disaster, hikss)

Sehabis mengantar Abe-Bea sekolah, pagi itu rencana kita berdua pergi untuk belanja pesanan ibuk yang mau pulang haji. Heading to wilayah Ampel, belum separuh jalan mas Iwan came up with this idea. Sudah lama dia bercerita tentang tempat ini tanpa sempat mengajak aku berkunjung. Finally, it was a perfect time!

Sejak kecil, aku sudah sangat akrab dengan masakan serba belut. Besar di Kota Tulungagung, belut merupakan bahan makanan yang sangat umum di sana. Tersedia di pasar-pasar tradisional maupun pedagang ikan yang berkeliling. Musim hujan begini biasanya Ibuk lebih sering memasak belut dari biasanya. Digoreng garing atau dimasak kecap (pedas), keduanya sama nikmatnya.

Ketika aku kuliah dan tinggal di Surabaya, jadi jarang (hampir nggak pernah lagi) makan belut. Itu sudah sekitar 12 tahun yang lalu ya. Makanya ketika akhir-akhir ini makanan ini jadi banyak dijual, aku ikut semangat juga. Sebelum sempat mencicipi langsung, kalo ada liputannya di TV cuma bisa ngeces. Masalah halal haram, sempat bikin aku risau, I was lika “Oh no, ini makananku dari kecil, gimana kalo ternyata haram dimakan??? waksss” tetapi setelah mengetahui info bahwa si hewan licin ini hanya akan haram untuk mereka yang jijik memakannya, jadi tenang deh... Hehehe...

Btw, suami masih belum mau nyoba, padahal dia yang mempromosikan warung belut ini “Uenak Nduk!” gitu katanya...Lah...darimana dia tahu itu enak kalo blum nyoba ya?? Lagian yang dikasih tahu pun udah tahu dari jaman ban masih kotak kalo yang namanya belut memang enak!! Gimana sih! Hihihi

Dasar otak bisnis, biarpun dia belum nyoba makan, begitu liat warungnya rame (apalagi konon kabarnya, jaringan warung belut ini sudah mengkoleksi stiker mak nyuss-nya Bondan Winarno “Wisata Kuliner Trans-TV”), ternyata sudah beberapa bulan ini dia malah sudah terlibat pembicaraan sama pemiliknya untuk kemungkinan bikin franchise nya...Oalah.. (meminjam gayanya, kubilang : product knowledge, itu penting mas!....u need to try it first before you sell it!! **jurus acung2kan telunjuk ala bu guru** huehehehehe)

Lontong Mie Surabaya : Dari Pasar Atum ke Pasar Blauran


sebelum berteman Es Degan :-D

Meneruskan petualangan kuliner kita yaa...**deeuhh** :-D

Kali ini menunya khas Suroboyoan. Sebuah makanan klasik masyarakat Surabaya. Khas dengan aroma dan rasa legit petis udangnya.

Biarpun ketika pertama tinggal disini sempat eneg dengan petis, tetapi lama-lama ternyata aku tertawan juga. Kata suami itu karena petis itu sama kaya dia : gelap dan legit, jadi pas sama seleraku!! (I know, gubraxx banget kan??**sigh**).

Lontong Mie yang pertama kusantap adalah dirumah mertua, lebih dari 10 tahun lalu. Waktu itu belum “tertawan” lidah ini (karena masih masa2 adaptasi sama petis kali yaa hehe). Tetapi ketika lama kemudian aku dapat kesempatan pergi ke Pasar Blauran, semua berubah!! **musik dramatis mulai mengalun**. Ternyata selain memiliki koleksi majalah/buku bekas yang lumayan banyak, Pasar Blauran menyimpan yang namanya Lontong Mie terlegit yang pernah kurasakan! Hari itulah aku jatuh cinta dengan yang namanya Lontong Mie Pasar Blauran! Seringkali kita jauh-jauh pergi kesana (I mean, bener2 jauhh!!!) untuk sekedar rindu menikmati sepiring legit Lontong Mie.

“Kamu belum ngrasain Lontong Mie Pasar Atum kan? Yang ini paling top!”
Lamaaaaa aku nggak tertarik karena masih enggan melepaskan diri dari LoMie Pasar Blauran. Sampai sekitar 2 minggu lalu kita pas ke Pasar Atum, dan aku akhirnya mencoba...

Lontong Mie Pasar Atum ternyata memang enak banget! Kalo aku bilang malah “terlalu enak”! Untuk derajad keenakan **ada ya yang kaya gini? hihi** mungkin LoMie Ps. Atum lebih enak. Taburan udang goreng keringnya jauuhh lebih banyak dan gurih! Tetapi kalo bicara masalah derajad kenikmatan *:-D* aku masih menambatkan hatiku pada LoMie Ps. Blauran plus kuah petisnya yang lebih hitaaammm itu (sayang ga ada fotonya ya, soalnya lamaaa nggak kesana).

Suasananya juga lebih kena, karena Ps. Blauran kan pasar tradisional, khas banget Suroboyoannya. Kalo kita makan disitu, kita akan bisa mendengar segala perbincangan dan tingkah pedagang-pembeli disekitarnya and I loved it to bits! (tempat makan berada ditengah2 dikelilingi kios2 di kanan kiri), lengkap dengan cucuran keringat yang bikin acara makan tambah asoy geboy. Sedangkan Pasar Atum kan nuansanya sudah lebih mengarah ke mall, tempatnya ber AC dan tidak ada banyak penjual LoMie yang berjejer, hanya beberapa berbentuk resto kecil ataupun pujasera gitu.

Yah..memang dari segi harga (dan tempat), Pasar Atum jelas lebih “berkelas” daripada Pasar Blauran. LoMie Pasar Atum dibandrol Rp. 11.000 sementara di Pasar Blauran harga per porsi hanya berkisar Rp. 4.000-5.000. Kalo kita pernah merasakan bahwa kadang2 bakso pinggir jalan yang murah lebih nikmat daripada bakso ala restoran, seperti itulah LoMie Ps. Blauran vs LoMie Ps. Atum.

(InsyaAllah kapan2 aku posting foto2 LoMie Ps. Blauran deh, akan terlihat betapa hitaaammmm dan legitnyaaaa, juga suasana khas pasar tradisionalnya yang masih sangat kental, hal yang sangat membawa kenikmatan tersendiri ditengah2 hutan mall Kota Surabaya sekarang ini.)

Thursday, January 3, 2008

Sari Laut Haji Mutasim (Depan Ubaya)


menu favorit suami

Postingan ini asli terinspirasi oleh Leila (http://niwanda.multiply.com). Si Lala ini suka banget posting tentang tempat makan yang dia datangi. Dan sehabis baca postingannya, biasanya aku suka berakhir ngeces, nggak peduli apapun jenis masakannya! :-D

Beberapa waktu lalu aku berdua suami malam-malam mengantar adikku Agyl ke kost2an-nya di daerah Medokan Ayu. Selain sudah malam (sekitar jam 10 malem) udara juga dingin. Kelaparan, diniatin deh nanti mau makan seafood depan kampus Ubaya lama. Ugh, nggak terasa udah lama banget tuh nggak makan disitu, padahal tempat itu cukup jadi favorit kita banget! Maklum semakin hari jadi semakin jarang lewat daerah situ sih.

Cling! Jadi ingat postingan2 Lala. Hemm...siapin kamera handphone sekarang juga! :-D

“Sari Laut Haji Mutasim” terletak di jalan masuk seberang Kampus Ubaya lama didaerah Ngagel. Tepat disamping Kebun Bibit, kalau malam berjejer tempat makan dari seafood, pecel lele sampai ayam/bebek goreng dan penyet.

Pesanan kita standar (maksudnya tiap kesitu, menu ini selalu yang kita pesan, well at least... :-D). Serba-serbi asem manis (konon di situ memang yang paling istimewa adalah saus asam manisnya). Mas Iwan pesan kerang asem manis. Aku pilih cumi asem manis. Si Agyl mau udang asem manis aja. Tuh kan, semua pesen yang asem....gpp deh yang penting kan manis??? **apa sih???** :-D

Sambil menunggu pesanan datang, datanglah grup musik yang suka ngamen disitu. Aku selalu sangat menikmati suguhan mereka. Tak jarang aku sampe bengong bertopang dagu sambil terhanyut dalam lagu2 yang mereka mainkan (norak kumat!). Wah seneng sekali mengetahui setelah sekian lama nggak berkunjung kesini, mereka ternyata masih eksis. Bahkan, malam itu kulihat ada anggota “tambahan” seorang anak (mungkin usianya sekitar 9-10 tahunan) yang ikut mukul drum di salah satu lagu. Wah...

Perfecto! Udara dingin yang mengundang nafsu makan, berteman seafood asem manis yang legitnya menggigit lidah, berpadu pas dengan hangatnya nasi putih yang mengepul dan live music penambah bumbu suasana, hemm...it couldn’t be any better!!

:-)