Tuesday, March 4, 2008

Academically Superior vs Street Wise


Aku punya 2 adik sepupu laki-laki yang relatif sebaya, sebut saja A dan B.

Si A lahir dan tumbuh besar di Jakarta karena Paklik bertugas disana. Tak berpanjang-panjang, A adalah tipikal anak yang sering disebut orang sebagai anak jenius, gifted child, atau semacamnya itu. Dari IQ-nya yang superior, prestasi akademiknya yang fantastis dan prestasinya dalam berbagai Olimpiade Sains tingkat nasional maupun internasional, selalu menjadi perbincangan setiap reuni keluarga besar dari Bapakku ini. Pendeknya, dia sudah menjadi kebanggaan keluarga besar kami, dan aku pribadi sangat menyayangi dan mengagumi dia karena setelah semua ini, dia masih tetap jadi teenager yang rendah hati, tak pilih-pilih dalam bergaul dan hormat serta sangat sopan pada siapa saja. Usianya sekarang 16 tahun, duduk di kelas 1 SMA dan bulan lalu dia baru saja pulang dari Tiongkok, masih dalam rangka menjadi utusan Indonesia mengikuti Olimpiade Fisika disana.

Si B lahir dan tumbuh besar di kota kecil kami tercinta Tulungagung. Ditinggal pergi ayahnya sejak dia umur 1 tahun, membuat B berada dalam pengasuhan Bulik yang single parent. Bulik, yang pedagang dan juga pekerja yang amat keras, berhasil membesarkan B dengan apa adanya, kalau nggak boleh disebut pas-pasan. Di usia yang masih amat muda, B juga membantu Bulik dalam berdagang pakaian di sebuah stand didalam Pasar Wage, pasar terbesar di Tulungagung sana. Dari mengurus dagangan sampai ikut menjualnya, sudah biasa dilakukan si B bahkan sejak umur 8-9 tahun dan sejak dibantu anaknya, usaha dagang Bulik relatif sudah semakin maju. Bagi si B, pilihan karir di masa depan sudah menjadi hal yang nyata untuk mulai dprintis dan diperjuangkan.

Pada dasarnya, kami memang keluarga besar pedagang, dari ke-9 bersaudara Bapakku, hanya dua yang tidak berdagang. Well, intinya B sudah akrab dengan dunia kerja dari kecil, seperti juga banyak dari kami bersepupu yang rata-rata terbiasa membantu orangtua2 kami di toko masing-masing. Dan mungkin karena itulah, si A lebih banyak menguasai topik perbincangan saudara-saudara di reuni keluarga. Bagi kami, seorang remaja yang piawai menjual dagangan dipasar adalah suatu hal yang biasa, hampir semua dari kami juga begitu. Beda dengan pengalaman menang Olimpiade Sains dimana-mana.

Tapi, suatu hari, semuanya berbeda...

Waktu itu kami sedang berada ditengah pernikahan seorang sepupu juga, di Tulungagung. Seperti biasa, semua orang selalu menjadi panitia sekaligus pelaksana. Khusus bagi A dan B ini pertama kalinya mereka menjadi panitia, karena di pernikahan sepupu sebelumnya, mereka masih terlalu kecil. Disitulah banyak kejadian yang seperti membuka mata, bahwa ada alasan bagus kenapa Allah tidak menciptakan semua manusia jenius dan menjadi juara Olimpiade dimana-mana.

Ditengah riuhnya acara makan-makan si A seperti sedang tersesat di dunia yang sangat tidak dimengertinya. Tugas sesederhana meracik es krim+mutiara di gelas-gelas kecil, menata di baki khusus untuk kemudian diputar diedarkan ke semua orang, dalam hal ini rupanya menjadi tugas yang jauh lebih rumit dan sulit daripada menerapkan rumus-rumus Fisika tingkat tinggi.

Melihat wajahnya, kayaknya si A lebih memilih disuruh menuliskan angka Phi sampai ke 100 desimal (btw, dia bener2 apal angka Phi sampai 100 desimal lebih lho!) daripada diminta untuk menakar seberapa banyak jumlah mutiara yang tepat untuk satu porsi es-krim atau mengatur strategi distribusi yang tepat supaya semua tamu bisa mendapatkan jatah es-krim dalam waktu sesingkat mungkin. Gerakan badannya kikuk, wajahnya terlihat jelas berkeringat dan bingung, tamu mana yang harus didulukan??

Sedang untuk si B, well lets just say, ITU SIH HAL KECIIILLL....!!!! :-D

:::::.....

My point is, ini sama sekali bukan masalah mana dari kedua aspek ini yang lebih penting. Kognitif atau Motorik. Akademis atau Street Wise. Kemampuan Analitis Teoris (Kognitif) dan Ketrampilan Praktis (Life Skill). Karena menurutku keduanya sama-sama penting. Dan karenanya, tak ada salah satu yang berhak mendapat sorotan lebih daripada yang lain.

Kata teori Yin-Yang, kuncinya adalah keseimbangan. Bagaimana kita bisa mencapai keduanya dalam takaran yang seimbang, akan lebih membawa kita untuk sukses dalam hidup ini. Menurutku, ekstrim pada salah satu disini bukanlah suatu pilihan yang terbaik. Misalkan, ada orang yang kemampuan analisa teorisnya sangat tinggi tetapi kemampuan praktisnya nol, akan sulit bertahan dalam kehidupan. Sebaliknya juga, kemampuan praktis bagus yang tidak didukung dengan kemampuan analisa teori yang baik, seseorang tidak akan bisa kreatif dan berkembang dalam decision making dan menemukan langkah yang lebih baik lagi dari apapun yang dia kerjakan.

:::::.....

Just wanna share, semoga bermanfaat... :-)

41 comments:

  1. kalau saya bisanya meracik jamu :D

    btw.. mungkin tinggal kesempatan yang di butuhkan oleh A untuk belajar meracik jamu
    tinggal masalahnya kesempatan itu dia dapatkan ngak? .. jangan2 banyak orang disekitarnya yang membebani dengan "ah kamu meracik rumus saja sana"

    ReplyDelete
  2. makasih sharingnya Da
    ini kuhadiahi penggalan puisi

    Kerendahan Hati
    (by Iwan Abdurachman)
    Kalau engkau tak mampu menjadi beringin
    yang tegak di puncak bukit
    Jadilah saja belukar, Tetapi . . . .
    Belukar yang baik, yang tumbuh ditepi danau.

    Kalau engkau tak sanggup menjadi belukar
    Jadilah saja rumput, Tetapi . . . .
    Rumput yang memperkuat tanggul pinggiran jalan.

    Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya,
    Jadilah saja jalan kecil, Tetapi . . . .
    Jalan setapak yang membawa orang ke mata air.

    Tidak semua menjadi Kapten,
    tentu harus ada awak kapalnya.

    Bukan besar kecilnya tugas yang
    menjadikan rendahnya nilai dirimu
    Jadilah saja dirimu . . . .
    Sebaik-baik dirimu sendiri

    ReplyDelete
  3. nah! ini dia yang saya maksud bli...

    sekarang lihatlah anak-anak di sekitar kita....masyarakat kita sekarang ini cenderung akan memuji bila ada anak yang ranking 1 disekolah....lebih banyak daripada kalo -misalnya- anaknya pintar bermain layang-layang...

    **PR buat kita semua ini, untuk memberi kesempatan anak-anak kita belajar sebanyak-banyaknya ketrampilan hidup yang mereka perlukan nanti... :-)

    ReplyDelete
  4. subhanalloh....kakak...puisinya indah dan dalam sekali.... :-)

    **hug** sstt kapan2 kalo nemu lengkapnya, bagi2 ya hehehe :-D

    ReplyDelete
  5. setuju mbak...
    semua punya kelebihan dan kekurangan masing masing
    (kata kepala kantor saya yang dulu, anak ini kelebihannya ya kekurangannya itu)

    ReplyDelete
  6. untung aku bukan juara olimpiade fisika...*hlo koq telmi*
    Allah memang maha adil menciptakan semua manusia sama, ada yang pintar akademis tapi dalam keahlian sosial terpuruk...balance..yaah balance itu kuncinya...

    ReplyDelete
  7. Setuju dgn yudexelex,
    kelebihan semua orang (gk cuma anak2) ya adalah kekurangannya itu.

    ReplyDelete
  8. nobody's perfect !!! pada dasarnya semua manusia punya kekurangan dan kelebihan. Kelebihan bukan menjadi ajang pamer dan menjadi somse (*sombong) kekurangan juga bukan dijadikan alat untuk menjadi rendah diri...!! yg sedang2 saja lah..kata vety vera juga...

    ReplyDelete
  9. Bener2 bahasa teknisnya psikolog ni simbak... Alias aku ra mudheng2 banget hihihi... *telmi mah teuteupp :P*

    ReplyDelete
  10. Bener2 bahasa teknisnya psikolog ni simbak... Alias aku ra mudheng2 banget hihihi... *telmi mah teuteupp :P*

    ReplyDelete
  11. iya mas, makanya kalo banyak temen mau tes psikologis masuk kerja dan dudul minta bocoran gimana tesnya, selalu kubilang "gak usah nyari2 bocoran segala, just be yourself"

    tujuan tes masuk kerja bukan mencari siapa yang paling baik, tetapi siapa yang "paling cocok karakternya" dengan posisi kerjaan yang dimaksud....

    ReplyDelete
  12. hueheheheh

    you got the key so right, Dwin ;-)

    ReplyDelete
  13. sudah dengan sukses ku copy ke harddisk :-D

    ReplyDelete
  14. setuju... :-)

    thx udah mampir dan ngasih komen ya... :-)

    ReplyDelete
  15. setuju Mbak...

    hihi Vety Vera...setuju juga... :-D

    ReplyDelete
  16. duhh...sesuai topiknya, kalo begitu maafkanlah kekuranganku dalam meramu bahasa... :-D

    ReplyDelete
  17. jadi...
    kalau punya anak yang jago fisika...
    jangan lupa untuk melatih dia meracik es krim dan mutiara juga?
    gitu?
    :D

    ReplyDelete
  18. jadi inget percakapan di telp dgn kakung minggu lalu....
    kakung: alif bagaimana apa bisa mengikuti pelajarannya?
    gw: bisa kok alhamdulillah, malah skg minta kegiatan luarnya nambah2 terus nih ....
    kakung: lah terus sekolahnya bagaimana, nanti dia ketinggalan, akademiknya nanti menurun
    gw: yah kakung, disini dibandingin sama di jakarta, disini mah kalo belom masuk high school sekolah nyantai2 aja, justru banyak2 dinikmatin kegiatan ekstranya. Wuih kalo alif sekolah diindonesia sih udah jelas bisa2 ketinggalan melulu.
    Intinya, disini lebih ditekankan ke perkembangan diri si anak ketimbang prestasi akademisnya, walau anak gifted dll. Mungkin diberi pengayaan tergantung kemampuannya, tapi gak ada ranking2an dan semuanya pasti naik kelas dan tetap dihargai walaupun agak lemot misalnya.
    Jadi untuk para orang tua juga bisa mengikutkan anaknya ke aktifitas lainnya untuk eksplorasi , yah moga2 aja bisa yinyang seimbang gitu ya

    ReplyDelete
  19. nyetrum banget Har! alias setujuu...!!! :-D

    bukan berarti dia harus jadi ahli juga di bidang es-krim, tapi minimal harus bisa, karena ketrampilan kaya begini kan diperlukan dalam kehidupan sehari-hari...

    seperti juga anak-anak di perkampungan tengah hutan Irian Jaya...disana anak2 yang dibilang gifted adalah yang paling pandai memanjat pohon atau berburu binatang, karena ketrampilan2 itulah YANG DIPERLUKAN DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI

    ReplyDelete
  20. betul Myr, di banyak diskusi, aku sering mendengar dari para narasumber mengeluhkan bahwa Life Skill anak-anak SD di Indonesia paling payah dibandingkan negara2 lain, karena porsi terbesar waktu mereka dihabiskan untuk menjaga prestasi akademik di sekolah...

    but, beberapa sekolah sudah mulai membuat kurikulum yang lebih menekankan life skill expirience pada siswa2nya, salah satunya sekolahnya Abe juga, biasanya diisi kegiatan *bukan pelajaran* sehari-hari macam memasak, berkebun, dlsb itu...semoga saja hal seperti ini akan lebih banyak diterapkan lagi di masa mendatang

    ReplyDelete
  21. Sebenarnya ini bisa terlihat dari cara banyak orangtua membesarkan anaknya. Dan sangat terlihat saat para orangtua tersebut berkumpul dan membahas (untuk tidak menggunakan kata "menyombongkan") anak masing-masing.

    Yang dibandingkan, biasanya, adalah seberapa cepat anak sudah bisa bicara, berjalan, membaca, berhitung, dan sebagainya. Jarang sekali yang santai berkata, "Oh, belum bisa kok. Biar aja sesuai waktunya." Lebih banyak yang terpancing, "Oh, tapi dia bisa main piano lho!"

    Lantas, jarang pula orangtua yang membahas bagaimana anaknya belum bisa baca, tapi bisa menyampaikan pendapat pada orangtua tanpa takut disalah-salahkan. Bisa menyampaikan apa yang membuat ia marah, alih-alih hanya diam ngambek, atau merusak-rusak barang. Bisa memilih orang mana yang mau ia salami dan sambut dengan senyum karena merasa dekat, bukan sekadar mencium tangan tapi sebenarnya karena terpaksa. Bisa menyampaikan bahwa ia tidak suka pada sejumlah orang dewasa yang memperlakukan dirinya seperti barang dan bukan manusia yang bisa memahami pembicaraan mereka.

    ReplyDelete
  22. setuju bgt ama pendapat mbk wahida ttg yinyang dan keseimbangan. Dengan menerima dan memberi kpd org lain adl salah satu usaha menyeimbangkan alam dan kehidupannya.

    ReplyDelete
  23. couldn't be more agree...
    makasih tulisannya...:)

    ReplyDelete
  24. Si A sekolahnya dimana Hid? Kali aja satu sekolah dengan keponakanku, kan kita bisa besanan ;))

    ReplyDelete
  25. bravo! setuju sekallleeeee dengan yang ini.

    setiap pribadi itu unik, jadi tidak bisa disusun urut dengan sistem ranking-rangkingan begitu.
    aku cenderung suka dengan anak tipe B karena dia lebih tangguh dan siap secara sosial mengahadapi kehidupan dibanding anak tipe A yang berada di menara gading yang rapuh menghadapi kerasnya hidup.

    ReplyDelete
  26. Setuju....
    pernah baca di sebuah artikel iklan produk susu formula, yang biang kalau waktu bayi sampai batita sel-sel otak anak yang belum tersambung, tapi kecepatan tersambungnya luar biasa dan itu yang menyebabkn anak sangat cepat menangkap.
    Dan di umur2 selanjutnya sambungan2 itu mulai diputus atau mulai melambat terutama di hal2 yang ngga pernah dipakai. makanya ada saran lebih baik sewaktu kevcl, anak2 diprkenalkan pada berbagai macam hal, jadi pas gede sambungan2 itu masih ada bekasnya, sewaktu mencoba lagi ga kelimpungan.
    Ini di luar jenius atau bodoh lho, ya. Setiap anak itu sebuah keajaiban, bukan?

    ReplyDelete
  27. Tiap anak itu unik... Jenius (dalam hal akademis) tentu hebat. Tapi ada baiknya keterampilan standar yang diperlukan untuk bersosialisasi tetap diajarkan... Utamanya tugas ortu nih..., gimana membuat anak yang mungkin lebih suka sendirian jadi lebih terbuka. Nggak perlu dipaksa, setidaknya biar dia nggak canggung.

    ReplyDelete
  28. **tumben komentare serius gak jegigisan mbak satu ini** :-D

    betul mbak, PR buat kita semua memang... jadi apa danny-zach diajari juga mocopat Jowo?? hueheheheh :-D

    ReplyDelete
  29. sama2 terimakasih juga dydy cantik... :-)

    ReplyDelete
  30. udah 2 tahun ini ayahnya pindah tugas ke palangkaraya Mbak, sedang si anak dan ibuknya tinggal di Surabaya, sekarang dia sekolah di SMAN 15 Sby.

    **wah batal dong besanannya...wekekekekeek layu sebelum berkembang hihihih** :-D

    ReplyDelete
  31. sip! mari sukseskan program penghapusan ranking di sekolah-sekolah!! :-)

    ReplyDelete
  32. wah, kalo calon ibu aja udah punya pikiran begini hebat, gimana kalo udah jadi ibuk ya? Mal, you're gonne be a hell of good mother someday **acungkin jempol** ;-)

    tentang sambungan putus terutama dengan hal2 yang nggak terpakai, itu juga kritis terhadap program "superbabies"nya Glenn Doman (silakan google deh siapa dia)...disitu bayi 8 bulan sudah diajari menghapal isi ensiklopedi dan membaca, tetapi ketika mereka umur remaja 15-16 tahun, kebanyakan sudah lupa padahal umur 4 tahun mereka udah hapal sastra diluar kepala. Kritik ini aku lihat di acara Discovery channel yang bercerita betapa Glenn Doman sudah banyak dinilai kontroversial di AS...

    ...dan parahnya, disini di Indonesia, program Doman ini sekarang lagi ngetrend2nya diiklankan dimana2 sama Tigaraksa yang jualan ensiklopedi anak itu !! Jadi sampai kapan negara kita akan terus diiming2in produk yang di negara2 maju udah apkirr...???? **prihatiiinnnn***

    ReplyDelete
  33. duuhh satu lagi calon ibu teladan...!!! **acungin jempol lagi ke Leila** :-)

    ReplyDelete
  34. whaaat? gila aja kali anak bayi suruh baca ensiklopedi. kalau sekedar dikenalkan saja sih ga masalah, kalau dipaksa hafal..... ngga banget... buku kan cuma penggambaran dunia aja. kalau ngga pernah mengalami sendiri ngga imbang dong...
    ya iyalah lupa... mang sel2 otak ga akan ada yang mati. kita kan menua.
    Pintar bukan berarti bijak. tuh orang ada2 aja.

    ReplyDelete
  35. hueheheheeh udah googling blum? kalo sempat coba aja googling nama itu, ntar biar lebih heboh geleng2 kepalanya hihihihi :-b

    ReplyDelete
  36. hihihihi kan postingane juga serius. tenang ae mbak, arek2 ngko tak ajari honocoroko karo nembang..hahaha emange mo dadi sinden opo..wakakakakakak eh tapi nek misal salah siji iso dadi dalang..keren bek'e yo mbak..dalang londo..hihihihi *ngawur*

    ReplyDelete
  37. oiya mbak!! di malang itu ada seorang komedian yang juga sinden bule bernama Elizabeth, duhhhh setiap dia manggung atau muncul di TV aku selalu melongo liatnya....seneng dan takjub banget aku liat dia!!

    **mbayangne zach pake dodot ae aku wis kudu ngguyu dewe :-D**

    ReplyDelete
  38. hihihi
    tenang...besanan kan nggak harus sekota...**masih ada kesempatan di jaman globalisasi ini**
    wekekekekek :-D

    ReplyDelete
  39. Hidup B....., terus maju dan berkembang ya B
    Untuk A..., cubalah bergaul lebih luas, karena kehidupan ke depan bukan berdasar kemampuan kognitif, namun juga life skill. Indonesia memang membutuhkan orang yang pinter, namun juga cerdas, mampu dan dapat bekerja serta mengembangkan diri dan tidak terkungkung. Indonesia mandeg karena terlalu diisi oleh orang pinter, lulusan para universitas dan institiut, yang cepat berpuas diri, sempit pikiran, takut mengembangkan diri.
    Enak juga tulisannya..., seperti coklat cadbury...., masih ada gak ya di kulkas....
    makasih atas sharingnya...

    ReplyDelete
  40. setujuh delapan sembilan sepuluh!! :-D

    wah kalo coklat ga berani stock banyak-banyak di kulkas mas, bisa kalap nanti hehehehehe

    ReplyDelete