
Satu sore, giliran si bapak yang jemput Abe sekolah...
Seperti biasa begitu klakson mobil terdengar didepan rumah, semua berhambur keluar untuk menyambut. Ini sudah tradisi dirumah ini, menyambut anggota keluarga yang baru pulang dengan antusias yang bagi orang lain mungkin keterlaluan.
We’re just a loud family, what can we say... :-D
Turun dari mobil, kulihat ada yang aneh dengan Abe. Biasanya dia langsung berhambur masuk rumah untuk kadang2 memeluk Bea, atau seringkali memeluk Zing the cat. Tapi ini tidak, setelah pintu mobil membuka, lama dia baru turun dari mobil, itupun degan sikap tubuh yang aneh dan gerakan yang kaku...
Kenapa Abe? Sakitkah dia?
Jalan melewati pagar rumah, makin jelaslah kentara keanehan gerakan tubuhnya. Menggeliat-geliat, molet-molet sambil meringis gitu..
“Kenapa kamu, Be??” seru Ibuk dan Mbak Pin bersamaan.
Bea yang berlari minta peluk, disambut dengan tolakan “Jangan peluk, Beaaaaaaaa!!” seru Abe sambil menyingkur dari arah Bea datang.
“Kamu kenapa?” tanya Ibuk lagi, kali ini udah berkurang level hebohnya (kata teori kan, untuk menunjukkan empathy harus dengan intonasi yang pas, kalo terlalu heboh malah gak dapet deh...hehehe. duhh ternyata susahnya untuk tidak heboh dan panik...mana yang ditanya cuma molet2 gak cepetan jawab lagi.. :-S)
Abe masuk rumah, masih molet2, menggeliat-geliat kaya cacing kepanasan. Patah arang, sekarang gantian bapak aja yang dikejar. “Kenapa dia mas?”
“Tanya aja tuh sendiri anaknya” halaahhh ini kok ya sama saja...tidak membantu sama sekali...mana ekspresi si bapak dudul, anak molet2 bukannya khawatir...
“Somebody just tell me right now, what’s happening please..!!!!” raung Ibuk, sebodo amat dengan teori komunikasi! “Kamu kenapa Be?” kali ini sambil membantunya membuka baju seragamnya...
“Wah kok punggungmu merah bangettt???”
“Iya buk, tadi dipijit sama Rido, tapi salah...” kata Abe masih sambil meringis-ringis dan molet2 nggak henti. Rido adalah temen sekelasnya, temen satu geng superusil dengan Abe, lebih tepatnya.
“Salah gimana??” Ibuk mulai khawatir, salah pijit kan bisa fatal akibatnya?? Dan oh my God! Aku baru sadar, apa sih yang dilakukan anak-anak ini??? Pijit memijit di kelas??? Apa pula ini???
Percayalah, 6,5 tahun jadi Ibuknya, instingku sudah mulai tajam mengendus satu lagi kejadian dudul Abe...
Dan ternyata beginilah ceritanya, saudara-saudara...
:::::.....
Hari itu nggak tahu gimana ceritanya, Rido membawa ke sekolah suatu produk mungil yang bernama “Balsem Kayu Putih”. Melihat itu, heboh juga seisi kelas. Bayangkanlah seperti apa, karena kelas Abe adalah kelas semacam ini (baca deh, demi untuk ilustrasi cerita agar lebih dramatis hihi).
Nah, Abe memang hampir setiap hari, menjelang tidur selalu minta dipijit. Pake Minyak Kayu Putih. Melihat kata “Kayu Putih” dibungkus balsem si Rido, diapun langsung semangat.
“Eh ini enak lho kalo dipake pijit...”
Seketika, meledaklah sebuah ide cemerlang! “Ayo main pijit2an..!!!”
Yang jadi tukang pijit : RIDO (tentu saja...)
Pasien pertama : ABE (sambil keenakan)
Pasien kedua : ABE lagi... (makin kenakan aja)
Pasien ketiga : masih ABE lagi..!!... (rupanya yang lain bener2 harus bersabar mengantri **keluh**)
Pasien keempat : jelas nggak ada yang mau karena semua kabur demi melihat Abe sudah molet-molet nggak karuan kepanasan punggungnya...contoh korban malpraktek bin overdosis banget!! Siapa yang mauuu???
Alamakkk.....
:::::.....
Wakakakaakakak ternyata begitu kejadiannya. Untungnya itu terjadi sewaktu istrahat ketiga, sebelum sholat ashar...bentar lagi udah waktunya pulang. Coba kalo pagi-pagi terjadinya, molet2 bisa berlangsung seharian tuh!!
Dudul..!!
Besoknya, aku ngecek ke walikelasnya, dan kamipun tak bisa menahan diri untuk ketawa mengingat kejadiannya. Ust. Bambang, walikelasnya Abe juga baru tahu setelah waktu sholat ashar, dilihatnya Abe memperagakan gerakan sholat yang tidak wajar. Sedangkan disampingnya, teman-temannya pada curi2 pandang ke Abe, cekikikan selama sholat...
Begitu ketemu dengan Tante Diah (mamanya Rido), belum sempat ngomong apa2, dia sudah cekikikan duluan sambil minta maaf karena taruh balsem sembarangan... Tapi sejurus kemudian, akhirnya perut kita mules juga berdua, puas cekikikan teringat Kisah Tukang Pijit dan Pasien Langganan itu... hueheheheheh.
Ada2 aja... :D
:::::.....