Wednesday, July 11, 2007

Liburan Kuliner di Kampung

Gara-gara modem dirumah Kakung dudul, jadi gak bisa online deh…ini ngeblog aja musti ke warnet loh…hi hi hi. Tapi hebat, warnet di Tulungagung udah pada bagus dan rame nih…

Berikut ini journal selama beberapa hari liburan di kampung di Tulungagung…(full acara makan pokoknya)

 

Hari Minggu, 8 Juli 2007, pagi jam 8 kita meluncur ke Tulungagung. Perjalanan terasa sedikit lebih panjang dari biasanya karena tidak ada Bapak yang suka godain anak2 (dan godain Ibuk juga hihihi) dan melucu di sepanjang perjalanan. Pagi tadinya si Bapak  plus Om Jess dan Om Kus memang berangkat ke Bogor dengan mobil Om Kus. Kangen ya…sebenarnya tadi malam (Selasa malam) Bapak udah ada di Surabaya, tapi baru nanti sore nyusul ke Tulungagung.

Sesampainya di Tulungagung tengah hari, Ibuk yang kelaparan (karena tadi pagi nggak sempat sarapan sendiri) langsung disambut “Sego Bantingan” ala Tulungagung he he aduh nikmatnya…Setelah hampir setahun booming, rupanya Sego Bantingan masih ngetrend juga rupanya (dan nikmatnya tak sedikitpun berkurang).

Fyi, sego Bantingan ini kalo di Surabaya disebut “Sego Sadhukan”, di daerah lain pun punya nama khas sendiri-sendiri, dari “Sego Kucing” (di Jogja) sampai “Nasi Lempar”. Ha ha ha aku pertamanya geli banget liat namanya yang konyol dan beberapa berbau vandalisme gitu.

Itu istilah2 lain dari Nasi Bungkus yang sebenarnya (maksudnya nasinya sekepal -makanya disebut nasi kucing, maksudnya seporsinya kucing he he-, trus lauknya juga sekedar telur separo atau ayam sepotong keciillll, plus sekelumit mie goreng, sambel goreng sekedarnya, pokoknya semua ala kadarnya). Harganya juga dibanting alias murah meriah (di Tulungagung cuma Rp. 1500 tapi dijamin nikmatnya masyaAlloh…) mungkin ini kenapa dikasih nama sego bantingan ya ha ha ha

Secara resmi, dimulailah liburan yang penuh petualangan kuliner ala kampung halaman tercinta ha ha ha. Sorenya, karena pas banyak sodara yang (katanya Emi) punya gawe, jadinya sampai malam menu kita adalah nasi2 hantaran yang khas old fashioned ala kampung gitu!! Aduh mak nyuss… Sambal goreng kentang+ubi yang kering dan pedas, mie goreng bumbu bawang dengan potongan kubis yang lebar2 dan taburan bawang goreng, sayur ‘lotho’ (kacang merah khas daerah sini) yang coklat pekat dan pedas, daging lapis berselimut serundeng (kelapa yang disangrai dengan bumbu) plus (ini yang paling mak nyuss) tahu goreng yang dimasak santan dan pedaaasss (alamak bener2 siap2 tambah cempluk deh sepulang liburan ini hueheuheuh).

Menu untuk anak-anak, sorenya Mbak Upik beliin sate ayam ponorogo Ibu At (depan perumahan bea cukai kedungwaru) favorit anak-anak… Malam itu Ibuk dan anak-anaknya berangkat tidur dengan perut cempluk semua he he… Alhamdulillah…

 

Senin, 9 Juli 2007

Hal yang paling menyenangkan anak-anak ketika berlibur di Tulungagung, tentu saja adalah berkumpul dengan keluarga. Kakung-Uti, Asnan (Uwa)-Mbak Emi dan Sena-Aaliyah. Apalagi ini sedang menghitung hari, sebentar lagi si Aaliyah punya adik. Asnan-Emi yang 12 Juli tahun ini genap 5 tahun menikah, sudah ‘menghasilkan’ 3 anak lho (wah produktif ya he he). Btw, cerita selengkapnya tentang Asnan-Emi bisa dibaca disini.

Eh, ada lagi yang spesial lho. Entah disengaja atau tidak, setiap kita yang dari Surabaya dateng rame-rame gini, Bu Kipir (tukang masaknya Uti) selaluuuu menyajikan menu2 yang jadi favorit kita (eh, kalo dipikir2 lagi, mungkin juga karena nggak ada tuh namanya menu kampung yang nggak favorit, alias semua enak dan ngangeni hi hi hi). Seperti hari ini, dar pagi sebenarnya aku sudah mengincar beli lodho, tapi langsung kubatalkan demi tahu kalo Bu Kipir masak Pecel Lele. Apalagi anak-anak ternyata juga sudah enjoy dengan rawon masakan Uti. Wah…hi hi

Pecel Lele ala kampungku ini bukanlah paduan lele goreng+sambal+lalapan lho. Bukan! Pecel Lelenya dimasak dari lele yang dibakar asap (biasanya beli di pasar sudah dalam bentuk dibakar gitu), dengan bumbu sambal goreng putih (minus cabe merah) yang pedesss, belimbing dan tomat (kebayang kan segernya he he) dan santan kental. Alamaakk… Kenikmatan makannya jadi tambah sempurna demi melihat wajah Bu Kipir yang senyum2 bahagia dan puas karena masakannya dapat sambutan seperti yang diinginkannya…he he

Trus siangnya, ada menu segar, es dawet Pak Eko (depan BCATulungagung)…masyaalloh segarnya. Dawetnya P. Eko ini aku suka banget karena aroma pandan dari dawet hijaunya kental banget (aduh kalo dipikir lagi apa sih yang aku ndak suka?? Hi hi). Bea juga suka banget dawetnya, sampai2 tiap ada orang yang makan, dia langsung mendekat dengan wajah mupeng, “Es dawet ya? Bea mau…!!”

Malamnya, menu ganti lagi (wah). Sudah dari sore Abe wanti-wanti ndak mau makan, karena nanti malam mau makan Mie Goreng Kabayan (depan LP/penjara TA) kesukaannya. Asal tahu aja, Abe (dan juga Bea) seperti sudah ketagihan sama mie gorengnya P.Bayan ini, tak pernah sekalipun kunjungan ke Tulungagung terlewat tanpa sempat makan menu ini.

In the end of the day, dalam hati janji2 deh, besok kalo udah pulang ke Surabaya, porsi yoganya Ibuk bakal ditambah 2 kali lipat deh!! Ha ha ha

 

Selasa, 10 Juli 2007

Beberapa kali Emi sudah merasakan sakit pinggang. Wah kayaknya hari melahirkan bakal ndak lama lagi nih. Kubilang pada si jabang bayi didalam perut “ayo nak, kalo mau keluar cepetan aja gih, mumpung Ibuk Anti masih disini, jangan ntar Ibuk Anti pulang ke Sby trus kamu lahir..!!” He he.

Pagi-pagi (sesuai rencana), kuajak Bea beli lodho. Ada kejadian lucu. Waktu menunggu penjualnya menyiapkan lodho plus sayur lothonya yg superpedas itu (lebih bertindak sebagai sambel alih2 sayur saking pedesnya), tiba-tiba Bea nyeletuk dengan suara keras, cadel dan lucunya itu “Mana Odhol nyaaa??? Ituuu diaaaa odhoolnyaaaa…!!” sambil dengan semangat nunjukin panci besar berisi lodho ayam. Semua langsung ketawa ha ha. Dari pagi memang dia menjalani semacam latihan mengucapkan kata2 “lodho” dan seringkali kepeleset jadi “odhol”. Tahu kalo dikatawain, dia malu-malu bilang (menirukan ucapanku sebelumnya tiap kali dia kepeleset ngomong) “odhol nya di kamar mandi ya Buk? Buat gosok gigi yaa??” Ha ha ha. Hancur deh dia jadi sasaran cubitan beberapa ibu dan mbak2 yang juga lagi beli lodho.

Jangan minta aku tuliskan bagaimana nikmatnya nasi lodho ayam deh…satu2nya cara hanya satu : datanglah sendiri ke Tulungagung, dan makan nasi lodho disitu!! Sudah tak terhitung rasa rindu dendam muncul di hati (atau pikiran?atau lidah?atau perut?hehe) orang-orang asal Tulungagung yang merantau atau hidup di daerah lain (seperti aku ini). Juga tak terhitung lagi deh orang-orang daerah lain yang akhirnya jatuh hati dan merindu dendam juga sama makanan khas Tulungagung ini (seperti juga suamiku).

Pada penasaran? Biar aja…he he he

Sorenya ada kejutan lagi dari Bu Kipir (lama2 memang aku curiga bahwa dia memang benar2 sengaja masak2 yang kesukaanku tiap kali aku disini lho, sumpah! Hi hi mungkin dia juga ketagihan sama rasa puas yang dirasakannya tiap kali mataku terbelalak demi liat masakannya dan berlanjut dengan acara makanku yang sangat berseleran he he).

Punten Pecel. Satu lagi magnet asal Tulungagung yang  sudah teruji kehandalannya dalam membuat orang-orang yang pernah merasakannya, jadi ketagihan. Para perantau bisa-bisa memimpikannya di malam yang riuh di perkotaan. Anak-anak kost pada rindu ibunda dan kampung halaman Tulungagung Bersinar tercinta, dan para pendatang yang pernah merasakan, bisa-bisa bertekad menikah (atau besanan) saja sama orang Tulungagung biar lebih gampang merasakannya. Ha ha ha ha hiperbola banget ya!!!

Punten Pecel sebenarnya hampir sama dengan Nasi Pecel. Sambel kacangnya sama. Sayur2annya relatif sama (tapi yang paling oke untuk punten pastinya kembang turi doong). Lauknya juga sama, biasanya tempe goreng dan terasi kedele (terasi kedele ini, juga cuma ada di Tulungagung lho hi hi). Yang membedakan (dan yang membuat istimewa) adalah bahwa menu ini tidak menggunakan nasi biasa, tapi menggunakan punten. Punten ini adalah nasi yang dimasak ala nasi uduk (dengan bumbu santan, daun salam dan garam). Setelah masak dan tanak, dalam keadaan masih panas si nasi ini ditempatkan di lumpang beralas plastik, kemudian dijojoh (di pukul2) dengan ‘gedebog’ (bonggol batang pisang - bukan pohon lho, tapi batang) sampai lengket, lembut dan kalis menyerupai uli. Setelah dingin, baru kemudian dipotong2 kotak untuk kemudian disajikan dengan sayur, lauk, sambel pecel dan kerupuk unyil. Oya, khusus tentang kerupuk unyil ini, juga cuman ada di Tulungagung (alamak), kebetulan pabriknya deket rumahku dan huenaaakkkk nya nggak tertandingi kerupuk manapun didunia (hiperbola lagi deh ha ha).

Aku sendiri di Surabaya seringkali masak punten pecel. Tapi tetap saja tidak akan bisa sama dengan punten pecel yang dimasak di kampung. Bagaimana bisa sama, aku seringkali menjojoh pake alu batu (karena susah sekali mendapatkan gedebog di sby). Tempe surabaya juga berbeda dengan tempe di tulungagung. Kalo sambelnya sih beres karena aku selalu dikirimi Ibuk sambel bikinan Bu Kipir yang maut itu he he.

MasyaAlloh…nikmat sekali…(sekali lagi) tadi malam itu aku berangkat tidur dengan perut kosong (kebalikannya maksudnya hi hi hi)..

 

Hari ini, Rabu, 11 Juli 2007

Emi semakin sering merasakan sakit pinggangnya. Asnan sempat bilang, kalo sampe lahirnya si jabang bayi besok (tgl 12 Juli) berarti barengan sama 5th anniversary pernikahan mereka ya?? Pasti seru juga, 5 tahun pernikahan ditandai dengan kelahiran anak ketiga he he.

Abe udah semangat menyambut adik sepupu baru. Kalo dia memberi julukan Aaliyah ‘blokotito’ (ndak tau deh darimana dia dapat kata2 itu hi hi), maka si jabang bayi yang belum lahir, sudah disiapkannya julukan, yaitu ‘betita’…ha ha ha ada2 aja…

Rinduku sama mas iwan sudah hampir tak tertahankan (hikss), apalagi bulan2 ini memang dia sibuk banget, dari urusan buka gudang baru di Jember sampe lihat2 perkebunan sawit di balikpapan. Ini aja sebenarnya kepergian ke Bogor gak ada rencana yang khusus selain nemenin Om Kus, tapi karena sekalian pengen nonton bola Piala Asia di Senayan (alamak) jadinya dibelain pergi deh… Ah tinggal sebentar, nanti sore juga kan dia nyusul kesini hueheheh

Menu hari ini belum tahu, aku belum sempat ke dapur Bu Kipir di belakang dan sarapan…semacam agak2 protes deh dari tadi si perut…minta ke kamar mandi terus (ha ha ha). Kuputuskan untuk istirahat mengunyah barang sebentar hi hi. Tapi nanti kalo si mas udah datang, wah mana bisa kutolak, dia pasti ngajak makan diluar…nasi pecel plosokandang nduk!!... Bakwan depan golden swalayan yuuk!!...pingin sate kambing P. Nyoto (depan Barata) nih cay!!...alamaaakkkkk…..

 

(PS : sorry kalo gambarnya nggak nyambung sama isi postingannya ya…abisnya kangen…hikss..)


21 comments:

  1. mbak wahida, bikin ngiler aja nih hm.. hm.. itu nasi bantingan yang dijual di depan rumahnya Lia bukan hehe... untung bentar lagi mudik, jadi mau muas2in makan juga

    ReplyDelete
  2. Aduh gak kebayang enak'e ...jadi ngences nih .................

    ReplyDelete
  3. yang ke 'scan' sama otak orang yg ngga suka pedes kok ini ya; daging lapis berselimut serundeng (kelapa yang disangrai dengan bumbu), sate ayam ponorogo, es campur pak Eko, sate kambing p.Nyoto. terus.. oh iya tau sendiri ah, ayam lodho.
    Jadi malu.. heeheh

    ReplyDelete
  4. mbak Din, wong mbak lia sekarang gaya. Warungnya jadi 'kafe' , padahal ya masih jual sego bantingan. heheheh.. Jadi namanya Kafe Bantingan.
    :))

    PS. oia mba Wahida apa kenal sama mba Lia ya.. hmmmm

    ReplyDelete
  5. hehe.. tp emang enak dik. dulu pas kesana sama bude ya makan.

    ReplyDelete
  6. waduh..mb wahida, bikin saya ler..ngiler... lagi jauh dari kampung halaman disuguhi cerita tentang makanan..kampung.. Lha..jadi..laper terusss.... (sayangnya harus masak sendiri apapun yang ingin dimakan...hu..hu.., mana bahannya susah dicari....)

    ReplyDelete
  7. hi hi postingan blog yang ini memang membahayakan sistem salivasi di tubuh kita ya mbak...itu sego bantingan ndak tahu beli dimana, tahu2 sudah ada di meja makan di rumah, ibuk saya itu punya kebiasaan jalan2 pagi, trus sampai di depan kodam (deket smpn1) beli sejumlah nasi bantingan untuk dibagi2 sama tukang becak (katanya untuk memberi motivasi buat tukang becak yang biar pagi buta subuh tapi sudah berangkat kerja)
    ini yang dimaksud Lia yang mana to? (ngelirik irma juga dengan wajah bloon) didepan kodam itu di pojok kan ada tuh toko yang khusus jualan nasi bantingan (kabarnya biar dijual Rp 1500 per bungkus, tapi omset perharinya si toko itu bisa 750 ribu-1 juta per harinya lho)

    ReplyDelete
  8. >>>irma n rafif...
    kalo dalam istilah penulisan, berarti pesan tulisan saya nyampe dengan sukses (mode wajah jahil : ON) ha ha ha ha :b

    ReplyDelete
  9. ya itu tadi, makanya aku tanya Lia itu maksudnya Lia yang mana? aku gak peduli dia punya warung atau kafe atau distro atau butik atau supermarket sekalipun, asal dia jual nasi bantingan yang kata mbak dina enak itu, aku HARUS kenal dia...!! ha ha ha
    (ada nggak ya butik tapi jual nasi bantingan? hi hi hi)

    ReplyDelete
  10. terimakasih mbak lily, bukti lagi kalo tulisannya nyampe heheheh (mode wajah usil masih ON)
    tapi ikut prihatin juga ya, si irma mau masak trancam saja di singapore susah nyari kencur hiks..nanti2 kalo pulang indo mudah2an bisa dapet kesempatan untuk makan semua masakan yang saya ceritakan itu deh ya... :-)

    ReplyDelete
  11. duh jadi inget nasi pes di kampungnya suami, pemalang ...
    emang murah cuma Rp. 1.000,- lauknya mie goreng siti', tumisan labu siti',
    ma sambel goeng ... makannya pake gorengan teri ... hhmmm ... mak'nyus tenan ...
    sama itu grombyang ( sejenis soto dari daging kerbau ... hhmmm ... laper nih jadinya ... ).
    jadi pengen balik kampung ke mertua nih ...

    ReplyDelete
  12. justru sitik2nya itu mbak yang bikin nikmat...setengah kurang makannya kan? he he

    ReplyDelete
  13. iya mba bikin penasaran yaaa ...
    kapan balik ... pa masih di tulungagung ya ...
    ora gelem mulih koyoe ... xixixix ...

    ReplyDelete
  14. udah balik sby kemarin mbak...dan timbangan sudah njomplang 2 kilo lagi he he he

    ReplyDelete
  15. monggo mas :D tissue... :D
    (buat ngelap) :D

    ReplyDelete
  16. luthuna... sego bantingan... seperti makanan anak kos ant, jadi ingat masa sma di jogya an...

    ReplyDelete
  17. anti.. kok tidak ada di networku yah...

    ReplyDelete
  18. reading your comment makes me wondering, what would they call "sego bantingan" in switzerland ya mbaaaa...he he he

    ReplyDelete
  19. from now on, i am :D thx for finding me here in MP mbak...

    ReplyDelete