Saturday, August 22, 2009

Doa Hari Ke-2 Ramadhan

Ya Allah....takutku, maluku, beraniku dan muliaku hanya akan berarti bila itu didepanMu.

Hanya penglihatanMu lah yang berarti
Hanya penilaianMu lah yang mampu adil membalas semua perbuatan kami.
Kaulah satu2nya hakim Maha Adil,

Maka aku mohon, ampunilah kami, selamatkanlah seluruh keluarga kami dari murkaMu. Jadikanlah kami orang-orang yang selalu belajar dan tegak dalam insyaf.

Amin Ya Robbal Alamiin

Doa Hari Pertama Ramadhan

:::::....."Ya Allah, aku telah jatuh cinta lagi...dan lagi dan lagi...selalu semakin indah dari sebelumnya...semua hanya karenaMu jua, lindungilah keluarga kami dari niat-niat jahat baik yang terselubung maupun yang terang2an, dan kumpulkanlah kami kelak dalam indah dan kekalnya cinta dan surgaMu...Aminnn Yaa Rabbal Alamiinn....":::::.....

Sunday, August 9, 2009

Anak Menor

Kira-kira pikiran apa yang akan terlintas di pikiran Anda (terutama yang sudah menjadi orangtua) melihat foto diatas?

Pemandangan seperti ini banyak aku temui kemarin di pelataran THR Surabaya. Minggu pagi, 9 Agustus 2009 memang sedang ada pentas anak-anak TK disitu. Aku kebetulan sedang mengantarkan Bea dan teman-temannya ikut lomba menyanyi bersama, mewakili sekolahnya. Tidak akan terlihat (karena aku sungguh tak sampai hati memasang wajah anak-anak ini disini), tetapi make-up di wajah mereka sungguh menor!! Bahkan seringkali jauh mengalahkan gaya make-up orang-orang dewasa yang menor sekalipun.

FYI, sekali lagi ya...anak-anak itu masih TK...umur juga masih kisaran 5-6 tahun... Tetapi bahkan dandanan mereka yang seperti itu bukanlah yang paling membuatku prihatin. Hati ini merasa gak karuan demi melihat cara mereka berjalan, cara mereka pose didepan kamera ketika diminta foto. Aduhhh....

Jadi inget... Dulu Bea sekolah Playgroup di lembaga sekolah yang berbeda dengan yang sekarang. Waktu itu Bea ikut lomba seperti ini juga. Minggu-minggu latihan selalu ditempuhnya dengan semangat. Sampai kemudian sekitar 2 hari menjelang hari-H, semangat Bea yang membumbung tinggi langsung terhempas begitu dia tahu dia harus pakai kostum KEBAYA dan KAIN BATIK. Dia langsung menyebut kostum itu ANEH. Keadaan tambah memburuk ketika hari-H, dia datang ke sekolah (tempat berkumpul sebelum berangkat ke THR) dan masuk kelas mendapati teman-teman di make-up oleh Ibu Guru.

Apa yang dilakukan Bea?? Dia langsung menuju ke belakang papan tulis, pura-pura bermain disitu. Ngambek nggak mau ikut duduk dan menyerahkan wajahnya untuk di make up. Kali lain, dia masuk ke bawah meja dan menolak untuk keluar apapun yang terjadi.Ketika semua Ibu Guru ribet membujuknya, aku hanya kuasa mendoakan “semoga sukses” untuk semua, terutama Ibu Guru. Waktu itu akhirnya Bea berangkat ke THR tanpa make-up sendiri. Di THR, entah bagaimana cara Bu Guru membujuk (dugaanku, dia meminta Bea melihat sekelilingnya, yang memang sedang penuh dengan ANAK-ANAK BER MAKE-UP), akhirnya di menit-menit terakhir baru Bea mau memakai kostumnya, dan sedikit make-up. Itupun, waktu Bu Guru memberi make-up ke Bea,  sudah diisi penuh dengan acara Bea melengoskan wajahnya ke arah lain.

Cerita selengkapnya bissa dilihat disini : http://cikicikicik.multiply.com/journal/item/126/Dudul_When_Tomboi_Meets_Kebaya

Juga foto-fotonya :http://cikicikicik.multiply.com/photos/album/73/BEA_Tomboi_Girl_Gone_Menorrr



Untunglah, begitu masuk TK dan bersekolah di Sekolah Al Hikmah, akhirnya setiap kali ikut lomba menyanyi atau acara-acara seperti ini, Bea sudah BEBAS dari make-up apapun, bebas dari atribut-atribut yang sesungguhnya sangat tidak cocok dipakai oleh anak-anak



.:::::.....


Menurutku, wajar kalau Bea berjengit menjauh ketika disodori make-up dan kostum dewasa. InsyaAllah, selama ini aku selalu berusaha memberikan lingkungan yang wajar untuk anak-anak. Wajar dalam arti, bahwa kalau ada sesuatu yang tidak sesuai untuk anak-anak, maka serta-merta akan kita (aku+suami) putuskan bahwa memang itu BUKAN untuk mereka.

Yang mengundang pertanyaanku tentu saja adalah ternyata, banyak anak-anak sekarang, yang walaupun masih balita sekalipun, bisa merasa exciting dengan sesuatu, barang-barang, pernak-pernik atau gaya berdandan dewasa seperti ini.

Kemarin di THR, aku sempat melihat dua orang anak2 menor yang terpaku takjub ketika melihat seorang anak menor lain lewat....dan kedua anak menor ini pun lalu sibuk mendiskusikan betapa kerennya anak menor yang baru lewat itu. Aku hanya terpaku melihat tingkah anak-anak TK yang mendadak menjelma menjadi dewasa sebelum tiba waktunya itu....

Iseng, kemudian aku tanya Abe : “Be, anak itu keren gak menurutmu?” sambil aku menunjuk kearah anak menor yang baru lewat tadi. Abe melihat sekilas dan mendadak bergidik.

“Hih!! Ibuk!! Anak aneh gitu kok dibilang keren sih??”.......Ya Allah, lega hatiku.....*hihihi*

Sekali lagi, yang mengundang pertanyaanku adalah anak-anak yang justru merasa exciting terhadap barang2 orang dewasa seperti ini. Lalu, apa sebenarnya yang mereka serap dalam kehidupan sehari-hari??

Satu contoh saja, kira-kira tontonan macam apa yang mereka lihat ketika mereka asyik menyalakan TV?? Sinetron dewasa kah? Acara-acara gosip yang penuh dengan suasana gemerlapnya dunia artis kah? Ataukah sebenarnya tidak seperti itu?? Mungkin mereka hanya menonton sang Ibu, yang memang terlalu asyik menonton semua tayangan dewasa itu DIDEPAN anak2nya??? Dan kalau si Ibu sudah jadi korban MEDIA, apalah lagi yang bisa dilakukan oleh sang anak selain ikut menjadi korban juga?? Bukankah anak-anak akan meneladani semua perilaku, bahkan nilai yang dianut orangtuanya??


Menurut Anda gimana??

:::::.....

Wednesday, August 5, 2009

Kisah Ajaibnya Kata "JANGAN"

Just wanna share this. Tulisanku di Majalah Sekolah "Al Hikmah" bulan ini. Versi lengkapnya, pdf, bisa didownload disini.


KISAH AJAIBNYA KATA “JANGAN”
Oleh : Wahida Ariffianti  

Sekitar 25 tahun yang lalu, saya punya seorang teman sepermainan. Dia laki-laki dan galaknya minta ampun. Suatu hari tanpa sengaja saya terpukul oleh dia cukup keras, pas di mata kanan saya. Saya pun menangis kesakitan. Apa yang kemudian dilakukan teman saya itu? Dia berseru “Jangan menangis!”. Akibatnya, saya pun semakin keras menangis.  

Sebagai orangtua, kita tentu pernah mengalami, bahwa ketika kita melarang anak-anak kita berbuat sesuatu (misalnya : jangan ribut, jangan ganggu adik, atau jangan rewel), yang terjadi adalah sebaliknya, anak-anak malah semakin menjadi, malah melakukan apa yang kita larang tadi.  

Sudah lama saya diam-diam menyadari (mungkin sejak terpukul di mata 25 tahun yang lalu itu), bahwa kata “JANGAN” seringkali sangat tidak efektif untuk menghentikan sebuah perilaku. Karena apatis dengan kata ini jugalah, saya pun akhirnya seringkali memilih untuk melakukan trik “pengalihan perhatian” ketika anak-anak berbuat sesuatu yang tidak saya kehendaki. Mengalihkan perhatian sekedar supaya dia berhenti melakukan perbuatannya yang tadi, dan seringkali ini pun sangat susah dilakukan (yang dalam banyak kejadian, mengalihkan perhatian juga sangat menyita waktu, tenaga dan juga emosi).

Yang sungguh-sungguh tidak saya pahami, adalah KENAPA? Kenapa kata “JANGAN” ini sangat tidak efektif?? Sangat ajaib karena efeknya seringkali justru berlawanan dengan maksud diucapakannya kata itu sendiri.  

Jawabannya secara ilmiah baru saya temui beberapa waktu lalu di sebuah kelas pelatihan NLP for Parenting yang saya ikuti. Waktu itu dr. A. Fadly Noor (narasumber yang juga seorang dokter dan master NLP) membeberkan tentang bagaimana struktur dan fungsi otak kita. Dan bagaimana perilaku kita sangat ditentukan oleh apa yang sedang terjadi di otak kita.  
Selain membeberkan betapa luar biasanya organ tubuh ciptaan Allah ini dalam menentukan perilaku kita, dr. Fadly juga menggambarkan bagaimana cara kerja sel-sel neuron-neuron dalam otak kita. Sel-sel neuron adalah sel-sel pembentuk otak yang bertanggung-jawab pada proses penerimaan dan pengolahan data yang kita terima dari alat indera, dan karenanya sel-sel neuron bertanggungjawab pada suatu tindakan kita. Tetapi rasanya bukan ini yang ingin saya bahas disini, karena saya tentu akan sangat tidak kompeten menjelaskan hal yang sangat tidak saya kuasai ini.  

Satu fakta dari hasil penelitian yang dikemukakan dr. Fadly adalah, bahwa dalam melaksanakan tugasnya neuron otak kita cenderung jauh lebih gampang menerima VERB (KATA KERJA). Dan ah, berbarengan dengan ucapan dr. Fadli selanjutnya saya juga langsung membatin, tentu saja, kata “JANGAN” bukanlah merupakan kata kerja! Karena bukan merupakan kata kerja, maka kata “JANGAN” atau “DON’T” atau yang sejenisnya, akan jauh lebih sulit diterjemahkan oleh neuron kita.  

Jadi, lanjut dr. Fadly memberi contoh, ketika kita menyerukan “Jangan Berteriak” kepada anak kita, maka yang cepat direspon oleh otak si kecil adalah jenis kata verb, yaitu “Berteriak” nya sehingga otomatis si kecil akan cenderung malah berteriak!  

Kata “JANGAN” juga seringkali tidak efektif menghentikan suatu perbuatan karena kata “JANGAN” lebih merujuk pada suatu pencegahan (sebelum sesuatu itu terjadi). Misal, ketika anak kita akan berangkat main sepeda dan kita memberi pesan “Jangan jauh-jauh” itu akan lebih mudah diterima karena toh si anak belum memulai kegiatan bersepedanya. Tetapi ketika 25 tahun yang lalu saya menangis (perbuatan “menangis” sudah kadung saya lakukan), maka kata-kata “Jangan Menangis” tidak akan efektif lagi menghentikan perbuatan saya, karena perbuatan itu sudah terjadi, tak dapat dicegah lagi. Neuron otak saya malah sangat cepat menangkap verb “menangis” sehingga tangisan saya pun malah semakin menjadi.  

Lantas, bagaimana caranya kalau suatu waktu kita harus menghentikan suatu perbuatan yang sudah kadung dilakukan, sedangkan perbuatan itu tidak kita inginkan (misalnya dilakukan oleh anak kita)?

Waktu itu, dr. Fadly memberikan alternatif, gunakanlah kata “BERHENTI”. Karena “BERHENTI” adalah merupakan kata kerja.  

Ah..seandainya waktu itu teman saya berkata “Berhentilah Menangis”, apalagi dengan intonasi yang lembut, mungkin serta merta saya akan menghentikan tangisan saya ya...



:::::.....

Buas dan BugyL

Kasihan sekali wanita2 yang jadi adik iparku.....

Aku punya adik 2, cowo semua....
Adikku yang satu namanya ASNAN, jadi istrinya bakalan dipanggil BuAs.......
Adikku yang satunya bernama AGYL, jadi istrinya bakalan dipanggil BuGyL donggg???....

Atau malah kasihan diriku sendiri?? punya ipar kok BUAS dan BUGYL???....


:::::.....

Saturday, July 11, 2009

Balada Mas Iwan dan Batu Bata

 

Barusan, aku berniat untuk menulis cerita tentang perkenalan ku dengan walikelas barunya anak-anak tadi. Tetapi, program Word ku baru saja terbuka ketika kemudian ada yang menarik terjadi disini. Dan aku tak bisa menahan diri untuk tidak menulisnya sekarang.

 

Kebetulan, hari ini Mas Iwan pergi ke Malang untuk urusan kerja, dan baru habis maghrib tadi pulang kerumah. Kebetulan, beberapa bulan ini kami punya kebiasaan baru. Setiap pulang dari pergi, kita tidak langsung menuju rumah (kontrakan) yang sekarang kita tinggali, yang hanya berjarak 5 rumah itu, melainkan mampir dulu ke site proyek pembangunan rumah. Yah..sekedar melihat perkembangan atau menikmati suasana disitu. Begitu juga tadi, dari luar kota Mas Iwan rupanya sempat mampir dulu ke proyek...buktinya, datang-datang dia sudah heboh dengan cerita seputar proyek.

 

“Tau nggak, batu bata yang numpuk didepan rumah itu, ternyata jadi bulan-bulanan anak-anak lho!” katanya heboh.

 

“Kenapa memangnya?” tanyaku sambil ngemil pepaya bangkok

 

“Jadi itu batu-bata, dibikin jadi semacam halang rintang mereka untuk maen sepeda. Ada yang ditumpuk...ada yang dipecah jadi dua trus dibikin pembatas, ada yang dijadiin alat zig-zag...trus dipake buat maen sepedaan gitu...” suara MI cukup gemes juga. Sebagai gambaran, rumah kami memang tempatnya diujung pertigaan, tepat didepan rumah adalah masjid, dan disamping ada taman. Jadi memang dari dulu menjadi tempat berkumpulnya anak-anak dan ABG yang bermain.

 

“Huheuheue...dasar anak-anak...” sahutku geli.

 

“Lha iya anak-anak, tapi batu bata yang dipake bisa puluhan per hari loh...yang utuh pun pada dipecahin gitu...ya nggak boleh dibiarkan. Akhirnya tadi aku tegur mereka. Pak tukang juga tadi sempat kutegur supaya mengawasi anak-anak itu...”

 

Saking hebohnya cerita si Bapak, Abe yang sedang asyik maen PS jadi ikut tertarik.

 

Ada apa sih, Pak?”

 

Mas Iwan mengulangi lagi cerita hebohnya tadi, kali ini diceritakan ke Abe. Begitu cerita selesai, wajah Abe berubah menjadi takjub...bersinar...merona dengan antusiasme yang tinggi...dan komentar yang keluar dari mulutnya dengan penuh semangat adalah ini...

 

“Wahhhh berarti mereka semua ikut2an aku Pak!!! Kapan itu memang AKU yang punya ide begitu, dan ternyata mereka pada suka loh semuaaa!!!! Waahhh....hebat kaannn????”

 

**gubraxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx**

 

Aku sampe kesedak pepaya sebelum akhirnya ngakak hebat, apalagi setelah melihat MI cuma bisa nyengir sambil garuk2 kepala. Hahahahahah.

 

Pelajaran untuk Bapak, sebelum menegur anak orang, sebaiknya FOKUS pada anak sendiri terlebih dahulu yaa..... Hihihihihihi.... :-D

Wednesday, July 8, 2009

Karma di Pemilu

Pembaca sekalian, percayakah Anda pada karma??

Dalam berbagai hal, aku percaya. Dan hari ini aku kembali membuktikan sebuah karma.

 

Aku masih inget sebuah cerita yang terjadi di TPS tempat aku mencontreng pada pemilu legeslatif beberapa bulan yang lalu. Waktu itu, aku sempat geli gara-gara kertas suara yang (terlalu) lebar ukurannya. Akhirnya aku jadi banyak mentertawakan dalam hati beberapa orang tetangga yang (ironisnya) sedang serius menggunakan haknya di bilik suara.

 

Sekali lagi, semua memang gara-gara kertas suara yang terlalu lebar ukurannya itu. Gaya para pemilih waktu membukanya jadi bermacam-macam. Sebagian besar terlihat sangat kerepotan, dan akhirnya dari situ keluarlah gaya-gaya dan body language dudul yang waktu itu memancing rasa geliku. Dalam hati, aku ngikik geli melihat orang-orang yang kesulitan membuka kertas suaranya. Waktu melipatnya kembali apalagi. Aku bahkan sempat menulis di status Facebook bahwa aku bisa mengintip apa pilihan orang-orang itu. Nomor berapa dan partai apa yang dicontreng. Beberapa memang terlihat jelas ketika mereka dengan susah payah dan kerepotan melipat kembali kertas suaranya, sehingga tidak sengaja kotak yang dicontreng pun akhirnya terpapar kearah tempat duduk dimana aku menunggu giliran mencontreng.

 

Hari itu, dengan geli, walaupun dalam hati, aku mentertawakan tingkah orang-orang di TPS itu...

Dan hari ini, di pilpres kali ini akhirnya aku mendapatkan karmaku....

 

Oya, pertama, banyak yang bertanya-tanya apakah aku jadi berangkat ke TPS tanpa mandi terlebih dulu....jawabnya tentu saja jadi **nyengir**...udara Surabaya pagi ini dingin sekali bahkan sedikit berkabut. Akhirnya, jam 8 lebih sedikit aku berangkat ke TPS hanya berteman beberapa persen aroma pasta gigi saja. Selebihnya, aroma asli! :-D

 

Kedua, aku memang sudah berniat untuk tidak mencontreng. Bukan karena golput, tapi karena jauh hari Abe sudah berpesan, bahwa nanti dia yang akan mencontreng untukku. Sedangkan Bea akan mencontrengkan kertas suara milik Mas Iwan. Berempat, berangkatlah kita ke TPS. Dua orang pemilih resmi, dan 2 orang lagi pemilih selundupan yang belum cukup umur tapi sudah ngeyel pengen ikut mencontreng (hihi).

 

Proses pendaftaran tentu berlangsung dudul. Untung Om Heru, tetangga yang bertugas jadi petugas pendaftarannya sudah faham gimana umeknya Abe dan Bea. Yang pingin ikut tandatanganlah, yang tak sabar bertanya mana kertas yang dicontrenglah, yang buru2 pingin masuk bilik suara lah. Dudul.

 

Kemudian sampailah kami berempat di bilik suara masing-masing. Kulihat di sebelah kiri, Mas Iwan sibuk menenangkan Bea yang tidak sabar mencontreng. Tepat berdiri didepanku, Abe juga sudah membuka kertas suaranya. Kemudian disitulah akhirnya karma yang kuceritakan diatas, kudapatkan....

 

Oya, setelah melipat kembali kertas suara, kan harus dimasukkan ke kotak suara tuh... Abe juga yang memasukkan  kertas suaraku ke kotak. Dan ketika Mas Iwan mengangkat Bea untuk memasukkan kertas suaranya yang sudah dicontreng, Bea tidak langsung melakukannya. Dia tahan kertas suara yang terlipat itu di udara, dan sambil menebarkan pandangan kepada semua orang yang saat itu ada di TPS, Bea bertanya dengan lantang “HABIS INI TRUS KITA DAPET APA..??” lengkap dengan suara berat dan wajah polosnya. Gerrr...!!! Semua akhirnya tertawa. “Dapat KODOK Beaaaa....” jawab Abe dudul. Hahaha.

 

Kembali ke karma. Kalau dulu aku aku sempat dalam hati geli mentertawakan orang-orang yang sedang di bilik suara, maka kali ini akulah yang menjadi tertawaan semua. Bukan hanya tawa dalam hati, tapi tawa yang cukup ramai....saat sedetik sebelum mencontrengkan pilihanku, Abe dengan suara keras memastikan dia nggak akan salah nyontreng...”Nomor DUA kan Buukk??”

 

**gubrakkk**