Tuesday, March 17, 2009
Ujian, Kelakuan dan Klepto Colongan
Kalau ditanya apa enaknya menyekolahkan anak di Sekolah Al Hikmah, salah satunya adalah pembinaan walimurid di sekolah ini bagus sekali. Salah satu programnya adalah pengadaan kelas Al Qur'an, dari membaca tartil sampai dengan tarjim dan tafsir. Jadi, bukan hanya anaknya yang "sekolah" melainkan emaknya juga. Dengan kata lain, bukan anak2 saja yang harus menempuh UJIAN Al Qur'an, tetapi ibu2 juga walaupun dengan kapasitas otak dewasa yang mulai karatan ini.
Nah, Kamis 5 Maret 2009 yang lalu, tibalah hari ujian ghorib untuk kelompokku. Tanda kami sudah menyelesaikan kelas tartil di tingkat Juz 10-20 dengan materi ghorib (bacaan musykilat/hati2 dalam Al Qur'an).
Menjelang ujian, ketegangan kami sudahlah jangan ditanya lagi. Mana tugas hapalan surat pendeknya panjang-panjang lagi. Ada Al Bayyinah yang panjang dan Al Alaq yang sempat bikin nyeng2 karena biarpun pendek2 tapi ayatnya banyak.
Siang itu sehabis dhuhur sampailah kami dihadapan Ust. Muzammil di gedung SMA Al Hikmah untuk ujian. Satu persatu dari kami masuk ke ruangan ujian, meninggalkan yang lain dug dug der di lobby. Jujur, kalo urusan begini aku lebih memilih maju pertama saja. Semakin cepat berakhir, semakin bagus. Tapi apa daya, huruf depan namaku selalu saja membuatku harus rela menahan debar jantung lebih lama dari yang kuinginkan.
Dari 9 orang anggota kelompok kami, aku masuk ujian nomor 7. Ketika aku masuk, teman2 lain sudah pada haha hihi lega karena ujian telah mereka lewati, alhamdulillah dengan baik semua. Tinggal aku...
Masuklah aku kedalam, dan inti dari cerita ini bukanlah isi ujianku. Tapi apa yang terjadi setelahnya, sesuatu yang entah kenapa, selalu menyertai segala kejadian dalam hidupku, yaitu kedudulan...
Duduk didepan ust Muzammil, kukeluarkan segala perbekalan. Kubeber diatas meja mushaf Al-Qur'an, kartu absen dan pensil untuk penunjuk. Buku ghorib tidak keluar, karena untuk ujian harus pake buku ghorib ust yang masih polos itu, bukan buku kami yang penuh coretan, contekan bahkan banyak smiley2 aneka rupa itu (hehe oke oke aku ngaku, mungkin cuma bukuku yg ada smiley2nya :D).
Hafalan 5 surat, alhamdulillah lancar...
Bacaan ghorib, alhamdulillah selesai...
Ada lagi ustad?? (lho kok nantang?? Haha)
"Nggak Bu...sudah selesai..." kata Ustadz sambil senyum.
Alhamdulillah...aku pun memberesi perbekalan dari atas meja dan kumasukkan kembali ke tas ku. Kemudian aku keluar menuju lobby dimana teman2 masih menunggu dan menyambut dengan pertanyaan itu lagi..."Gimana?? Lancar kan???"
Sungguh, belum puas ekspresi kelegaan kukeluarkan. Teman-teman juga masih seru menanyakan ini itu jalannya ujianku tadi....tiba-tiba ada suara pintu ruang ujian terbuka, disusul suara Ust. Muzammil menanyakan sesuatu...
"Ibu-Ibu...SIAPA YA YANG MEMBAWA BUKU GHORIB SAYA??"
Aku tengak-tengok kanan kiri. Anehnya semua orang yang kutengok, kok malah ngliatin aku semua sihhh???
"Mau saya pakai ujian lagi nih bukunya!" seru ustad lagi, sambil -anehnya- ngeliatin aku juga...??
Sebentar kemudian baru aku sadar apa yang terjadi...
"Astaghfirullah!! Kebawa masuk ke tas saya ya Ustad...??" seruku sambil tepok jidat. Hanya bisa cengengesan, segera kuambil buku ust didalam tasku dan setengah berlari kukembalikan pada Ust. Muzammil. Hihihi maap ya ustad.... :D
Ramailah teman2 getokin aku. "Gimana sihhh?? Kok bisa kebawa???"
Satu orang lagi malah berujar... "Kamu tuh ya, kelakuan, pikun gak berubah2...Itu tadi biarpun ujianmu bagus, kamu pantesnya nggak dilulusin aja...alasannya : akhlak buruk!! Klepto!! Hahahaha" semburnya sambil ketawa nunjuk2 aku. Hihihihihi. Masak sih bisa gak lulus karena alasan itu???
Untung ustad baik, dan aku diluluskan... Hehehe.
:D
Friday, March 13, 2009
Memang Inspiratif !!
Alhamdulillah, satu tugas telah rampung minggu lalu. Selama hampir dua bulan ini, aku berkutat dengan lomba menulis yang diadakan untuk walimurid di Sekolah Al Hikmah. Karena jadi ketua panitia, ada 2 tugas utamaku yaitu :
#1. Mengurusi lomba *tentu saja, dudul!! hihi*. Untunglah panitia dibantu PENUH oleh seluruh staf humas sekolah, dari archieving naskah sampai tetek bengek print-out, menghubungi pihak sana sini sampai gunting2 bikin plakat juara...subhanallah...terimakasih buat semua... **terharu**
#2. Dilarang ikut lomba!! **keluh**
:::::
Sabtu kemarin, di acara talkshow parenting di sekolah sudah diumumkan tulisan2 siapa yang jadi pemenang. Oya, tema lomba menulis kali ini adalah "Pengalaman Unik dan Inspiratif dalam Mendidik Anak"
Mau tahu detil dan bagaimana menginspirasinya kah tulisan yang memenangkan lomba tersebut?? Silakan dibaca di blog walimurid kami http://keluargaalhikmah.wordpress.com (memang inspiratif lho!!)
Dan tugas berikutnya pun sudah menanti... Sebagian besar naskah-naskah tulisan peserta dan tulisan walimurid yang ada di blog walimurid itu rencananya akan kami ajukan ke penerbit untuk dijadikan buku. So, dengan segala kerendahan hati, minta doanya kepada semua yaa...semoga proyek ini dimudahkan, bermanfaat dan diridloi Allah...aminnnn...aminnnn...
::::
Monday, March 2, 2009
Sepatu Kok Bikin Meriang...???
(copas dari www.jawapos.co.id)
:::::.....
[ Selasa, 03 Maret 2009 ]
Victoria Beckham Menikmati Sepatu Tinggi
SULIT menebak jalan pikiran Victoria Beckham. Untuk menemani tiga putranya jalan-jalan di taman saat libur akhir pekan, pakaian kasual adalah pilihan kostum yang nyaman. Tapi, alih-alih jins dan sepasang sneakers, wanita yang berjuang menjadi ikon mode itu malah memakai gaun terusan plus sepatu Christian Louboutin berhak 12,7 sentimeter!
Dengan sepatu tersebut, Posh -julukan Victoria- mengukuhkan diri sebagai salah satu ikon mode dunia. Sebab, model yang dipakainya itu kini sedang menjadi tren. Sayang, dengan sepatu hak tinggi tersebut, Victoria kesulitan mengimbangi langkah ketiga anaknya yang aktif berlari dan melompat.
Ketika Brooklyn, Romeo, dan Cruz kegirangan mencoba simulasi terjun payung, sang ibu hanya bisa mengawasi dari jauh. Dia juga tidak bisa leluasa menemani tiga buah hatinya itu berpindah dari wahana satu ke wahana lainnya.
Tapi, bukan kasus salah kostum itu yang menjadi perhatian orang di sekitarnya. Melainkan sepatunya yang supertinggi tersebut. Saking tingginya, Victoria tak perlu mengangkat kaki untuk memperlihatkan sol merah khas Christian Louboutin di dasar sepatunya. Sepatu itu tidak saja menggangu penampilan Victoria, tapi juga mengancam kesehatan kakinya.
Sepatu mewah tersebut membuat telapak kakinya nyaris vertikal. Posisi seperti itu memaksa otot-otot kaki bekerja maksimal untuk menopang berat tubuh. Akibatnya, otot-otot pun terlihat menonjol dan membuat kaki Nyonya Beckham tersebut jauh dari kesan manis.
''Bentuk kakinya jadi aneh sekali. Itu tidak sehat. Jari-jarinya terdesak di dasar sepatu dan engkelnya terdorong ke depan,'' kata seorang pengunjung taman kepada Daily Mail. ''Lagi pula, sepatu itu tampaknya terlalu besar buat dia,'' lanjut pengunjung tersebut.
Meski Christian Louboutin jelas membuat gerakannya jadi terbatas, eks frontwoman band cewek Spice Girls itu mengaku lebih nyaman memakai sepatu hak setinggi langit ketimbang sepatu datar. Dia nyaris tak pernah tampil tanpa high heels, bahkan saat diundang untuk melakukan lemparan pertama dalam pertandingan bisbol LA Dodgers. Saat itu, dia memakai sepatu model wedges.
''Saya justru tidak bisa konsentrasi (berjalan) kalau pakai sepatu datar,'' aku Victoria. ''Memakai sepatu jenis itu membuat saya bisa leluasa berolahraga. Saya suka sekali latihan di gym. Tapi, saya tidak tahan kalau harus pakai sepatu datar terlalu sering,'' lanjut pemilik label denim dVb Jeans itu.
Padahal, Posh tahu persis bahwa high heels tidak baik untuk kesehatan. Bukan hanya untuk kaki, tapi juga berpengaruh ke bagian tubuh lain. Sepatu itu merusak otot tendon achilles, menyebabkan osteoatritis (berkurangnya cairan sendi pada tulang), dan yang paling simpel: bikin gampang jatuh! (na/ca)
:::::.....
Sunday, March 1, 2009
Aku dan Foto Caleg
Ketika berdiri di sampingku, sore itu dia cuma tersenyum padaku. Kubalas senyumnya dengan senyum seperti biasanya. "Pak..." sapaku. Lalu kami mengembalikan lagi pandangan kita kearah depan, ke lapangan basket sekolah.
Setelah keheningan yang agak janggal tiba-tiba...
"Bu...Ibu mencalonkan diri jadi caleg ya? Saya lihat fotonya di daerah Gayungan sana, wahhh..."
Begitu kudengar kalimatnya dan kulihat jempol kanan si Bapak itu ikut terangkat, aku cuma bisa melongo keselek ring basket. Rasanya seperti sudah 31 tahun terlahir di planet yang salah...
"Nggak tuh Pak?? Saya nggak mencalonkan diri dari caleg kok" sahutku secepat yang aku bisa, seakan mengejar ketertinggalan waktu ketika aku melongo tadi.
"Iya, lha wong saya lihat fotonya Ibu ini kok, pake kerudung kuning itu?" dia masih mencoba meyakinkan.
Lho?? Kalo memang benar itu aku, mestinya aku tahu dong?? Nggak mungkin kan aku melakukan pemotretan apalagi daftar jadi caleg segala dalam kondisi ngelindur?? Atau mungkin juga?? **mulai ragu** wah gimana ekspresi wajahku ya kalo pemotretannya saja dalam keadaan ngelindur??
"Bukan Pak, itu bukan saya!!" kukibas2kan tanganku untuk lebih meyakinkan, plus pasang wajah aneh krn seketika ingat foto2 iklan caleg yang seringkali dudul itu.
Ganti si Bapak itu yang melongo...dan sebelum dia sadar, beberapa ibu2 walimurid teman nongkrong tiap jemput datang. Aku langsung pamit dari si Bapak **yang masih melongo, sepertinya masih nggak percaya kalo itu bukan aku** kemudian aku bergabung sama ibu2 yang lain.
Langsung dong aku menceritakan hal tadi pada temen2 walimurid ini...? Dan reaksi mereka?? Kaya bom pecah, tapi efek ledakannya bermacam-macam. Ada yang ngakak sambil geleng2, ada yang geleng2 sambil langsung memelototiku, ada yang memelototiku sambil melemparkan pandangan mencela, ada yang memandangku dengan mencela sambil memaki dan menghina, banyak!! Hahahahahaahaha!
Melihat reaksi teman2 aku jadi lega, alhamdulillah...ternyata aku terlahir di planet yang benar... :D
Tuesday, February 17, 2009
Kembali Ke Jalan Yang Benar
"Mbakkk ayo kembali ke jalan yang benar!!" yang ini dari si Ridwan, juga pagi ini.
Bagai tersadar....dengan penuh kepatuhan, akhirnya barusan tadi dengan perjuangan yang lumayan, aku tutup tab window Facebook yang masih menyuguhkan layar bergambar si ENTUT (pet ku di Pet Society), dan kemudian log-in ke Multiply...
Friday, February 13, 2009
Fakta Seputar Khitan Abe
#1
Beberapa hari sebelum dikhitan...
Abe : "Ibuk tau nggak apa yang paling kutakutkan dari sunat?"
Ibu : "Rasa sakit?"
Abe : "Bukan!"
Ibu : "Darah?"
Abe : "Bukaannn"
Aku : "Apa dong, nyerah deh."
Abe : "Aku itu paling takut kalo nanti jangan-jangan tititku BERUBAH!!" (disusul nyengir)
Ibu : **gubrax** (disusul menguasai diri)
Abe : **masih nyengir**
Ibu : "Ohhh...tenang Be...kamu gak perlu takut mikirin JANGAN2 tititmu berubah... Tenang, karena setelah sunat nanti, tititmu SUDAH PASTI SERATUS PERSEN AKAN BERUBAH!!"
#2
Sehari sebelum dikhitan, Abe kebanjiran sms yang semua penuh berisi dukungan dan doa dari semua orang. Abah dan Mbah Sul, Kakung dan Uti, tante, om, pakde, bude , semua! Tapi ada satu pesan via sms yang sangat Abe sukai, yaitu dari Uwa Asnan (adikku yang dudul itu). Isi smsnya begini :
"Be...uwa pesen, besok kalo sudah disunat, kamu harus KAPOK ya Be. Habis itu jangan
pernah mau disunat lagi ya???"
#3
Hari kedua setelah sunat, Senin sore Abe sudah bikin orang serumah teriak2 karena ngeri. Entah lupa kalo baru sunat atau gimana, ketika dia melihat Bea megal megol nyanyi sambil menari-nari, Abe kontan LARI-LARI mengejar adeknya, biasa, mau colek pipi atau perut Bea (hal yang biasa dilakukannya). Alamaakkkk!!
#4
Setelah disunat, baru 4 hari kemudian Abe melihat sendiri titit barunya, itupun kecelakaan tak sengaja aku menjatuhkan sarungnya waktu mau memakaikan. Wajahnya aneh bener waktu itu, tak bisa dilukiskan dengan kata-kata.
#5
Dalam rangka memompa semangat dan keberanian Abe untuk menghadapi "meja khitan", banyak sekali ungkapan-ungkapan yang kami ucapkan, dengan penuh semangat dan berulang-ulang. Apalagi bapaknya yang bersifat "motivator" itu. Udah mirip Mario Teguh aja... "YESS!! Abe pasti bisa!! Bisa!! Bisa bisa!!" lengkap dengan kepalan tangan keatas. Atau kali lain "YESS, Abe anak kuat!! Hebat, hebat hebat!!
Tapi ternyata yang paling bisa dan berhasil mengukirkan semangat kebanggaan di wajah Abe adalah cerita dari banyak orang bahwa dulu Mas Iwan baru berani sunat waktu kelas 5 SD, sedangkan Abe walau masih kelas 2 sudah berani disunat. Bangga bener dia, berasa bisa mengalahkan bapaknya. Hehe.
Oya, by the way...
Yang tadi getol memotivasi ala Mario Teguh tadi itu, kan dapet tugas mensyuting seluruh proses di meja khitan tuh.. Sementara aku kebagian tugas memeluk Abe (yang akhirnya jadi "sansak" juga tiap kali Abe kesakitan dan mencengkeram sekujur tubuhku). Baru setengah jalan, ketika proses menjahit baru saja dimulai, eh...kok yang nyuting sudah klepek-klepek dan pilih mangkir dari menyelesaikan tugas???
Kalo saja tanganku tidak dicengkeram Abe, pingin rasanya aku mengacung-acungkannya dalam keadaan terkepal, sambil teriak "Ayo Mas!! Kamu pasti BISA!!" **dan tidak lupa mengulangi kata "BISA" tiga kali!! BISA!! BISA BISA!!** Hahaha
Ketika acara khjitan sudah selesai dan kita pulang, meluncur deh semua alasan dia, dari yang tidak masuk akal sampe yang tidak masuk gawang **emangnya bola??*...
Satu lagi bukti, bahwa memang benar, bicara itu lebih gampang ya... Hihihi
Tuesday, February 3, 2009
Dari Kuret Sampe Khitan, Bener2 Minggu Yang Seru!!
Bener-bener minggu yang seru...
Senin, 26 Januari 2009 :
Sore Abe mulai mengeluh, tititnya gatal dan kalau dipake pipis sakit. Kulitpun jadi iritasi karena dia selalu garuk-garuk bagian itu. Sudah lama aku tahu bahwa lubang pipisnya memang kecil, dan kulitnya sebagian lengket ke kulup. Firasatku mulai mengatakan, bahwa mungkin ada kemungkinan Abe harus dikhitan lebih cepat dari perjanjianku dengannya (waktu naik kelas 3 nanti).
Selasa, 27 Januari 2009 :
Sepulang sekolah, siang hari (karena hari pertama Abe masuk jadi sekolah belum sampai sore) kita pergi ke dokter di UGD RS. Siloam (karena poli sudah tutup) untuk periksain (tititnya) Abe. Ternyata firasatku benar, Abe mengalami fimosis dan harus sesegera mungkin di khitan. Kata dokter, fimosis itu adalah keadaan di mana sebagian atau seluruh kulit penis lengket ke bagian kepala penis dan mengakibatkan tersumbatnya lubang saluran air seni. Jadi ketika Abe pipis, tidak semua kandungan pipisnya keluar, melainkan ada sebagian yang tertinggal, nyangkut berupa endapan di ujung penisnya. Ini yang akhirnya rawan infeksi. Cara mengatasinya? Ya memang harus disunat! Untunglah Abe tidak menolak ide ini, toh cuma mundur beberapa bulan saja dari perjanjian semula. Hanya dia meminta sunatnya Minggu saja, biar pas libur sekolah. Akhirnya dokter memberikan antibiotik dan obat untuk mengatasi gatalnya Abe sampai Hari Minggu.
Dari dokter Siloam, kita langsung ke dokter gigiku. Sore itu aku ada janji untuk melakukan kuret gigi. Cerita selengkapnya bisa dibaca disini. Yang pasti aku kaget karena nggak mengira gusiku harus di gips selama 5 hari (berarti gips baru dilepas Hari Minggu juga
Rabu, 28 Januari 2009 :
Duhhhh urusan gusi di gips ternyata melebar. Aku benar-benar harus terkurung dirumah tanpa bisa pergi kemana-mana. Bukan karena penampilan dan bentuk gusi yang ekstrim ini, bukan. Tapi karena obat yang diberikan dokter gigiku. Setiap kali aku minum itu obat, reaksinya dudul banget. Aku jadi mengantuk, pusing, badan gemetar, dan keringat dingin muncul. Dan hanya satu hal yang bisa menghilangkan semua itu yaitu : TIDUURRR. Terus terang aku paling benci obat model begini. Tiap kali batuk aja, aku lebih milih minum air jeruk nipis + kecap daripada minum obat batuk yang suka bikin ngantuk itu.
Kamis, 29 Januari 2009 :
Akhirnya Mas Iwan memutuskan untuk meng-handle sendiri segala keperluan persiapan khitannya Abe, setelah hari itu aku hampir pingsan di Pasar Atom (waktu ngeyel ikut beli tempat hantaran, ya, dengan gusiku masih mancung tentu saja). Karena keterbatasan waktu, kami memang memutuskan tidak bikin acara yang gimana-gimana apalagi pesta, hanya menyiapkan hantaran untuk sodara dan tetangga (yang itupun jumlahnya ternyata sudah ampun-ampun banyaknya). Demi Allah aku sempat merasa sangat pilu dan benci pada diriku sendiri saat ini karena tidak bisa taking charge mempersiapkan acara sunat anakku sendiri. Obat ini bener-bener sudah melumpuhkanku dan mengurungku dirumah dengan cara yang luar biasa hebat, karena berbarengan dengan persiapan khitan Abe itu tadi!
Jumat, 30 Januari 2009 :
MI pun akhirnya menemukan tempat praktik dokter khitan deket rumah. Pulang sekolah, Abe diajak ke tempat dokter itu, dan bikin janji pelaksanaan sunatnya Hari Minggu pagi lusanya. Sementara itu, kabar buruk datang dari Tulungagung. Agyl adikku, badannya panas parah. Juga Sena (sepupu Abe) yang bahkan sudah didiagnosa tifus. Ibuku sudah mulai bingung karena disana anak cucu pada sakit, sementara dia pingin sekali melihat Abe, cucu cowok satu2nya disunat.
Sabtu, 31 Januari 2009 :
Sudah cukup! Aku tak mau lagi minum obat yang bikin teler itu! Kuputuskan hari ini untuk hidup bebas obat, aku hanya meminum antibiotik dan vitaminnya saja. Akhirnya hari ini aku bisa sedikit membantu MI, pesen kue, cari kotak kuenya, cetak kartu ucapannya, lumayan. Lumayan puas jadi perhatian orang-orang juga karena kondisi gusiku yang mancung itu (:-D). Hasil lab Agyl di Tulungagung, ternyata positif DB. Trombositnya down tinggal 26 ribu dan langsung masuk RS. Malam itu aku dan Uti nangis2an terus karena Uti ternyata memang terpaksa tidak bisa nungguin Abe sunat. Gak papa ya Uti, yang penting doanya saja ya... Hatiku cukup gerimis demi membayangkan besok dalam acara ngumpul dengan keluarga besar, tak satupun dari keluargaku di Tulungagung yang bisa bergabung. Bapak-Ibukku harus gantian nungguin Agyl di RS. Sementara Asnan (adikku yang no 2) pun anaknya sendiri juga sakit tifus dan tidak bisa ditinggal apalagi diajak ke
Minggu, 1 Februari 2009 :
Allah Maha Kuasa. Hari ini akhirnya Abe dikhitan, pada umur 7 tahun. Haru, haru dan haru menyelimuti hatiku dan membanjiri hariku. Rasanya baru kemarin aku melahirkan dia. Walaupun tak bisa banyak membantu MI yang sudah luar biasa menyiapkan semua untuk acaranya, tetapi aku bersyukur bisa full mendampingi Abe di semua prosedur khitannya. Abe dikhitan dalam pelukanku, direkam Bapaknya yang mengaku sudah mual dari awal.
Dasar bandel, siangnya ketika keluarga besar ngumpul (minus keluarga Tulungagung yang terus2an telpon tiap sebentar), Abe sudah jalan-jalan gak karuan. Cepet sembuh ya Nak, Ibuk tahu Abe anak yang kuat...dan insyaAllah sholih.
Senin, 2 Februari 2009 :
Ketakutan banyak orang yang melihat Abe gak bisa diam di hari pertamanya sunat (yaitu ketakutan bahwa malamnya dia pasti akan rewel kesakitan), alhamdulillah tidak terbukti. Semalam aku memang nyaris tak tidur karena menjaga posisi tidurnya, tetapi hanya sekali dua Abe mengeluh ringan karena sakit. Pipispun berjalan lancar tanpa keluhan berarti. Hari ini Abe malah sangat ceria dan mulai gangguin adek Bea lagi, pertanda sudah sehat
Terimakasih Ya Allah, karuniaMu memang tiada henti. Rizki Allah juga, terutama untuk Abe. Lihat saja tumpukan kado dan amplop di meja itu, ya
Semoga Mas Agyl dan Sena yang sekarang masih sakit, segera mendapat kesehatannya kembali, aminnn...