Showing posts with label ibu. Show all posts
Showing posts with label ibu. Show all posts

Thursday, June 26, 2008

Baterai Hidup Kita

Seorang bayi siap untuk dilahirkan ke dunia. Si bayi pun bertanya kepada Tuhan.


Para malaikat disini mengatakan bahwa besok Engkau akan mengirimku kedunia. Tetapi bagaimana cara saya hidup disana, saya begitu kecil dan lemah?”
Dan Tuhan menjawab, “Aku telah memilih satu malaikat untukmu. Dia akan menjaga dan mengasihimu.”

 

“Tapi, disini didalam surga, apa yang pernah saya lakukan hanyalah bernyanyi dan tertawa. Ini sudah cukup bagi saya untuk bahagia.”
“Malaikatmu akan bernyanyi dan tersenyum untukmu setiap hari. Dan kamu akan merasakan kehangatan cintanya dan menjadi lebih berbahagia.”

 

“Dan bagaimana saya bisa mengerti saat orang-orang berbicara kepadaku jika saya tidak mengerti bahasa mereka?”
“Malaikatmu akan berbicara kepadamu dengan bahasa yang paling indah yang pernah kamu dengar. Dan dengan penuh kesabaran dan perhatian dia akan mengajarkan bagaimana cara kamu berbicara.”

 

“Dan apa yang akan saya lakukan saat saya ingin berbicara kepadaMu?”
“Malaikatmu akan mengajarkan bagaimana cara kamu berdoa.”

 

“Saya mendengar bahwa di Bumi banyak orang jahat. Siapa yang akan melindungi saya?”
“Malaikatmu akan melindungimu, walaupun hal tersebut mungkin dapat mengancam jiwanya.”

 

“Tapi, saya pasti akan merasa sedih karena tidak melihatMu lagi..”
“Malaikatmu akan menceritakan kepadamu tentang Aku. Dan dia akan mengajarkan bagaimana agar kamu dpat kembali kepadaKu, walaupun sesungguhnya Aku akan selalu berada disisimu.”

 

Saat itu surga begitu tenangnya sehingga suara dari Bumi dapat terdengar, dan sang bayi bertanya perlahan...

 

“Tuhan, jika saya harus pergi sekarang, dapatkah Engkau memberitahuku nama malaikat tersebut?”
“Kamu akan memanggil malaikatmu : IBU.”

 

.....:::::.....

 

Membaca barisan frase diatas di buletin yayasan yang tiba tadi malam, aku jadi ingat Ibu Sularmi.

Aku mengenal Bu Sularmi 3 tahun lalu, waktu Abe masuk TK. Beliau tak lain adalah Kepala Sekolah di TK Al Hikmah. Sehubungan tugasku di Komite Sekolah adalah sebagai Ketua Kompartemen KB-TK, maka kami pun menemukan banyak kesempatan bertemu, berdiskusi, ngobrol banyak hal. Bahkan ketika Abe sudah lulus TK sekalipun.

Suatu hari, kira-kira 2 tahun yang lalu, tiba-tiba kami semua mendapat kabar bahwa Ibunda beliau meninggal. Karena tempatnya jauh di luar kota, waktu itu kami (ibu2 walimurid) tidak bisa datang bertakziah. Maka ketika beberapa hari kemudian Bu Larmi masuk sekolah, kamipun nglurug ke kantor untuk bertemu beliau dan menyampaikan dukacita.

Ketika kami semua sudah duduk, semua terkesiap. Yang ada di hadapan kami waktu itu benar-benar lain dari sosok Bu Larmi yang kami kenal selama ini. Selama ini, beliau orangnya sangat tenang dan stabil. Cara bicara juga jelas, runtut, terstruktur. Dulu kami (aku dan Bu Larmi) pernah sama-sama mengakui betapa beliau adalah orang yang cenderung menggunakan otak kiri, dan aku sebaliknya. Beliau cermin dari sosok ibu guru sejati, yang tenang tapi kokoh, sabar tapi juga tekun.

Tapi siang itu tidak. Mulanya kami mengira bahwa suatu hal yang wajar, karena memang sedang berduka atas kepergian ibundanya. Tetapi kemudian, beliau bercerita dengan air mata yang tumpah...

“Dari dulu, saya selalu percaya bahwa semua yang saya capai didunia ini --apapun itu, keluarga, karir, anak-anak, kesehatan, keberkahan, dll— semuanya tak lain adalah jawaban Allah atas doa Ibu saya. Menghadapi apapun dalam hidup ini, saya selalu kembali kepada beliau, untuk memohonkan doa beliau kepada Allah.”

“Sekarang ini setelah Ibu nggak ada, saya benar-benar merasa kehilangan sebagian besar daya dan tenaga dalam menjalani hidup ini. Nggak tahu lagi darimana saya bisa menemukan kekuatan seperti doa beliau kepada saya. Saya merasa persis seperti mainan yang tiba-tiba dicabut baterai-nya. Lunglai Bu...”

Saat itulah pertama kali dan satu-satunya kami melihat Bu Larmi benar-benar breakdown...menangis sesenggukan...dan sekaligus seperti menghujamkan kata-katanya tadi ke dada kita semuanya.

Dinding-dinding di ruang kerja beliau saat itu, bukan lagi hanya mendengungkan cerita tentang ibunya yang baru meninggal, tetapi juga dipenuhi dengan ibu-ibu kami semua...yang beberapa tinggal berjauhan (seperti aku)...yang beberapa dekat tapi dudul terhalang alasan dan kesibukan untuk sekedar bertemu...atau yang ibunya sama-sama sudah meninggalkan dunia ini...

Masya Allah.... Laa haula wala quwwata illa billaahh...
Kami semua pun larut dalam tangis yang dalam...

 

.....:::::.....

 

Robbig firli...wali wali dayya...
Warhamhuma... kamaa robbayaani soghiroo...

Beberapa minggu kemudian, ketika bertemu kembali dengan Bu Larmi, beliau sudah kembali tenang. Tapi kata-kata beliau di kantor saat itu, ketika dikelilingi tangis, aku tahu tak akan pernah hilang dari benakku... Setiap teringat, yang kulakukan kemudian hanya satu, ambil telpon dan pencet no rumah ibuk di tulungagung... (duh, sekarangpun juga)

Dalam hati aku pun bertekad, ketika nanti suatu hari ibukku dipanggil oleh Allah...aku juga ingin sekali menjadi baterai...yang selalu siap menyuntikkan tenaga “doa anak yang shalih” kepada beliau setiap saat...

Aminn Allahumma Aminn...