Sunday, October 26, 2008

Skenario Untuk Fitri dan Fikri

Fitri adalah salah satu teman seangkatan Abe di sekolah, sejak TK A dulu sampai sekarang kelas 2 SD. Sedangkan Fikri adalah satu-satunya kakak  Fitri dan sekarang duduk di kelas 6 SD. Dan tulisanku ini, adalah cerita tentang sepasang kakak beradik yang –insyaAllah- akan menjadi anak-anak yang dekat dan sangat disayangi Rasulullah.

Ketika dulu sekolah baru saja mulai untuk Abe di TK A (pertengahan 2005), waktu-waktu itulah kami (para walimurid angkatan itu) mulai mengenal Mbak Laila, ibunya Fitri. Seorang wanita cantik yang menyenangkan. Dan baru beberapa bulan juga ketika kita semua dikejutkan dengan berita tentang meninggalnya sang suami. Tak hanya terkejut, kami semua juga tak kuasa menahan airmata setiap kali melihat sosok Fitri yang waktu itu masih berumur 4 tahun dan sudah yatim.

Dan yang kami lihat dari Mbak Laila waktu itu hanyalah ketegaran, ketabahan dan keikhlasan seorang istri yang ditinggal suami dengan 2 anak yang masih kecil.

Beberapa saat kemudian, setelah lama nggak muncul di sekolah, Mbak Laila muncul dengan beberapa tester kue kering. “Aku bikin-bikin kue mbak, siilakan cicipi, dan kalo berminat telpon saja aku ya” katanya. Dia sempat bercerita kepada seorang teman, betapa dia sangat memerlukan kesibukan itu. Harta peninggalan almarhum suaminya yang lebih dari cukup untuk biaya hidup dan sekolah anak-anak, tidak membuatnya lantas berleha-leha. Konon dia memang termasuk wanita yang tidak betah duduk diam.

Diam-diam, kami sesamaa walimurid sering rasan-rasan betapa Mbak Laila memang wanita yang tegar. Dan ketegarannya itu, kembali dia buktikan kepada kami semua.

Sekitar 2 tahun lalu, kami mendengar bahwa dia menikah lagi. Tentu semua turut berucap syukur untuknya. Apalagi menurut cerita-cerita, suami yang sekarang sangat baik dan sangat menyayangi anak-anak. Beberapa kali kami juga melihat si bapak ini menjemput Fitri dan Fikri di sekolah. Life seems back to ‘normal’ for Mbak Laila, Fikri dan Fitri.

Tetapi, rupanya memang hidup ‘normal’ hanyalah untuk orang-orang yang ‘normal’. Hidup normal bukanlah untuk manusia-manusia pilihan Allah yang luar biasa. Manusia-manusia seperti Mbak Laila, juga Fitri dan Fikri.

Luar biasanya, Mbak Laila ternyata sempat juga ‘mencurangi’ kami semua. Ketika suatu hari seorang teman datang membawa berita bahwa Mbak Laila sakit dan harus menjalani kemoterapi, kami cuma bisa istighfar dan melongo. Istighfar karena ternyata sudah beberapa bulan dia dinyatakan terkena kanker getah bening, dan tak ada satupun dari kami mengetahuinya. Melongo karena bahkan hanya beberapa hari sebelumnya, seorang teman masih melihat Mbak Laila menjemput anak-anak sekolah, dan sama sekali tidak kelihatan seperti orang yang sakit parah. Dia masih ceria dan menyenangkan seperti biasanya.

Astaghfirullah...

Akhirnya, bergantian kami menjenguknya. Siapa yang sempat, datang membezuk bergantian dalam selang waktu tertentu. Aku pribadi, setelah sekali membezuknya, selama setahun terakhir ini tidak pernah lagi membezuk. Alasan klasik yang membuatku malu sendiri, yaitu kesibukan. Beberapa kali dengan beberapa teman aku juga sempat janjian untuk menjenguknya, tapi nggak tahu kenapa, belum terlaksana juga.

Sampai Kamis malam kemarin, datanglah sms pilu itu..

“Innalilahi wa inna ilaihi rojiuun. Setelah 1,5 tahun berjuang melawan kanker, Mbak Laila akhirnya menghadap Allah, Rabu malam dan langsung dimakamkan jam 23.00 WIB”

Mbak Laila, bahkan kaupun tak mengijinkan kami untuk meratapimu di hari pemakamanmu... Hari Kamis malam kami semua baru mendengar kabar duka itu, padahal Rabu malam jenazah Mbak Laila sudah dimakamkan. Mbak Laila meninggal di usia 34 tahun.

Ya Allah...kami sadar hanya atas ijin dan kuasaMu sajalah yang bisa membuat ini semua terjadi. Tapi tak urung, sangat pilu hati kami membaca sms itu. Sebagai seorang ibu, yang langsung terlintas di pikiranku tentulah Fitri dan Fikri. Ampunilah kami karena kali ini kami hanya bisa menyaksikan skenarioMu dengan hati yang hancur dan pilu.

Jumat pagi 24 Oktober 2008 kemarin, akhirnya ramai-ramai kami bertakziah kerumah duka. Dan kepiluan kami pun pecah meledak dengan cara yang tak bisa kami bendung lagi. Apalagi ketika dari lantai 2 muncul seorang anak 7 tahun yang cantik dan masih tersenyum ceria, yang kemudian bersalaman dengan kami semua satu per satu... Diantara tangis air mata pilu kami dan neneknya, kami hanya bisa menyebut nama Allah tanpa henti. Bertambah menusuk pagi itu ketika kemudian satu persatu cerita meluncur dari ibunda Mbak Laila dan suaminya...

“Laila tidak pernah mengeluh, sudah lama dia merasa siap apapun yang terjadi dengan dirinya. Dia sudah pasrah sama Allah. Dia hanya akan sedih ketika mengingat anak-anak... Kami selalu bilang, jangan lah kamu sedih dan khawatir, banyak yang akan menjaga anak-anak. Dan terutama, Allah akan menjaga mereka. “

Sebelum meninggal, mbak Laila sempat koma selama 3 hari. Dan setiap kali Fitri dan Fikri datang, setiap kali itu juga bulir airmata selalu menetes dari matanya yang tertutup. Si nenek juga cerita bahwa yang paling mengagumkan adalah Fikri. Bocah laki-laki 11 tahun itulah yang selalu mengelus tangan ibunya selama koma, membisikkan kata sayang dan ikhlas kalaupun Allah akan memanggil sang bunda. Kata nenek, nafas terakhir Mbak Laila terhembus beriringan dengan setetes airmata dari mata yang tertutup koma, tepat ketika Fikri menyelesaikan bacaan Yasinnya untuk sang bunda...

Nenek bilang, pantaslah alm ayah Fikri wanti-wanti berwasiat bahwa anak-anak harus terus bersekolah di AL Hikmah (sekolah Islam). Almarhum tak lagi menginginkan apa-apa selain Fiktri dan Fikri menjadi anak-anak sholih/sholihah yang akan terus mendoakan orangtuanya. Untuk itulah dia percaya bahwa salah satu caranya adalah terus menyekolahkan anak-anak di sekolah yang menjunjung tinggi nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Dan apa yang dilakukan Fikri di saat-saat terakhir Mbak Laila, rasanya sungguh menjadi jawaban atas doa dan keinginan almarhum ayahbundanya...

Dalam tangis pilu, kami hanya bisa turut berdoa,

Untuk almarhumah Mbak Laila, teman yang telah menunjukkan pada kami pelajaran terdalam..

Tentang ketegaran dalam menjalani hidup, bagaimanapun skenarionya..

Juga keikhlasan dalam menerima skenario hidup kita masing-masing...

Semoga semua amal ikhlas dan ibadahmu diterima oleh Allah

Dan diampukan semua kesalah dan dosa...

 

Juga untuk Fikri dan Fitri,

Kami percaya pemilik semua skenario hanyalah Allah semata...

Kami juga percaya bahwa Allah juga yang Maha Penjaga...

Semoga kalian berdua menjadi anak sholih/ah yang selalu berdoa untuk ayahbunda...

Banyaklah berdoalah Nak, karena sungguh kami percaya, doa-doa anak sholih dan anak-anak yatim, akan selalu dijawab oleh Allah SWT...

Aminn




73 comments:

  1. amin....setiap mengingat Fitri, dada ini terasa sesak

    membaca tulisan ini, tak kuasa juga menahan air mata dan pilu mengingat keceriaan Fitri dan ketegaran Fikri.

    ReplyDelete
  2. innalillahi wa inna ilaihi rojiun... orang hebat selalu saja ujiannya berat...

    ReplyDelete
  3. innalillahi wa inna ilaihi raji'un....

    *membaca sambil menangis... subhanallah makasi postingannya mbak .. mengingatkanku pada kegundahan hati yang selama beberapa hari ini terasa ... :)

    ReplyDelete
  4. Innalillahi wa inna ilaihi roji'un
    Semoga arwah armarhumah ditempatkan Allah SWT di tempat yang baik disisi-Nya, diampuni dosa dosa nya, dilapangkan kuburnya. Dan bagi anak anak nya semoga diberi kemudahan, sukses dunia akhirat.amin.

    Terima kasih banyak mba, sebagai lecutan buat saya... terkadang pasang surat iman membuat kita lupa dan lalai dalam bersyukur.

    ReplyDelete
  5. innalillahi wa inna ilaihi raji'un...........iya ya,,,kita ini harus tetap optimis, seberat apapun itu,......

    ReplyDelete
  6. innalillahi wa inna ilayhi roji'un

    merinding....


    hiks,

    *namanya sama kayak kakak dan keponakanku....

    ReplyDelete
  7. Innalillahi wa inna ilaihi roji'un...mbak aku nangis nih....sediiiih...

    ReplyDelete
  8. Innalillahi wa inna ilaihi ro'jiun

    Thanks for sharing mbak..

    ReplyDelete
  9. Innalillahi wa inna ilaihi raji'un.
    Subhanallah...DIAlah Sang Maha Sutradara. Semoga Fikri & Fitri tetap selalu dibawah arahanNYA, kembali kehadiratNYA kelak, berkumpul dengan ayahbundanya di jannahNYA.Amin.

    ReplyDelete
  10. Innalilahi....
    Setiap kali mendengar berita kematian, setiap kali itu juga terasa bahwa kematian senantiasa bersama. Kedatangannya mengejut tanpa bisa kita mengelaknya.
    Semoga bliau berpulang dengan keredhoan Alloh dan juga mendapatkan kasih sayang Rasulullah di akhirat sana amin...

    ReplyDelete
  11. sama2 mbak...

    **masih hening juga hati ini kalo inget almarhumah**

    ReplyDelete
  12. betul Bunda, sama :-(
    pagi itu aku sampe sungkan karena kok kita yang datang bukannya menghibur si nenek atau apa, lha malah sesenggukan semua bikin suasana tambah pilu :-(

    ReplyDelete
  13. bener Rind..untuk Mbak Laila, bahkan Allah memutuskan untuk cepat memanggilnya

    ReplyDelete
  14. kegundahan hati?? kalo boleh menebak, mungkinkah itu kegundahan hati yang lazim dirasakan seorang ibu untuk anak-anaknya?? karena kalo betul, rasanya aku sering juga mengalami yang sama La, terutama dulu-dulu ketika pertamakali aku didiagnosa diabetes...

    **terus menguatkan dan mengikhlaskan hati, bahwa semua hanya milik Allah**

    ReplyDelete
  15. aminnn yaa robbal alamiinn...

    sama-sama mbak, terkadang memang nikmat yang ada didepan mata, sangat susah bagi kita untuk mensyukurinya, tetapi ketika nikmat (apapun itu) diambil dari kita, barulah kita merasa kehilangan

    sekarang (dan mungkin sudah sejak lama), Fitri dan Fikri benar-benar menjadi guru bagiku

    ReplyDelete
  16. betul, itu salah satu pelajaran yang aku dapat dari almarhumah Rik :-)

    ReplyDelete
  17. aduh si Fikri... iya ya Nov.. **baru sadar**
    iya nov, sama, berhari-hari aku selalu merinding juga kalau ingat almarhumah dan anak-anaknya

    ReplyDelete
  18. **peluk Dwina**

    sekarang pasti kamu bisa bayangkan kan ketika kami bertakziah kerumah duka?? :-((

    ReplyDelete
  19. sama-sama San...
    hidup (dan mati) seseorang, sesungguhnya memang menjadi pelajaran berharga buat kita semua

    ReplyDelete
  20. aminnn mbak wie...Subhanallah mbak, itu doa yang sungguh indah, ini aku jadi mbrebes mili lagi membaca doamu...

    atas nama FF terimakasih sekali **hugs** mari kita doakan yang terbaik untuk mereka

    ReplyDelete
  21. bener mbak, Allah sungguh telah menciptakan kematian sebagai sebuah misteri (kapan dan dimana waktu datangnya) untuk membuat manusia yang sering lupa diri ini, selalu ingat kemana akan berakhir

    aminnn terimakasih doanya mbak dian *hugs*

    ReplyDelete
  22. ikut sedih baca cerita diatas..., semoga yg terbaik selalu menyertai anak2 mba Laila, amin !!

    ReplyDelete
  23. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun...

    *nulis sambil brebes mili*

    tks for the sharing

    ReplyDelete
  24. Innalillahi Wainna Ilaihi Rojiun, semoga ALLAH membalas dengan surganya, buat Fitri dan Fikri sabar ya Nak jadilah anak sholeh dan sholehah ALLAH akan menjaga dan merawatmu, amin

    ReplyDelete
  25. aminnn

    sebagai sesama seorang ibu, gimana kita nggak nggugluk liat cerita begini yo mbak mit... **pilu**

    ReplyDelete
  26. iya, saya nulis postingannya kemarin juga masih brebes mili mbak...
    sama-sama, mari kita berdoa semoga kita termasuk orang-orang yang sabar dan ikhlas menjalani skenario kita masing2, aminn

    ReplyDelete
  27. Fitri masih terlihat ceria waktu menyalami kami satu per satu mas...
    waktu kita bertakziah kemarin, Fikri kebetulan sedang berada dirumah neneknya yang lain
    kita nggak bayangin kalo Fikri juga ada disitu **inget cerita nenek ttg saat2 terakhir mbak Laila**
    pasti kita semua pada nggugluk lebih parah disitu :-((

    ReplyDelete

  28. Innalillahi wa innailaihi rojiun, semoga Allah memberi surga buat almh.mbak Laila.
    Anak2nya sekarang diasuh siapa, Mbak?

    ReplyDelete
  29. aminnnn makasih doanya Tien..

    kemarin kita sempat tanya sama si nenek, tapi beliau bilang belum diputuskan..
    antara ikut neneknya
    atau bapak *tiri* nya
    atau mungkin keluarga om/tantenya (mba Laila anak ke 5 dari 7 bersaudara, alhamdulillah semua rukun dan guyub)
    setelah suasana duka mereda, insyaAllah nanti akan diputuskan..

    yang jelas, demi amanat alm ayah kandung mereka dulu, insyaAllah mereka masih akan tetap bersekolah di Al Hikmah (jadi masih satu sekolah sama kita, gitu)

    ReplyDelete
  30. Saya terharu sekali membacanya. Kekaguman dan doa saya untuk Fikri dan Fitri. Semoga mereka berdua tumbuh dewasa menjadi anak yang shaleh dan shalihah. Amin. Tfs cerita ini mb Wahida. Mengingatkan kita selalu atas kuasa dan rencana Allah Swt.

    ReplyDelete
  31. innalillahi wa innailahi roji'un..

    mbaca sambil nahan sesak n sakidnya dada ini mbaak... dan buliran itupun tak tertahankan ..

    Alhamdulillah, almarhumah di sayang Allah..

    Jalan Allah indah pada waktunya!!!
    mungkin Allah tidak memberi apa yang kita harapkan tapi Dia memberi Apa yang kita perlukan ...

    ReplyDelete
  32. innalillahi wa inna ilaihi rojiun....

    Semoga Fikri dan Fitri tabah dan bisa menjadi orang yang dibanggakan alm. orang tuanya.

    *sedih*

    ReplyDelete
  33. aduuuh sedih ya ceritanya. tapi mbak laila hebat banget. salut....

    ReplyDelete
  34. TFS mbak...bener-bener merinding. AL-Fatihah buat mbak Laila...
    Tapi skenario Allah memang benar-benar tepat yo mbak...Tidak akan memberi cobaan melebihi kemampuan hambanya. Dan anak-anaknya alm mbak laila benar2 anak 'pilihan'.

    ReplyDelete
  35. Skenario Allah memang maha dahsyat, bahkan di kisah pilu ini barangkali baru sepenggalnya saja, aku yakin kedua anak itu akan menjadi happy ending episode ini.
    Berbaktilah terus dengan doa pada kedua orang tuamu yang telah meninggalkanmu untuk sesaat .Ruhnya akan selalu menjagamu bersama bidadari serta penghuni nirwana kelak kamu akan disayang kembali nak

    ReplyDelete
  36. innalillahi wa inna ilaihi raji'un.... merinding bacanya mbak.. semoga Fikri & Fitri menjadi anak shaleh, yg akan selalu mengalirkan amal shaleh buat kedua orang tuanya.. AMin

    ReplyDelete
  37. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun...

    bener2 mba... bikin aku merinding dan berkaca2 nih...
    Fatihah u almarhumah... semoga Fitri dan Fikri mendapatkan y terbaik u masa depannya kelak..

    ReplyDelete
  38. amiinnnn

    aduh kakak, tak sadarkah kak lily bahwa kakak juga salah satu manusia terpilih....ujian selama tsunami kemarin itu buktinya kak... **hugs**

    ReplyDelete
  39. .....iya, dan pastinya yang terbaik buat kita ya Cha

    **peluk Ocha**

    ReplyDelete
  40. aminnn

    aku sendiri jadi ingat anak2 ku mbak...mashaAllah... :-(

    ReplyDelete
  41. iya mbak Arum, semoga kita bisa memetik pelajaran dari kisah hidup mbak laila, insyaAllah

    ReplyDelete
  42. terimakasih Al Fatihah nya mbak Mar...
    itulah juga yang membuat hatiku haru biru, betapa Allah sudah membuktikan bahwa dia sangat menyayangi umatnya, dengan cara-cara luar biasa dan seringkali tak disangka-sangka

    ReplyDelete
  43. amin mas, terimakasih..

    **gak tau musti ketik gimanalagi** :-(

    ReplyDelete
  44. aminnnn makasih ya Yuniq, itu juga harapan kami semua yang disini ^_^

    ReplyDelete
  45. terimakasih Fatihahnya Mbak Asri,
    aminnn aminn ya robbal alamiin :-)

    ReplyDelete
  46. **sudah ngeklik dan baca**

    dalem banget itu mbak arum :-)

    ReplyDelete
  47. *makanya kok udah tertera sebagai visitor.....ya iya lah....bodohnya.....*

    ReplyDelete
  48. Aku pernah nagis sendiri di dalam mobil ,waktu itu aku pulang kerja dari kantor lamaku melihat anak kecil dijalanan di suruh ngemis sama (katanya orang tuanya). inget anakku yg seusia dia. barangkali orang melihat tampangku itu gahar ternyata dibalik itu ada sisi lain yg aku gak bisa sembunyikan termasuk saat baca kisah ini

    ReplyDelete
  49. Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun..semoga almarhumah diterima di sisi-NYA..

    air mataku ngga berhenti2 nih jeng sejak baca dari awal..TFS..

    ReplyDelete
  50. Subhanallah... subhanallah... subhanallah... aku merinding Mbak bacanya... Ikut mengirim doa unutk beliau moga kekal di surga Allah kelak, dan putra-putrinya makin tegar menjalani hidup (pastinya mereka juga dapat warisan semangat dari sang ibunda).

    ReplyDelete
  51. iya mas, gpp malah bagus lagi...
    kalo masih bisa menangis, berarti hati nurani masih utuh menyembulkan diri kan??

    :-)

    ReplyDelete
  52. aminnnn makasih doanya Mbak Arie

    iya mbak, kita sebagai sesama ibu, aku bisa merasakan apa yang dirasakan Mbak Arie... Ya Allah... **peluk Mbak Arie**

    ReplyDelete
  53. aminnn insyaAllah... ada satu hal yang diam-diam aku syukuri La, yaitu ketika tahu bahwa mereka masih akan meneruskan sekolah di sekolah yang sama dengan Abe... aku ingin Abe bisa terus belajar dari mereka (terutama Fikri)

    ReplyDelete
  54. innalillahi wa inna ilaihi raji'un....

    postinganmu mengingatkanku dengan kejadian 4 tahun yl, saat Almarhum Bapak juga harus menyerah kanker........
    Kita tidak bisa berbuat apa-apa kalau sudah memang sudah kehendakNya....

    ReplyDelete
  55. innalillahi wa inna ilaihi raji'un....

    Al fatihah untuk beliau....

    ReplyDelete
  56. Nice story..
    Innalillahi wa inna ilaihi rojiun

    ReplyDelete
  57. Duh sampe nangis bacanya...semoga Fikri dan Fitri (nama yg indah) menjadi anak sholeh dan sholehah...Amin!!!

    ReplyDelete
  58. Amiin mbak... **kekep eraaad mbak ida**

    ReplyDelete
  59. iya Den, skenario semua orang memang sudah dibuat, tinggal bagaimana yang menjalaninya, semoga kita termasuk orang-orang yang bisa ikhlas menjalani hidup kita ini ya, aminnn

    ReplyDelete
  60. itulahhhhhhhh.................aku beberapa hari ini sengaja gak jemput anak2 di sekolah....gak sanggup rasanya melihat mata mereka yang merindu akan di jemput ibunya......sepulang sekolah dalam hati aku minta maaf karena tidak bisa jemput Adel dan khansa.........membayangkan bagaimana mereka ingin berbagi cerita disekolah ke Ibunya........gak sanggup rasanya.... tapi kita kembali sepada Allah SWT yang Maha segalanya.....hanya Allah yang tahu yang terbaik buat mereka......Amiiin.

    ReplyDelete
  61. subhanallah...aku ikut senang melihat Fatihahnya mbak..
    bener apa yang dibilang mbak Agustin kapan itu
    sesungguhnya, Fitri dan Fikri sekarang jadi anak-anak kita
    semua walimurid di Sekolah Al Hikmah

    ReplyDelete
  62. yes, nice but sad and true in the same time right? :-(
    thx for dropping some lines :-)

    ReplyDelete
  63. iya mbak, namanya kita ibu2 ya mbak Linda..
    sama seperti waktu Mbak Linda cerita tentang ponakanmu kemarin itu

    aminnnnn makasih doanya ya Bude.... **peluk Mbak Linda, mewakili FF**

    ReplyDelete
  64. oalah mbak, pancen mrontak hati ini kalo memikirkannya seperti ini
    oya, aku jadi inget, aku nulis sesuatu di majalah bulan depan
    di halaman belakang, sesuatu menyangkut cerita FF ini
    baca ya :-)

    sementara itu mari kita doakan saja yang terbaik buat mereka berdua
    aku setuju kata Mbak Agustin kemarin,
    bahwa sesungguhnya mereka sekarang adalah anak kita semua para walimurid Sekolah Al Hikmah

    ReplyDelete
  65. Allah memuliakan mereka dan keturunannya. Amien....

    ReplyDelete
  66. amin, insyaAllah...makasih mas rohmat :-)

    ReplyDelete
  67. innalillahi wa inna ilaihi rajiun..

    nyesek bacanya Da... :( kagum banget sama almh Mbak Laila. Aku percaya, sekolah di Al Hikmah saja tidak akan cukup bila tidak diimbangi dgn arahan orangtua/walinya. Dan Almarhumah sudah membuktikan itu. Subhanallah...semoga almh Mbak Laila mendapatkan tempat terbaik disisi Allah, dan buat Fikri-Fitri, semoga makin soleh/solehah, agar kelak Allah pertemukan lagi dengan kedua orgtuanya di Jannah...amiin

    *Tfs, bu...*

    ReplyDelete
  68. aminnnn terimakasih doanya mbak
    cerita mereka ini memang "chicken soup for our soul" banget ya...

    ReplyDelete