Sunday, September 23, 2007

Menikah Muda Part 3 : Kerikil Yang Mulai Menguji Kesabaran

Wah sekarang sudah ada editor yang mengejar-ngejar dan ngoprak-ngoprak postingan lanjutan kisah pernikahanku hueheheheh (terimakasih perhatiannya temans, specially tya dan mas yudi kalian lah penyemangat bagi mood menulisku yang hari-hari ini lagi dudul, well maklum Ramadhan banyak rutinitas khusus –alasan.com- hehehe)

 

Oke, ini dia Bagian ke-3...

Cerita sebelumnya bisa dilihat di Menikah Muda Part 1 dan Part 2

***

 

 

Mengapa kupilih dia menjadi suamiku?

Karena dialah laki-laki yang bisa membuatku jatuh cinta, itu sudah pasti. Bagaimana dia bisa membuatku jatuh cinta? Well, I’ll tell you why...yang pasti bukan cinta pada pandangan pertama karena meskipun percaya, tetapi aku tahu pasti bahwa “love at a first sight” is definitely not for me..it just won’t work on me... :D

 

Masalah agama, tidak usah ditanya lagi merupakan suatu keharusan yang mutlak, tentu saja. Sholat tertib dan lain sebagainya ibarat seleksi adalah tahap pertama yang sudah dilewati si mas. Tetapi lebih khusus lagi, ada sifatnya yang waktu itu ternyata sanggup menawan hatiku dan membangkitkan kekaguman dalam diriku. Lebih dari cowo-cowo lain yang pernah mendekatiku.

 

“Dia adalah orang yang tanpa ragu akan mendahulukan dirinya sendiri ketika menghadapi kesusahan, dan sebaliknya, dia orang yang juga tanpa ragu akan mendahulukan orang lain ketika menghadapi kesenangan”. Kenyataan ini kusaksikan dengan mata pikiran dan hatiku sendiri ketika selama lebih 2 minggu berkegiatan di Pondok Pesantren Liburan tempat kami bertemu, melalui bagaimana cara dia memperlakukan orang lain (khususnya anak-anak kecil dan orang tua). Menunjukkan sebuah rasa tanggungjawab yang luar biasa.

 

Bagiku cukup sudah, itulah syarat utama untuk menjadi seorang laki-laki sejati dimataku. Seorang suami dan imam yang pantas kelak, seorang figur ayah dan laki-laki yang akan menjadi panutan anak-anakku nantinya. Walaupun waktu itu dari luar penampilan dan cara bergaulnya tidak berbeda dengan remaja seusianya yang lain, tetapi ketika aku melihat kedalam dirinya, bahkan ketika masih berumur 18 tahunpun, dimataku dia adalah sosok laki-laki dewasa yang matang dan sejati.

 

Laki-laki yang akan bisa dan mau diajak untuk segera menikah.... :-)

 

***

 

Kami pulang dari perjalanan haji (1997) dengan membawa segudang rencana berdua. Setidaknya ada 3 poin rencana besar : kerjaan, anak dan kuliah. Kami (terutama aku tentu saja :D) ingin secepatnya menimang bayi, apalagi setelah haji selesai, maka akupun bebas untuk hamil. Kuliah sambil ngurusin anak? Well, no problemo karena memang aku sudah siap (paling nggak secara mental). Bagaimana caranya? Well, we’ll figure it out somehow, wong memang sudah niat, insyaAlloh pasti akan ada jalan, begitu pikirku saat itu :D

 

Saat itu kami masih tinggal menumpang dirumah mertua. Sebelumnya, sudah sejak SMA si mas sudah terbiasa bekerja. Dari yang sifatnya membantu usaha orangtua maupun proyek “apa saja” yang dia kerjakan bersama beberapa temannya di “Gang Molen”. Dari event organizer, usaha sablon sampai order membuat panggung, semua mereka kerjakan. Aku masih ingat betul, mas kawin dan biaya akad nikah kami dulu adalah hasil dari proyek si mas membuat dekorasi panggung untuk acara off-air dangdut nya Indosiar :D

 

Dengan sifat mandiri dan tanggungjawab yang dimiliki suami (sifat yang dulunya telah membuatku jatuh cinta padanya), sebenarnya aku tidak heran ketika sehabis menikah, keluar ultimatum ini : “Mulai detik ini, aku suamimu yang akan bertanggungjawab penuh atas kamu. Maka perlakukanlah aku sebagaimana seorang laki-laki dengan memutuskan ketergantunganmu secara finansial dari orangtuamu, seberat apapun itu!” Maka resmilah, hasil kerja serabutannya yang dulu hanya menjadi tambahan uang saku buat dia, sekarang menjadi tulang punggung keuangan kami berdua. Dan kalau merujuk pada jumlahnya, setelah diambil untuk biaya kuliah kami berdua, tinggal sedikit saja yang akan tersisa (kalau tidak mau dikatakan hampir habis).

 

Secara ide, aku setuju sekali dan tak urung merasa menjadi istri yang bangga. Tetapi ternyata dalam prakteknya, hal ini seringkali memicu pertengkaran diantara kami. Keteguhan suami dengan ultimatumnya itu, kadang-kadang karena keadaan dan kebutuhanku, kurasakan sebagai hal yang keras kepala dan egoistis seorang laki-laki. Sepeserpun, dia nggak mau memakai tabungan yang sudah kupunya sejak sebelum menikah (kecuali untuk kebutuhan buku kuliahku, dia masih mengijinkan, untuk buku, bukan untuk SPP). Bukan hanya aku, tetapi orangtua dan mertua seringkali harus sedikit mengelus dada karena sepertinya mas ini alergi menerima bantuan uang walaupun sekedarnya.

 

“Kita harusnya sudah cukup malu karena masih tinggal menumpang di rumah bapak dan ibu,” begitu dia selalu membujukku. Niat kita untuk mengontrak atau kost memang tidak kesampaian karena ibu mertua keburu menangis memohon kami untuk tinggal dirumah beliau. “Mungkin akan lebih mudah kalau orangtua kita miskin, tetapi dengan kondisi ekonomi orangtua kita yang cukup berada, kita harus lebih kuat lagi dalam berjuang menghindarkan diri kita dari kemanjaan dan ketergantungan seperti ini... Ayolah, nduk, ini rumah tangga kita sendiri kan??” begitu dia selalu menguatkan hatiku, dan kalo dia sudah memanggilku dengan sebutan “Nduk” begini, rasanya aku sudah luluh kehabisan rasa untuk menjawab.

 

Siapapun pasti tahu (khususnya wanita hehe), awal-awal tinggal dengan ibu mertua merupakan sesuatu yang challenging. Bahkan dengan mertua sebaik mertuaku, aku masih sering merasa homesick. Rindu keluarga di kampung, terutama ibuku. Sebelum menikah, setiap weekend aku selalu pulang kampung ke Tulungagung (ingat kan betapa aku adalah anak rumahan??). Perjalanan dengan bus selama 3-4 jam itu sudah jadi rutinitas bagiku setiap Jumat sore. Setelah menikah, masa-masa adaptasi tinggal dirumah ibu mertua menjadikan kebutuhanku untuk pulang kampung, bertemu ibukku dan nge-charge diri secara emosional semakin menjadi-jadi.

 

Maka dimulailah masa-masa yang menguji kesabaran itu...

 

Kerinduanku pada rumah dan keluarga di kampung, seringkali berujung dengan tangisan sendu sendiri di kamar kami. Mas sering menolak untuk pulang ke Tulungagung karena sekedar ongkos bus pun seringkali tak punya. Mending kita simpan untuk bensin motor buat kuliah dan kerja, selalu begitu alasannya. Tabunganku yang kukumpulkan waktu sebelum menikah, out of question, tak layak dipakai.

 

Beberapa kali aku lepas kontrol dan menyebut mas kepala batu, keras kepala (astaghfirullah) dan dijawabnya dengan memberikan 2 pilihan “Terserah kamu, kamu sabar sampai aku dapatkan uang untuk ongkos kita ke Tulungagung, atau kamu pulang saja sekarang sendiri.” Seringkali aku dengan emosional berniat berangkat saja sendiri ke kampung, tetapi untungnya Allah masih melindungi dan itu tidak pernah sampai terjadi.

 

 

Waktu itu, mas baru saja keluar dari Gang Molen, dan memutuskan untuk memulai usahanya sendiri. “Teman-teman di Molen berjalan cepat, sedangkan aku perlu berlari cepat sekarang,” alasannya. Dalam hati aku pun sering merasa bersalah, karena merasa membuatnya berada dalam tanggungjawab dan beban yang teramat besar gara-gara menikahiku. Ketika teman-teman seusianya sedang seru-serunya “gaul” sana-sini, Mas Iwan menghabiskan waktunya untuk banting tulang mencari nafkah bagi kami. Pagi kuliah, siang sampai sore dihabiskannya di proyek tempatnya bekerja di salah satu dosennya di Teknik Sipil. Seringkali malam baru pulang, ketika aku sudah terlelap tidur. Ketika di akhir pekan kuliah libur, itu adalah waktu berharga yang bisa dihabiskannya untuk...bekerja diluar kota! Waktu itu dia sedang menjajaki usaha berdagang, dan survei yang dia lakukan bisa memakan waktu 2-3 hari perjalanan ke luar kota. Hanya sekali aku diijinkan ikut (itupun setelah bujuk rayu kulancarkan), tetapi tidak pernah lagi karena selain pertimbangan biaya yang membengkak, kondisi fisikku tidak sanggup mengimbangi ritme kerjanya yang luar biasa (siapa yang bisa? pikirku waktu itu).

 

Melihat bagaimana kerasnya dia bekerja, homesick dan keinginanku pulang kampung semakin jarang aku ungkapkan. Aku sungguh tidak tega. Waktu dimana kemudian tiba-tiba dia menawarkan untuk pulang kampung (biasanya sebulan sekali, pernah sampe 3 bulan) selalu kusambut dengan air mata haru dan rasa syukur yang tidak terkira. Tak kubayangkan, pulang menemui ibukku yang dulu menjadi rutinitas tiap akhir pekanku, bisa begitu nikmatnya kurasakan...

 

Aku paling suka perjalanan pulang kampung bersama mas waktu itu. Saat itulah, di bus, selama 4 jam perjalanan kita bisa punya waktu mengobrol panjang lebar. Tentang apa saja. Kelak, sampai sekarang pun kebiasaan mengobrol dalam kendaraan ini masih menjadi aktivitas yang kami berdua sangat sukai. Bedanya, dulu di bus aku bisa dengan bebas sandaran di bahu mas, sedangkan sekarang tidak karena dia harus menyetir (dua-dua nya menyimpan kenikmatan sendiri karena berarti sekarang kita sudah bisa membeli mobil sendiri kan :D)

 

Melihat bagaimana kerasnya dia bekerja juga yang akhirnya membuatku memutuskan untuk menghabiskan waktuku di kegiatan kampus. Daripada menghabiskan waktu merenungi diri sendiri yang meskipun baru menikah tapi sering ditinggal suami sampai malam bahkan berhari-hari (untung waktu itu belum ada istilah “jablai” ya :D). Dunia organisasi yang sudah kuakrabi sejak SMP pun menjadi pelampiasan yang positif. Kepengurusan di Senat yang praktis banyak kutinggalkan setelah menikah, akhirnya menjadi rumah kedua lagi buat aku.

 

Aku membayangkan, waktu itu pasti mertuaku sering mengernyitkan dahi campur prihatin melihat kesibukan kami berdua. Kulihat Mas Iwan sering menenangkan hati ibunya bahwa kami baik-baik saja, dan harap maklum karena memang lagi sibuk2nya di kampus.

 

Di tengah ritme kesibukan kami yang luar biasa dan intensitas pertemuan kami yang sangat terbatas itulah, muncul kabar gembira. Sepulang dari kegiatan PsychoCamp (program orientasi senat untuk mahasiswa baru) di daerah Malang selama 3 hari, aku mendapati bahwa aku hamil.... :-)

 

Semua menyambut dengan antusias. Orangtua dan mertua (mau punya cucu pertama!), adik-adik, ipar dan teman-teman di kampus (mau punya ponakan pertama!), dan tentu saja kami berdua (tentu saja ini akan jadi anak kami yang pertama kan!). Teman-teman di kampus sudah sibuk membuat jadwal siapa yang sedang off kuliah untuk jagain anakku waktu diajak ke kampus :D (duh...I miss u guys all now hiks). Mertua sudah menyiapkan banyak rencana apa yang akan dilakukan bersama cucunya nanti saat aku harus kuliah. Orangtuaku malah sudah merencanakan membeli rumah supaya bisa sering-sering menginap di Surabaya (rumah yang tentu saja Mas Iwan sudah menolak untuk tinggali, kecuali dia boleh mengontrak dari Bapakku :-S). Kehamilaku baru menginjak 2 bulan ketika dada semua orang sudah penuh dengan semangat dan rencana untuk bayiku nantinya. Sambil tersenyum mengelus perutku, aku selalu bilang pada si kecil “kamu sungguh beruntung...”

 

Sungguh tidak ada yang menyangka bahwa kegembiraan dan antusias kami semua waktu itu adalah awal dari sebuah ujian besar dalam sejarah rumah tangga kami...

 

(to be continued...:D)

 

47 comments:

  1. duh, mbak... lengkap banget!!! serasa "menyaksikan" langsung. aku tunggu lanjutannya yaaa..!

    ReplyDelete
  2. waakksss satu lagi editor baru...huehehehe terimakasih banyak atas perhatiannya bunda...*hug*...semoga ceritanya mengandung hikmah... :-)

    ReplyDelete
  3. panggil elly ajah, mbak.. aku belom jadi bunda... :)
    okey, deh... aku bener nunggu lanjutan ceritanya..! salam kenal dari bekasi.

    ReplyDelete
  4. oke deh elly, salam kenal juga dari surabaya nih, dan nanti kalo sudah jadi bunda, cerita2 ya.. :-)

    ReplyDelete
  5. wah salut nih sama mas nya mbak wahida..! memang laki2 harus begitu..bertanggung jawab sepenuhnya terhadap istri dan anak2..(alhamdulillah suamiku juga gak mau minta atau dikasih dari ortu2 kita semuanya dari hasil keringat sendiri). Ayo mari kita tularkan sikap kemandirian kepada anak2 kita mbak..lho koq jadi kayak kampanye hehehe..salut mbak !!

    ReplyDelete
  6. duuuh.. mba bagus baget tulisannya.... seakan-akan tie liat film... bermain imajinasi setelah baca tulisannya , ditunggu kelanjutannya yah mba..;)

    ReplyDelete
  7. Ah, endingnya kok gantung siiih... Berantem-berantem gitu sih biasa kali ya? (maklum, baru ngerasain juga :D) Kocak deh temen-temen kampusnya, sampai bikin jadwal gitu...

    ReplyDelete
  8. asik ada cerita seru :)) jangan cepet2 ditamatin ya mbak

    ReplyDelete
  9. yup bener, Abe dan Bea sungguh beruntung ;))

    ReplyDelete
  10. udah tiga episod kok monsternya blom keluar2 juga sihhh?


    :D

    ReplyDelete
  11. Wah beruntung banget ya..(suami sama istri sama2 beruntung.....). Semoga langgeng....Eh part 4-nya jangan lama-lama di-release-nya ya.....

    ReplyDelete
  12. mbak wahida ntr kalo udah tamat dibikin novel aja mbak, bagus critanya, memang crita ttg penikahan dan kehidupan setiap org memang beda, tp pasti ada yg namanya ujian ini itu...ya gak? apalagi mbak sgt beruntung bs dpt suami yg sangat pengertian dan tg jawab sprti si mas..wah wah salut buat mbak n suami jg anak2...to be continued nya masih byk kan mbak???....hehehe

    ReplyDelete
  13. iya nih...ntar dibukukan aja...(btw..saya menyimpan banyak komentar untuk mb Wahida dan suami., tapi sabar dulu ya..ntar saya ungkapkan kalo ceritanya sudah tamat).

    ReplyDelete
  14. wah yang ini setuju banget nih mbak..!! Kampanyenya bagus kok, saya yang pertama mendukung :D *siapa nyusul?*

    ReplyDelete
  15. yang kaya gini nih yang bikin jadi tambah semangat menulis...it's my pleasure mbak santi...terimakasih banyak dukungannya :-)

    ReplyDelete
  16. iya mbak, they had been amazingly supportive...i miss them much now, since we're mostly living apart now, in different city, even different continent... :-)

    ReplyDelete
  17. waahhh mbak nely, saya kok jadi ingat nasib sinetron2 dudul indonesia yang alur ceritanya dipanjang panjangiiinnnn gak karuan gitu... :-S

    ReplyDelete
  18. rasanya memang pantas saya bersyukur atas semuanya ini ya sita...terimakasih komennya ya :-)

    ReplyDelete
  19. kikikikikik dasar ibu ranger ya..!! sudah nggak sabaran pingin fighting ya mbak Har?? :b

    ReplyDelete
  20. amin mbak irma, terimakasih doanya *hug*
    hemm..part 4 apa enaknya di-release waktu lebaran aja ya mbak? pas nggak momennya? nggak kelamaan? ntar promosiinnya nggak susah? *gayanya diskusi dan mbak irma yang jadi partner marketingnya* :D

    ReplyDelete
  21. wah kalo kejadian beneran, jangan lupa beli di UK bookstore terdekat ya ;-)

    ReplyDelete
  22. ini dia yang sangat bikin penasaran...!!! mbak lily bisa aja sih??? jadi pingin cepat2 tamatin aja ceritanya aahh!! :D

    ReplyDelete
  23. thank you all atas semua perhatian dan dukungannya..tadinya saya mulai nulis cerita ini karena capek kalo jelasin ke teman2 baru tentang pernikahanku, jadi kalau ada yang tanya kan tinggal kasih link blognya..

    nggak menyangka teman2 semua memberikan perhatian dan support luar biasa untuk saya tetap menulis *demi Allah saya terharu banget!! hikss*

    semoga semua bisa membawa hikmah, buat saya maupun buat yang sudah sudi membaca, apalagi yang mendukung dan mendoakan rumah tangga kami...berjuta terimakasih..!! ^_^

    ReplyDelete
  24. eeh... kok malah pidato...
    monsternya jadi keluar ga?
    pengen liat adegan brantemnya niiy...


    bweheheheheheeh.... :D

    ReplyDelete
  25. kok ya masih bersambung lagi to mbak
    yongalah....
    marahi ra iso turu.....
    (cerewet banget nih yudex-batine mbak wahida)

    ReplyDelete
  26. wah yang ini jadinya bukan novel, tapi buku komik nih...pake adegan berantemnya segala...kikikikikik

    ReplyDelete
  27. weleh...iku goro2 kopi aceh mas, bukan gara2 aku..huehehehehe :b

    ReplyDelete
  28. inspiring!

    thank you for sharing, sister..

    ReplyDelete
  29. tell me about it, sis...
    I've been inspired too, all this long... ;-)

    thx for stopping by... :-)

    ReplyDelete
  30. whuaaaaaaaaaa..................mesti mbak iki...nggarai terharu wae ahhh........:-(

    ReplyDelete
  31. mesti adik iki... nggarai aku gemes ae huehehehhe *cubit pipimu* :b

    ReplyDelete
  32. good.........good.......good............nice story. ^_^

    ReplyDelete
  33. jadi malu nih mbak *blush* he he he

    thx for mampir dan menyempatkan membaca :-)

    ReplyDelete
  34. episode selanjut2nya jadi penasaran mau bacanya. Tp aku tunda dulu yah...ntar lanjutin lg deh. Palajaran kehidupan

    ReplyDelete
  35. duhhhh....speechless menanggapinya nih... :-S

    silakan mbak, ntar kalo dibaca sekaligus takutnya keluarga paa protes, soalnya memang panjaaaaannnnnnggggg dan lamaaaaaaaa *kaya iklan coklat jadinya* hehehe...

    thx..

    ReplyDelete
  36. nama saya Thole (anggap saja begitu, krana saya suka pangilan itu), salam kenal. cuman pingin ngucapin trims sudah mengingatkan saya hehehehe.

    ReplyDelete
  37. salam kenal juga Thole...
    wah mengingatkan apa nih...jadi penasaran hehe... :-D

    ReplyDelete
  38. yak...yak...bentar lagi adegan actionnya keluar, bli...

    *hahaha komentar2 bli Gede lucu banget ini* :-D

    ReplyDelete
  39. Salut buat orang2 yang patuh sekali pada suaminya, walaupun sebenarnya sangat berat buat dirinya. Tinggal di rumah mertua, hanya ke rumah ortu atas ijin suami, tidak emosional pulang kampung sendiri. Eh..ngomong2 benar nih belum pernah pulang kampung sendiri gara2 suami gak punya ongkos? Kalau ya super salut buat Anda. Dan kayaknya sekarang memetik buah dari kepatuhan itu ya...

    ReplyDelete
  40. hehehe alhamdulillah, insyaallah benar... siapa berani berangkat sementara suami gak ridho?? thx to ibukku mas, yang selalu menanamkan kepatuhan pada perintah suami (perintah suami yang baik tentunya) :-D

    terimakasih mas
    **hihihi kalo ingat jaman2 itu, duuhhhh**

    ReplyDelete
  41. hahahaah tuh kan apa kubilang???
    jangan nggethu2 bacanya.....disambi2 kalo perlu dicicil sebulan dua bulan.....

    *i've warned you** :-D

    ReplyDelete
  42. aku gak sabar ah... mlayu menuju ke bag 4..komennya ntar ae :D

    ReplyDelete