Wednesday, June 23, 2010
Tuesday, June 15, 2010
"Mama, SEX Itu Apa Sih?"
***
Kalau ada satu hikmah yang kurasakan dari blowing-up pemberitaan video Ariel-Luna Maya yang (menurutku) sudah over-exposed itu, adalah ramai dan serunya pembicaraan di kalangan sesama orangtua. Temanya? Apalagi kalau bukan ini : bagaimana anak-anak kami bereaksi terhadap pemberitaan video porno ArieLuna itu. Dibalik carut marut urusan moral dibelakang tersebarnya video itu, di sisi lain sungguh ini jadi momen yang sangat kondusif sebenarnya, untuk kami para orangtua belajar dan berlatih lagi menghadapi kejutan berupa pertanyaan-pertanyaan anak-anak mengenai hal yang selama ini hampir selalu membuat orangtua-orangtua mules, yaitu soal SEKS.
Barusan di BBM Mb Levie bercerita, bahwa keponakannya yang berumur 8 tahun, sempat membuat mamanya kehabisan kata-kata. Waktu itu ditengah-tengah acara keluarga besar, kebetulan si mama sedang berkutat dengan beberapa saudara membahas sebuah video di BB nya. Tanpa diduga si anak ngeloyor lewat didepannya sambil berseloroh “Video porno lagi....!! Video porno lagi...!!”
Semua orang kaget sementara setelah ditanya lebih lanjut, si anak ternyata nggak ngerti apa itu “video porno” dan dia hanya sering mendengar kata itu banyak disebut di berita TV akhir-akhir ini. Gubrax kan?? Si mama pikirannya udah shock kemana-mana tuh demi mendengar anaknya menyebut kata “Video Porno”.
“MAMA, SEX ITU APA SIH?”
Seorang teman pernah bercerita, saat itu anak cowoknya yang berumur 8 tahun sedang asyik membaca. Di ruangan yang sama, ada mama dan papa disitu. Tiba-tiba saja si anak bertanya.
“Sex itu apa sih?”
Mama dan papa kontan mematung, lalu saling pandang shock satu sama lain. Siap atau tidak, orangtua mana sih yang bisa selamat dari shock (walaupun sebentar) mendapat pertanyaan seperti itu dari anaknya yang masih 8 tahun? Dan didorong kepanikan yang sama, akhirnya tanpa bisa dicegah mereka menjawab bersamaan, tapi dengan jawaban yang sama sekali berbeda.
Mama : “Oh, itu artinya JENIS KELAMIN”
Papa : “Hus, itu kata-kata yang nggak baik nak!”
Selesai menjawab, kontan mama papa berpandangan lagi, tapi kali ini mama sudah melotot mendelik ke arah papa. Dan si anak garuk-garuk bingung. Mama pun buru-buru mengulangi jawabannya. “Itu kata dalam bahasa Inggris, artinya JENIS KELAMIN.” Si anak pun terlihat puas dengan jawaban itu, karena memang ternyata dia sedang membaca-baca form aplikasi sebuah brosur asuransi. Dan si papa harus menerima dengan lapang dada kesimpulan dari si anak “Oh iya sih, aku lupa, mama kan lebih jago bahasa Inggris daripada papa!” Hihihi.
Aku jadi teringat juga dengan cerita lain yang dituturkan seorang teman (Mbak Maya Wardhani) tentang keponakan cowoknya yang baru duduk di kelas 4 SD. Waktu itu sedang heboh berita kasus penolakan kedatangan artis Maria Ozawa alias Miyabi ke Indonesia.
Si mama sudah panik begitu pulang dari acara sekolah si anak lapor bahwa dia “melihat foto Miyabi”. Untunglah, mama sedikit lega ketika kemudian dia memastikan bahwa yang dilihat oleh anaknya adalah foto Miyabi di poster yang tertempel di dinding sebuah museum (yang artinya Miyabi sedang berbaju lengkap). Tetapi si mama terhempas kembali ketika si anak serius meneruskan rasa ingin tahunya.
“Miyabi itu siapa sih Ma? Mama kenal?”
“Miyabi itu bukan orang baik-baik, kamu gak perlu tahu tentang dia, karena gak ada yang bisa dicontoh darinya.” susah payah si mama ini akhirnya menjelaskan. Kita lihat apa kata si anak kemudian.
“Ohhh, pasti karena Miyabi sering nyontek ya ma, kalau ulangan. Makanya dia terkenal karena keburukannya. Aku nggak mau kayak dia, aku mau belajar aja biar pintar..”
“Iya... yaa... Iya, kamu belajar aja, jangan tiru Miyabi yang suka nyontek...” sahut si mama lemas dan langsung mengalihkan perhatian anaknya. “ Sana mandi dulu, abis itu kita makan malam yaaa...”
Habis perkara. Si anak kemudian berangkat mand dan si mama sibuk didapur menyiapkan makan malam sambil menjeduk-jedukkan kepalanya di panci dan sibuk mengunyah cabai merah keriting. Wkwkwk.
Oke. Pelajaran dan teori tentang pendidikan seks untuk anak-anak, udah lumayan banyaklah yang aku dapat selama ini. Katanya, satu kata kunci yang harus diperhatikan dalam pendidikan seks adalah UMUR anak-anak. Beda umur beda pula model dan metode pendidikannya.
Secara kognitif, mungkin anak-anak remaja sudah bisa diajak berdiskusi panjang lebar mengenai apapun itu, termasuk pendidikan seksual mereka. Rata-rata mereka juga sudah mendapat bekal dari sekolah tentang banyak hal seperti : alat reproduksi, reaksi kimia, dan lain-lain itu. Sekolah tertentu bahkan sudah menerapkan pendidikan karakter dan moral menyangkut bagaimana kita berhubungan dengan teman lawan jenis (misalkan menerapkan kelas terpisah antara siswa laki-laki dan perempuan di sekolah-sekolah berbasis Islam). Tetapi yang paling seru dan menegangkan memang kalau berurusan dengan anak-anak yang lebih muda umurnya. Let’s say 10 tahun kebawah. Asli mengejutkan dan bikin deg-degan!
Kenapa??
Karena jarak pengetahuan kognitif antara orangtua dan anaknya memang jauh. Pihak yang satu adalah anak-anak yang dunianya masih sederhana. Jumlah kata-kata yang dia mengerti saja masih sangat terbatas. Walaupun demikian, rasa ingin tahunya besar sekali, dan seringkali mereka sangat kritis dan bersemangat besar mengejar jawaban-jawaban yang diinginkannya. Apalagi kalau dia merasa belum puas dengan jawaban yang diberikan. Sedangkan di sisi lain, orangtua adalah pribadi dewasa yang tentu saja sudah belajar dan paham hal-hal seperti moral, soal mana sesuatu yang bersifat pribadi mana yang tidak, mana yang tabu dibicarakan mana yang tidak (menurut norma keluarga masing-masing tentu saja). Intinya, dunia orangtua adalah dunia yang sudah penuh dengan kerumitan.
Dan ketika anak-anak datang tiba-tiba dengan pertanyaan atau komentar seputar seks, mau tak mau orangtua hanya bisa melongo speechless kehabisan kata-kata. Seorang dosenku di Psikologi dulu mengatakan, bahkan dia yang sudah merasa sangat siap pun, pasti masih sempat mengalami fase “speechless” entah sedetik dua detik sebelum memberikan reaksi yang dirasa tepat. Itu tentu wajar, karena kita hidup dan dibesarkan di lingkungan yang sedikit banyak masih menganggap tabu urusan seks.
“AKU MAU SESENDOK SAJA MA, BUKAN SEBAKUL!”
Pengalaman dengan pendidikan seks untuk kedua anakku, Abe (8 tahun) dan Bea (6 tahun) sebenarnya cenderung lurus-lurus saja, tak banyak cerita heboh. Lima tahun pertama paling ya mengajak anak-anak memahami perbedaan laki-laki dan perempuan.
Ketika usia 4-5 tahun Abe pernah bertanya bagaimana proses dia lahir ke dunia ini. Aku santai saja menjelaskan bahwa dia lahir setelah dokter mengoperasi, mengiris dan membuka perut Ibuk, lalu menariknya keluar. Setelah itu dijahit kembali.
Waktu itu, jawaban itu memang masih cukup membuat Abe puas sambil kuperlihatkan saja bekas luka operasi diperut. “Waktu Bea lahir, bekas luka ini dibuka kembali untuk mengambil Bea.” Selebihnya, dia hanya tanya masalah “Apakah itu sakit” dan lain-lain.
Baru beberapa waktu kemudian ketika adik iparku melahirkan dengan cara normal (bukan caesar), dan Abe ngotot ingin melihat bekas luka (yang tentu tidak ada) di perut adik iparku, aku merasa jawaban yang dulu itu sudah tidak mencukupi lagi. Barulah aku menjelaskan tentang adanya “Lubang ajaib ciptaan Allah, yang tempatnya dekat dengan lubang pipis para perempuan, yang ketika wanita itu melahirkan maka Allah akan membuatnya melebar, cukup lebar sehingga bisa dilewati bayi di perut yang akan dilahirkannya dan lubang itu kemudian menutup kembali setelah adik bayi lahir.” (Note, kata-kata yang kugunakan memang persis seperti itu adanya, dan kuucapkan dengan intonasi yang biasa saja).
Aku ingat, kebetulan waktu itu Abe sedang belajar juga tentang kebesaran Allah dan ciptaanNya dan penjelasan pun dengan sukses kubelokkan tentang macam-macam kebesaran kebesaran Allah lainnya, seperti misalnya dia yang bisa sembuh dari pilek tanpa minum obat (aku memang sangat jarang memberikan obat2an kepada anak-anak kecuali memang sangat diperlukan). “Iya, itu karena memang Allah yang memberikan kesembuhan kepada kita.”
Berikan penjelasan secukupnya sesuai dengan yang mereka tanyakan. Dan tak perlu menjawab berlebihan (baik kata-kata maupun sikap). Selalu tips itu yang kuingat dari artikel-atikel yang kubaca.
Dan memang kalau dipikir-pikir, anak-anak kan memang masih sederhana ya dunianya? Jadi seiring waktu, aku hanya belajar dan berlatih untuk tidak over-reactive. Untuk memastikan apa sebenarnya yang ditanyakan oleh mereka (karena persepsi mereka bisa sangat beda dengan yang kita kira), kemudian memberikan jawaban sesederhana mungkin. Titik.
Memasuki kelas 3 SD setahun terakhir ini, keadaan menjadi jauh lebih rumit untuk Abe. Pulang sekolah, dia sudah mulai membawa oleh-oleh berupa segala macam teka-teki, ungkapan dan sajak-sajak yang agak berbau “pornografi” dari teman-teman sekolahnya. Pendidikan seks untuk Abe memasuki tahap baru, dimana informasi yang dia dapat bukan hanya berasal dari rumah dan orangtua. Tetapi juga dari pergaulan dengann teman-teman sebaya yang tentu saja bermacam-macam modelnya. Aku makin waspada, tentu. Tapi masih dengan usaha untuk tetap tidak over-reacting tentu saja.
Dirumah ini, penjelasan soal seks kebetulan kami sampaikan dengan intonasi yang sama biasanya dengan penjelasan hal-hal umum yang lain. Sebisa mungkin kami usahakan tak ada seruan “iiihhh!!” ataupun “husss!!” ataupun “masyaAllah!!!” ataupun “astaghfirullah!!” yang berlebihan.
Betapa leganya aku ketika suatu kali Abe datang dengan cerita ini.
Abe : “Heran, si A tadi itu (*menyebutkan nama temannya*) kok cekikikan ya Buk waktu pelajaran tentang tubuh manusia?? Trus gambar di buku paketnya dicoret-coret!”
Ibuk : “Lah, Abe kan juga suka gitu? Coret-coretin gambar di buku paket kan??” gambar2 manusia di buku paket Abe memang penuh ‘gambar tambahan’, dari kacamata, topi, roket, robot, pesawat, banyak!
Abe : “Lha tapi lho Buk, sama si A masak di tititnya dikasih gambar rambut-rambut gitu?? Pake spidol lagi! Titit kan aurat?!?!?”
Ibuk : *speechless sambil diam2 bersyukur bahwa Abe menganggap itu bukan sesuatu yang lucu*
“AKU TAK MUNGKIN TINGGAL DI CANGKANG YANG TERTUTUP MA!!”
Suatu kali, Abe bercerita bahwa seorang temannya mengajarkan pantun yang (setelah kudengar) agak-agak nyerempet. Bahasa Jawa, mulanya dia anggap itu lucu karena bunyinya yang berirama, dan didalamnya mulai terkandung kata-kata yang porno seperti penyebutan bagian-bagian tubuh wanita tertentu secara vulgar. (Eeerrgghhhhh it makes me angry betapa hal-hal macam ini tak bisa kita cegah untuk terjadi). Akhirnya aku jelaskan saja satu per satu apa arti kata-kata itu (yang ternyata sebagian besar Abe nggak ngerti apa artinya loh!) dan bahwa itu adalah aurat perempuan yang harus ditutupi, dan tidak sopan untuk dipakai becandaan seperti itu. Ternyata penjelasan itu pun cukup untuk Abe, dan dia pun segera melupakan pantun yang dimaksud.
Seiring mereka tumbuh, mereka memang sudah tidak sesederhana dulu lagi ya. Lingkup pergaulan anak-anak akan makin luas, sehingga informasi yang mereka terima pun makin banyak dan bermacam-macam. Apalagi dengan terjangan teknologi informasi jaman sekarang ini, rasanya mustahil kalau kita berharap bisa melindungi anak-anak dengan cara “MENCEGAH informasi tetentu sampai kepada anak kita”. Harapan ini menurutku terlalu naif karena prakteknya, di negara kita tercinta ini informasi apapun itu, sangat mudahnya diakses dari mana saja di sekitar kita. Tidak menonton TV tapi mungkin mereka akan tahu dari internet. Tak ada akses internet mungkin mereka akan dengar dari radio atau baca di koran. Tak baca koran, tapi lihat saja baliho dan billboard iklan-iklan di jalanan yang terkadang juga mengandung unsur pornografi. Didepan mata dan ditengah jalanan yang biasa kita lewati! Bayangkan! Belum lagi dari bisik-bisik dan obrolan diantara teman sebaya. Duh...
Mungkin akan lebih realistis untuk sedini mungkin mengajak anak-anak kita berlatih MENYARING informasi, sambil sekuat mungkin membentuk KARAKTER mereka sehingga anak-anak akan bisa bertahan menghadapi informasi-informasi yang seringkali sudah tidak pandang moral dan kesopanan ini.
Seminggu terakhir ini, sejak berita video ArieLuna tersebar, aku sebenarnya harap-harap cemas. Setengah bertanya akankah Abe akan bertanya tentang berita itu. Aku memutuskan untuk diam saja dan tidak proaktif tanya duluan karena takutnya Abe yang sebelumnya nggak tahu malah jadi tahu gara-gara aku bertanya. InsyaAllah aku tahu Abe, kalau dia tahu maka dia akan menanyakan ke aku.
Dan tadi siang, sepulang sekolah, (ditengah-tengah minggu UAS lagi!) meluncurlah pertanyaan itu...
“Buk, Ariel Peterpan katanya ditangkap polisi ya Buk?”
Ibuk yang sedang menyiapkan makan siang sempat berhenti mengaduk saus spaghettinya. “Iya, kata berita sih gitu... Abe tahu darimana?”
“Kemarin ada temen yang bilang di sekolah. Trus ini tadi lihat yahoo kok ada judul beritanya, Abe jadi inget deh.”
Temen di sekolah?? Ibuk aduk lagi saus di panci, kali ini agak terlalu kencang ngaduknya. Ya Allah!! Anak kelas 3 SD jaman sekarang, kok yaaaa sudah ada yang bergosip artis sihhh??
“Emang kenapa sih dia ditangkap polisi Buk?”
Ingat Ibuk, jawab secukupnya, berikan dia sesendok demi sesendok, jangan sebakul yaaa.... (*Ibuk wanti2 ke dirinya sendiri*)
“Orang kalo sampai ditangkap polisi ya berarti dia diduga melakukan sesuatu yang melanggar hukum, Be...”
“Trus Ariel diduganya ngapain??”....oh, dia minta sesendok lagi...didukung dengan tatapan mata yang menuntut menanti jawaban lagi...
“Polisi menduga dia membikin video yang melanggar peraturan gitu!”
Kulirik wajahnya dengan ekor mata (sambil terus mengaduk saus di panci)....
“Ohhh.... Videooooo toh....” katanya lalu ngeloyor teriak-teriak panggil Bea untuk diajak maen badminton.
Pfuihh....leganya! Untungnyaaaa temannya Abe cuma menyebut “Ariel Peterpan” dan “Polisi” yah?? (kalo kata mb IYa, dasar orang Jawa, masih ajaaaaaa bilang untungnyaaaaa hihihihi) :-D
==============
Kalau ada satu hikmah yang kurasakan dari blowing-up pemberitaan video Ariel-Luna Maya yang (menurutku) sudah over-exposed itu, adalah ramai dan serunya pembicaraan di kalangan sesama orangtua. Temanya? Apalagi kalau bukan ini : bagaimana anak-anak kami bereaksi terhadap pemberitaan video porno ArieLuna itu. Dibalik carut marut urusan moral dibelakang tersebarnya video itu, di sisi lain sungguh ini jadi momen yang sangat kondusif sebenarnya, untuk kami para orangtua belajar dan berlatih lagi menghadapi kejutan berupa pertanyaan-pertanyaan anak-anak mengenai hal yang selama ini hampir selalu membuat orangtua-orangtua mules, yaitu soal SEKS.
Barusan di BBM Mb Levie bercerita, bahwa keponakannya yang berumur 8 tahun, sempat membuat mamanya kehabisan kata-kata. Waktu itu ditengah-tengah acara keluarga besar, kebetulan si mama sedang berkutat dengan beberapa saudara membahas sebuah video di BB nya. Tanpa diduga si anak ngeloyor lewat didepannya sambil berseloroh “Video porno lagi....!! Video porno lagi...!!”
Semua orang kaget sementara setelah ditanya lebih lanjut, si anak ternyata nggak ngerti apa itu “video porno” dan dia hanya sering mendengar kata itu banyak disebut di berita TV akhir-akhir ini. Gubrax kan?? Si mama pikirannya udah shock kemana-mana tuh demi mendengar anaknya menyebut kata “Video Porno”.
“MAMA, SEX ITU APA SIH?”
Seorang teman pernah bercerita, saat itu anak cowoknya yang berumur 8 tahun sedang asyik membaca. Di ruangan yang sama, ada mama dan papa disitu. Tiba-tiba saja si anak bertanya.
“Sex itu apa sih?”
Mama dan papa kontan mematung, lalu saling pandang shock satu sama lain. Siap atau tidak, orangtua mana sih yang bisa selamat dari shock (walaupun sebentar) mendapat pertanyaan seperti itu dari anaknya yang masih 8 tahun? Dan didorong kepanikan yang sama, akhirnya tanpa bisa dicegah mereka menjawab bersamaan, tapi dengan jawaban yang sama sekali berbeda.
Mama : “Oh, itu artinya JENIS KELAMIN”
Papa : “Hus, itu kata-kata yang nggak baik nak!”
Selesai menjawab, kontan mama papa berpandangan lagi, tapi kali ini mama sudah melotot mendelik ke arah papa. Dan si anak garuk-garuk bingung. Mama pun buru-buru mengulangi jawabannya. “Itu kata dalam bahasa Inggris, artinya JENIS KELAMIN.” Si anak pun terlihat puas dengan jawaban itu, karena memang ternyata dia sedang membaca-baca form aplikasi sebuah brosur asuransi. Dan si papa harus menerima dengan lapang dada kesimpulan dari si anak “Oh iya sih, aku lupa, mama kan lebih jago bahasa Inggris daripada papa!” Hihihi.
Aku jadi teringat juga dengan cerita lain yang dituturkan seorang teman (Mbak Maya Wardhani) tentang keponakan cowoknya yang baru duduk di kelas 4 SD. Waktu itu sedang heboh berita kasus penolakan kedatangan artis Maria Ozawa alias Miyabi ke Indonesia.
Si mama sudah panik begitu pulang dari acara sekolah si anak lapor bahwa dia “melihat foto Miyabi”. Untunglah, mama sedikit lega ketika kemudian dia memastikan bahwa yang dilihat oleh anaknya adalah foto Miyabi di poster yang tertempel di dinding sebuah museum (yang artinya Miyabi sedang berbaju lengkap). Tetapi si mama terhempas kembali ketika si anak serius meneruskan rasa ingin tahunya.
“Miyabi itu siapa sih Ma? Mama kenal?”
“Miyabi itu bukan orang baik-baik, kamu gak perlu tahu tentang dia, karena gak ada yang bisa dicontoh darinya.” susah payah si mama ini akhirnya menjelaskan. Kita lihat apa kata si anak kemudian.
“Ohhh, pasti karena Miyabi sering nyontek ya ma, kalau ulangan. Makanya dia terkenal karena keburukannya. Aku nggak mau kayak dia, aku mau belajar aja biar pintar..”
“Iya... yaa... Iya, kamu belajar aja, jangan tiru Miyabi yang suka nyontek...” sahut si mama lemas dan langsung mengalihkan perhatian anaknya. “ Sana mandi dulu, abis itu kita makan malam yaaa...”
Habis perkara. Si anak kemudian berangkat mand dan si mama sibuk didapur menyiapkan makan malam sambil menjeduk-jedukkan kepalanya di panci dan sibuk mengunyah cabai merah keriting. Wkwkwk.
Oke. Pelajaran dan teori tentang pendidikan seks untuk anak-anak, udah lumayan banyaklah yang aku dapat selama ini. Katanya, satu kata kunci yang harus diperhatikan dalam pendidikan seks adalah UMUR anak-anak. Beda umur beda pula model dan metode pendidikannya.
Secara kognitif, mungkin anak-anak remaja sudah bisa diajak berdiskusi panjang lebar mengenai apapun itu, termasuk pendidikan seksual mereka. Rata-rata mereka juga sudah mendapat bekal dari sekolah tentang banyak hal seperti : alat reproduksi, reaksi kimia, dan lain-lain itu. Sekolah tertentu bahkan sudah menerapkan pendidikan karakter dan moral menyangkut bagaimana kita berhubungan dengan teman lawan jenis (misalkan menerapkan kelas terpisah antara siswa laki-laki dan perempuan di sekolah-sekolah berbasis Islam). Tetapi yang paling seru dan menegangkan memang kalau berurusan dengan anak-anak yang lebih muda umurnya. Let’s say 10 tahun kebawah. Asli mengejutkan dan bikin deg-degan!
Kenapa??
Karena jarak pengetahuan kognitif antara orangtua dan anaknya memang jauh. Pihak yang satu adalah anak-anak yang dunianya masih sederhana. Jumlah kata-kata yang dia mengerti saja masih sangat terbatas. Walaupun demikian, rasa ingin tahunya besar sekali, dan seringkali mereka sangat kritis dan bersemangat besar mengejar jawaban-jawaban yang diinginkannya. Apalagi kalau dia merasa belum puas dengan jawaban yang diberikan. Sedangkan di sisi lain, orangtua adalah pribadi dewasa yang tentu saja sudah belajar dan paham hal-hal seperti moral, soal mana sesuatu yang bersifat pribadi mana yang tidak, mana yang tabu dibicarakan mana yang tidak (menurut norma keluarga masing-masing tentu saja). Intinya, dunia orangtua adalah dunia yang sudah penuh dengan kerumitan.
Dan ketika anak-anak datang tiba-tiba dengan pertanyaan atau komentar seputar seks, mau tak mau orangtua hanya bisa melongo speechless kehabisan kata-kata. Seorang dosenku di Psikologi dulu mengatakan, bahkan dia yang sudah merasa sangat siap pun, pasti masih sempat mengalami fase “speechless” entah sedetik dua detik sebelum memberikan reaksi yang dirasa tepat. Itu tentu wajar, karena kita hidup dan dibesarkan di lingkungan yang sedikit banyak masih menganggap tabu urusan seks.
“AKU MAU SESENDOK SAJA MA, BUKAN SEBAKUL!”
Pengalaman dengan pendidikan seks untuk kedua anakku, Abe (8 tahun) dan Bea (6 tahun) sebenarnya cenderung lurus-lurus saja, tak banyak cerita heboh. Lima tahun pertama paling ya mengajak anak-anak memahami perbedaan laki-laki dan perempuan.
Ketika usia 4-5 tahun Abe pernah bertanya bagaimana proses dia lahir ke dunia ini. Aku santai saja menjelaskan bahwa dia lahir setelah dokter mengoperasi, mengiris dan membuka perut Ibuk, lalu menariknya keluar. Setelah itu dijahit kembali.
Waktu itu, jawaban itu memang masih cukup membuat Abe puas sambil kuperlihatkan saja bekas luka operasi diperut. “Waktu Bea lahir, bekas luka ini dibuka kembali untuk mengambil Bea.” Selebihnya, dia hanya tanya masalah “Apakah itu sakit” dan lain-lain.
Baru beberapa waktu kemudian ketika adik iparku melahirkan dengan cara normal (bukan caesar), dan Abe ngotot ingin melihat bekas luka (yang tentu tidak ada) di perut adik iparku, aku merasa jawaban yang dulu itu sudah tidak mencukupi lagi. Barulah aku menjelaskan tentang adanya “Lubang ajaib ciptaan Allah, yang tempatnya dekat dengan lubang pipis para perempuan, yang ketika wanita itu melahirkan maka Allah akan membuatnya melebar, cukup lebar sehingga bisa dilewati bayi di perut yang akan dilahirkannya dan lubang itu kemudian menutup kembali setelah adik bayi lahir.” (Note, kata-kata yang kugunakan memang persis seperti itu adanya, dan kuucapkan dengan intonasi yang biasa saja).
Aku ingat, kebetulan waktu itu Abe sedang belajar juga tentang kebesaran Allah dan ciptaanNya dan penjelasan pun dengan sukses kubelokkan tentang macam-macam kebesaran kebesaran Allah lainnya, seperti misalnya dia yang bisa sembuh dari pilek tanpa minum obat (aku memang sangat jarang memberikan obat2an kepada anak-anak kecuali memang sangat diperlukan). “Iya, itu karena memang Allah yang memberikan kesembuhan kepada kita.”
Berikan penjelasan secukupnya sesuai dengan yang mereka tanyakan. Dan tak perlu menjawab berlebihan (baik kata-kata maupun sikap). Selalu tips itu yang kuingat dari artikel-atikel yang kubaca.
Dan memang kalau dipikir-pikir, anak-anak kan memang masih sederhana ya dunianya? Jadi seiring waktu, aku hanya belajar dan berlatih untuk tidak over-reactive. Untuk memastikan apa sebenarnya yang ditanyakan oleh mereka (karena persepsi mereka bisa sangat beda dengan yang kita kira), kemudian memberikan jawaban sesederhana mungkin. Titik.
Memasuki kelas 3 SD setahun terakhir ini, keadaan menjadi jauh lebih rumit untuk Abe. Pulang sekolah, dia sudah mulai membawa oleh-oleh berupa segala macam teka-teki, ungkapan dan sajak-sajak yang agak berbau “pornografi” dari teman-teman sekolahnya. Pendidikan seks untuk Abe memasuki tahap baru, dimana informasi yang dia dapat bukan hanya berasal dari rumah dan orangtua. Tetapi juga dari pergaulan dengann teman-teman sebaya yang tentu saja bermacam-macam modelnya. Aku makin waspada, tentu. Tapi masih dengan usaha untuk tetap tidak over-reacting tentu saja.
Dirumah ini, penjelasan soal seks kebetulan kami sampaikan dengan intonasi yang sama biasanya dengan penjelasan hal-hal umum yang lain. Sebisa mungkin kami usahakan tak ada seruan “iiihhh!!” ataupun “husss!!” ataupun “masyaAllah!!!” ataupun “astaghfirullah!!” yang berlebihan.
Betapa leganya aku ketika suatu kali Abe datang dengan cerita ini.
Abe : “Heran, si A tadi itu (*menyebutkan nama temannya*) kok cekikikan ya Buk waktu pelajaran tentang tubuh manusia?? Trus gambar di buku paketnya dicoret-coret!”
Ibuk : “Lah, Abe kan juga suka gitu? Coret-coretin gambar di buku paket kan??” gambar2 manusia di buku paket Abe memang penuh ‘gambar tambahan’, dari kacamata, topi, roket, robot, pesawat, banyak!
Abe : “Lha tapi lho Buk, sama si A masak di tititnya dikasih gambar rambut-rambut gitu?? Pake spidol lagi! Titit kan aurat?!?!?”
Ibuk : *speechless sambil diam2 bersyukur bahwa Abe menganggap itu bukan sesuatu yang lucu*
“AKU TAK MUNGKIN TINGGAL DI CANGKANG YANG TERTUTUP MA!!”
Suatu kali, Abe bercerita bahwa seorang temannya mengajarkan pantun yang (setelah kudengar) agak-agak nyerempet. Bahasa Jawa, mulanya dia anggap itu lucu karena bunyinya yang berirama, dan didalamnya mulai terkandung kata-kata yang porno seperti penyebutan bagian-bagian tubuh wanita tertentu secara vulgar. (Eeerrgghhhhh it makes me angry betapa hal-hal macam ini tak bisa kita cegah untuk terjadi). Akhirnya aku jelaskan saja satu per satu apa arti kata-kata itu (yang ternyata sebagian besar Abe nggak ngerti apa artinya loh!) dan bahwa itu adalah aurat perempuan yang harus ditutupi, dan tidak sopan untuk dipakai becandaan seperti itu. Ternyata penjelasan itu pun cukup untuk Abe, dan dia pun segera melupakan pantun yang dimaksud.
Seiring mereka tumbuh, mereka memang sudah tidak sesederhana dulu lagi ya. Lingkup pergaulan anak-anak akan makin luas, sehingga informasi yang mereka terima pun makin banyak dan bermacam-macam. Apalagi dengan terjangan teknologi informasi jaman sekarang ini, rasanya mustahil kalau kita berharap bisa melindungi anak-anak dengan cara “MENCEGAH informasi tetentu sampai kepada anak kita”. Harapan ini menurutku terlalu naif karena prakteknya, di negara kita tercinta ini informasi apapun itu, sangat mudahnya diakses dari mana saja di sekitar kita. Tidak menonton TV tapi mungkin mereka akan tahu dari internet. Tak ada akses internet mungkin mereka akan dengar dari radio atau baca di koran. Tak baca koran, tapi lihat saja baliho dan billboard iklan-iklan di jalanan yang terkadang juga mengandung unsur pornografi. Didepan mata dan ditengah jalanan yang biasa kita lewati! Bayangkan! Belum lagi dari bisik-bisik dan obrolan diantara teman sebaya. Duh...
Mungkin akan lebih realistis untuk sedini mungkin mengajak anak-anak kita berlatih MENYARING informasi, sambil sekuat mungkin membentuk KARAKTER mereka sehingga anak-anak akan bisa bertahan menghadapi informasi-informasi yang seringkali sudah tidak pandang moral dan kesopanan ini.
Seminggu terakhir ini, sejak berita video ArieLuna tersebar, aku sebenarnya harap-harap cemas. Setengah bertanya akankah Abe akan bertanya tentang berita itu. Aku memutuskan untuk diam saja dan tidak proaktif tanya duluan karena takutnya Abe yang sebelumnya nggak tahu malah jadi tahu gara-gara aku bertanya. InsyaAllah aku tahu Abe, kalau dia tahu maka dia akan menanyakan ke aku.
Dan tadi siang, sepulang sekolah, (ditengah-tengah minggu UAS lagi!) meluncurlah pertanyaan itu...
“Buk, Ariel Peterpan katanya ditangkap polisi ya Buk?”
Ibuk yang sedang menyiapkan makan siang sempat berhenti mengaduk saus spaghettinya. “Iya, kata berita sih gitu... Abe tahu darimana?”
“Kemarin ada temen yang bilang di sekolah. Trus ini tadi lihat yahoo kok ada judul beritanya, Abe jadi inget deh.”
Temen di sekolah?? Ibuk aduk lagi saus di panci, kali ini agak terlalu kencang ngaduknya. Ya Allah!! Anak kelas 3 SD jaman sekarang, kok yaaaa sudah ada yang bergosip artis sihhh??
“Emang kenapa sih dia ditangkap polisi Buk?”
Ingat Ibuk, jawab secukupnya, berikan dia sesendok demi sesendok, jangan sebakul yaaa.... (*Ibuk wanti2 ke dirinya sendiri*)
“Orang kalo sampai ditangkap polisi ya berarti dia diduga melakukan sesuatu yang melanggar hukum, Be...”
“Trus Ariel diduganya ngapain??”....oh, dia minta sesendok lagi...didukung dengan tatapan mata yang menuntut menanti jawaban lagi...
“Polisi menduga dia membikin video yang melanggar peraturan gitu!”
Kulirik wajahnya dengan ekor mata (sambil terus mengaduk saus di panci)....
“Ohhh.... Videooooo toh....” katanya lalu ngeloyor teriak-teriak panggil Bea untuk diajak maen badminton.
Pfuihh....leganya! Untungnyaaaa temannya Abe cuma menyebut “Ariel Peterpan” dan “Polisi” yah?? (kalo kata mb IYa, dasar orang Jawa, masih ajaaaaaa bilang untungnyaaaaa hihihihi) :-D
==============
Wednesday, May 26, 2010
Tuesday, May 18, 2010
Siapakah Sebenarnya "Orang Gila" Itu?
:::::.....
Beberapa hari yang lalu, kita rame komen-komen ngobrolin soal 'the legendary' Maryam Blok M di note nya mb Rina Wieda yang ini
Pagi ini, ketika membaca note nya Ustdzh. Ani Christina, aku mendapat perspektif baru, soal siapakah sebenarnya "orang gila" itu ? Juga tentang kekuatan cinta. Bu Ani, terimakasih atas tulisan cerita yang menginspirasi ini. Postingan aslinya bisa dilihat disini .
:::::.....
Dahsyatnya CINTA (1)
Oleh : Ani Christina
Aku punya tanggungan untuk menuliskan Cinta yang Mengantarkan pada cinta-NYA (2) sebagai kelanjutan dari yang pertama
TAPI...siang ini tadi, ada sebuah diskusi kecil yang mendorongku untuk menulis ini lebih dahulu...
Ceritanya, Ustadz Abdul Kadir Baraja ingin bertemu denganku (ting..ting...orang penting ini, agenda2 nggak penting ditunda dulu). Kali pertama sebelumnya, beliau datang untuk mengatrakan seseorang untuk konsultasi. Yang ini, apa lagi ya? Begini lanjutannya...
=================================================
Abdul Kadir Baraja told :
Ustadzah sekali-kali harus ikut saya ke Malang (lha ayuk..itu kota kelahiran saya), di sebuah desa terpencil, di daerah Tumpang ada sebuah tempat yang perlu kita kunjungi (ahh, makin penasaran, masak aku nggak tahu tempat unik di malang...lha iyalah, udah 10 tahun nggak di sana tiap hr)
Di sana, ada seorang ustad, mantan dosen Akuntansi Unmer, bersama istrinya merawat orang-orang gila. Mereka sudah melakukan itu selama 10 tahun (nah..pas..aku nggak tahu, pas ada, pas aku keluar dari Malang). Mereka merawat orang-orang gila ini nggak pake' obat penenang SAMA SEKALI, cuma pake' QUR'AN dan HADITS. Dan alumninya tempat ini-orang-orang gila yang akhirnya sembuh dan bisa kembali ke masyarakat- jumlahnya sudah ratusan. Kamu tahu apa KENDARAAN orang ini, cuma satu : CINTA..iya...CINTA. Dia merawat orang-orang gila itu dengan penuh cinta, ada yang merusak dimaafkan, nggak ada keerasan, ada yang badannya kumal, nggak ngerti mandi, ya dimandikan sama ustadz ini, ada yang buang hajat dimana-mana ya dia bersihkan, subhanallah..sampe yang nggak ngerti cebok, dia cebokin...dia rawat orang-orang gila itu seperti anaknya, yg kadang-kadang oleh keluarga mereka sendiri sudah tidak dipedulikan, malah lebih senang kalo mati. Tapi sama ustadz ini dirawat betul, diajari menata dirinya sendiri, tiap hari dibacakan Qur'an dan Hadits.Saya melihat sendiri, gimana anehnya orang gila ini. Ada yang ketawa sendiri, ada yang pandangan kosong, ada yang banyak omong, ada yang suka ngamuk2. Dan ustadz ini kok begitu sabar, telaten mendidik mereka satu per satu.
Kata ustadz ini : mereka bukan orang GILA, tapi mereka adalah orang yang sedang kena COBAAN. Orang GILA itu adalah orang WARAS yang berbuat MAKSIAT..baru itu bener2 gila...
Ustadzah harus renungkan ini. Ini adalah sumbangan besar untuk disiplin ilmu Anda. bahwa yang namanya terapi itu sebetulnya nggak perlu pake' obat-obatan , tapi bisa cukup dengan QUR'AN dan HADITS yang disampaikan dengan CINTA. Ini benar-benar tentang Dahsyatnya CINTA. Ustadz ini betul-betul bisa menunjukkan CINTA kepada sesama, pengabdian yang begitu dalam. Bagaimana tidak? karirnya sebagai dosen, dia tinggalkan untuk merawat orang-orang ini, dia hidup sederhana, dan tetap bisa menghidupi istri dan satu anaknya yang masih kecil, padahal umurnya masih muda..belum 40 tahun, tapi kebijaksanaan hidupnya luar biasa...
===========================================
Okey...aku belum berikan catatanku sendiri tentang ini, yang di atas truly told by Ustdz Kadir
Adakah Anda dapat merenungi sesuatu dari cerita di atas?
:::::.....
Subhanallah... Aku asli pengen ketemu dengan orang tersebut. Mudah2an Bu Ani segera mendapatkan info alamat tempat orang tersebut tinggal.... Aku pingin sekali kesana, karena jelas-jelas dia adalah gudang ilmu buat kita semua...
(NOTE : Ustd. Abdul Kadir Baraja adalah Ketua Yayasan Lembaga Pendidikan Islam Al-Hikmah Surabaya)
Beberapa hari yang lalu, kita rame komen-komen ngobrolin soal 'the legendary' Maryam Blok M di note nya mb Rina Wieda yang ini
Pagi ini, ketika membaca note nya Ustdzh. Ani Christina, aku mendapat perspektif baru, soal siapakah sebenarnya "orang gila" itu ? Juga tentang kekuatan cinta. Bu Ani, terimakasih atas tulisan cerita yang menginspirasi ini. Postingan aslinya bisa dilihat disini .
:::::.....
Dahsyatnya CINTA (1)
Oleh : Ani Christina
Aku punya tanggungan untuk menuliskan Cinta yang Mengantarkan pada cinta-NYA (2) sebagai kelanjutan dari yang pertama
TAPI...siang ini tadi, ada sebuah diskusi kecil yang mendorongku untuk menulis ini lebih dahulu...
Ceritanya, Ustadz Abdul Kadir Baraja ingin bertemu denganku (ting..ting...orang penting ini, agenda2 nggak penting ditunda dulu). Kali pertama sebelumnya, beliau datang untuk mengatrakan seseorang untuk konsultasi. Yang ini, apa lagi ya? Begini lanjutannya...
=================================================
Abdul Kadir Baraja told :
Ustadzah sekali-kali harus ikut saya ke Malang (lha ayuk..itu kota kelahiran saya), di sebuah desa terpencil, di daerah Tumpang ada sebuah tempat yang perlu kita kunjungi (ahh, makin penasaran, masak aku nggak tahu tempat unik di malang...lha iyalah, udah 10 tahun nggak di sana tiap hr)
Di sana, ada seorang ustad, mantan dosen Akuntansi Unmer, bersama istrinya merawat orang-orang gila. Mereka sudah melakukan itu selama 10 tahun (nah..pas..aku nggak tahu, pas ada, pas aku keluar dari Malang). Mereka merawat orang-orang gila ini nggak pake' obat penenang SAMA SEKALI, cuma pake' QUR'AN dan HADITS. Dan alumninya tempat ini-orang-orang gila yang akhirnya sembuh dan bisa kembali ke masyarakat- jumlahnya sudah ratusan. Kamu tahu apa KENDARAAN orang ini, cuma satu : CINTA..iya...CINTA. Dia merawat orang-orang gila itu dengan penuh cinta, ada yang merusak dimaafkan, nggak ada keerasan, ada yang badannya kumal, nggak ngerti mandi, ya dimandikan sama ustadz ini, ada yang buang hajat dimana-mana ya dia bersihkan, subhanallah..sampe yang nggak ngerti cebok, dia cebokin...dia rawat orang-orang gila itu seperti anaknya, yg kadang-kadang oleh keluarga mereka sendiri sudah tidak dipedulikan, malah lebih senang kalo mati. Tapi sama ustadz ini dirawat betul, diajari menata dirinya sendiri, tiap hari dibacakan Qur'an dan Hadits.Saya melihat sendiri, gimana anehnya orang gila ini. Ada yang ketawa sendiri, ada yang pandangan kosong, ada yang banyak omong, ada yang suka ngamuk2. Dan ustadz ini kok begitu sabar, telaten mendidik mereka satu per satu.
Kata ustadz ini : mereka bukan orang GILA, tapi mereka adalah orang yang sedang kena COBAAN. Orang GILA itu adalah orang WARAS yang berbuat MAKSIAT..baru itu bener2 gila...
Ustadzah harus renungkan ini. Ini adalah sumbangan besar untuk disiplin ilmu Anda. bahwa yang namanya terapi itu sebetulnya nggak perlu pake' obat-obatan , tapi bisa cukup dengan QUR'AN dan HADITS yang disampaikan dengan CINTA. Ini benar-benar tentang Dahsyatnya CINTA. Ustadz ini betul-betul bisa menunjukkan CINTA kepada sesama, pengabdian yang begitu dalam. Bagaimana tidak? karirnya sebagai dosen, dia tinggalkan untuk merawat orang-orang ini, dia hidup sederhana, dan tetap bisa menghidupi istri dan satu anaknya yang masih kecil, padahal umurnya masih muda..belum 40 tahun, tapi kebijaksanaan hidupnya luar biasa...
===========================================
Okey...aku belum berikan catatanku sendiri tentang ini, yang di atas truly told by Ustdz Kadir
Adakah Anda dapat merenungi sesuatu dari cerita di atas?
:::::.....
Subhanallah... Aku asli pengen ketemu dengan orang tersebut. Mudah2an Bu Ani segera mendapatkan info alamat tempat orang tersebut tinggal.... Aku pingin sekali kesana, karena jelas-jelas dia adalah gudang ilmu buat kita semua...
(NOTE : Ustd. Abdul Kadir Baraja adalah Ketua Yayasan Lembaga Pendidikan Islam Al-Hikmah Surabaya)
Wednesday, April 28, 2010
Mesin Cuci Cap Ulang Tahun
Mumpung masih emosi, aku tulis aja NOTE nya sekarang *hahahahah*
Secara aku ultah gitu ya, kalo inget wajah-wajah yang dulu pernah kuusilin, masuk akal dong kalo beberapa hari sebelum hari H aku udah meningkatkan kewaspadaan?? Kemarin sempat pasang status di facebook :
Sungguh aku tak mau GR, tapi mengingat semua wajah yang pernah kuusilin dimasa lalu itu, aku memang sudah sepantasnya SIAGA 1 menjelang hari besok itu. WASPADALAH! WASPADALAH! **Wawa MODE: ON**
Dan yang paling menyebalkan, semua orang nuduh aku GR!!!
Nah... Hari ini hari H....
Pagi-pagi tadi waktu morning routine berdua Mas Iwan, aku sempet cerita soal sms Mb Shiel yang tumben-tumbennya ngajak lunch, minta ditraktir lagi!! Padahal setiap dia ngajak makan, itu berarti ya dia yang traktir, kok ini aneh pake minta traktir segala?? Curiga dong....??
Lunch-nya baru nanti siang, jadi sekarangpun aku blum tau kelanjutan acara lunch itu nanti gimana wkwkwk
Habis akuk cerita soal sms mb Shiel, eh tiba-tiba ucluk-ucluk meluncurlah pengakuan dari MI. “Sebenarnya mb Levie tadi mau kasih surprise, dateng kesini dari Jakarta”
Hah??? Tuh kan???? *makin gak terima dibilang GR* Trus?? “Tapi gak jadi karena mendadak ada tugas kantor yang nggak bisa ditinggal.” Lanjut Mas Iwan.
Campur aduk deh aku. Antara mewek terharu dengan perhatian dan surprise mb Levie, juga seperempat nyukurin dia yang akhirnya batal surprisin aku *hihihihi* haduuhhhh suasana hatiku udah makin nggak enak aja, musti siap-siap kayaknya seharian ini bakalan dudul.
“Makane thooo, dadi uwong ojo usil-usil! (Makanya, jadi orang tuh jangan usil-usil!)” kata MI sambil uyek2 kepalaku yang udah mulai panas oleh curiga.
Jujur, aku juga nggak bisa nggak curiga sama dia. Terbukti sudah beberapa kali dia bikin surprise buat aku, bersekongkol dengan teman-temanku (lirik mb Maya, mb IYa, mb Levie, Wawa, Kak Mia, Titin, eh kok banyak ya?? uurrghhH!!). Apalagi pagi ini Mas Iwan terlihat sedikit terlalu maksa untuk antar anak-anak sekolah.
Rumah pun sepi setelah anak-anak berangkat...
Beberapa teman telpon, ucapin selamat ultah, doa ini itu (subhanallah, aminn atas semua doa yang indah itu), kemudian datanglah panggilan telepon itu...
Ngaku dari HE, toko elektronik langgananku. Nanyain soal mesin cuci yang kubeli sebulanan yang lalu. Soal kekurangan pembayaran.
Nah, waktu itu memang sempat ada kesalahpahaman antara aku dan pihak HE.Aku membeli mesin cuci merk dan type tertentu, tetapi rupanya pihak HE mengirimkan type yang salah, yang sebenarnya lebih mahal harganya. Hal ini baru mereka ketahui dua minggu kemudiannya ketika stock opname, dan setelah dua minggu itu mereka meminta aku memilih: mengembalikan mesin cucinya untuk ditukar dengan type yang kupesan (lebih murah), atau membayar kekurangan harga type itu (yang 400ribuan lebih mahal).
Suatu malam tim pengiriman mereka mengetuk rumahku. Sambil membawa mesin cuci baru type yang lebih murah, mereka berniat MENUKARnya dengan mesin cuci yang dirumahku. Sempat terjadi sedikit otot2an waktu itu (padahal aku orang yang paling deg2an lemes kalo diajak otot2an), karena ternyata setelah dua minggu itu terjadi penurunan harga. Ketika aku beli, type yang kuambil berharga Rp. 4.050.000 sedangkan type yang ternyata (salah) mereka kirim berharga Rp. 4.450.000. Nah dua minggu kemudian ketika kesalahan itu terdeteksi, harga sudah turun. Type yang kuminta berharga Rp. 3.500.00 dan type yang mereka kirim (yang sekarang ada dirumahku) berharga Rp. 3.800.000.
Dudul kan??
Waktu aku beli, aku sudah membayar senilai Rp. 4.050.000, tetapi dua minggu kemudian kalau mau mempertahankan mesin cuci yang ada dirumahku aku harus menambah Rp. 400ribu lagi untuk sebuah mesin cuci yang SAAT ITU hanya berharga Rp. 3.800.000????
Aku tentu menolak dan membuat tim pengiriman itu puyeng juga (walopun dia manggut2 mengerti melihat alasan dan posisiku). Untunglah masalah kemudian terselesaikan ketika manager (atau supervisor *lupa*) mereka menelepon.
Aku bilang aja “Ya kalo Bapak mau mengambil lagi mesin cuci dirumah saya, ya silahkan saja, cuman itu sudah dua minggu dipakai, sudah jadi barang bekas. Bapak mau?”
“Hah? Mesin cucinya sudah dipakai Bu??” katanya dari telepon seberang, terdengar kaget.
“Ya iyalah Pak!! Begitu datang ya sudah langsung dipakai wong saya beli itu karena punya saya yang lama emang udah rusak!” Gimana sih??
Fakta bahwa barang yang diinginkannya kembali sudah berubah menjadi barang bekas, akhirnya membuat si manager itu memutuskan untuk menyelesaikan masalah mereka secara intern saja, tidak melibatkan aku sebagai customer. Keputusan yang bagus!
Kembali ke panggilan telepon di hari ulangtahunku... Si penelepon mengaku sebagai manager baru, yang baru beebrapa hari bekerja, dan memutuskan untuk MEMBUKA kembali kasus salah kirim itu. Dia terang-terangan langsung memintaku untuk datang ke kantor HE dan melunasi KEKURANGAN PEMBAYARAN mesin cuci punyaku!
Yang membuatku tertarik pertama kali adalah suara peneleponnya. Sangat tertarik, seperti suara yang kudengar tiap pagi. Lalu kuintip lagi nomornya di id caller, 829xxxx. Nomor landline, bukan handphone. Aku apal banget tiga nomor awal itu, tiga nomor yang menggambarkan daerah darimana panggilan telepon dibuat. Aku apal karena nomor rumah mertuaku juga sama. Nomor kantor Mas Iwan juga sama. Nomor sekolah anak-anak juga sama, semua berawalan itu dan semua berada di kawasan yang berdekatan. Ini membuatku makin yakin dengan suara penelepon, karena nomor-nomor di Graha Pena pasti juga berawalan itu (karena tempatnya berdekatan dengan rumah mertuaku dan kantor suamiku dan sekolah anak-anakku kann???).
Belum semenit eyel2an dengan si penelepon, 90% aku yakin bahwa aku dikerjain Gokil HardRock FM yang kantornya ada di Graha Pena! Dan itu suara si Ivan penyiar! Gimana aku nggak apal wong tiap pagi aku denger??
Kuladeninlah dia *hahahaha* sambil membayangkan adegan aku cubit2 dan gablok2 Mas Iwan. Si Ivan rupanya tau aku sudah curiga, apalagi waktu dia tanya alamat lengkapku (mau ambil mesin cuci katanya, dan menagih udang sewa pakai mesin cucinya Rp.25.000/hari), dan aku malah nyolot “Alamat saya kan sudah ada disitu, ngapain Bapak pake nanya???”
“Alamat lengkap maksudnya.”
“Itu sudah lengkappppp!!!” teriakku.
Hahahahaha. Yang tadinya 90% yakin kalo aku dikerjain, langsung bulat jadi 100% kalo ini memang telepon usil! Apalagi nada suara penelepon tiba-tiba berubah, dan dia nggak panggil aku “Ibu” lagi.
“Eh kalo gitu kita ketemuan di mall aja yuukk?? Atau nanti saya kerumah kamu untuk ambil mesin cucinya??”
“Datang ajaaaaa!! Tapi aku nggak jamin bakalan bukain pintu yaa??!!”
“Gak papa, nanti saya buka baju kamu saja disitu”
Huwauhwuahuwhauhwuahauhuaw DuduL!!!
Setelah terjadi baku hantam dan telepon ditutup. Aku langsung telepon Mas Iwan. Langsung ngomel-ngomel sedangkan Mas Iwan Cuma bales “I love You...muach... I Love You.. “
Kata-kata MI selanjutnya lah yang bikin aku mendadak berhenti ngomel dan langsung pengen PUP.
“Telepon Mbak Maya sana gih, dia juga berhak atas omelanmu itu”
*****S P E E C H L E S S**********
***
Ternyata, saat itu semua teman yang berhasil dihubungi Mb Maya, mendengarkan LIVE dari radio. &#$(@&*#()!*@!(*_(@#*@#. Yang didalam dan diluar negeri semua ikut mendengarkan LIVE.
DuduL ya!! Kata Mb Maya, Bunda Agustin yang dirumah (ternyata) gak punya radio, bela-belain nyalain mobil di garasi Cuma untuk dengerin radionya. Hahahahahah. Kezia dan Mb Mita yang di benua barat bahkan mendengarkan lewat streaming online juga loh! Astaganaga, jam berapa itu disana?? kalian pasti melekan sampe dini hari ya!!!
*takjub*
*gemess*
*terharu*
*sayang sama semua*
*pengen peluk semua*
*terakhir, mewek deehhh*
T_T
Oya, dan yang paaaling penting, AKU NGGAK GR!!!!
*gengsi bener dibilang GR*
:-P
:::::.....
Rekaman Gokil nya masih ada di MI, yang pingin mendengarkan ntar ya insyaAllah di upload ;-)
:::::.....
Secara aku ultah gitu ya, kalo inget wajah-wajah yang dulu pernah kuusilin, masuk akal dong kalo beberapa hari sebelum hari H aku udah meningkatkan kewaspadaan?? Kemarin sempat pasang status di facebook :
Sungguh aku tak mau GR, tapi mengingat semua wajah yang pernah kuusilin dimasa lalu itu, aku memang sudah sepantasnya SIAGA 1 menjelang hari besok itu. WASPADALAH! WASPADALAH! **Wawa MODE: ON**
Dan yang paling menyebalkan, semua orang nuduh aku GR!!!
Nah... Hari ini hari H....
Pagi-pagi tadi waktu morning routine berdua Mas Iwan, aku sempet cerita soal sms Mb Shiel yang tumben-tumbennya ngajak lunch, minta ditraktir lagi!! Padahal setiap dia ngajak makan, itu berarti ya dia yang traktir, kok ini aneh pake minta traktir segala?? Curiga dong....??
Lunch-nya baru nanti siang, jadi sekarangpun aku blum tau kelanjutan acara lunch itu nanti gimana wkwkwk
Habis akuk cerita soal sms mb Shiel, eh tiba-tiba ucluk-ucluk meluncurlah pengakuan dari MI. “Sebenarnya mb Levie tadi mau kasih surprise, dateng kesini dari Jakarta”
Hah??? Tuh kan???? *makin gak terima dibilang GR* Trus?? “Tapi gak jadi karena mendadak ada tugas kantor yang nggak bisa ditinggal.” Lanjut Mas Iwan.
Campur aduk deh aku. Antara mewek terharu dengan perhatian dan surprise mb Levie, juga seperempat nyukurin dia yang akhirnya batal surprisin aku *hihihihi* haduuhhhh suasana hatiku udah makin nggak enak aja, musti siap-siap kayaknya seharian ini bakalan dudul.
“Makane thooo, dadi uwong ojo usil-usil! (Makanya, jadi orang tuh jangan usil-usil!)” kata MI sambil uyek2 kepalaku yang udah mulai panas oleh curiga.
Jujur, aku juga nggak bisa nggak curiga sama dia. Terbukti sudah beberapa kali dia bikin surprise buat aku, bersekongkol dengan teman-temanku (lirik mb Maya, mb IYa, mb Levie, Wawa, Kak Mia, Titin, eh kok banyak ya?? uurrghhH!!). Apalagi pagi ini Mas Iwan terlihat sedikit terlalu maksa untuk antar anak-anak sekolah.
Rumah pun sepi setelah anak-anak berangkat...
Beberapa teman telpon, ucapin selamat ultah, doa ini itu (subhanallah, aminn atas semua doa yang indah itu), kemudian datanglah panggilan telepon itu...
Ngaku dari HE, toko elektronik langgananku. Nanyain soal mesin cuci yang kubeli sebulanan yang lalu. Soal kekurangan pembayaran.
Nah, waktu itu memang sempat ada kesalahpahaman antara aku dan pihak HE.Aku membeli mesin cuci merk dan type tertentu, tetapi rupanya pihak HE mengirimkan type yang salah, yang sebenarnya lebih mahal harganya. Hal ini baru mereka ketahui dua minggu kemudiannya ketika stock opname, dan setelah dua minggu itu mereka meminta aku memilih: mengembalikan mesin cucinya untuk ditukar dengan type yang kupesan (lebih murah), atau membayar kekurangan harga type itu (yang 400ribuan lebih mahal).
Suatu malam tim pengiriman mereka mengetuk rumahku. Sambil membawa mesin cuci baru type yang lebih murah, mereka berniat MENUKARnya dengan mesin cuci yang dirumahku. Sempat terjadi sedikit otot2an waktu itu (padahal aku orang yang paling deg2an lemes kalo diajak otot2an), karena ternyata setelah dua minggu itu terjadi penurunan harga. Ketika aku beli, type yang kuambil berharga Rp. 4.050.000 sedangkan type yang ternyata (salah) mereka kirim berharga Rp. 4.450.000. Nah dua minggu kemudian ketika kesalahan itu terdeteksi, harga sudah turun. Type yang kuminta berharga Rp. 3.500.00 dan type yang mereka kirim (yang sekarang ada dirumahku) berharga Rp. 3.800.000.
Dudul kan??
Waktu aku beli, aku sudah membayar senilai Rp. 4.050.000, tetapi dua minggu kemudian kalau mau mempertahankan mesin cuci yang ada dirumahku aku harus menambah Rp. 400ribu lagi untuk sebuah mesin cuci yang SAAT ITU hanya berharga Rp. 3.800.000????
Aku tentu menolak dan membuat tim pengiriman itu puyeng juga (walopun dia manggut2 mengerti melihat alasan dan posisiku). Untunglah masalah kemudian terselesaikan ketika manager (atau supervisor *lupa*) mereka menelepon.
Aku bilang aja “Ya kalo Bapak mau mengambil lagi mesin cuci dirumah saya, ya silahkan saja, cuman itu sudah dua minggu dipakai, sudah jadi barang bekas. Bapak mau?”
“Hah? Mesin cucinya sudah dipakai Bu??” katanya dari telepon seberang, terdengar kaget.
“Ya iyalah Pak!! Begitu datang ya sudah langsung dipakai wong saya beli itu karena punya saya yang lama emang udah rusak!” Gimana sih??
Fakta bahwa barang yang diinginkannya kembali sudah berubah menjadi barang bekas, akhirnya membuat si manager itu memutuskan untuk menyelesaikan masalah mereka secara intern saja, tidak melibatkan aku sebagai customer. Keputusan yang bagus!
Kembali ke panggilan telepon di hari ulangtahunku... Si penelepon mengaku sebagai manager baru, yang baru beebrapa hari bekerja, dan memutuskan untuk MEMBUKA kembali kasus salah kirim itu. Dia terang-terangan langsung memintaku untuk datang ke kantor HE dan melunasi KEKURANGAN PEMBAYARAN mesin cuci punyaku!
Yang membuatku tertarik pertama kali adalah suara peneleponnya. Sangat tertarik, seperti suara yang kudengar tiap pagi. Lalu kuintip lagi nomornya di id caller, 829xxxx. Nomor landline, bukan handphone. Aku apal banget tiga nomor awal itu, tiga nomor yang menggambarkan daerah darimana panggilan telepon dibuat. Aku apal karena nomor rumah mertuaku juga sama. Nomor kantor Mas Iwan juga sama. Nomor sekolah anak-anak juga sama, semua berawalan itu dan semua berada di kawasan yang berdekatan. Ini membuatku makin yakin dengan suara penelepon, karena nomor-nomor di Graha Pena pasti juga berawalan itu (karena tempatnya berdekatan dengan rumah mertuaku dan kantor suamiku dan sekolah anak-anakku kann???).
Belum semenit eyel2an dengan si penelepon, 90% aku yakin bahwa aku dikerjain Gokil HardRock FM yang kantornya ada di Graha Pena! Dan itu suara si Ivan penyiar! Gimana aku nggak apal wong tiap pagi aku denger??
Kuladeninlah dia *hahahaha* sambil membayangkan adegan aku cubit2 dan gablok2 Mas Iwan. Si Ivan rupanya tau aku sudah curiga, apalagi waktu dia tanya alamat lengkapku (mau ambil mesin cuci katanya, dan menagih udang sewa pakai mesin cucinya Rp.25.000/hari), dan aku malah nyolot “Alamat saya kan sudah ada disitu, ngapain Bapak pake nanya???”
“Alamat lengkap maksudnya.”
“Itu sudah lengkappppp!!!” teriakku.
Hahahahaha. Yang tadinya 90% yakin kalo aku dikerjain, langsung bulat jadi 100% kalo ini memang telepon usil! Apalagi nada suara penelepon tiba-tiba berubah, dan dia nggak panggil aku “Ibu” lagi.
“Eh kalo gitu kita ketemuan di mall aja yuukk?? Atau nanti saya kerumah kamu untuk ambil mesin cucinya??”
“Datang ajaaaaa!! Tapi aku nggak jamin bakalan bukain pintu yaa??!!”
“Gak papa, nanti saya buka baju kamu saja disitu”
Huwauhwuahuwhauhwuahauhuaw
Setelah terjadi baku hantam dan telepon ditutup. Aku langsung telepon Mas Iwan. Langsung ngomel-ngomel sedangkan Mas Iwan Cuma bales “I love You...muach... I Love You.. “
Kata-kata MI selanjutnya lah yang bikin aku mendadak berhenti ngomel dan langsung pengen PUP.
“Telepon Mbak Maya sana gih, dia juga berhak atas omelanmu itu”
*****S P E E C H L E S S**********
***
Ternyata, saat itu semua teman yang berhasil dihubungi Mb Maya, mendengarkan LIVE dari radio. &#$(@&*#()!*@!(*_(@#*@#. Yang didalam dan diluar negeri semua ikut mendengarkan LIVE.
DuduL ya!! Kata Mb Maya, Bunda Agustin yang dirumah (ternyata) gak punya radio, bela-belain nyalain mobil di garasi Cuma untuk dengerin radionya. Hahahahahah. Kezia dan Mb Mita yang di benua barat bahkan mendengarkan lewat streaming online juga loh! Astaganaga, jam berapa itu disana?? kalian pasti melekan sampe dini hari ya!!!
*takjub*
*gemess*
*terharu*
*sayang sama semua*
*pengen peluk semua*
*terakhir, mewek deehhh*
T_T
Oya, dan yang paaaling penting, AKU NGGAK GR!!!!
*gengsi bener dibilang GR*
:-P
:::::.....
Rekaman Gokil nya masih ada di MI, yang pingin mendengarkan ntar ya insyaAllah di upload ;-)
:::::.....
Tuesday, April 20, 2010
Aneka Gaya "Kesetrum"
Hhhhh..... *ambil napas panjang dan lama dan banyak-banyak* 
Setelah semuanya, menimbang bahwa Wawa sedang sakit gigi dan butuh hiburan, juga dalam rangka mendukung Mb UlikTellyTelo menemukan “kotak-kotak” di MP, maka akhirnya kuputuskan untuk menulis cerita kesetrum ini...keputusan yeng berat sebenarnya...

Hhhhh.... * ambil napas panjang lagi*
Oke, karena kalian adalah sahabatku, maka kupercayakan aib ini pada kalian....mudah-mudahan kalian mau dan sudi untuk menjaga cerita ini, hikss... *bahu turun 3 senti*
Hhhh...... *kuyu mulai cerita*
Jadi begini, kalian semua pasti sudah tahu kan bagaimana “goyor” nya aku? Nah, jangan dikira acara gedubrakan, grompyangan, dan banyak kecelakaan yang diakibatkan oleh aku itu tidak menyentuh urusan bercinta juga. Hohoho... Malah, karena sensitifnya urusan ini, akibatnya bisa jadi runyam dan panjang.
Soal aneka rupa kecelakaan yang menyertai aneka gaya saat berhubungan intim dengan suami *pilu membayangkan semua yang disini pada kenal MI hikss*, daftarnya bisa panjaaaaaanggg.....dan lamaaaaaaa..... dan memalukaaannnn.... Bisa melibatkan tutup toilet yang pecah, kompor meledug (dalam arti kompor beneran loh!! Yang buat masak itu!!), beraneka luka robek didalam maupun diluar disebabkan hal-hal yang bahkan nggak masuk akal atau berhubungan dengan aktivitas nya itu sendiri, tempat tidur nenek yang njeplak dan patah, benjol dan bentol segala rupa, kesalahan-kesalahan yang dudul dari salah posisi, salah tempat, salah waktu, salah tarik, salah dorong, salah meraba, salah pencet, salah gerak sampai salah menaruh sesuatu tidak pada tempatnya *wakakakakakakak aduh kalo inget ituu* nulis ini kok aku tiba-tiba jadi prihatin ya sama diriku sendiri dan MI??? Hiks...
Berhubung kalian hanya minta yang soal kesetrum saja, jadi ya aku cerita soal itu saja ya... *bersyukur punya temen2 pengertian, yang mintanya nggak macam-macam, alias cuma satu macam saja*
Kalian emang baik deh... Cerita ini sebenarnya udah ada beberapa yang tahu sih... Dan kemarin aku lama mikir dan ragu...cerita...nggak...cerita...nggak...karena terus terang aku mikir bahwa sebagian besar dari kalian kan mengenal MI secara pribadi juga.... *mengulur-ulur waktu terus*
*inget sakit giginya Wawa*
Oke, oke aku cerita sekarang!!! Walaupun jariku bergerak seperti batu beratnya....ughh.... *mengulur waktu lagi dengan ngetik pelaannn....pelan....menggerakkan jari dengan beraattttt.....uu....uughhh....*
Hhhhhhh!!!! Ok, semakin cepat selesai semakin baik.
Sekitar tahun 2005, waktu itu Bea masih bayi. Kami masih tidur berempat di satu kamar. Tempat tidur dengan kasur king size berisi anak-anak yang nglepus tidur diatas. Satu keuntungan bagi kami punya anak yang superaktif sepanjang hari, karena ABEA itu kalo sudah tidur malam, ibaratnya bom pun nggak akan bisa membangunkan mereka. Sejak Bea lahir, ada juga kasur yang lebih kecil terhampar dibawah, ukuran 120x200 gitu, rencananya buat Abe latihan tidur sendiri, tapi prakteknya MI yang lebih sering tidur disitu dan setelah anak-anak tidur aku lebih suka ikut ngrumpel disitu sama MI.
Tepat disamping kasur kecil itu, ada meja setinggi pinggang tempat TV dan segala macam peralatan elektronik. Jaman segitu masih musim tuh stereo set yang gede-gede dan bertumpuk-tumpuk tinggi begitu. Antara player, radio, amplifier, twitter dan bass mixer, semua gede dan bertumpuk-tumpuk gitu. Dan satu hal yang pasti, karena terbuat dari banyak besi dan aluminium (beda dgn jaman sekarang yang kebanyakan udah plastik atau fiber), stereo set model begitu pasti menyisakan banyak spot yang kadang emang bisa nyetrum. Entah bagian bawahnya, entah bagian pojoknya, pokoknya ada aja.
Nah suatu malam dengan diiringi lagu-lagu dari radio, berbuatlah kami di kasur bawah itu. Pasti cukup seru *hahaha* karena faktanya kita sampe berkeringat loh, padahal AC kamar lumayan dingin. Bukti lain, setelah selesai kami bukannya mengobrol atau tidur, kami malah berniat untuk berbuat lagi *nyengir* segera setelah kami beristirahat sejenak dan mengatur napas.
Mungkin saat itu pas tengah malam (aku lupa) karena tiba-tiba saluran radio yang kami dengar berhenti, tanda waktu siaran mereka sudah selesai. Mas Iwan kemudian bangkit untuk mengganti saluran radionya. Masih dalam keadaan polos dan basah oleh keringat *wadaw malunyaaaa*, MI pun berdiri didepan stereo set, membelakangi kasur sambil mengutak-atik kenop dan tombol disitu, mencari saluran radio lain yang masih siaran.
Aku, setelah berpakaian seadanya, berniat ke dapur untuk mengambil minuman. Pas ketika aku aku bangkit mau berdiri di kasur, aku oleng. Tahu sendiri kasur itu empuk kan, jadi susah berdiri diatasnya, apalagi aku yang goyor ini. Untuk mendapatkan keseimbangan, aku refleks pegangan ke punggungnya MI yang memang paling dekat. Fatal, karena akibat pegangan tanganku ini, MI jadi terdorong kedepan kearah tumpukan stereo.
Dan sodara-sodara, coba kita bayangkan keadaan MI saat itu. Dia polos, basah oleh keringat dan dalam keadaan masih “sangat siap tempur”. Coba seandainya kita melihat silhouette dia dari samping. Bagian tubuh mana ya yang kira-kira paling mancung kedepan??? Dengan kata lain : paling duluan menyentuh stereo set ketika MI terdorong kedepan??? Menyentuh paaassss di bagian stereo set yang -celakanya- NYETRUM????
Yang jelas aku ngeri kalau diminta membayangkan. Yang kutahu kemudian ada suara “RHEETTTT” disusul erangan MI, lalu mendadak dia terduduk di kasur dengan wajah horror. Dan wajahku akhirnya ikut horror ketika menyadari apa yang terjadi.
Girls, aku mungkin goyor tapi aku tidak oon. Oke, rasanya aku mengerti : tak akan ada ronde kedua. Bahkan tak ada ronde pertama untuk nyaris satu minggu sesudah itu *sigh* karena untuk berhari-hari kemudian MI masih mengeluh linu.
Mungkin selinu gigi Wawa sekarang, atau mungkin lebih... Hhhh....
Setelah semuanya, menimbang bahwa Wawa sedang sakit gigi dan butuh hiburan, juga dalam rangka mendukung Mb UlikTellyTelo menemukan “kotak-kotak” di MP, maka akhirnya kuputuskan untuk menulis cerita kesetrum ini...keputusan yeng berat sebenarnya...
Hhhhh.... * ambil napas panjang lagi*
Oke, karena kalian adalah sahabatku, maka kupercayakan aib ini pada kalian....mudah-mudahan kalian mau dan sudi untuk menjaga cerita ini, hikss... *bahu turun 3 senti*
Hhhh...... *kuyu mulai cerita*
Jadi begini, kalian semua pasti sudah tahu kan bagaimana “goyor” nya aku? Nah, jangan dikira acara gedubrakan, grompyangan, dan banyak kecelakaan yang diakibatkan oleh aku itu tidak menyentuh urusan bercinta juga. Hohoho... Malah, karena sensitifnya urusan ini, akibatnya bisa jadi runyam dan panjang.
Soal aneka rupa kecelakaan yang menyertai aneka gaya saat berhubungan intim dengan suami *pilu membayangkan semua yang disini pada kenal MI hikss*, daftarnya bisa panjaaaaaanggg.....dan lamaaaaaaa..... dan memalukaaannnn.... Bisa melibatkan tutup toilet yang pecah, kompor meledug (dalam arti kompor beneran loh!! Yang buat masak itu!!), beraneka luka robek didalam maupun diluar disebabkan hal-hal yang bahkan nggak masuk akal atau berhubungan dengan aktivitas nya itu sendiri, tempat tidur nenek yang njeplak dan patah, benjol dan bentol segala rupa, kesalahan-kesalahan yang dudul dari salah posisi, salah tempat, salah waktu, salah tarik, salah dorong, salah meraba, salah pencet, salah gerak sampai salah menaruh sesuatu tidak pada tempatnya *wakakakakakakak aduh kalo inget ituu* nulis ini kok aku tiba-tiba jadi prihatin ya sama diriku sendiri dan MI??? Hiks...
Berhubung kalian hanya minta yang soal kesetrum saja, jadi ya aku cerita soal itu saja ya... *bersyukur punya temen2 pengertian, yang mintanya nggak macam-macam, alias cuma satu macam saja*
Kalian emang baik deh... Cerita ini sebenarnya udah ada beberapa yang tahu sih... Dan kemarin aku lama mikir dan ragu...cerita...nggak...cerita...nggak...karena terus terang aku mikir bahwa sebagian besar dari kalian kan mengenal MI secara pribadi juga.... *mengulur-ulur waktu terus*
*inget sakit giginya Wawa*
Oke, oke aku cerita sekarang!!! Walaupun jariku bergerak seperti batu beratnya....ughh.... *mengulur waktu lagi dengan ngetik pelaannn....pelan....menggerakkan jari dengan beraattttt.....uu....uughhh....*
Hhhhhhh!!!! Ok, semakin cepat selesai semakin baik.
Sekitar tahun 2005, waktu itu Bea masih bayi. Kami masih tidur berempat di satu kamar. Tempat tidur dengan kasur king size berisi anak-anak yang nglepus tidur diatas. Satu keuntungan bagi kami punya anak yang superaktif sepanjang hari, karena ABEA itu kalo sudah tidur malam, ibaratnya bom pun nggak akan bisa membangunkan mereka. Sejak Bea lahir, ada juga kasur yang lebih kecil terhampar dibawah, ukuran 120x200 gitu, rencananya buat Abe latihan tidur sendiri, tapi prakteknya MI yang lebih sering tidur disitu dan setelah anak-anak tidur aku lebih suka ikut ngrumpel disitu sama MI.
Tepat disamping kasur kecil itu, ada meja setinggi pinggang tempat TV dan segala macam peralatan elektronik. Jaman segitu masih musim tuh stereo set yang gede-gede dan bertumpuk-tumpuk tinggi begitu. Antara player, radio, amplifier, twitter dan bass mixer, semua gede dan bertumpuk-tumpuk gitu. Dan satu hal yang pasti, karena terbuat dari banyak besi dan aluminium (beda dgn jaman sekarang yang kebanyakan udah plastik atau fiber), stereo set model begitu pasti menyisakan banyak spot yang kadang emang bisa nyetrum. Entah bagian bawahnya, entah bagian pojoknya, pokoknya ada aja.
Nah suatu malam dengan diiringi lagu-lagu dari radio, berbuatlah kami di kasur bawah itu. Pasti cukup seru *hahaha* karena faktanya kita sampe berkeringat loh, padahal AC kamar lumayan dingin. Bukti lain, setelah selesai kami bukannya mengobrol atau tidur, kami malah berniat untuk berbuat lagi *nyengir* segera setelah kami beristirahat sejenak dan mengatur napas.
Mungkin saat itu pas tengah malam (aku lupa) karena tiba-tiba saluran radio yang kami dengar berhenti, tanda waktu siaran mereka sudah selesai. Mas Iwan kemudian bangkit untuk mengganti saluran radionya. Masih dalam keadaan polos dan basah oleh keringat *wadaw malunyaaaa*, MI pun berdiri didepan stereo set, membelakangi kasur sambil mengutak-atik kenop dan tombol disitu, mencari saluran radio lain yang masih siaran.
Aku, setelah berpakaian seadanya, berniat ke dapur untuk mengambil minuman. Pas ketika aku aku bangkit mau berdiri di kasur, aku oleng. Tahu sendiri kasur itu empuk kan, jadi susah berdiri diatasnya, apalagi aku yang goyor ini. Untuk mendapatkan keseimbangan, aku refleks pegangan ke punggungnya MI yang memang paling dekat. Fatal, karena akibat pegangan tanganku ini, MI jadi terdorong kedepan kearah tumpukan stereo.
Dan sodara-sodara, coba kita bayangkan keadaan MI saat itu. Dia polos, basah oleh keringat dan dalam keadaan masih “sangat siap tempur”. Coba seandainya kita melihat silhouette dia dari samping. Bagian tubuh mana ya yang kira-kira paling mancung kedepan??? Dengan kata lain : paling duluan menyentuh stereo set ketika MI terdorong kedepan??? Menyentuh paaassss di bagian stereo set yang -celakanya- NYETRUM????
Yang jelas aku ngeri kalau diminta membayangkan. Yang kutahu kemudian ada suara “RHEETTTT” disusul erangan MI, lalu mendadak dia terduduk di kasur dengan wajah horror. Dan wajahku akhirnya ikut horror ketika menyadari apa yang terjadi.
Girls, aku mungkin goyor tapi aku tidak oon. Oke, rasanya aku mengerti : tak akan ada ronde kedua. Bahkan tak ada ronde pertama untuk nyaris satu minggu sesudah itu *sigh* karena untuk berhari-hari kemudian MI masih mengeluh linu.
Mungkin selinu gigi Wawa sekarang, atau mungkin lebih... Hhhh....
Subscribe to:
Posts (Atom)