Sudah lama sebenarnya kami (aku dan suami) diam-diam mengagumi ustadz yang satu ini. Drs. Cholil Umam. Dia kebetulan salah satu tetangga di kompleks. Walalupun dari segi umur sudah agak jauh lebih senior dari kita, tetapi beliau ini teman diskusi favorit suami dan jujugan curhat dan konsultasinya setiap kali ada masalah di yayasan, secara beliau memang sangat terlibat dari awal mula kita gulung-gulung merangkak mendirikan yayasan (maaf bahasanya, hiperbola kumat! :-D).
Lebih dari itu, dia adalah seorang ustadz yang –aku selalu bilang-
Ceramah Ustd. Cholil selalu begitu. Tiap beliau ceramah, tak ada ibu-ibu yang akan ngomong sendiri atau kusak kusuk antar sesama. Tak ada yang menguap karena bosan ataupun pura2 nulis di buku catatan padahal lagi coret2 ga jelas (ini aku sih, kalo lagi bosan :-D). Semua bakalan dengan syahdu mendengarkan kata-kata beliau dari awal sampai akhir. Walaupun tak bertebaran humor, tapi ceramah beliau selalu sangat menarik untuk disimak. Subhanalloh...Maha Suci Allah yang telah menganugerahi beliau dengan hal yang luar biasa ini...
Malam itu topiknya adalah rezeki. Beliau tanya, “Ibu-Ibu, rezeki datangnya dari mana?”
“Allah....” sahut Ibu-Ibu bareng dan kompak.
“Dari mana lagi?”
“Suami”....”Bos yang bayar kita”....”Tidak ada lagi, semua ya dari Allah”....”Dari tetangga, kiriman kolak maksudnya”.... Jawab ibu-ibu lagi, kali ini bareng tapi sama sekali tidak kompak, berhias cekikikan kecil pula. :-D
Kemudian ustadz pun melanjutkan.
Rezeki jelas datangnya dari Allah. Tetapi kita bisa mendapatkan rezeki lebih dari pihak yang lain lho. Oya? Iya. Pihak ini tak lain adalah diri kita sendiri!
Contoh! Waktu. Berapapun usia kita, dari bayi sampai manula, semua mendapat jatah waktu yang sama dari Allah, yaitu 24 jam sehari. Tidak ada yang mendapat kurang atau lebih. Semua sama sampe ke jumlah detiknya. Tetapi ternyata, ada orang-orang yang mendapatkan rezeki waktu lebih banyak daripada orang lain. Kenapa begitu? Karena waktunya lebih BERMANFAAT daripada waktu yang dimiliki orang lain. Ketika orang lain memakai waktunya untuk keperluan dan kepentingan diri sendiri, orang ini menghabiskan banyak waktunya untuk membantu keperluan dan kepentingan orang lain (orang banyak). Ketika orang lain boros dan suka membuang-buang waktu, orang ini sangat hemat dan sangat memanfaatkan setiap detik yang dia punya. Ketika orang lain menjadi budak waktu, orang ini adalah pemimpin bagi waktu, manager waktu yang sangat efektif dan efisien. Maka rezeki waktunya lebih banyak, dan extra rezeki ini tentu saja datang dari dirinya sendiri! (MasyaAllah..langsung terpukul bel di otak ini, TENG!!..gitu...)
Contoh lain. Dua orang mendapat rezeki berupa uang nafkah 100 ribu sehari (misalnya). Tetapi ketika seseorang menghabiskan jumlah uang yang sama itu di tempat yang berbeda asas manfaatnya, maka sesungguhnya rezeki mereka pun akan berbeda pula.
Begitu juga dengan semua hal lain yang kita punya. Dari anggota badan sampai ide dan pemikiran yang dikaruniakan Allah kepada kita. Dari ketrampilan memasak sampai berkah kesehatan yang kita punya. Dari semua hal yang dipandang baik dan hebat oleh kacamata manusia, sampai kepada hal-hal yang tidak penting bahkan dianggap hina dimata manusia. Semua tanpa terkecuali, akan BISA menjadi extra rezeki buat kita kalau dimanfaatkan di jalan Allah!
Kata ustadz, sungguh, inilah sebenarnya inti dari syukur. Dengan memanfaatkan segala yang diberi kepada kita dengan optimal dijalan yang baik dan diridloiNya, maka berarti kita telah mensyukurinya. Dan “Sesungguhnya kalau seseorang mensyukuri apa yang Aku (Allah) beri, maka akan Aku tambah nikmatnya!” La insyakartum, La ajiidannakum!
Duuhhh...jadi ingat sebuah ungkapan. Time not goes by...it flies!
Waktu bergerak sangat cepat, jauuuh lebih cepat dari yang kita semua kira! Padahal, wa La inkafartum, inna ‘ adzaabi la syadiiid. “Sesungguhnya kalau seseorang kufur atas apa yang Aku (Allah) beri, maka sesungguhnya azabKu amatlah pedih!”
Astaghfirullah...
Tahu nggak? Sebagian besar waktu luangku selama ini, kuhabiskan di depan komputer. Internetan. Ngeblog. Dan sebagainya... Duhhhh semoga hanya manfaat jua yang kudapat dari ini, Ya Allah... Kalopun ada mudharatnya, *dan demi Allah, pasti ada! :-( hikss*.... semoga tidak lebih banyak dari manfaatnya...
:-(
Ternyata bener juga yang selalu dibilang suami...ternyata, bersyukur jelas-jelas sama sulitnya dengan bersabar...