Mau diisi apa dompetnya sayang? Nah, atas permintaan dan idenya sendiri, inilah isi dompetnya Abe :
- uang saku (tentu)
- foto dirinya
- id card bikinannya sendiri, mirip dengan punya bapak-ibu lho (hehe) disitu tercantum nama, foto dll semua digambarnya sendiri pake komputer dengan MSPaint, trus di print-out
- beberapa koleksi kartu bermainnya (dia menyebutnya ‘kartu kreditku, tapi nggak pernah dipake’...karena ikutan Ibuk yang punya kartu kredit tapi tidak pernah dipake hehe good...good...:D)
Kembali ke soal uang saku...
Sebelumnya, Abe dapat kursus kilat tentang jumlah-jumlah uang. Kita ‘training’ dia tentang pecahan 500, 1000, 1500 dan seterusnya. Bea juga semangat lho ikutan main jual-beli dan pasar-pasaran nya...hehe. Karena sebelumnya Abe sudah mengenal sedikit tentang jumlah (dan untungnya kemampuan berhitungnya memang bagus), nggak perlu waktu lama untuk Abe jadi melek tentang jumlah uang (yah, sesuai kebutuhan, max sampai jumlah 3000 lah hehe).
Si bapak juga sudah mulai wanti-wanti kalo uang saku yang dia dapatkan hanya akan berlaku sampai dia SMA, dan kalo sebelum lulus SMA Abe sudah bisa mencari sendiri uang sakunya, subhanalloh, alangkah hebatnya anak Bapak. “Ok Kapten!” jawab Abe.
Peraturan di SD Al-Hikmah Surabaya tentang uang saku hanya satu : tidak boleh lebih dari Rp. 5000,-per hari per anak. Karena Abe sekolah full-day dari jam 7 pagi sampai jam 4 sore, maka Ibuk pun melakukan sedikit survey (cie...hi hi) tentang harga makanan dan minuman di kantin sekolah untuk menentukan jumlah uang saku buat Abe. Mempertimbangkan juga Abe selalu membawa bekal lauk makan siang dan minum di botol dari rumah, maka diputuskan uang saku buat Abe adalah Rp. 3000/hari.
Cukup untuk membeli satu kue dan minuman atau es krim kesukaannya yang rata2 harganya 1000-1500 rupiah. Ibuk juga wanti-wanti bahwa untuk infak harian di kelas, minimal Abe harus menyisihkan satu koin berat (sebutannya untuk koin Rp. 500 an), dan kalau bisa lebih Abe akan mendapat pahala yang lebih juga dari Allah. “Ok, Nyonya Besar!” jawab Abe yang akhir-akhir ini sering memanggil Ibuk begitu, ikut2an serial Segah Si Anak Nusantara di TV Astro Ceria :D
Nah, ini beberapa cerita menarik yang didapat Ibuk dari Abe tentang uang sakunya di sekolah...
Hari pertama mendapat uang saku, waktu itu hari terakhir masa orientasi (pulang jam 12 siang). Sepulang sekolah, Ibuk lihat kok uang saku masih utuh..? Ternyata Abe lupa kalau hari itu dia sudah punya uang saku! :D
Hari pertama ingat punya uang saku, uang sakunya langsung habis!! Mana nggak dipake infak lagi!! “Loh, kenapa nggak infak Abe?” tanya Ibuk. “Ternyata setelah beli di kantin, uangnya habis Buk..”
“Memang Abe beli apa saja, kok sampe habis?”
“Abe beli es krim 2, buat Lucky juga” jawabnya polos tanpa penyesalan. Ooo...ya udah tapi besok jangan lupa sisihkan untuk infak ya nak...
“Wah hari pertama bawa uang saku, sudah traktir makan temennya rek..! Anake sopo iki...” komentar Bapak usil. He he ini sih merujuk ke dirinya sendiri kali, karena si Bapak
Hari selanjutnya, eh, uang saku habis lagi... “Nggak bisa infak buk, uang sakunya sudah habis..” lapor Abe.
“Kok??”
“Iya, aku kasihan sama Daffa, dia
Ibuk cuma melongo...
Eh, hari berikutnya, kasus yang sama terulang lagi!! Sekarang alasannya karena dia beliin es krim Kio. Malah, uangnya sempat kurang, dan baru cukup setelah mereka ganti beli es krim yang lebih murah.
Wah nggak boleh begini nih...lama-lama uang saku habis terus, kapan infaknya...?
Akhirnya panjang lebar deh Ibuk jelasin soal uang saku...Bahwa sama dengan Abe, temen2 biasanya dikasih uang saku juga sama mamanya, jadi kalau mereka pingin beli es krim, mereka juga punya uang sendiri untuk beli..
“Lha Abe lho mau berbagi buukkk”
“Iyaaaa ibuk ngerti dan bangga lihat Abe mau berbagi, tapi kalo sampe uangnya habis dan nggak bisa infak, nah itu juga ndak boleh...Lagian mereka biasanya sudah punya uang saku sendiri dari mamanya –coba tanya deh- jadi kalo mereka kepingin es krim mereka bisa beli dengan uang sakunya sendiri...”
“Kalo mereka nggak punya uang saku?”
“Abe yakin mereka nggak punya uang saku?”
“Iya...” jawab Abe ragu, dengan wajah yang memang benar-benar meragukan.
“Biasanya anak-anak SD semua juga dikasih mamanya uang saku lho Be...Ibuk lho tahu kalo Kio dapet uang saku karena Tante Yanni cerita ke Ibuk kok...”
“Lha kalo ada yang nggak punya uang saku?”. Masih ngeyel, kayanya Abe sangat perlu pembenaran deh untuk apa yang dilakukannya kemarin. Duuuuhhh this will be one of those long conversations to be...hi hi
Setelah mulut berbusa, akhirnya kita punya persetujuan. Sebelum nawarin traktir, Abe janji untuk tanya ke temannya apa dia punya uang saku atau tidak. Kalau ternyata punya, acara traktir2 batal. Kalau ternyata si teman tidak bawa uang saku, Abe harus tanya apa dia bawa snack bekal atau tidak, atau apakah dia haus/lapar atau tidak. Kalau mereka mengaku haus dan lapar, baru deh Abe boleh nawarin traktir. Bahkan, kalau memang ada teman yang tidak punya uang saku tapi dia lapar/haus, Abe justru HARUS menawari untuk traktir dia. Dan yang penting juga, semua itu HARUS dilakukan setelah Abe nyemplungin uang di kotak infak di kelas.
Minggu pertama setelah persetujuan dibuat, it didn’t go well at all. He he...
Seminggu itu, mulut ibuk masih sering berbusa karena hal ini :D.
Lama-lama Abe banyak tahu bahwa memang teman-temannya pada bawa uang saku. Bahkan, “Ibuk tahu ndak uang sakunya Rido berapa? 5000 lho buk!” lapornya.
“Wah, banyak ya, bisa infak banyak itu Rido”
“Rido infaknya juga koin berat kok, tapi dia selalu beli es krim, selalu beli kue, selalu beli minuman, makanya dia badannya ndut ya buk, hehe...” :D
Setelah 1,5 bulan berlalu, sekarang-sekarang ini, setelah infak koin berat (kadang2 seribu) pun, seringkali ketika pulang sekolah, uang saku Abe masih tersisa, entah itu seribu atau
Baru saja kemarin saya sempat tanya ke Abe,
“Abe masih pernah traktir temen-temen beli di kantin nggak?” dalam hati Ibuk memohon juga sih...semoga jawabnya bukan ‘nggak pernah’...hi hi
“Masih, tapi cuma kadang-kadang...” jawab Abe.
Alhamdulillah...masih ada yang untuk berbagi ya
:-)