Hemm...seperti juga –aku yakin- semua penulis skenario cerita2 bersambung atau filem2 bersekuel yang lain, episode terakhir selalu membawa beban tersendiri ya...hehe. Untungnya, aku tidak harus bersusah payah mendorong imajinasiku untuk menciptakan sebuah cerita, karena untuk cerita yang satu ini, ALLAH Yang Maha Kuasa sendiri yang ternyata telah menentukan alurnya untukku...memanduku dengan keajaiban-keajaiban yang bahkan semakin ajaib karena kurasakan sendiri dengan segenap hati dan jiwaku...seluruh hidupku hingga saat ini...dalam setiap detik dan setiap detil-nya. Subhanalloh...
*****
Semenjak kelahiran Abe hampir 6 tahun yang lalu, roller coaster kehidupan pernikahan kami praktis agak “melandai”. Meminjam istilah orang (bukan istilah saya lho), kami bisa dibilang sudah mapan. Aku sebenarnya kurang prefer dengan istilah “mapan” ini karena memang rupanya banyak orang hanya mengukur kemapanan seseorang dari kondisi ekonomi saja.
Bagiku, kata-kata “mapan” seharusnya bermakna jauuuh lebih dalam daripada itu. Dan kami, jelas-jelas aku pribadi setengah menolak disebut mapan, karena jujur, aku tidak mau kehilangan desiran si roller-coaster itu. Aku masih sangat menginginkan insting, kepekaan dan kebutuhanku untuk merasakan liuk-liukan hikmah dalam hidup ini. Nggak tahu ya, rumah tangga yang mapan?? Adakah itu?? Kesannya bagiku kok statis dan membosankan ya??
Atau mungkin benar juga kata seorang sepupuku yang selalu komentar bahwa aku selalu lebih suka memilih jalan yang sulit dan berliku daripada jalan yang lempeng dan gampang. Sepupuku ini sering sekali berkomentar begini ketika dari kecil dia melihat –misalnya- aku akan lebih memilih memanjat pohon jambu daripada mengambil buahnya dengan tongkat. Atau ketika ada acara selamatan di rumah nenek dulu, aku akan selalu tiba di dapur dan kemudian terlihat malah asyik melakukan pekerjaan yang justru tidak disukai banyak orang (banyak teman yang sampai sekarang heran ketika mengetahui aku suka sekali memarut kelapa, atau menyetrika, atau cuci2 piring kotor, pokoknya pekerjaan yang kebanyakan orang tidak menyukainya :D). Atau, memilih untuk menikah sehabis lulus SMA, bukannya fokus saja mikir kuliah sembari senang-senangnya bergaul dengan teman sebaya, khas dunia remaja...(sehabis akad nikahku, tanpa bicara sepatah katapun, sepupuku ini hanya memelukku dengan tangis haru dan pandangan matanya menyiratkan “AKU SAMA SEKALI TIDAK HERAN DENGAN KEPUTUSANMU MENIKAH SEKARANG!!!”
Entahlah, apa ada hubungannya ya? Hehe... Yang jelas, label “mapan” yang diberikan banyak orang untuk keluarga kami sekarang, bagiku it’s just another challenge, roller-coaster dalam bentuk yang lain...!!
BERSYUKUR, JELAS-JELAS SAMA SULITNYA DENGAN BERSABAR...!!!
*****
“Ngomong-ngomong, kenapa suamimu menolak untuk mempunyai anak lagi? Padahal kamu mengaku masih ingin hamil dan mempunyai anak lagi?” ini juga pertanyaan yang sering kudapat.
Nah, inilah salah satu bukti bahwa Allah SWT masih menyayangiku. Tanpa diberi ujian, apalah arti sebuah hamba bagi penciptaNya
So it’s all about another roller-coaster in my life.
Ketika hamil Abe, itu merupakan saat yang sangat menggembirakan. Selain itu, dari tes awal kehamilan, ternyata ditemukan juga bahwa kadar gula darahku juga merangkak naik tak terkendali. Diabetes Gestasional. Itu vonis dokter untukku. Diabetes kehamilan. Yang katanya hanya akan berlaku selama kehamilan saja dan memang tak mengherankan karena aku memang punya keturunan diabetes dari pihak bapakku. Kata dokter, setelah melahirkan biasanya akan menghilang (walaupun dengan mengalami diabetes kehamilan, maka praktis si ibu akan meningkat resikonya mengidap diabetes mellitus yang menetap).
Tetapi rupanya, yang terekam dalam di benak suamiku adalah bagian ini :
Setiap hari selama 9 bulan aku harus menyuntik diriku sendiri dengan insulin. Obat secara oral jelas out of question karena akan membahayakan si janin. Kadang-kadang di waktu tertentu aku harus menyuntik 2 kali sehari. Layaknya seorang junkies, aku harus menenteng alat suntik kemanapun aku pergi, termasuk ke kampus waktu itu. Resiko pecah ketuban dini yang kemudian benar-benar terjadi pada Abe, memaksaku untuk melahirkan secara caesar karena jalan lahir yang sama sekali tidak membuka walaupun air ketuban sudah habis. Resiko si bayi lahir besar (karena terlalu banyak menyerap gula dari darah si ibu) juga terjadi ketika 2,5 tahun kemudian Bea lahir dengan berat badan 4,7 kilogram!! Caesar lagi?? Ya jelaslah!! :D
Ketika aku masih teler di ruang operasi pun, suami juga sudah harus menerima kabarn dokter bahwa –sesuai resiko bayi2 yang lahir dari ibu diabetesi- anak-anak lahir kuning dan parah!! Bea malah nyaris harus menerima tranfusi darah karena kadar bilirubinnya yang sangat tinggi!! Anak-anak juga mengalami hipoglikemik begitu lahir. Pankreas mereka yang terbiasa mengeluarkan insulin dalam jumlah banyak untuk menormalkan kadar gula yang tinggi selama dalam kandungan, menjadikan kadar gula mereka drop begitu lahir dan lepas dari si ibu. Bukan rahasia lagi kalau hipoglikemik sangat beresiko untuk menyebabkan koma. Mas Iwan, ternyata cukup trauma.
Setelah melahirkan Abe, rupanya si roller-coaster yang bernama “diabetes” ini menghilang dari tubuhku. Tetapi tidak setelah melahirkan Bea. So, aku pun akan naik roller-coaster yang ini untuk seumur hidupku. SubhanAlloh...
Tentu, ada masa-masa menghujam ketika di malam-malam insomniaku, aku menangis tersedu-sedu sambil memandangi anak-anakku yang masih balita lelap tertidur. Aku manusia biasa yang sadar tidak punya kendali atas umur, dan menderita penyakit ini membuatku tak urung bertanya-tanya akankah aku bisa mendampingi anak-anak sampai mereka dewasa nanti?? Dan tentu saja, ada masa-masa menggetarkan ketika selesai menghujam, ada semacam perasaan trance dihatiku, kepasrahan yang begitu dalam pada Sang Pengatur Hidup, setelah lebih dalam aku bisa menyadari apa makna sebuah penyakit bagi manusia. Penyakit adalah ujian dari Allah SWT tanda Sang Pencipta masih menyayangi kita. Penyakit akan membuat kita lebih sulit untuk meninggalkanNya. Penyakit yang diterima dengan ikhlas akan meluruhkan dosa-dosa kita....Subhanalloooohh Ya Allah...
Singkat cerita, walaupun sekarang kondisi tubuhku kurasa fit sekalipun, suami dengan tanpa kompromi menolak untuk memberiku ijin hamil kembali. Keputusannya ini didukung tak kurang oleh barisan dokter kandungan, dokter anak, mertua, dan –paling tak bisa kubantah- Ibukku sendiri... Ibarat orang negosiasi, posisiku untuk ingin hamil kembali sangat lemah.. :D
Tapi bahkan Abe dan Bea pun sudah lebih dari cukup bagi kami. Sepasang laki-laki dan perempuan pula. Apalagi mengingat penantian untuk Abe yang panjang, rasanya akan terdengar sedikit “serakah” dan kurang bersyukur kalau aku harus selalu meneteskan air liur tiap kali melihat teman yang mempunyai anak lebih dari 2
Yang agak dudul, suami percaya pasti ada alasan kenapa dulu si bapak misterius dari Mekkah hanya meminta 2 nama untuk dipakai sebagai nama anak-anak kami (baca kisah si bapak misterius ini disini). Hehehe...
*****
Seiring waktu, banyak yang bertanya padaku, akankah aku merekomendasikan seseorang untuk menikah muda? Setelah semua yang telah aku lalui?
Jujur, sampai detik inipun, aku masih terjebak diantara jawaban “Tidak” dan “Ya”
“TIDAK”, karena sungguh, mau tidak mau, ini adalah sebuah keputusan yang membawa kepada perjuangan yang tidak mudah dan resiko yang besar (walaupun semua pernikahan pasti juga begitu ya).
Aku juga tidak akan bisa merumuskan “formula rahasia” pernikahan kami sampai saat ini. Kurasa karena kita berduapun masih terus mencari, dan bahan komposisi formulanya akan terlalu banyak : Takdir Allah (tentu saja!), keberuntunganku menemukan orang yang tepat (takdir Allah juga ya?), doa2 lirih nan tulus dari Ibundaku dan dari benakku sendiri yang tanpa terasa terucap tiap detik ketika dari kecil lagi aku memimpikan untuk menikah muda (yang karena takdir Allah juga terkabulkan), dan masih buanyakkk lagi!! Jadi menyarankan seseorang untuk menikah muda begitu saja, menurutku kurang bijaksana juga (walaupun sekali lagi aku juga paham bahwa secara syariat agama Islam, memang disarankan untuk menyegerakan menikah).
“YA”, karena demi Allah, ini adalah sebuah petualangan yang sangat menggetarkan hati yang aku yakin, setelah merasakan sendiri, tak akan ada seorangpun yang akan menolaknya! Seperti ada bagian dalam diriku yang seakan-akan ingin mengajak semua orang yang kutemui untuk bisa mendapatkan kesempatan merasakan petualangan ajaib dan penemuan banyak hal luar biasa didalamnya. Resiko besar yang menyertainya, secara mengejutkan ternyata membawaku kepada petualangan yang lebih seru dan menggetarkan hati lagi! Kebesaran Allah ada dimana-mana!! Di setiap waktu!!
Dan hikmahnya dalam hidup...masyaAllah...hikmah yang bisa kuambil selama ini tidak pernah terbayangkan olehku sebelumnya! Bergulung-gulung ombak hikmah berupa pelajaran hidup... Bergunung-gunung tumpukan hikmah berupa kenikmatan hidup...
Maha Suci Allah..!!
*****
Ini mungkin akhir dari postinganku tentang pengalamanku menikah di usia muda. Tetapi, cerita kami “Menikah Muda” ini, kuharap tidak akan pernah berakhir. Kami berdua ingin “Menikah Tua” juga bersama...naik roller-coaster selama mungkin berdua... :D
Dalam keremangan doa malam kami, hanya ada satu ending yang akan sanggup kami terima...
Kami bisa tetap menjadi jodoh didunia.....dan juga di akhirat nanti..... ^_^
(Aminn Ya Allahumma Amiinnn...)
*****
Untuk pembaca, teman-teman dan sahabat-sahabatku, baik di dunia nyata maupun di dunia maya (kalian sama-sama nyata-nya buatku), yang telah banyak memberikan dukungan, komentar, apapun itu...terimakasih!!
Hatiku kini sudah menjadi milik kalian juga, dan cerita ini jelas-jelas telah kita tulis bersama-sama.... ^_^
(Tidak Bersambung Lagi) :-D