Showing posts with label samita. Show all posts
Showing posts with label samita. Show all posts

Saturday, March 29, 2008

[Samita] Volume 3 : Hasta Brata, 8 Sifat Seorang Pemimpin

Pas ya! Pas Mbak Irma posting soal Pemimpin Masa Depan, pas aku selesai mempersiapkan tulisan ini. Jadi dua postingan ini, insyaalloh merupakan doa buat anak-anak kita semua, generasi penerus pewaris khalifah dunia ini...

Masih diambil dari novel Samita karangan Tasaro, inilah 8 sifat yang harus ada pada diri seorang pemimpin. Versi filsafat Jawa Kuno tentu saja. Duh...di jaman sekarang ini, masih ada nggak ya? Karena pastinya kita sangat merindukan adanya seorang pemimpin yang mempunyai sifat-sifat berikut ini : 


1
Seperti Suryo (Matahari) :
Memancarkan sinar terang sebagai sumber kehidupan. Menumbuhkan daya hidup rakyatnya untuk membangun negerinya.

2
Selaksa Candra (Cahaya/Bulan) :
Memancarkan sinar ditengah gelap malam. Mampu memberi semangat kepada rakyatnya ditengah suasana suka maupun duka.

3
Berjiwa Kartiko (Bintang) :
Memancarkan sinar kemilauan. Berada ditempat yang tinggi sehingga dapat dijadikan pedoman arah. Menjadi teladan perbuatan yang baik.

4
Berhati Angkoso (Angkasa) :
Luas tak terbatas. Mampu menampung apa saja yang datang padanya. Punya ketulusan batin dan kemampuan mengendalikan diri menampung pendapat rakyatnya.

5
Berjiwa Maruto (Angin) :
Ada dimana-mana tanpa membedakan tempat. Selalu mengisi semua ruang yang kosong. Dekat dengan rakyat tanpa membedakan derajad dan martabatnya.

6
Bersemangat Samudro (Samudera) :
Betapapun luasnya, permukaannya selalu datar dan bersifat sejuk menyegarkan. Bersifat kasih sayang kepada rakyatnya.

7
Memiliki Kemampuan Dahono (Api) :
Punya kemampuan membakar semua yang bersentuhan dengannya. Berwibawa dan berani menegakkan kebenaran secara tegas tanpa pandang bulu.

8
Berhati Nurani Bhumi (Tanah) :
Kuat dan murah hati. Selalu memberi hasil kepada yang merawatnya (rakyatnya). Tidak akan mengecewakan kepercayaan dan amanah dari rakyatnya.
 

:::::.....

Sungguh, ternyata alam semesta adalah sumber segala pengetahuan dan pelajaran untuk manusia... Subhanalloh...

Friday, March 28, 2008

[Samita] Volume 2 : Tentang Bisikan Buruk Yang Berdetak di Hati Manusia...

....masih cuplikan adegan dari novel Samita-nya Tasaro....

:::::..... 

Suatu hari, bertanyalah Martaka kepada Guru Kesawa yang berasal dari Gujarat (India) itu :

“Guru, Di setiap hati manusia selalu terbersit pikiran buruk walaupun sedikit. Bagaimana caranya untuk membuat pikiran buruk itu menjadi kerdil dan tidak merusak hidup kita?”


Jawab Guru Kesawa : 

Jika pada hati manusia berdetak sebuah bisikan buruk, maka pemiliknya harus berusaha agar bisikan itu tetap dihatinya. Jika tidak, hal itu akan berubah menjadi buah pikiran.

Tapi jika terlanjur menjadi buah pikiran, hendaklah orang itu mendiamkannya dalam benaknya. Jika tidak, ia akan berubah menjadi nafsu birahi. 

Jika kecenderungan itu terlanjur menjadi nafsu birahi, maka orang tadi harus bisa meredamnya. Sebab jika tidak, ia akan menjadi rencana buruk dalam bentuk kehendak.

Jika terlanjur menjadi kehendak, inipun harus harus dihentikan. Sebab jika tidak, ia akan mewujud menjadi perbuatan jahat. 

Jika perbuatan jahat itu tidak bisa dicegah, ia akan menemani manusia sebagai sebuah kebiasaan. Sedangkan bagi manusia, alangkah sukarnya meninggalkan sebuah kebiasaan...

:::::.....

Wah, ternyata manusia sebenarnya mempunyai banyak kesempatan dan kemampuan untuk menghentikan setiap bisikan buruk yang masuk ya... Tetapi kenapa masih saja banyak yang berbuah menjadi perbuatan, bahkan menjadi kebiasaan buruk yang keji dan merugikan, baik untuk orang lain maupun diri kita sendiri??? :-(

Astaghfirullah....

Wednesday, March 26, 2008

[Samita] Volume 1 : Ha-Na-Ca-Ra-Ka Sebagai Falsafah Hidup

Sebelumnya, aku tentu saja hanya menganggap bahwa 20 aksara Jawa ini adalah sebuah potret nilai pas-pasan dalam pelajaran Bahasa Daerah (Jawa) yang sangat menyusahkan. Dari SD, tugas menghapal bentuk hurufnya, tanda bacanya, cara menyambungnya, dlsb, sangat membuat frustasi karena betapapun hebatnya berusaha, nilai rapor tak akan bisa lebih dari angka 7, kebanyakan yang muncul malah 6.

Kemudian di awal-awal novel Samita, aku tahu bahwa itu juga sebuah rapal jurus kanuragan persilatan yang dengannya, seseorang yang menguasai ilmu ha-na-ca-ra-ka mampu mengeluarkan daya tenaga dalam yang mahadahsyat, saking dahsyatnya sampai para pendekar kungfu Cina terpesona melihat olah beladiri pribumi Jawa Dwipa ini. 

Di akhir novel, aku baru tahu bahwa ternyata sejatinya ha-na-ca-ra-ka adalah sebuah falsafah hidup yang agung. Mengungkap kesejatian hidup manusia di muka bumi ini. Maka simaklah ini...

(Bismillahirrohmaanirrohiim...kalimat yang didalam tanda kurung akan mewakili bagaimana aku pribadi memaknainya)
 

Ha-Na-Ca-Ra-Ka :
Berarti hono (ada) sebuah ‘UTUSAN’ (caraka).
Utusan ini berupa ‘nafas’ yang diberikan kepada manusia oleh Sang Pencipta.
Setiap tarikan dan helaan nafas membawa tugas menyatukan tubuh dan jiwa manusia kepada Sang Penciptanya.

(Setiap tarikan dan helaan napas kita yang tanpa henti seumur hidup kita ini, sebenarnya didalamnya terkandung utusan yang bertugas untuk mendekatkan dan menyatukan kita dengan Allah SWT Sang Maha Pencipta.)

 

Da-Ta-Sa-Wa-La :
Berarti manusia setelah diciptakan sampai dengan “doto” atau saatnya (dipanggil) tidak boleh “sawala” (mengelak). Manusia dengan segala atributnya harus bersedia melaksanakan, menerima dan menjalankan kehendak Tuhan.

(Dari saat ketika kita diciptakan, sampai dengan saat kita mati nanti, kita tidak boleh mengelak dari segala kehendak Allah SWT. Manusia boleh merencanakan dan menginginkan apapun dalam hidupnya, tetapi semua akan kembali kepada keputusan Allah SWT. Tak ada kesempatan dan kemampuan kita sedikitpun untuk mengelak dari kehendak dan keputusan Allah SWT.)


Pa-Dha-Ja-Ya-Nya :
Podho berarti sama, cocok. Berarti sanggup memahami kehendak Zat Pemberi Hidup (Tuhan).
Dia-lah yang joyo (menang) sesungguh-sungguhnya menang. Bukan menang-menangan atau sekedar menang.

(Menurutku, ini adalah wujud kehambaan kita. Sejauh mana kita bisa merendahkan diri kita dihadapan Allah SWT yang Maha Kuasa dan Maha Penguasa Alam. Aku pernah mendapat cerita seorang ustad, bahwa manusia di kelilingi setan dari segala arah (depan, belakang, kanan dan kiri) tanpa bercelah. Ada ayatnya di Al-Qur’an duh aku lupa. Diatas adalah tempat Allah Sang pencipta. Sehingga yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkan diri dari setan hanyalah bergerak kearah bawah...dan menggantungkan diri kita kepada Allah SWT.  Bergerak kearah bawah dengan meruntuhkan habis segala kesombongan kita, melepaskan dengan total segala keangkuhan kita dan berserah diri sepenuhnya kepada Allah SWT.)

 
Ma-Ga-Ba-Tha-Nga :
Berarti menerima segala yang diperintahkan dan yang dilarang oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.
Maksudnya manusia harus pasrah, sumarah pada garis kodrat, meskipun manusia diberi hak untuk mewiradat, berusaha untuk menanggulanginya.

(Tidak sulit untukku menyimpulkan bahwa ini adalah menyangkut ikhlas... Tetapi sebagai ilmu tertinggi hati manusia, tentu saja ikhlas sama sekali tidak gampang untuk diamalkan... Apalagi ikhlas yang bukan sepenuhnya pasrah. Tetapi ikhlas yang mengandalkan sebuah proses kepada usaha terbaik kita sekuat tenaga sebagai manusia, dan menyandarkan sepenuhnya hasilnya kepada Allah SWT semata, yang Maha Memiliki hidup kita...)

:::::.....

Subhanalloh...

(Disarikan dari novel “Samita – Bintang Berpijar di Atas Majapahit” oleh Tasaro. Lebih dalam lagi, tentang prinsip dan falsafah Hanacaraka bisa disimak disini.)


Tuesday, March 25, 2008

[Samita] The Review


Inilah buku yang seminggu ini menyihir dan menyeretku ke masa 600 tahun yang lalu ketika Majapahit berada di bibir jurang sejarah. Bahkan Abe pun tertarik dengan ceritanya, dan selalu meminta update setiap aku menyelesaikan satu bab. Tadi malam, endingnya benar-benar sukses bikin aku meriang!! Aku benar-benar terkena dengan telak oleh Tasaro kali ini.

“SAMITA – Bintang Berpijar di Langit Majapahit” 

Di review ini akan kutulis saja narasi di 2 versi covernya. Untuk membedah apa saja isi bukunya yang membuatku tersihir, aku akan perlu banyak postingan tersendiri. Tentang Hui Sing alias Samita sendiri, tentang kebesaran nama gurunya Laksamana Cheng Ho yang sama sekali bukan omong kosong, tentang cinta sejati yang pada akhirnya hanya akan menjadi hak Allah SWT semata, tentang indah dan dalamnya filsafat kuno Jawa, tentang menelusupnya ajaran agama Islam ke Jawa Dwipa, tentang carut marut politik dan kekuasaan yang menggerus hati nurani siapa saja, tentang saratnya pelajaran yang bisa diambil dari sejarah, duh banyak!!

Aku, adalah orang yang sangat malas belajar sejarah, bahkan sejarah leluhurku sendiri karena terlanjur tumbuh dalam keluarga Jawa yang sudah tidak njawani lagi. Nilai-nilai agama Islam selalu lebih dikedepankan dalam keluargaku. Tetapi setelah membaca buku ini, kebanggaanku tiba-tiba membuncah tumpah ruah. Kebanggaan karena merasa sangat beruntung ditakdirkan menjadi Muslimah...dan menjadi orang Jawa!!

**sekarang, aku tak akan perduli lagi tentang harga, itu buku-buku "Gajahmada" yang setebal bantal bakalan kuborong semua serinya!!** :-D

**sakaw euuyy** :-D

So, one thing I can leave you with, is this : BACA BUKUNYA!!... BACA BUKUNYA!!... BACA BUKUNYA!! (ok, that was three things..) :-D

:::::.....

Kegelisahan mencuat di hati Hui Sing. Pelayaran pertamanya ke Jawa Dwipa dihadang peristiwa mengenaskan. Ratusan ping-se (tentara) Kekaisaran Ming dibantai pasukan Majapahit. Saat itulah, kitab pusaka “Kutub Beku” milik gurunya, Laksamana Cheng Ho, raib. Celakanya, hanya dia, Juen Sui dan Sien Feng (ke-3 murid Cheng Ho) yang dicurigai sebagai pencuri kitab ilmu tenaga dalam aliran thifan pokhan itu.

Demi kepentingan negara, Cheng Ho menunda penyelesaian kasus itu. Dia memimpin ribuan ping-se menuju Majapahit, menemui Prabu Wirakramawardhana, menuntut pertanggungjawaban Raja Majapahit itu.

Sampai di kotaraja Mojokerto, Keraton Majapahit diguncang rajapati (pembunuhan). Cheng Ho menduga, pembunuh yang berkeliaran di keraton ada hubungannya dengan pencuri Kitab Kutub Beku. Benarkan demikian? Lalu, siapakah diantara ketiga murid Cheng Ho yang mencuri Kitab Kutub Beku, sekaligus mengkhianati perguruan? Ataukah, ada orang lain yang bertanggungjawab terhadap peristiwa menggemparkan itu?

Ketika Majapahit terpinggirkan ke bibir jurang sejarah, Hui Sing melahirkan dirinya sendiri, menjadi sosok baru laksana samita (bintang). Bersinar tanpa lelah...

:::::.....

Hui Sing harus meninggalkan Tiongkok, mengikuti gurunya, Laksamana Cheng Ho. Sampai di tanah Jawa, gadis belia ini terjebak dalam perseteruan berdarah saudara antara Majapahit dan Blambangan. Cintanya jatuh kepada orang yang salah, bahkan nyawanya terancam oleh pengkhianatan beruntun. Dalam harapan yang hampir putus, napas nyaris mendekati ujungnya. Hui Sing memutuskan untuk bangkit, melawan takdir!

Novel berlatar belakang keruntuhan kejayaan Majapahit ini menghamparkan perjuangan panjang seorang pendekar Muslimah dalam menemukan jati dirinya. Terpisah ribuan mil dari tanah kelahirannya, Hui Sing berjuang seorang diri meredam pengkhianatan, menundukkan penguasa bodoh, sekaligus menemukan cinta sejatinya.

:::::.....

“Tasaro adalah penulis muda yang mau berkeringat dan berdialog dengan sejarah. Semoga Tasaro terus bersemangat menggali warisan sejarah.” – Taufiq Ismail (sastrawan).

“Tasaro meramu cerita sejarah, jurus-jurus silat ala Kho Ping Ho, dan kisah cinta... lebih berfantasi!” –Koran Tempo

:::::.....