

Inilah buku yang seminggu ini menyihir dan menyeretku ke masa 600 tahun yang lalu ketika Majapahit berada di bibir jurang sejarah. Bahkan Abe pun tertarik dengan ceritanya, dan selalu meminta update setiap aku menyelesaikan satu bab. Tadi malam, endingnya benar-benar sukses bikin aku meriang!! Aku benar-benar terkena dengan telak oleh Tasaro kali ini.
“SAMITA – Bintang Berpijar di Langit Majapahit”
Di review ini akan kutulis saja narasi di 2 versi covernya. Untuk membedah apa saja isi bukunya yang membuatku tersihir, aku akan perlu banyak postingan tersendiri. Tentang Hui Sing alias Samita sendiri, tentang kebesaran nama gurunya Laksamana Cheng Ho yang sama sekali bukan omong kosong, tentang cinta sejati yang pada akhirnya hanya akan menjadi hak Allah SWT semata, tentang indah dan dalamnya filsafat kuno Jawa, tentang menelusupnya ajaran agama Islam ke Jawa Dwipa, tentang carut marut politik dan kekuasaan yang menggerus hati nurani siapa saja, tentang saratnya pelajaran yang bisa diambil dari sejarah, duh banyak!!
Aku, adalah orang yang sangat malas belajar sejarah, bahkan sejarah leluhurku sendiri karena terlanjur tumbuh dalam keluarga Jawa yang sudah tidak njawani lagi. Nilai-nilai agama Islam selalu lebih dikedepankan dalam keluargaku. Tetapi setelah membaca buku ini, kebanggaanku tiba-tiba membuncah tumpah ruah. Kebanggaan karena merasa sangat beruntung ditakdirkan menjadi Muslimah...dan menjadi orang Jawa!!
**sekarang, aku tak akan perduli lagi tentang harga, itu buku-buku "Gajahmada" yang setebal bantal bakalan kuborong semua serinya!!** :-D
**sakaw euuyy** :-D
So, one thing I can leave you with, is this : BACA BUKUNYA!!... BACA BUKUNYA!!... BACA BUKUNYA!! (ok, that was three things..) :-D
:::::.....
Kegelisahan mencuat di hati Hui Sing. Pelayaran pertamanya ke Jawa Dwipa dihadang peristiwa mengenaskan. Ratusan ping-se (tentara) Kekaisaran Ming dibantai pasukan Majapahit. Saat itulah, kitab pusaka “Kutub Beku” milik gurunya, Laksamana Cheng Ho, raib. Celakanya, hanya dia, Juen Sui dan Sien Feng (ke-3 murid Cheng Ho) yang dicurigai sebagai pencuri kitab ilmu tenaga dalam aliran thifan pokhan itu.
Demi kepentingan negara, Cheng Ho menunda penyelesaian kasus itu. Dia memimpin ribuan ping-se menuju Majapahit, menemui Prabu Wirakramawardhana, menuntut pertanggungjawaban Raja Majapahit itu.
Sampai di kotaraja Mojokerto, Keraton Majapahit diguncang rajapati (pembunuhan). Cheng Ho menduga, pembunuh yang berkeliaran di keraton ada hubungannya dengan pencuri Kitab Kutub Beku. Benarkan demikian? Lalu, siapakah diantara ketiga murid Cheng Ho yang mencuri Kitab Kutub Beku, sekaligus mengkhianati perguruan? Ataukah, ada orang lain yang bertanggungjawab terhadap peristiwa menggemparkan itu?
Ketika Majapahit terpinggirkan ke bibir jurang sejarah, Hui Sing melahirkan dirinya sendiri, menjadi sosok baru laksana samita (bintang). Bersinar tanpa lelah...
:::::.....
Hui Sing harus meninggalkan Tiongkok, mengikuti gurunya, Laksamana Cheng Ho. Sampai di tanah Jawa, gadis belia ini terjebak dalam perseteruan berdarah saudara antara Majapahit dan Blambangan. Cintanya jatuh kepada orang yang salah, bahkan nyawanya terancam oleh pengkhianatan beruntun. Dalam harapan yang hampir putus, napas nyaris mendekati ujungnya. Hui Sing memutuskan untuk bangkit, melawan takdir!
Novel berlatar belakang keruntuhan kejayaan Majapahit ini menghamparkan perjuangan panjang seorang pendekar Muslimah dalam menemukan jati dirinya. Terpisah ribuan mil dari tanah kelahirannya, Hui Sing berjuang seorang diri meredam pengkhianatan, menundukkan penguasa bodoh, sekaligus menemukan cinta sejatinya.
:::::.....
“Tasaro adalah penulis muda yang mau berkeringat dan berdialog dengan sejarah. Semoga Tasaro terus bersemangat menggali warisan sejarah.” – Taufiq Ismail (sastrawan).
“Tasaro meramu cerita sejarah, jurus-jurus silat ala Kho Ping Ho, dan kisah cinta... lebih berfantasi!” –Koran Tempo
:::::.....